Pemenuhan Hak Kesehatan Reproduksi Terganjal Penggusuran
Senin, 13/5/2013, warga Bong Suwung yang terdiri dari komunitas pedagang, perempuan pekerja seks dan waria melakukan audiensi ke DPRD DIY terkait surat yang dikirim oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) kepada 30 pedagang yang lapaknya berada di sebelah barat Stasiun Tugu. Surat tersebut berisi instruksi pembersihan daerah sekitar stasiun dari kegiatan warga.
Masyarakat Bantul Hanya Nikmati 38% APBD
Jaringan Advokasi Anggaran Responsif Gender Bantul kembali menyelenggarakan pertemuan konsolidasi, Rabu (27/03/2013). Bertempat di RM Parangtristis, jaringan yang berisi puluhan organisasi sipil dan Kader Kesehatan Reproduksi (Kespro) tingkat desa ini membedah RAPBD Kabupaten Bantul tahun 2013.
Dispora DIY Dukung Pendidikan Kespro Masuk Mulok SMP
“Penyusunan materi dan pelatihan ini tentu membawa manfaat untuk sekolah dan siswa karena pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual yang ada di sekolah itu harus dimulai sejak SMP. Malah saya berpikir harusnya sejak SD. Saran saya, ini bisa menjadi ekstrakurikuler wajib, mulok pilihan atau terintregrasi dengan pelajaran bimbingan konseling,” lanjut Kadarmanta.
SBY Didesak Menarik Duta Besar RI untuk Malaysia
Presiden SBY diminta segera mengirimkan nota protes diplomasi dan menurunkan tingkat hubungan diplomatik dengan pemerintah Malaysia. Untuk itu SBY harus menarik Dubes RI di Malaysia dan memulangkan Dubes Malaysia untuk RI atas kekerasan seksual terhadap PRT Indonesia di Malaysia yang selalu berulang.
Jogja Update
Pernyataan M. Nuh, Remaja Kurang Respons
Kecaman Terhadap Menteri Kemendiknas Berlanjut
Permintaan Maaf, Tak Cukup
Meski kemudian sang Menteri meminta maaf, tetapi kerangka dasar nalarnya dalam memandang korban kejahatan seksual tak berubah. Misalnya, ia meminta maaf karena komentar itu bukan dimaksudkan untuk siswi SMP Budi Utomo, tetapi untuk peristiwa secara umum. Artinya, dalam benak sang Menteri, korban kejahatan seksual tetap sama posisinya, perempuan nakal dan atau suka sama suka, tetapi mengadu diperkosa.
Revolusi KB, Rumuskan Strateginya
Dalam rentang lima sampai sepuluh tahun ke depan PKBI menghadapi beragam tantangan yang tidak cukup ringan. Bahkan tantangan ini tidak saja pada aras visi, tetapi juga pada level paradigmatik, strategi program dan pengelolaan sumber daya manusia.
PKBI, Perlu Paradigma Baru
Adi, memberikan contoh perubahan pardigma yang harus dikembangkan, kerangka kerja program harus diarahkan dalam bentuk jejaring. “PKBI tidak berkubang lumpur lapangan langsung,” katanya.
Beban Berat yang Menanti
Berbagai kemampuan disyaratkan untuk bisa benar-benar membawa kelahiran baru Perkumpulan yang dinamis. Kemampuan ini menjadi penting, karena selama ini Perkumpulan nyaris tak mampu berbuat banyak dalam menyikapi berbagai isu strategis. “Kemampuan yang dibutuhkan Direktur baru, bagaimana bisa eksis di media untuk kampanye program dan ideologi PKBI,” kata Suharsih, S.Ip, Koordinator Pusat Studi Seksualitas PKBI DIY.
Raperda Perlindungan Anak dan Perempuan Korban Kekerasan Dikritisi
Audiensi diterima oleh Ketua Pansus Raperda Perlindungan Anak dan Perempuan Korban Kekerasan, Abdul Halim Muslih, yang menyampaikan bahwa saat ini pembahasan Raperda masih berlangsung. Jejaring dan lembaga pendampingan bisa memberikan masukan. "Masukan ini nanti akan dibahas dalam rapat kerja," jelasnya.
Hari Perempuan Internasional 2012: Negara (Masih) Gagal Melindungi Perempuan
Negara ini masih gagal melindungi para perempuan. Kegagalan tersebut tercermin dari tingginya angka kematian ibu; meningkatnya kasus HIV dan AIDS pada perempuan; meningkatnya kasus kehamilan yang tidak direncanakan; tingginya angka kekerasan terhadap perempuan; dan juga absennya negara dalam upaya perlindungan bagi perempuan yang memilih identitas gender dan seksual yang berbeda. Oleh karena itu “Negara Gagal Melindungi Perempuan” menjadi tema utama peringatan Hari Perempuan Internasional 2012 ini.
Setiap tanggal 8 Maret di seluruh dunia diperingati sebagai momentum untuk menuntut negara memberikan pemenuhan kepada hak-hak perempuan, yang kemudian dikenal sebagai hari perempuan internasional. Di DI Yogyakarta, massa yang terdiri dari 15 elemen masyarakat bergabung dalam GEPARI (Gerakan Perempuan Indonesia) melakukan AKSI damai – longmarch dari Abu Bakar Ali hingga Gedung Agung di Jalan Malioboro. Para peserta meneriakkan “Perempuan bersatu, lawan patriarki dan kapitalisme”, mengajak seluruh masyarakat yang berada di sepanjang jalan Malioboro untuk mendukung advokasi pemenuhan hak bagi perempuan. Aksi diakhiri dengan membacakan 11 tuntutan kepada negara untuk bertanggungjawab atas keselamatan dan kesejahteraan perempuan.
Perempuan pekerja seks, tidak pernah terlindungi
Perempuan pekerja seks (PPS), salah satu komunitas yang sering mendapatkan pengabaian dari negara ikut menyuarakan pendapatnya dalam aksi tersebut. Ditemui di sela-sela aksi, Ami (37th) yang saat ini menjadi Koordinator Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY) menyatakan bahwa negara seringkali mengabaikan hak-hak mereka. Bahkan kekerasan kepada PPS seringkali dilakukan oleh aparat negara yang seharusnya memberikan perlindungan pada warganya. “Kekerasan yang dilakukan dari Satpol PP selain garukan juga sikap dan kata-kata kasar”, tegasnya.
Jenis kekerasan yang didapat oleh PPS cukup beragam. Mulai dari kekerasan psikologis, fisik, hingga ekonomi. Kekerasan psikologis didapat dari beberapa kelompok, mulai dari aparat, preman, dan juga klien yang memanfaatkan jasa mereka. Beberapa waktu lalu sekelompok preman yang mabuk memaksa beberapa PPS untuk melayani mereka. Selain mendapatkan cemoohan, caci maki, salah seorang PPS juga mendapatkan kekerasan fisik berupa penganiayaan, dipukul, ditendang, dan diinjak-injak. Meskipun mendapatkan pertolongan dari aparat keamanan yang kebetulan berada di sekitar tempat kejadian, pelaku penganiayaan tidak tertangkap. “Kekerasan fisik sering dilakukan oleh preman-preman yang mabuk. Salah seorang anggota komunitas menjadi korban kekerasan. Sempat ditolong oleh aparat namun pelaku berhasil kabur”, jelasnya.
Ami menjelaskan bahwa selama ini belum ada perlindungan dari negara terhadap PPS sebagai kelompok yang dimarjinalkan. Pada saat bekerja mereka merasa tidak aman dan selalu khawatir mendapatkan kekerasan, termasuk dari aparat negara. Ami berharap agar negara memberikan perlindungan kepada PPS sehingga merasa aman dan nyaman pada saat bekerja. Dengan kondisi tersebut, pekerja seks akan memiliki posisi tawar yang cukup tinggi untuk “memaksa” pelanggan menggunakan kondom sehingga prevalensi HIV dan AIDS bisa ditekan. Sebagai salah satu upaya penanggulangan HIV dan AIDS pada PPS, P3SY memiliki beberapa strategi. Selain membangun kesepakatan dengan seluruh anggota komunitas, P3SY juga membangun Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Melalui program ini diharapkan bisa menaikkan posisi tawar anggota dalam mendorong pelanggan untuk menggunakan kondom sebagai pencegahan HIV dan AIDS. Dengan usaha sampingan, PPS tidak lagi khawatir jika ditinggalkan klien yang menolak menggunakan kondom. “Selain sebagai PS (pekerja seks–red.), mbak-mbak memiliki usaha KUBE. Sehingga mereka memiliki posisi tawar yang tinggi dalam menawarkan kondom bagi tamu”, tegasnya.
