Faktor Religiusitas dan Budaya Membuat Hak Seksual dan Kespro Belum Terpenuhi : Kentalnya nilai agama dan tradisi budaya yang dianut merupakan dua faktor besar mengapa hak seksualitas dan hak kesehatan reproduksi setiap manusia belum bisa tercapai sepenuhnya. Hal itu diungkapkan oleh Dede Oetomo, pendiri dan ketua GAYa Nusantara dalam sesi plenary hari kedua konferensi APCRSHR 6 di Grha Sabha Pramana, UGM, Yogyakarta, Jumat (21/10). “Kendala yang kerap ditemui untuk memperoleh hak seksual dan kesehatan reproduksi adalah faktor budaya, dan terutama faktor religiusitas yang sering tidak mengakui adanya hak tersebut,” ungkap Dede Oetomo. Dalam sesi ini, Dede Oetomo juga berbicara mengenai Yogyakarta Principle yang seakan-akan hambar penerapannya. “Para pakar yang merumuskan deklarasi tersebut tidak membuat kesepakatan baru, hanya menyatakan kembali kesepakatan masyatrakat internasional terhadap sesuatu yang sudah secara resmi disampaikan namun tidak dilaksanakan dengan baik”, jelas Dede. Di kesempatan forum tersebut juga digunakan oleh Dede Oetomo untuk mengkritisi Comprehensive Sexual Education yang menjadi tema Youth Forum pada konferensi ini. “Saat kita duduk disini, kita juga harus berpikir tentang remaja lesbi, mereka menderita karena diskriminasi dari temannya, orang tuanya, gurunya, pemuka agama, bahkan dari media massa. Begitu juga dengan remaja waria”, ungkap Dede. Dede malah balik bertanya, apakah remaja dengan orientasi seksual berbeda itu juga mendapatkan hak nya sama dengan remaja heteroseksual, sedangkan homophobia masih terjadi dimana-mana. Dalam sesi plenary ini, selain hadir Dede Oetomo, juga ada Musdah Mulia. Nowat Suwanphatthana dari Thailand, dan Francisco M. dela Tonga dari Filipina. Musdah Mulia selaku direktur dari Indonesia Conference on Religions for Free (ICRP) lebih banyak berbicara mengenai perspektif dunia Islam dalam memandang hak seksualitas dan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Dikatakannya, bahwa di dalam hukum Islam lebih banyak berbicara mengenai perilaku seksual, bukan orientasi seksual. “Hal ini terjadi karena orientasi seksual dalam Islam adalah takdir, laki-laki dan perempuan, sedangkan perilaku seksual merupakan sebuah pilihan”, kata Musdah Mulia. Selain itu, Musdah Mulia juga berbicara banyak tentang sejarah Islam dalam memandang LGBT dalam berbagai perspektif. “Saya pribadi masih percaya bila piagam Madinah memang lebih toleran dan cocok diterapkan di masa sekarang disbanding dengan piagam Mekkah”, jelasnay. Musdah Mulia juga percaya bahwa komunitas LGBT tidak mendapatkan tempat dalam dunia Islam, pemuka agama Islam dan mayoritas umat Islam mengutuk komunitas ini, dan tidak pernah memberi ruang untuk berdiskusi. “Semua diskriminasi ini terjadi karena interpretasi atas agama Islam masih dipengaruhi oleh paham-paham heteroseksual, bias gender dan patriarkhi. Musdah Mulia memberikan beberapa saran untuk mengurangi diskirimansi terhadap LGBT, diantaranya diperlukannya jaringan lintas negara untuk mengurangi diskrimanasi tersebut, pendidikan tentang seksualitas dalam ranah keluarga, sekolah dan masyarakat umum, serta peningkatan kapasitas internal komunitas LGBT untuk berjuang bersama mengurangi stigma dan diskriminasi tersebut. Sedangkan wakil aktivis remaja dari Filipina, Francisco M. dela Tonga lebih banyak berbicara mengenai kehidupan LGBT yang mendapat tentangan dari gereja Katolik di Filipina. “Bahkan secara frontal, geraja Katolik di Filipina mempengaruhi remaja disana untuk ikut menekan komunitas LGBT”, kata Kiko, panggilan akrabnya. Kiko melanjutkan bahwa atas kuasanya, Gereja Katolik menekan Pemerintah untuk melarang peredaran alat kontrasepsi, karena alat kontrasepsi akan meningkatkan angka aborsi. “Pendidikan seksual juga tidak masuk dalam kurikulum di sekolah-sekolah Filipina”, jelasnya. Lebih panjang lagi Kiko menjelaskan, gereja Katolik akan menghukum orang yang melanggar norma kesusilaan dengan tidak memberikan komuni saat pergi ke gereja. Sebagai wakil dari Thai NGO Coalition on AIDS (TNCA), Niwat Suwanphatthana menjelaskan bagaimana persebaran epidemic HIV di Thailand. Diakhir pidatonya, perlunya dialog lintas sector untuk menekan angka persebaran HIV. It’s My Circle, Sebuah Aliansi Gerakan Untuk Aborsi Aman : Ada kejadian menarik saat selesainya acara pembukaan konferensi APCRSHR 6 di Grha Sbha Pramana, UGM, Yogyakarta, dimana sekolompok orang berseragam kaos putih melakukan Flashmob di depan gedung itu. Dengan kaos bertuliskan It’s My Circle To Safe Abortion, sedangkan