Pada akhir tahun 2011 lalu, P3SY meresmikan Griya Asa Community Cricis Center, pusat penanganan krisis dan kekerasan berbasis komunitas. Griya Asa merupakan satu alternatif solusi bagi komunitas PPS di DIY dalam menghadapi kekerasan. Griya Asa memberikan layanan konseling dan pendampingan bagi PPS korban kekerasan. Dalam menangani kasus kekerasan, Griya Asa akan bekerja sama dengan PKBI DIY, Rifka Anisa, dan LBH APIK. “Sebagai upaya perlindungan, saat ini Griya Asa baru beberapa kali mendampingi mbak-mbak (PPS-red.) yang mengalami kekerasan”, jelasnya. Ami berharap agar negara memberikan pengakuan dan perlindungan yang sama dengan warga lain, tanpa ada diskriminasi berdasar status pekerjaan. “Saya berharap agar perempuan memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki, negara memberikan perlindunagn kepada semua lapisan masyarakat, tanpa diskriminasi, menyeluruh”, tegasnya.
Meningkatnya Ibu Rumah Tangga terinfeksi HIV, minimnya upaya perlindungan
Semakin meningkatnya kasus perempuan yang terinfeksi HIV dan AIDS dan juga kekerasan perlu mendapatkan perhatian khusus. Data kumulatif kasus HIV dan AIDS di DIY mulai 1993 hingga Desember 2011 menurut Dinas Kesehatan Propinsi DIY sebanyak 1.508 kasus. Jumlah perempuan yang terinfeksi sebanyak 475 kasus dan 32% dari kasus tersebut ditemukan pada ibu rumah tangga (IRT). Minimnya transformasi pengetahuan tentang HIV dan AIDS pada masyarakat, khususnya IRT, menyebabkan prevalensinya tidak dapat diantisipasi. Hal tersebut disampaikan oleh Nurhayati, koordinator propinsi Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) wilayah DIY. Pemberian informasi kepada masyarakat masih sangat sedikit dan hanya dilakukan pada acara tertentu seperti peringatan hari AIDS sedunia. “Seharusnya penyebaran informasi tentang HIV dan AIDS dilakukan oleh negara secara terus menerus, jangan hanya pada acara tertentu”, jelasnya.
Meningkatnya jumlah kasus pada IRT tidak lepas dari lambatnya respon negara. IRT mengetahui dirinya terinfeksi ketika sudah sangat terlambat. Mereka baru tersadar untuk melakukan pemeriksaan saat mendapatkan salah satu keluarga (pasangan atau anak) jatuh sakit atau meninggal. Kondisi ini yang menyebabkan penularan-dari-ibu-kepada-anak juga terlambat untuk ditangani. Meskipun sudah ada program PMTCT (prevention-from mother-to child transmission) atau pencegahan penularan HIV-dari-ibu-ke-anak, jumlah anak yang terinfeksi HIV karena tertular dari ibunya cukup tinggi. Di propinsi DIY, saat ini ada 57 kasus HIV dan AIDS pada anak balita. “Mereka seringkali mengetahui dirinya terinfeksi (HIV–red.) setelah mendapati anak atau pasangannya dirawat atau meninggal karena AIDS”, tegasnya.
Beban perempuan yang terinfeksi HIV dan AIDS cukup berat. Selain stigma dan diskriminasi yang masih cukup tinggi, jaminan layanan kesehatan yang ramah masih menjadi kendala utama. Meskipun sudah sering dilakukan pelatihan PMTCT bagi petugas medis namun banyak yang tidak begitu paham untuk menangani klien. Bahkan kerap kali terjadi pemaksaan pada perempuan yang terinfeksi HIV dan AIDS untuk sterilisasi. Dalam kondisi yang tidak memiliki banyak pilihan, sering kali mereka menyetujui tindakan tersebut. “Beberapa teman-teman mendapatkan perlakuan yang tidak ramah dari petugas medis. Bahkan, ada beberapa teman yang dimintai tandatangan inform consent (lembar persetujuan–red.) untuk sterilisasi menjelang operasi caesar dalam program PMTCT”, tegasnya.
Mengambil momentum Hari Perempuan Internasional ini, banyak harapan ditujukan kepada negara agar lebih serius dalam memberikan perlindungan bagi perempuan yang terinfeksi HIV dan AIDS. Dari 34 anggota IPPI DIY, 30 orang adalah ibu rumah tangga dan 80% di antara mereka terinfeksi dari pasangannya dan baru mengetahui setelah anak atau pasangannya dirawat di rumah sakit atau meninggal karena AIDS. Nurhayati berharap agar PMTCT tidak hanya menyasar pasangan yang sudah mengetahui status HIV mereka. Lewat deteksi lebih dini maka penanganan akan lebih baik dan memberikan hasil yang lebih besar. “Seharusnya sosialisasi PMTCT dilakukan secara intens, dorongan untuk periksa HIV dilakukan terus menerus, dan layanan pemeriksaan HIV dan AIDS lebih dimaksimalkan”, lanjutnya. Satu beban lain yang dihadapi oleh perempuan yang terinfeksi adalah belum adanya obat Anti Retro Viral (ARV) khusus untuk anak. Saat ini kebutuhan ARV untuk anak dicukupi dengan ARV tablet yang dipotong dan digerus sendiri. Terkadang dosisnya tidak sesuai dengan kebutuhan sehingga sangat riskan bagi kesehatan anak. Nurhayati berhadap pada tahun 2012 ini di DIY ada ARV untuk anak-anak yang mudah diakses.
[Keterangan Foto: "Peserta yang tergabung dalam Gepari (Gerakan Perempuan Indonesia) menuntut negara memberikan perlindungan dan pemenuhan hak perempuan"]
Aku Sehat, Aku Berdaya, Aku Sejahtera!: Kabar dari Kalimantan
Alih-alih menjadikan pekerja seks melulu sebagai sasaran, program HIV & AIDS yang dikelola PKBI mencoba mengajak semua pihak, termasuk mucikari dan warga sekitar, untuk berpartisipasi aktif dalam implementasi program dari mulai menyusun perencanaan, melaksanakan, sampai ke proses evaluasi. Strategi ini dilakukan untuk menanamkan keterikatan komunitas dan masyarakat dengan program yang dijalankan sehingga bisa lebih efektif. Program juga diharapkan tetap bisa dilanjutkan oleh komunitas dan masyarakat meskipun tidak ada lagi dukungan dari PKBI dan Oxfam-Novib.
“Pemberdayaan komunitas memberikan ruang pada komunitas lokasi untuk berpartisipasi dan merespon permasalahan yang mereka hadapi,” ujar Fahmi Arizal, Project Officer proyek tersebut pada National Closing Meeting Proyek HIV & AIDS PKBI dan Oxfam-Novib di Jakarta, Selasa (21/02). Pertemuan tersebut merupakan pertemuan evaluasi untuk mengukur capaian-capaian proyek dan pembelajaran yang bisa diambil untuk pengembangan program selanjutnya.
Slogan “Aku Sehat, Aku Berdaya, Aku Sejahtera” diperkenalkan oleh Kusiyah, perwakilan komunitas Kenanga Sehat, Kalimantan Selatan, yang menjadi salah satu narasumber pada salah satu sesi tentang program pemberdayaan masyarakat. Pada sesi tersebut, setiap provinsi diwakili oleh perwakilan komunitas untuk mempresentasikan program-program yang telah dijalankan dan sejauh mana keterlibatan komunitas dalam pelaksanaan program-program tersebut. Selain Kusiyah, perwakilan komunitas adalah Bustami (Loa Hui, Samarinda), Purba (Bukit Sungkai, Palangkaraya), dan Lilik (Sukosari, Kabupaten Semarang).
Presentasi-presentasi tersebut menunjukkan beberapa keberhasilan dari program yang telah dijalankan. Keberhasilan tersebut dicontohkan oleh Kenanga Sehat, dimana jumlah kasus IMS menurun dari 7.7% pada 2010 menjadi 6.18% pada 2011. Secara nasional sekitar 80 persen dari 660 anggota komunitas (pekerja seks perempuan dan pembeli potensial) mengetahui dan memahami bagaimana mencegah IMS dan HIV-AIDS. Sementara, sekitar 60 persennya telah menerima layanan kesehatan sesuai standar.
Perempuan Pekerja Seks Masih Terbebani
Pada implementasinya, didampingi fasilitator-fasilitator dari PKBI, masing-masing komunitas mengembangkan kelompok-kelompok kerja (pokja), yaitu pokja advokasi, pokja KIE (komunikasi, informasi, edukasi), dan pelayanan, serta pokja keberlanjutan, yang beranggotakan perempuan pekerja seks, mucikari, dan warga sekitar. Setiap pokja melakukan fungsinya masing-masing untuk mendukung jalannya program penanggulangan HIV & AIDS. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh pokja-pokja ini antara lain pembuatan aturan lokal di lokalisasi, pengelolaan distribusi kondom, kampanye publik, berjejaring dengan pemangku kepentingan, termasuk tokoh agama dan sebagainya.
Tingkat partisipasi komunitas pekerja seks dalam pelaksanaan program bergradasi di satu tempat dengan tempat lainnya. Ada daerah yang tingkat keterlibatannya tinggi, namun ada pula yang masih rendah dan justru didominasi oleh mucikari yang sebagian besar laki-laki.
“Isu kesetaraan gender masih belum menjadi perhatian,” kata Deden Wibawa, evaluator eksternal proyek yang pada acara tersebut mempresentasikan hasil evaluasi pelaksanaan program HIV & AIDS di empat provinsi. Deden juga menggarisbawahi soal aturan lokal yang ada di lokalisasi yang kadang bobotnya masih saja membebankan perempuan pekerja seks. Juga mengenai isu trafficking yang ada di lokalisasi. Menurut Deden, tidak ada alasan -seperti karena perempuannya pernah menikah, janda, dan sebagainya- yang bisa membenarkan tindakan membiarkan perempuan yang berusia di bawah 18 tahun berada dalam prostitusi. Aturan lokal yang dibuat seharusnya tidak hanya mengatur bagaimana agar perilaku anak asuh (pekerja seks) berubah menjadi mau menggunakan kondom, tapi juga bisa mengatur hal lain seperti perdagangan orang, “termasuk sistem seperti apa yang akan digunakan untuk mengeluarkan perempuan di bawah 18 tahun dari lokalisasi,” lanjut Deden.
Melihat capaian-capaian program dan potensi yang dimiliki oleh komunitas, ketika ditanya apakah komunitas siap untuk menjalankan program penanggulangan HIV & AIDS tanpa dukungan PKBI dan Oxfam-Novib, Kusiyah menjawab dengan lantang, “Kami sudah siap!” yang diamini oleh peserta lain dari Kalimantan Tengah, “Kami akan melanjutkan dengan semangat bersatu untuk kemanusiaan.”
edL
Aborsi Aman: Hak Perempuan atas Tubuhnya
Fakta menunjukkan bahwa berjuta perempuan di Indonesia mengalami kehamilan tidak direncanakan (KTD), baik karena menjadi korban pemerkosaan, tidak menggunakan kontrasepsi, maupun karena metode kontrasepsi yang kurang efektif. Sebagian dari perempuan tersebut memilih mengakhiri kehamilannya dengan berbagai pertimbangan yang lebih umum disebut sebagai aborsi. Di Indonesia, pandangan masyarakat tentang aborsi masih merupakan suatu hal negatif dan pemerintah juga menyudutkan perempuan yang melakukan aborsi. Oleh karena itu perempuan hamil yang memilih aborsi melakukannya secara sembunyi-sembunyi yang sebagian besar dari mereka dibantu oleh tenaga-tenaga tidak terlatih melalui pemijatan kandungan dan menguret tanpa prosedur medis yang tepat, serta ramuan yang berbahaya. Usaha perempuan untuk mewujudkan hak atas tubuhnya berisiko pada kematian. Tidak mengherankan bahwa di Asia Tenggara tingkat kematian perempuan akibat aborsi tidak aman menyumbang hingga 16% dari kematian maternal.
Aborsi tidak aman membawa perempuan pada risiko kematian mendadak karena pendarahan hebat, kematian mendadak karena pembiusan yang gagal, sobeknya rahim, kerusakan leher rahim, kanker indung telur, kanker leher rahim, dan infeksi rongga panggul dan pada lapisan rahim. Atas risiko tersebut, sudah sepantasnya perempuan mendapatkan akses aborsi yang aman dan hak atas tubuhnya. Aborsi aman yang dimaksud adalah aborsi yang dilakukan secara aman oleh tenaga medis profesional yang memenuhi standar medis dan tidak membahayakan kehidupan pasien. Indikator dari layanan aborsi aman adalah adanya konseling pra-aborsi, pemeriksaan medis, prosedur aborsi dilakukan oleh dokter atau tenaga medis yang ahli dengan standar medis yang tepat, pemeriksaan pasca aborsi, dan konseling pasca aborsi. Berkaitan dengan hak perempuan atas aborsi yang aman, diadakan sebuah diskusi publik yang merupakan bagian dari kampanye positif bertema “The Right to Live, The Right to Safe Abortion” pada tanggal 16 Januari 2012 di pendopo LkiS Yogyakarta.
Narasumber pertama adalah Faqih yang berasal dari ICRS UGM dan membahas aborsi dari sudut pandang agama Islam. Menurut Faqih, dalam Alquran terdapat larangan jangan membunuh jiwa tetapi definisi dari jiwa itu sendiri belum pasti sehingga ada kemungkinan aborsi dapat dilakukan sebelum usia kandungan mencapai empat bulan ketika roh ditiupkan ke dalam janin. Walau demikian ada aliran yang memiliki pandangan bahwa jiwa telah ada sejak sperma dan sel telur tercipta sehingga embrio berusia satu hari juga telah memiliki jiwa. Kelompok inilah yang mengharamkan dilakukannya aborsi dalam periode kapanpun.
Narasumber kedua adalah Ina, seorang konselor KTD. Ina menjelaskan bahwa sebagai konselor KTD dirinya akan memberikan alternatif pada kliennya apakah ingin melanjutkan kehamilan dan merawat anaknya sendiri, melahirkan dan kemudian bayi tersebut diadopsi orang lain, atau aborsi. Ina menjelaskan tiga pilihan tersebut dengan untung-ruginya masing-masing dan mengembalikan pilihan kepada sang perempuan. Selama tahun 2011, hotline tempat Ina bekerja telah menerima lebih dari 1.200 telepon yang menanyakan tentang aborsi aman. Sebagian besar peneleponnya adalah perempuan yang tinggal di pulau Jawa karena asumsinya mereka lebih mudah mengakses media dan teknologi dibandingkan dengan daerah lain. Data lain yang mengejutkan adalah sebagian besar perempuan yang menelepon adalah ibu rumah tangga, bukan seperti prasangka umum bahwa aborsi identik dilakukan oleh perempuan lajang yang aktif secara seksual.
Narasumber ketiga merupakan seorang penyintas aborsi tidak aman, namanya Astrid. Ketika berusia 19 tahun Astrid mengalami KTD dan tidak siap dengan kehamilan tersebut hingga memutuskan untuk mengakhiri kehamilannya. Setelah mencari akses aborsi ke berbagai sumber selama beberapa bulan, Astrid mendapat sebuah jaringan aborsi tidak aman tetapi usia kandungannya telah mencapai 3,5 bulan. Saat itu Astrid diminta menunggu di sebuah terminal bus di Jakarta dan dijemput oleh sebuah mobil yang membawanya ke sebuah rumah dimana terdapat beberapa ibu hamil lainnya yang juga akan mengakhiri kehamilannya. Dalam sebuah kamar ada empat ibu hamil dan Astrid menjadi pasien terakhir. Selama sekian jam dia melihat ketiga perempuan lainnya berjuang menahan rasa sakit yang luar biasa tanpa adanya sikap empatik dari orang yang menangani aborsi mereka. Selama kurang lebih satu jam Astrid mengalami nyeri di bagian rahim dan vaginanya. Lalu setelah beristirahat selama satu jam mereka semua diantarkan kembali ke terminal semula karena pasien-pasien berikutnya akan segera datang. Astrid menyimpan cerita tersebut seorang diri selama bertahun-tahun dan menimbulkan trauma baginya.
Pada tahun 2008 Astrid telah menikah tetapi mengalami marrital rape, yaitu hubungan seks yang dipaksakan oleh pasangan atas nama pernikahan. Astrid kembali mengalami KTD dan tidak siap dengan kehamilan tersebut karena dia yakin tidak dapat membesarkan janin yang dikandungnya dengan sepenuh hati. Dengan berat hati Astrid kembali melakukan aborsi tetapi kali ini dengan meminum pil darurat. Astrid menekankan bahwa pada awalnya dia merasa malu dan takut untuk membicarakan aborsi yang pernah dilakukannya. Akan tetapi lambat laun Astrid meyakini bahwa apa yang dilakukannya kini mendorong semakin banyak perempuan menyuarakan haknya atas tubuh mereka dan semakin banyak perempuan yang mau berbagi kisah pilu mereka atas aborsi tidak aman yang menimpa mereka karena tidak ada akses untuk aborsi aman. Dengan kisah para perempuan tersebut juga akan semakin banyak perempuan yang tertolong untuk tidak melakukan aborsi tidak aman dan memberi penguatan pada mereka dengan mengatakan,“Kamu gak sendirian”.