di belakang kaos mereka terpampang tiga nomor handphone yang merupakan hotline kontak mereka. Sekolompok orang yang merupakan gabungan aktivis perempuan ini membentuk semacam gerakan tari bersama-sama selama kurang lebih lima belas menit, tak ayal beberapa peserta acara pembukaan pun tertarik melihat aksi mereka ini dan beberapa diantaranya mengabadikannya dengan kamera. It’s My Circle merupakan kampanya selamatkan perempuan dari aborsi yang tidak aman. “Kami adalah aliansi gerakan untuk mendukung aborsi aman terhadap perempuan”, kata Inna Hudaya, dari SAMSARA dalam sesi konferensi pers. It’s My Circle tidak hanya ada di Indonesia saja, namun di beberapa Negara lain sudah melakukan kampanye gerakan ini seperti Pakistan, Filipina dan lainnya. Lanjut Inna, disini kami mengajak semua orang untuk berpikir ulang, karena isu aborsi ini seperti dibisukan padahal sudah banyak terjadi dan itu tidak aman bagi nyawa perempuan. Tercatat, estimasi global menyebutkan 4 dari 10 kehamilan merupakan kehamilan yang tidak diinginkan. “Kami disini mengajak kalian semua untuk menempatkan perempuan sebagai subjek, bukan objek dalam permasalahan aborsi”, seru Inna. Tambah Inna, perempuan juga mempunyai hak untuk memilih aborsi yang aman, baik keputusan aborsi yang dia mau, tempat aborsi yang membuatnya aman dan langkah aborsi yang diinginkannya. Inna Hudaya sadar bahwa aborsi merupakan langkah yang illegal di Negara ini, maka dari itu dia mengajak masyarakat luas untuk merenungkan kembali stigma negative terhadap aborsi ini. “Karena stigma negative itu pula lah, yang menyebabkan angka kematian perempuan saat melakukan aborsi menjadi tinggi, karena Pemerintah menutup mata terhadap hal ini. Belum lagi bila terjadi kekerasan terhadap perempuan saat aborsi yang dilakukan oleh tenaga medis atau bahkan dukun”, jelas Inna. Inna juga mengatakan bahwa dari Mei 2011 sampai September 2011 sudah meneriman lebih dari 200 telpon yang masuk ke nomor hotline tersebut. “Aliansi ini sebenarnya sudah dimulai sejak awal tahun ini”, kata Inna Sedangkan Sucithra Delvie, dari Jaringan Aktifis Global Aborsi Aman mengatakan bahwa faktanya banyak perempuan yang sudah menikah juga membutuhkan akses ini, karena kehamilan tidak diinginkan juga terjadi pada perempuan yang sudah menikah. “Saya percaya, target MDG’s tidak akan terpenuhi bila akses perempuan untuk mendapatkan aborsi yang aman tidak terpenuhi”, jelas perempuan asli India ini. Sucithra Delvie juga berharap isu aborsi menjadi salah satu hal yang dibahas dalam konferensi ini. Aksi ini juga mendapatkan dukungan dari Women’s Global Network for Reproductive Rights (WGNRR) yang berpusat di Filipina. Kathy Mulville, perwakilan dari WGNRR mengatakan bahwa aborsi merupakan isu global yang terjadi di belahan Negara manapun. “Tapi anehnya, sepengetahuan saya, angka kematian perempuan akibat aborsi rendah di Negara yang melegalkan aborsi, sedangkan di Negara yang aborsi adalah illegal malah tinggi”, kata Kathy. Kathy menyadari bahwa berbagai Negara berbeda dalam menyikapi aborsi ini, tapi perbedaan ini bukanlah masalah karena perbedaan budaya yang ada ini malah bisa saling melengkapi satu sama lain. “Kami setiap tanggal 28 September di tiap tahunnya mengadakan Global Campaign untuk aborsi aman dan legal di seluruh dunia”, terang Kathy. It’s My Circle sendiri dalam kerjanya mempunyai cara kampanya nomor telpon hotline yang bisa dihubungi bila akan melakukan aborsi, lalu setelah itu pihak dari It’s My Circle mengadakan konseling dan selanjutnya orang tersebut diberi tiga opsi pilihan. “Kami punya tiga opsi pilihan yang diberikan kepada orang yang akan melakukan aborsi, yaitu melanjutkan kehamilan, mengadopsi anaknya, dan aborsi yang aman, tentu saja dengan akibat positif dan negative yang menyertainya”, terang Inna Hudaya. Resmi, APSRSHR 6 Dibuka di Yogyakarta : Konferensi The 6th Asia Pacific Conference on Reproductive and Sexual Health and Right (APCRSHR 6) resmi dibuka di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Kamis (20/11). Setelah sehari sebelumnya diadakan acara konferensi Youth Forum, dimana remaja berusia 10-24 dari berbagai Negara di Asia Pasifik bertemu untuk merumuskan Youth Declaration. Dengan mengambil tema, “Claiming Sexual and Reproductive Rights in Asians and Pacifics Socities”, konferensi ini berlangsung sejak pukul 08.00 WIB, acara pembukaan ini dihadiri lebih dari 500 peserta konferensi yang terdiri lebih dari 30 negara Asia Pasifik. Tampil untuk memberikan sambutan dalam acara ini adalah Direktur