Diskusi publik tersebut ditutup dengan pembagian sticker hotline aborsi aman yang dinamakan It’s My Circle. Hotline tersebut dapat diakses pada nomor 0878 3955 5100, 0853 2521 1100, 0857 2929 5100, dan 081 9889 240.
edL
Perempuan Pekerja Seks: Rentan Mengalami Eksploitasi dan Kekerasan
Narasumber dalam bedah kasus antara lain Kanit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Polresta Yogyakarta, Dinas Sosial, dan KPA Kota Yogyakarta. Diskusi dibuka dengan pemaparan hasil riset aksi P3SY terhadap kasus kekerasan di komunitas pekerja seks. Kanit PPA menyampaikan bahwa Polresta Yogyakarta akan menerima rujukan kasus dari Griya Asa dan memberi jaminan tidak akan ada diskriminasi terhadap identitas dan latar belakang korban termasuk perempuan pekerja seks.
Selain bedah kasus, P3SY juga melakukan peresmian Griya Asa. Griya Asa community crisis center adalah salah satu upaya yang dilakukan CBO-CBO komunitas perempuan pekerja seks yang tergabung di dalam P3SY. P3SY sendiri merupakan organisasi payung komunitas perempuan pekerja seks yang berjuang di isu advokasi terhadap hak warga negara. Selama ini identitas sebagai perempuan pekerja seks menghalangi mereka untuk mendapatkan akses layanan kesehatan, perlindungan, dan persamaan hukum.
Data PKBI DIY 2011 menunjukkan bahwa 10% pekerja seks yang ada di titik-titik lokasi tempat pekerja seks bekerja adalah anak-anak dan remaja. Data tersebut menunjukkan tingginya peluang terjadi ekploitasi dan kekerasan terhadap anak dan remaja.
Ditulis oleh: Fita Purwantari
edL
Celebrate d4Life
It’s My Circle: Perempuan Berhak atas Tubuhnya
It’s My Circle merupakan kampanye untuk menyelamatkan perempuan dari aborsi yang tidak aman. “Kami adalah aliansi gerakan untuk mendukung aborsi aman terhadap perempuan,” kata Inna Hudaya, perwakilan dari SAMSARA, dalam konferensi pers. It’s My Circle tidak hanya muncul di Indonesia saja, tetapi juga di beberapa negara lain Asia lainnya seperti Pakistan dan Filipina. “Di sini kami mengajak semua orang untuk berpikir ulang karena isu aborsi ini seperti dibisukan. Padahal sudah banyak (aborsi-red.) terjadi dan itu tidak aman bagi nyawa perempuan,” lanjut Inna. Berdasarkan estimasi global, tercatat bahwa 4 dari 10 kehamilan merupakan kehamilan yang tidak diinginkan. “Kami di sini mengajak kalian semua untuk menempatkan perempuan sebagai subjek, bukan objek dalam permasalahan aborsi,” seru Inna. ”Perempuan juga mempunyai hak untuk memilih aborsi yang aman, baik keputusan aborsi yang dia mau, tempat aborsi yang membuatnya aman, dan langkah aborsi yang diinginkannya,” jelas Inna.
Aborsi di Indonesia masih merupakan perilaku yang ilegal dan hanya diperobolehkan dengan batasan hukum yang sangat ketat namun tidak membela hak perempuan. Maka dari itu gerakan It’s My Circle mengajak masyarakat luas untuk merenungkan kembali stigma terhadap aborsi. “Karena stigma itu pula yang menyebabkan angka kematian perempuan saat melakukan aborsi menjadi tinggi, karena pemerintah menutup mata terhadap hal ini. Belum lagi bila terjadi kekerasan terhadap perempuan saat aborsi yang dilakukan oleh tenaga medis atau bahkan dukun”, tegas Inna. Perwakilan dari SAMSARA tersebut juga mengatakan bahwa dari Mei 2011 hingga September 2011 sudah ada lebih dari 200 telepon yang masuk ke nomor hotline It’s My Circle.
Sedangkan Sucithra Delvie, dari Jaringan Aktifis Global Aborsi Aman mengatakan bahwa fakta menunjukkan banyak perempuan yang sudah menikah juga membutuhkan akses untuk melakukan aborsi, Hal ini,dikarenakan kehamilan tidak diinginkan juga terjadi pada perempuan yang sudah menikah. “Saya percaya, target MDG’s tidak akan terpenuhi bila akses perempuan untuk mendapatkan aborsi yang aman tidak terpenuhi”, jelas perempuan yang berasal dari India ini. Sucithra juga berharap isu aborsi menjadi salah satu hal yang dibahas dalam APCRSHR ke-6. Gerakan It’s My Circle juga mendapatkan dukungan dari Women’s Global Network for Reproductive Rights (WGNRR) yang berpusat di Filipina. Kathy Mulville, perwakilan dari WGNRR, mengatakan bahwa aborsi merupakan isu global yang terjadi di belahan negara manapun. “Tapi anehnya, sepanjang yang saya tahu, angka kematian perempuan akibat aborsi rendah di negara yang melegalkan aborsi, sedangkan di negara yang memutuskan aborsi sebagai hal ilegal malah tinggi,” kata Kathy. Kathy menyadari bahwa setiap negara berbeda dalam menyikapi aborsi ini. Akan tetapi menurutnya perbedaan budaya yang ada seharusnya bisa saling melengkapi satu sama lain. “Setiap tahun pada tanggal 28 September kami mengadakan Global Campaign untuk aborsi aman dan legal di seluruh dunia,” terang Kathy.
Salah satu nomor hotline It’s My Circle di Indonesia adalah 085743554134. Para perempuan dapat menghubungi nomor tersebut bila akan melakukan aborsi yang aman. Pihak It’s My Circle akan mengadakan konseling terlebih dahulu kepada para perempuan yang berencana melakukan aborsi yang aman. Selanjutnya perempuan tersebut diberi tiga pilihan yang bebas diambilnya. “Kami punya tiga opsi pilihan yang diberikan kepada orang yang akan melakukan aborsi, yaitu melanjutkan kehamilan, mengadopsi anaknya, dan aborsi yang aman. Tentu saja kami menjelaskan terlebih dahulu akibat positif dan negatif yang menyertainya,” terang Inna.
edL
Yogyakarta: Tuan Rumah APCRSHR ke-6
Sugiri menyadari bahwa Indonesia masih jauh tertingal dibandingkan dengan negara lain dalam isu kesehatan reproduksi. “Rencananya, pada tahun 2012 nanti BKKBN akan mendirikan pusat pelayanan keluarga sejahtera di seluruh propinsi se-Indonesia sebagai bagian dari tanggung jawab kami akan terpenuhinya hak-hak kesehatan reproduksi bagi seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya. Sedangkan sebagai ketua panitia, Muhadjir berharap melalui konferensi ini akan lahir pemikiran baru dan dilanjutkan melalui tindakan nyata untuk kemajuan bersama di seluruh negara Asia Pasifik. “Upaya ini harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat, terutama remaja, perempuan, dan kelompok marjinal yang sering menjadi korban diskriminasi dan kekerasan,” harapnya.
edL
Orang Muda Bersatu Perjuangkan Kesehatan Reproduksi
Pada konferensi pers yang diadakan setelah upacara pembukaan Youth Forum, Prof. Dr. Muhardjir Darwin, MPA menyatakan bahwa remaja merupakan fokus utama dalam isu sexual and reproductive health and rights (SRHR). Selain itu data statistik menunjukkan bahwa jumlah remaja di Asia Pasifik merupakan jumlah terbesar dibandingkan dengan remaja di regional lainnya. Dr. Marijke Wijnsroks, duta besar HIV AIDS Belanda, menambahkan bahwa isu SRHR adalah isu yang sangat penting karena remaja memegang peranan penting untuk menciptakan kekuatan yang seimbang dalam komunitas-komunitas konservatif. “CSE is more than just curriculum because it will increase the ability of youth and in participating in society and supreme the human rights” (CSE lebih dari sekadar kurikulum karena akan meningkatkan kemampuan anak muda untuk berpartisipasi dalam masyarakat dan menjunjung tinggi HAM), kata Syefa Ahmed, perwakilan remaja dari Bangladesh.
Konferensi Youth Forum ini kemudian dilanjutkan dengan pembagian peserta remaja ke dalam empat kelompok kecil yang membahas topik Comprehensive Sex Education, Youth Friendly Services, Youth Diversity, dan Youth-Led Initiatives. Pemikiran-pemikiran kritis para remaja ini kemudian disajikan di dalam forum besar dan kemudian dirangkum dalam kesepakatan bersama untuk pengakuan hak-hak orang muda dalam sebuah deklarasi. Deklarasi ini akan disampaikan dalam upacara pembukaan APCRSHR ke-6 yang rencananya akan dibuka secara resmi oleh HR. Agung Laksono, Menteri Koordinator Kesejahteraan Sosial.
edL
Youth Camp: Mendorong Remaja Memperjuangkan Hak Mereka
Dengan mengambil tema “Partisipasi Remaja dalam Pengambilan Kebijakan”, pelatihan bagi remaja sekolah ini bertujuan untuk menguatkan kemampuan dan peran Peer Educator atau Pendidik Sebaya. Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku remaja, dan kemampuan dalam perjuangan hak-hak remaja. Pendidik Sebaya sendiri adalah perwakilan remaja di tiap-tiap sekolah yang didampingi PKBI DIY. Mereka adalah agen penghubung antara pihak sekolah dengan PKBI DIY.
Pelatihan ini dibuka oleh Awang Trisnamurti, yang mewakili Pengurus Harian Daerah PKBI DIY. Dalam sambutannya, Awang menegaskan pentingnya memperjuangkan hak-hak remaja. “Jadi, yang memperjuangkan hak-hak kalian itu ya diri kalian sendiri, di sini kami hanya mendorong kalian saja”, ungkap Awang. Awang juga mencoba menyemangati peserta pelatihan karena ini merupakan sarana regenerasi Pendidik Sebaya. Mayoritas peserta pelatihan pun merupakan pelajar kelas X, dan mereka baru pertama kali mengikuti pelatihan seperti ini. “Memang ini lebih bersifat sebagai regenerasi Peer Educator, jadi di sini kami lebih menekankan pada pembekalan isu-isu remaja”, jelas Dian. Lanjut Dian, “Mereka kan pelajar kelas X SMA, jadi kami mengajak mereka berdiskusi hingga dapat merumuskan beberapa isu.
Materi pelatihan selama tiga hari ini lebih banyak diisi dengan berdiskusi, mengajak para remaja untuk mengenal lebih mendalam tentang isu-isu yang selama ini luput dari perhatian sekolah. Dengan dibantu oleh enam fasilitator dari PKBI DIY, peserta diajak mengenal materi seperti kesehatan reproduksi, seksualitas, jender, serta HIV dan AIDS. Salah satu sesi utama dari pelatihan ini adalah peserta diberi kesempatan beraudiensi dengan anggota DPRD DIY. Dari pantauan, peserta pelatihan pun terlihat sangat bersemangat mengikuti pelatihan ini. “Asik Mas bisa ikut, jadi kita bisa tahu ilmu yang selama ini tidak diajarkan di sekolah”, kesan Alvien Lerianza Bartindo, peserta dari SMA 1 Bantul. Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan oleh Dinda Novakhotimah, “Seru, banyak pengalaman baru yang bisa didapatkan di sini, juga temen-teman baru”, ungkap pelajar SMK 2 Yogyakarta ini.
Semangat yang cukup tinggi, potensi yang besar, dan keaktifan para peserta cukup membuat Trianina A. Kudiasanti, ketua Youth Forum DIY, bangga. Youth Forum merupakan gabungan dari Pendidik Sebaya di DIY. Remaja yang akrab disapa Nina ini mengatakan bahwa senang bisa berkenalan dan bergabung dengan teman-teman Youth Forum seluruh DIY. Saat ditanya mengenai harapan, Nina mengatakan bahwa semoga semua peserta bisa memahami isu-isu yang didiskusikan selama pelatihan dan semua hal yang berkaitan dengan Pendidik Sebaya. “Teman-teman semua juga bisa mencapai petisi remaja yang sudah disepakati bersama serta semua pengalaman selama tiga hari ini bisa bermanfaat”, harap pelajar dari SMA 5 Yogyakarta ini.
Harapan yang tidak jauh berbeda juga diungkapkan oleh Dian. “Seneng ya, semoga dengan pelatihan ini teman-teman bisa paham hak remaja yang selama ini tidak diperhatikan oleh pihak sekolah”, harap Dian. ”Tidak hanya paham, namun teman-teman semua juga bisa menerapkan dan melakukan rencana tindak lanjut yang sudah disepakati bersama di akhir pelatihan tadi,” lanjutnya.
Oleh : Dominus Tomy
edL
Sunat Perempuan Tidak Ada Manfaatnya
Dugaan pegiat hak-hak perempuan mengenai adanya upaya sistemik untuk membatasi hak seksual dan hak kesehatan reproduksi perempuan bukanlah suatu hal yang mengada-ada. Jika dilihat dari berbagai sisi, peraturan ini tidak memiliki dasar yang kuat untuk diterapkan. Alih-alih memberikan manfaat, PERMENKES ini justru berpotensi melanggar HAM (Perempuan). Secara fisik tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan manfaat sunat bagi perempuan. Lemahnya hukum Islam (dalil) yang mengatur tentang pelaksanaan sunat pada perempuan menjadikan PERMENKES ini layak untuk ditinjau ulang.
Tidak ada dalil yang kuat
Dalam syariat Islam, tidak juga ditemukan dasar yang kuat untuk menerapkan pelaksanaan sunat bagi perempuan. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Muslimat NU DIY, Siti Maryam, saat dihubungi oleh Swaranusa.net (1/6). Ketika dimintai pendapat tentang hukum Islam yang mengatur sunat perempuan, Siti menyatakan tidak ada satu aturan yang kuat untuk dijadikan dasar pelaksanaan sunat pada perempuan. “Memang ada riwayat tentang dilakukan sunat. Tingkatannya tidak sampai sunnah karena tidak ada dalil yang kuat untuk itu”, tegasnya.
Siti Habibah Jazila, seorang perempuan yang aktif dalam melakukan kajian tentang hukum Islam, juga menyatakan bahwa hadis yang dijadikan dasar hukum untuk melaksanakan sunat sangat lemah atau dha’if. “Dalam Al-Qur'an, sejauh yang aku tahu tidak ada. Selama ini yang banyak dijadikan rujukan adalah hadis yang berbunyi ’dinyatakan khitan merupakan sunah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan’ dan didapati ternyata itu adalah hadis dha'if”, tegasnya. Beberapa kalangan meragukan hadis tersebut karena periwayatnya yang kurang jelas. Ada yang beranggapan bahwa kalimat tersebut bukan hadis, melainkan satu kalimat yang disampaikan oleh Ibn Abbas, bukan Rasulullah Muhammad SAW. Habibah menegaskan, “Da’if atau lemah sebab ada periwayatnya yang diragukan, bahkan menurut K. Husein malah ada yang memasukkannya sebagai perkataan Ibn Abbas bukan Nabi”.
“Tidak ada hukum yang melarang jika tidak dilakukan dan juga tidak ada dalil yang mengharuskan (untuk dilakukan sunat perempuan, - red.). Bagi saya, hukumnya mubah. Dilakukan tidak mendapatkan pahala, jika tidak dilakukan juga tidak mendapatkan hukuman”, tegas Siti.
Oleh karena itu, PERMENKSES No. 1636 /2010 lemah untuk dijadikan sebagai sebuah aturan bagi lembaga pelayanan kesehatan. Apalagi dalam poin (a) yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan tertulis “... pelaksaan sunat perempuan harus dilakukan sesuai dengan ketentuan agama ...”.
Sunat Perempuan, Tidak Bermanfaat
Belum ditemukannya manfaat medis mengenai pelaksanaan sunat bagi perempuan menegaskan bahwa peraturan ini diterbitkan tanpa dasar yang kuat. Manfaat yang diharapkan terjadi seperti pada sunat laki-laki tidak bisa dipastikan. “Sunat laki-laki memang memiliki manfaat besar bagi kesehatan, namun untuk perempuan tidak ada manfaatnya sama sekali. Jika memang manfaatnya besar bagi kesehatan dan keperluan perempuan, tidak masalah. Namun jika menghalangi manfaat bagi perempuan, tidak masalah. Setahu saya, tidak ada manfaatnya”, tegas Siti Maryam.
Menanggapi keluarnya PERMENKES tersebut, pemerintah DIY harus mengambil sikap yang tegas. “Jika memang tidak ada manfaatnya secara pasti, maka jangan dilakukan (diterapkan - red.) di DIY”, pesan Siti Maryam.