Eksekutif United Nations of Population Fund (UNFPA) Dr. Babatunde Osomehin, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. Sugiri Syarief, MPA, Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng, Ph.D dan bertindak sebagai ketua panitia konferensi Prof. Dr. Muhadjir Darwin, MPA. Dalam sambutannya, Babatunde mengatakan sangat apresiasi terhadap kerja keras yang dilakukan oleh organisasi masyarakat, LSM, dan lembaga lain di Asia Pasifik untuk bersama-sama berjuang dalam penegakan hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual. “Saya juga sangat mendukung konferensi ini yang menunjukkan kepeduliannya kepada remaja, karena remaja adalah calon pemimpin bangsa”, lanjutnya. Sedangkan Sugiri Syarief lebih banyak berbicara mengenai janji pemerintah Indonesia yang akan menjamin terpenuhinya hak-hak warga Negara seperti tidak dijumpainya diskriminasi terhadap agama, etnis, warna kulit, status social dan ekonomi, serta identitas dan orientasi seksual”, jelas satu-satunya wakil Pemerintah Indonesia yang hadir dalam konferensi ini. Tidak lupa, Sugiri Syarief juga mengingatkan bahwa di kota Yogyakarta ini pernah berlangsung konferensi yang dihadiri aktivis hak-hak asasi manusia di seluruh dunia yang menghasilkan deklarasi “Yogyakarta Principles” dimana didalamnya terdapat jaminan hak atas identitas dan orientasi seksual manusia. Sugiri Syarief juga menyadari bahwa Indonesia masih jauh tertingal dibanding Negara lain dalam isu kesehatan reproduksi ini, dan hal ini menjadi tanggung jawab BKKBN. “Rencananya, pada tahun 2012 nanti BKKBN akan mendirikan pusat pelayanan keluarga sejahtera di seluruh propinsi se Indonesia sebagai bagian dari tanggung jawab kami akan terpenuhinya hak-hak kesehatan reproduksi bagi selruh lapisan masyarakat”, jelasnya dalam sesi konferensi pers. Sedangkan sebagai tuan rumah konferensi ini, Muhadjir Darwin berharap melalui konferensi ini akan lahir pemikiran baru dan dilanjutkan melalui tindakan nyata untuk kemajuan bersama di seluruh Negara Asia Pasifik. “Upaya ini harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat, terutama remaja, perempuan, dan kelompok marjinal yang sering menjadi korban diskriminasi dan kekerasan”, harapnya. APCRSHR merupakan konferensi tingkat Negara-negara di Asia Pasifik sebagai jawaban atas kurangnya kesempatan untuk menyampaikan gagasan dan pengalaman yang dialami oleh perwakilan Negara-negara Asia dalam International Conference on Population and Development (ICPD)+5 pada tahun 1999. Konferensi ini pertama kali diadakan di Manila, Philipina, tahun 2001, berlanjut di Bangkok, Thailand tahun 2003. Selangor, Malaysia menjadi tempat ketiga konferensi ini berlangsung pada tahun 2005, lalu dilanjutkan di Hyberabad, India tahun 2007. Sedangkan konferensi kelima diadakan di Beijing, China tahun 2009. Diskusi Publik "LGBT dalam Media Massa" : PLU Satu Hati dan Prodi Ilmu Komunikasi UAJY akan mengadakan Diskusi Publik "LGBT dalam Media Massa" dengan narasumber Ashadi Siregar (Direktur LP3Y), D. Danarka Sasangka, MA (Wakaprodi Ilmu Komunikasi UAJY), dan Elok (aktivis LGBT). Bertempat di Ruang Seminar, Gedung Perpustakaan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (Kampus IV FISIP) Jalan Babarsari 44 Yogyakarta 55281. Selasa, 29 Juni 2010, jam 13.00-16.00WIB Masukan : Professor Adeeba Kamarulzaman, Co-chair, Scientific Committee for XVIII International AIDS, mencari masukan untuk isu dan topik di berbagai negara yang dianggap penting untuk dibahas dalam Scientific Program, termasuk dalam Plenary dan Abstract. Tema : ICAAP ke-10 akan dilakukan di Busan Korea Selatan pada tahun 2011, dengan tema "Different Voices-United Actions". Ketidakadilan : Menurut Geeta Rao Gupta dari Internasional Center for Research on Women, akses terhadap tindakan dan perawatan bagi yang terinfeksi HIV masih terjadi ketidakadilan jender. Tidak Terwakili : ICAAP merupakan forum yang diikuti oleh masyarakat dari berbagai negara, sektor, dan latar belakang berbeda untuk berbagi strategi, saling belajar dan merencanakan aksi bersama. Taskforce for Empowerment of Migrants Living with HIV and Their Spouse menyayangkan, karena buruh migran ternyata tidak terepresentasikan dalam forum komunitas maupun program dalam ICAAP. Akses : Komunitas menuntut disediakannya akses bagi perempuan dan remaja dalam perencanaan dan program layanan kesehatan reproduksi dan seksual yang komprehensif. Razia : Satpol PP Kota Yogyakarta kembali merazia lebih dari 15 remaja jalanan di Taman Parkir Abu Bakar Ali, Yogyakarta