Peraturan seharusnya dibuat untuk memberikan manfaat, bukan untuk mempersulit masyarakat. Tidak adanya manfaat dari peraturan ini dan juga keyakinan akan kontrol terhadap tubuh perempuan, membuat peraturan ini harus ditinjau ulang. Bahkan Siti Habibah Jazila menegaskan bahwa aturan ini harus dicabut. “Praktik khitan dalam banyak kasus akan menyebabkan perempuan tidak dapat atau kurang memperoleh kepuasan dalam hubungan seks, maka khitan tidak boleh dilaksanakan. Ditambah lagi kalau terbukti praktik khitan berdampak buruk bagi kesehatan perempuan, termasuk meninggalkan trauma psikologis”, tegasnya. (Gama Triono)
Takut Tangani Persalinan dengan HIV, Petugas “Kucing–kucingan”
Gunung Kidul: Ibu Hamil Ikuti VCT HIV
Program ini didukung oleh para anggota tim yang kompeten di bidangnya. Salah satunya adalah dr. Emyl dari PUSKESMAS Pathuk I yang baru saja mengikuti sebuah pelatihan HIV dan AIDS untuk para klinisi oleh Center Heath Policy and Social Change (CHPSC) Yogyakarta. Menurutnya, HIV dan AIDS masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat, terlebih di wilayah Gunung Kidul. Dokter Emyl sangat prihatin dengan keadaan tersebut jika mempertimbangkan era informasi yang kini sudah sangat maju. "Padahal saat ini PUSKESMAS Pathuk I telah menjumpai empat kasus HIV dalam layanannya. Makanya, saya tidak menyebutkan test HIV di undangan yang disebarkan karena fakta HIV masih medeni buat masyarakat sini. Saya hanya menyebutkan test kesehatan untuk mengetahui penyakit,” ujarnya sambil tersenyum.
Walaupun demikian, dr. Emyl sangat memahami kaidah-kaidah VCT yang harus dilakukan. Dirinya percaya bahwa sosialisasi mengenai HIV dan AIDS pasti akan disampaikan oleh PKBI ataupun PUSKESMAS agar peserta tidak merasa tertipu. Jika ada di antara ibu hamil yang tidak berkenan atau keberatan untuk melakukan tes, maka pihak PUSKESMAS tidak akan memaksa. Namun di luar dugaan, 100% ibu hamil yang hadir bersedia melakukan test, bahkan para petugas kesehatan juga turut melakukannya. Melihat antusiasme yang begitu tinggi, dr.Emyl berharap kegiatan semacam ini tidak hanya dilakukan sekali ini saja.
Drg.Sukahar, Kepala PUSKESMAS Pathuk I, saat memberikan sambutan mengatakan bahwa seharusnya kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan oleh kelompok perempuan saja. "Jika nanti ada tes seperti yang dilakukan PKBI DIY, seharusnya bapak–bapaknya juga ikut serta. Namun mungkin lain kali karena keterbatasan tempat, aula ini sangatlah sempit, dan tidak cukup jika bapak juga ikut serta,” ujarnya bersemangat.
Dirinya menegaskan bahwa ibu-ibu hamil memang selayaknya mendapatkan informasi kesehatan. Mereka harus mengetahui segala macam penyakit yang bisa mengganggu kesehatan dirinya ataupun janin yang dikandung. Kondisi tersebut sangat diperlukan agar gangguan yang ringan hingga penyakit yang berat pada bumil bisa dicegah dan diatasi sedini mungkin. “Walaupun beberapa kasus AIDS telah ditemukan di layanan kesehatan ini dan beberapa tenaga kesehatannya juga telah mengikuti pelatihan, namun sayang, PUSKESMAS Pathuk I belum mempunyai fasilitas VCT hingga kini,” kata Drg. Sukahar.
Bukan Hanya Masalah Angka
Sementara di tempat yang berbeda, Maezur Zacky, direktur pelaksana daerah PKBI DIY mengatakan, angka 65 untuk sekali kegiatan VCT mobilenya merupakan bukti keseriusan PKBI untuk mendukung targetan angka yang dicapai pada pertemuan–pertemuan jaringan HIV dan AIDS Yogyakarta. Walau demikian perlu selalu diingat bahwa persoalannya bukan pada angka capaian, tetapi bagaimana jika nantinya didapatkan temuan positif. ”Apalagi Gunung kidul merupakan salah satu kabupaten yang belum mempunyai fasilitas dan sarana pendukung lengkap untuk orang dengan HIV dan AIDS,” kata Zacky mengingatkan.
Capaian Millennium Development Goals (MDGs) pada poin HIV dan AIDS yang menargetkan angka–angka sebagai indikator keberhasilannya, ataupun targetan 400 orang dalam sebulan yang mengikuti VCT, menurut Zacky merupakan hal yang mudah dicapai dan dilakukan jika semua pihak mau serius. Optimisme tersebut ditambah dengan kenyataan bahwa PKBI DIY mempunyai program yang sama untuk seluruh cabangnya. “Tapi yang penting bukanlah hanya pemenuhan targetan angka untuk MDGs semata, melainkan persoalah HIV dan AIDS juga harus diukur dengan Human Development Index (HDI) yang mengukur kualitas pendidikan dan angka melek huruf, ekonomi dan kesejahteraan, kenyamanan, keamananan. Atau bahkan jika mau mengikuti HDI Fililpina, yaitu ada satu hal yang tak kalah pentingnya: kesenangan atau kegembiraan. Itu luar biasa,” papar Zacky.
Peran Pemerintah yang Utama
Rencana strategis Dinas Kesehatan 2011 yang tidak akan menambah lagi set-up VCT pada layanan kesehatan, menimbulkan kekhawatiran bagi dirinya. “Jangan–jangan, tidak perlu membangun fasilitas VCT baru karena (merasa, red.) sudah ada layanan VCT mobile PKBI yang bisa sampai kemana-mana termasuk Gunung Kidul?”, tanyanya. Jika ini terjadi maka menurut Zacky bukanlah kemajuan seperti yang diharapkan dalam gerakan yang dibangun oleh PKBI. Dirinya selalu menegaskan bahwa salah satu indikator keseriusan pemerintah untuk memberikan pemenuhan hak-hak masyarakatnya adalah dengan membangun akses layanan yang mudah diakses oleh masyarakat. Hal itu tentu sangat erat kaitannya dengan anggaran yang dialokasikan pemerintah melalui APBN maupun APBD. “Nah jika semua yang harus dipenuhi kemudian digantungkan pada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), itu kan kebalik-balik?” terangnya sambil tertawa.
Zacky sangat mendukung program VCT mobile yang dijalankan oleh klinik PKBI DIY. Alasannya adalah selain dapat memperkaya pengalaman lembaga, data yang terkumpul merupakan cerminan fakta sosial. Data tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan advokasi untuk mendorong pemerintah melakukan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat. “Kegiatan untuk percepatan pembangunan fasilitas dan sarana kesehatan yang lengkap, murah, terjangkau, aman dan friendly bagi masyarakat oleh pemerintah sebagai penyelenggara negara tidak boleh ditinggalkan!” tegasnya.
[edL]
Merawat Jaringan Bukan Soal Mudah
Melakukan hubungan seks di usia sangat dini, 10 tahun. Sebagiannya belum pernah mengetahui kondom dan cara menggunakannya. Sementara prevalensi IMS dan HIV dan AIDS cukup tinggi di Tanah Papua.
Hal itu terungkap dalam serangkaian diskusi terarah dengan remaja sekolah, mahasiswa, remaja adat dan remaja agama di kabupaten Keerom, kabupaten Biak, kabupaten Jayapura dan kota Jayapura. "Kenyataan ini sangat mengherankan, sementara program penanggulangan HIV dan AIDS besar-besaran digelontorkan ke Tanah Papua," kata Mukhotib MD di sela-sela proses diskusi di kabupaten Biak.
Ketua IBI DIY Heran dengan Permenkes Sunat Perempuan
Ibu Nunik mencontohkan pasal 4 ayat 2a, ‘cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir selama sepuluh menit.’ Menurut dia, untuk melakukan tindakan operasi dokter tidak membutuhkan waktu selama itu untuk cuci tangan. Di dunia medis sudah terdapat tata cara mencuci tangan dengan waktu yang sesuai sebelum melakukan tindakan medis.
Dalam pengalaman perempuan yang juga Direktur salah satu Rumah Bersalin swasta di D.I. Yogyakarta ini, sunat perempuan dengan tindakan mengores tidak pernah dilakukan sebelumnya. Dia mengikuti tradisi Jawa, tetesan. Tetesan adalah tindakan membersihkan vagina dengan cairan antiseptik mengingat bayi baru lahir memiliki banyak lemak yang perlu dibersihkan. “Di Jawa itu teteslah, tidak digores, hanya dibersihkan. Kita tidak pakai alat apapun”, tuturnya.