12 May 2012 23:33 WIB

Pascasarjana UGM Membatalkan Bincang Pagi Bersama Irshad Manji

Bincang pagi bersama Irshad Manji dengan tema: Agama, Kebebasan, dan Keberanian Moral batal digelar di gedung pascasarjana UGM (9/5). Acara ini merupakan forum diskusi rutin yang dilaksanakan setiap Rabu (Wednesday Forum) dan telah dilaksanakan bertahun-tahun, ...selengkapnya
  • <a href='?lang=&rid=47&id=65'>Natalia Desy Trijayanti</a> YOTHA Menolak Gagasan Tes Keperawanan

    Pertengahan September 2010, Bambang Bayu Suseno, anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi, mengeluarkan wacana tentang tes kegadisan atau tes keperjakaan bagi calon siswa SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Menurutnya, hal tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan hubungan seks pada remaja sekolah dengan metode wawancara atau konseling dengan identitas yang dirahasiakan dan tidak ada tes pemeriksaan alat kelamin secara langsung. Lalu pertanyaannya, bagaimana remaja memandang wacana tersebut? Berikut wawancara Andrian Liem dari Biro Swaranusa D.I. Yogyakarta dengan Natalia Desy Trijayanti atau yang akrab disapa Alya, duta remaja (Youth Representative) dari Youth Association (YOTHA) Yogyakarta.