Belum Ada Bukti Kemanfaatan
Ibu Nunik menduga keluarnya Permenkes Sunat Perempuan bisa jadi karena banyaknya praktek menyimpang seperti tindakan memotong klitoris atau labium mayora oleh dukun atau sesepuh tanpa izin medis. “Tindakan itu menurutnya melanggar HAM, meskipun hal tersebut dilakukan atas nama budaya atau agama,“ tegasnya.
Walau demikian, baginya, sunat perempuan sebagaimana diatur dalam Permenkes tidak ada dalam standar kompetensi tata aturan bidan. Semua tindakan medis yang dilakukan oleh bidan, tambahnya, mengikuti dasar pembuktian ilmiah (evidence base).
Secara jujur dia mengakui belum mengetahui manfaat bagi perempuan yang disunat. Sepanjang pengetahuannya, belum ada bukti atau penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa sunat perempuan adalah baik untuk dilaksanakan. Oleh karenanya, Ibu Nunik dan teman-teman sesama bidan tidak pernah melakukan sunat perempuan seperti yang dijelaskan di Permenkes yaitu tindakan menggores kulit tanpa melukai klitoris. [Shinta]
Penanganan Terkini IMS dan HIV dan AIDS
KYC merupakan bagian dari PKBI cabang Bali yang aktif memberikan pelayanan kesehatan dan berbagi informasi maupun melakukan edukasi pada masyarakat umum. Ketua panitia, dr. Yanitama Putri, S.Ked. menyampaikan dalam wawancara terpisah bahwa kegiatan ini didasari oleh semakin meningkatnya kasus-kasus IMS dan HIV & AIDS di masyarakat. “Tentunya diperlukan guideline terpadu dan terus update untuk dapat memberikan pelayanan yang optimal, prima, efektif, dan efisien kepada masyarakat. Karena itulah sasaran dalam seminar kali ini adalah para pemberi pelayanan kesehatan”, ujarnya.
Dr. Wiraguna, Sp.KK menegaskan bahwa para pekerja seks masih menjadi korban dengan jumlah yang paling tinggi dalam penularan IMS. “Sebagai tenaga medis, yang dapat kita lakukan ialah mengobati pasien dengan tuntas, menjaga kepatuhan pasien dalam minum obat sehingga memperkecil terjadinya resistensi terhadap antibiotik tertentu,” paparnya.
Sementara Prof. Mangku Karmaya, ketua pengurus PKBI Cabang Bali, mengatakan “Sampai akhir 2010, berdasarkan jumlah total kasus HIV & AIDS, Bali menduduki peringkat ke-5 di Indonesia, tetapi berdasarkan prosentase penduduknya, Bali berada di peringkat ke-2. Tentunya ini bukan hasil yang patut dibanggakan.”
Peserta tampak sangat aktif dalam bertanya dan berbagi pengalaman. Salah seorang peserta berpendapat bahwa saat ini Bali masih menjadi tujuan wisata para turis asing. Seringkali mereka datang ke rumah sakit atau klinik sebagai pasien dan mengharapkan penanganan dengan standar yang sama seperti di negara asalnya.
“Lalu bagaimana tentang perbedaan waktu meminum obat yang akan berubah akibat perbedaan jam antar negara?” tanya salah seorang peserta. Prof. Tuty menyampaikan bahwa memang akan ada perubahan jadwal minum obat bagi mereka, terutama bagi pasien yang harus meminum obat secara berkelanjutan berdasarkan waktu kerja obat seperti misalnya ARV (Anti Retro Viral- red.). “Penanganannya akan berbeda antara pasien yang melakukan traveling dari barat ke timur, dan sebaliknya.
Untuk menyikapi masalah ini, nantinya Fakultas Kedokteran Universitas Udayana akan bekerjasama dengan Sekolah Menengah Farmasi Interna RSUP Sanglah untuk menyusun guideline ’Travel Medicine’, jawabnya. Salah seorang peserta yang hadir mengaku banyak mendapatkan informasi terbaru, “Mantep simposiumnya, kan sering tuh dapat pasien gitu, sekarang jadi bisa menyamakan obat pilihan pertama dalam nanganin pasien IMS, lumayan nambah ilmu”, ujar salah satu dokter di sebuah rumah sakit swasta.
Peserta KB Laki-laki Meningkat Tajam
Peserta program keluarga berencana (KB) dari kalangan laki-laki tahun 2010 di Jawa Tengah, meningkat tajam. Dari sasaran 50.489 orang, bisa direalisasi hingga 56.153 orang. Penggunaan alat kontrasepsi kondom tetap yang tertinggi dibandingkan metode operatif pria (MOP) atau sering disebut vasektomi. Persentase peningkatan tersebut lebih tinggi dibandingkan peserta KB perempuan.
HASIL RISET TENTANG PENGETAHUAN DAN PERILAKU KESPRO DAN SEKSUAL REMAJA PADA 3 WILAYAH DI KALIMANTAN TENGAH
Desa Hargorejo Juarai Lomba Desa Peduli Anggaran Kesehatan Reproduksi
Lokalisasi Merong Diusulkan Pindah
Angka Kematian Ibu Tinggi
Youth Day, PKBI Kalteng Gelar Debat Remaja
Memperingati hari remaja internasional (International Youth Day), PKBI Kalimantan Tengah menyelenggarakan debat remaja antar sekolah. Isu virginitas dan pornografi diangkat sebagai topik utama dalam debat remaja yang dilaksanakan Sabtu (7/8). Staff PKBI Kalteng, Jailani, mengatakan, "Virginitas dan pornografi diangkat untuk melihat daya nalar para remaja dalam menanggapi isu tersebut, dan bagimana menjaga sikap mereka."
Sebelumnya, isu virginitas dan pornografi menjadi topik yang ramai diperbincangkan para remaja dalam pelatihan Pusat Informasi dan Konseling-Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) PKBI Kalteng beberapa bulan lalu. "Ketika para remaja berhadapan dengan yang namanya virginitas, angan-angan mereka lalu menunjuk kepada seks bebas dan perilaku pacaran. Begitu juga dengan pornografi, yang saat ini selalu menghantui remaja karena sifat ingin tahu mereka," tambah Jailani.
Warga Keluhkan Pelayanan ASKES
Meningkat, Kasus KTD Remaja di Semarang
“Alur dan konsep cerita kaya akan ide dan proses pembelajaran bagi remaja. Acara ini mestinya sering diselenggarakan untuk meminimalisasi dampak buruk dari pergaulaan bebas yang kini makin marak,” kata Ian (21) mahasiswa IAIN Walisongo Semarang.
Lies Marcoes-Natsir, MA: Mitos Seksualitas di Kalangan Santri
"Tiga hal penting berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi, didengarkan suaranya, mendapatkan informasi dan mendapatkan layanan," kata Lies Marcoes-Nastsir, saat memfasilitasi Workshop Penyusunan Modul Pelatihan Kesehatan Reproduksi bagi Santri, yang diselenggarakan Fahmina Institut di Cirebon, pada tanggal 18-19 Mei 2010.
Menurunkan Kematian Ibu Melahirkan, Menggalakkan Gerakan Sayang Ibu
Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BK-PP) di Kabupaten Barito Utara akan melaksanakan program Gerakan Sayang Ibu (GSI). Kepala BK-PP Barito Utara Drs. H. Bambang Edy Prayitno M.M. mengatakan pertengahan Mei ini akan dilaksanakan rapat koordinasi dengan pihak terkait untuk memantapkan program kegiatan GSI di setiap kecamatan di kabupaten Barito Utara.
Bambang mengatakan program GSI ini bertujuan menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan kematian bayi, meningkatkan status gizi ibu dan anak serta meningkatkan perkembangan otak. "Program ini juga bertujuan memantau kehamilan ibu secara baik, pemeriksaan dan pemberian imunisasi kepada ibu-ibu hamil dan penggalakan masyarakat dalam posyandu," katanya.
Meluaskan Akses bagi Remaja, Diadakan Pemilihan Duta Mahasiswa
Akses informasi kesehatan reproduksi remaja harus menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Riau. Hal ini disampaikan Retno Mayangsari, Direktur Pelaksana Daerah (Dirpelda) PKBI Riau yang juga menjadi Dewan Juri dalam kegiatan ini, saat mengomentari Pemilihan Duta Mahasiswa untuk Pemberian Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja, di Kantor BKKBN Provinsi Riau, pekan silam.
Kekerasan Terhadap Perempuan Harus Dihentikan
Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IKIP PGRI Semarang, menghimbau masyarakat tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan. Selain itu, tidak menganggap perempuan sebagai kanca wingking. , sehingga hanya menganggap perempuan sebagai “boneka” laki-laki yang bisa diperlakukan apa saja, tanpa memerhatikan perasaan dan hak-haknya.