  • <a href='?lang=&rid=47&id=54'>Evarisan, SH, MH</a> Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan Harus Dikucilkan

    Kekerasan terhadap perempuan terus meningkat. Upaya menguranginya sudah dilakukan. Apakah upaya yang dilakukan memang tidak efektif? Hadziq Jauhary dari Swaranusa,  melakukan wawancara khusus dengan Evarisan, SH, MH, aktivis hak asasi perempuan dari Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia [LRC-KJHAM].

  • <a href='?lang=&rid=47&id=26'>Orry Lesmana (Oriel)</a> Organisasi Komunitas Sebagai Basis Gerakan

    Gerakan LGBT belakangan ini semakin menguat. Di sisi lain, stigmatisasi juga semakin mengeras. Bagaimana startegi komunitas LGBT dalam menghapuskan stigma dan diskriminasi? Berikut wawancara Hadziq Jauhary dari Swaranusa Biro Jawa Tengah, dengan Orie Lesmana, aktivis hak asasi manusia dari komunitas gay.

    Bagaimana gerakan LGBT belakangan ini?

Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password
Mendaftar
Langganan via Email
Jajak Pendapat
Apa pendapat Anda terhadap peningkatan anak-anak yang terinfeksi HIV?
Kegagalan program PMTCT
KPAN tidak memiliki strategi
Tidak adanya informasi
Editorial
Pemerintah dan Suara Kaum Muda
Hari Remaja Internasional yang jatuh pada setiap tanggal 12 Agustus telah diperingati sejak 1999. PBB menyebutkan bahwa hari peringatan ini ditujukan bagi semua orang muda, khususnya yang berusia antara 10-24 tahun.

Ide awal Hari Remaja Internasional datang dari Vienna dan Austria yang World Youth Form dan diwujudkan menjadi International Youth Day pada tahun 1991. Tujuh tahun kemudian Pemerintah Portugal mengadopsi kegiatan tersebut. Hasilnya, 17 Desember 1999 Pemerintah Portugal menetapkan pelibatan remaja dalam pembuatan kebijakan dan program. 

Pertanyaan untuk kita jawab bersama, di Indonesia kapan pemerintah mau mendengarkan suara remaja?

(disarikan dari http://www.altiusdirectory.com/Society/international-youth-day.html)
Pesan Singkat
  • 18 10 11 - Andrian:
    Mas Hadiq alamat emailnya apa?
  • 14 10 11 - hadiq:
    To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih..
  • 30 06 11 - rika:
    http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;)
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 23 06 11 - ilahtea:
    SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public?
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 01 06 11 - galink:
    wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses!
  • 12 05 11 - Andrian:
    @salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam
  • 05 05 11 - salahsatuwartawan:
    sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini..
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian."
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\"
  • 09 01 11 - botaq:
    kirim data base kamisekarang
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 12 06 10 - ilahtea:
    kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks.
  • 11 06 10 - ridho:
    justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi
  • 11 06 10 - galink:
    pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho??
  • 10 06 10 - ilahtea:
    kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^
  • 06 06 10 - galink:
    benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT
  • 05 06 10 - ilahtea:
    hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!!
  • 01 06 10 - cornel:
    negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian?
  • 19 05 10 - wete:
    ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service...
  • 08 05 10 - polo:
    terus berjuang
  • 07 02 10 - heni:
    toleransi itu penting!!!!
  • 28 12 09 - Hadziq:
    Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.
BannerAds
Safe Sex50thn PKBIstatistik kasus HIV & AIDS September 2010
Kontak ke SwaraNusa
Pencarian