Menurunkan AKI dan AKB, Perlu Program Berperspektif Hak Perempuan
Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009, mencapai 114 kasus per 100 ribu kelahiran hidup (KH). Angka rata-rata ini sedikit lebih rendah dibandingkan Tahun 2008 yang mencapai 114,4 kasus. Dalam level nasional angka ini relatif lebih rendah, yang mencapai angka 228 kasus, tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan capaian Millenium Development Goals (MDGs) dalam kisaran angka 102 kasus per 100 ribu KH.
Tidak Ada Dokter Spesialis, Masyarakat Menuntut Didatangkan Rutin
Turnamen HUT YONDANIV 403, Tim Volley Waria Turut Ambil Bagian
Tim bola volly Selendang Milioner, yang beranggotakan gay dan waria, turut memeriahkan turnamen yang diselenggarakan untuk memperingati hari jadi Batalyon Komando Militer Wilayah IV (YONDANIV) 403 Yogyakarta. Mereka tampil melawan tim putri bola volley UPN di kompleks Batalyon 403, Rabu (31/3).
Sistem Distribusi Perlengkapan Kesehatan Buruk
Kekosongan vaksin di Kalimantan Tengah akhirnya dilaporkan masyarakat ke DPR RI melalui Komisi C DPRD Kalimantan Tengah, dan selanjutnya disampaikan kepada Menteri Kesehatan. Hasilnya, pada awal bulan April ini, vaksin akan dikirim. "Vaksin selama tiga bulan ke depan akan segera dikirim dari pihak Kemenkes Jakarta," kata Ade Supriyadi, Ketua Komisi C DPRD Kalimantan Tengah.
Menunggu Lelang, Balita Tak Divaksin
Kekosongan vaksin terjadi hampir di seluruh wilayah Kalimantan Tengah, karena sampai kini belum ada pengiriman dari Kementrian Kesehatan, karena menunggu proses lelang. Kondisi ini pun mengakibatkan para orang tua yang memiliki balita menjadi cemas, selain itu balita yang tidak mendapat vaksin cenderung rentan terinfeksi penyakit berbahaya. Balita yang seharusnya sudah memasuki jadwal vaksinasi justru tak bisa. Karena vaksin di puskesmas-puskesmas kosong.
Kesehatan Reproduksi Remaja : Pemerintah Jangan Hanya Berwacana
Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat belakangan ini, memberikan banyak kontribusi dan pengaruh terhadap perkembangan pola pikir remaja, entah positif maupun negatif. Salah satunya, berpengaruh terhadap kehidupan seks mereka. Yang paling kentara saat ini adalah banyaknya remaja yang diketahui sudah melakukan hubungan seks pranikah. Bahkan, setiap tahunnya hal ini menunjukkan adanya tren peningkatan.
Kampanye Cuci Tangan Yang Benar Warnai Hari Air Sedunia
BORDA Indonesia bersama LPTP Yogyakarta dan Female Radio FM, memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh setiap 22 Maret melalui acara bertajuk Grebeg Air (21/03). Kampanye ini diselenggarakan untuk mendesak pemerintah agar memperhatikan persoalan sanitasi bagi 2,5 juta orang yang belum mendapatkan akses sanitasi yang layak. Dian Purnomo, selaku Koordinator Acara, mengatakan sehubungan dengan Konferensi Tingkat Tinggi Air dan Sanitasi I bulan April mendatang di Washington DC, setiap orang harus ikut berpartisipasi untuk meminta pemerintah memprioritaskan persoalan air yang merupakan hajat hidup orang banyak. “Tidak ada seorangpun yang bisa hidup tanpa air kan," ujarnya.
Gerakan cuci tangan yang benar merupakan salah satu acara yang dikampanyekan dalam Grebeg Air di dusun Jethak II, Sidokarto, Sleman. Pola hidup sehat seperti kebiasaan mencuci tangan dengan benar penting dikampanyekan pada masyarakat sejak usia dini. Ia juga membenarkan cuci tangan merupakan salah satu pola hidup sehat yang disarankan pada orang yang terinfeksi HIV dan AIDS. Kebiasaan ini pastinya perlu didukung pada penyediaan air bersih yang tersedia dari lingkungan yang baik dan bersih pula. "Penataan Mandi Cuci Kakus (MCK) seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk terciptanya sanitasi lingkungan yang sehat", tutur Dian yang juga aktivis HIV dan AIDS ini.
MCK Plus yang dibangun BORDA Indonesia, menjadi salah satu proyek percontohan bagi pengelolaan lingkungan yang baik. Bio Pori yang diperkenalkan pada masyarakat juga merupakan percontohan bagi pembangunan pemukiman dan jalan dengan respan air yang baik. "Hal ini bisa dicontoh masyarakat lainnya di luar dusun Jethak II," ujar Koordinator LPTP dalam sambutannya.
Lima ratus enam puluh lima orang antrian MCK Plus merupakan cara mengkampanyekan pentingnya sanitasi lingkungan yang sehat. Selain penataan air dan MCK, kebersihan lingkungan juga menjadi isu utama yang diangkat dalam acara ini. Ketertiban membuang sampah serta penyediaan tempat sampah hingga proses pengolahan sampah juga dipamerkan di acara ini.
Ir.Pornomo, Wakil Bupati Kabupaten Sleman, menyambut baik acara Grebeg Air ini dan berpesan pada seluruh masyarakat, untuk mulai menghemat air bersih. Jangan sampai terjadi penghambur-hamburan air untuk kepentingan yang tidak penting. Ia mengingatkan masih banyak daerah yang kekurangan air bersih. "Penting bagi masyarakat untuk menolong sesama yang membutuhkan air bersih ini, selain itu menjaga lingkungan yang sehat dan bersih dengan merawat saluran air dan tidak membuang sampah sembarangan," ujar Purnomo.
Menolak Paisen, Bisa Mendapatkan Sanksi
Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Kesehatan RI, mengatakan jika rumah sakit atau dokter menolak pasien dengan alasan apapun akan mendapatkan sanksi. Kecuali, bila seluruh ruangan perawatan memang betul-betul penuh dan tidak memungkinkan menampung pasien lagi.
Partisipasi Laki-laki dalam KB Masih Rendah
Dra. Sri Murtiningsih, MS, Kepala BKKBN Jawa Tengah, menyampaikan rencana itu dalam Rapat Kerja Daerah Pembangunan Kependudukan dan KB tingkat Jawa Tengah, di Gedung Grhadika Bhakti Praja, Selasa pekan lalu. Sri mengakui partisipasi laki-laki dalam program KB masih cukup rendah. Pencapaian peserta laki-laki dalam program KB tahun 2009 hanya mencapai 37,78 persen dari target yang ditetapkan. Namun, pencapaian peserta KB baru tahun 2009 berhasil melampaui perkiraan permintaan masyarakat hingga sebesar 108,10 persen. “Di samping usaha penambahan akseptor baru, kami tetap berusaha meningkatkan kembali kesertaan KB MKJT, khususnya IUD, MOP, dan MOW,” katanya.
Target pencapaian kontrak kinerja program KB di Jateng, diharapkan bisa terealisasi pada triwulan ketiga 2010. Untuk mencapainya, harus diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan atau penerapan Standart Operasional Prosedure (SOP) dan meningkatkan sarana bagi provider. Sri menjelaskan, laju pertumbuhan penduduk Provinsi Jateng sebesar 0,84 persen, dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 35 juta jiwa dan tingkat kepadatan penduduk pada satu kilometer persegi mencapai 995 jiwa. "Sangat tepat kiranya program KB masih menjadi urusan wajib pemerintah, mengingat laju pertumbuhan penduduk provinsi ini cukup tinggi," katanya.
Selama kurun waktu 2005-2009, Total Fertility Rate (TFR) atau angka kelahiran total cenderung fluktuatif dan terdapat kesenjangan cukup signifikan antarkabupaten atau kota. Hasil Survei Demografi Kependudukan dan Kesehatan Indonesia, TFR di Jateng sebesar 2,3 anak per perempuan usia subur. Fenomena ini mengindikasikan, di Jateng setiap satu jam lahir 30 bayi atau 129.600 bayi setiap tahunnya. Jika diasumsikan setiap manusia memasuki dunia kerja pada 2032, Jateng harus menyediakan 129.600 lapangan kerja setiap tahunnya. Menurut Sri, cara yang efektif harus menekan kelahiran melalui program KB. KB dimasyarakatkan kembali, agar tertarik ikut KB. "Syukur-syukur bisa jadi akseptor tetap," katanya.
Dalam pencapaian Contraseptive Prevalence Rate (CPR) atau angka pemakaian kontrasepsi, Sri menjelaskan, target Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 65 persen, sehingga jika dihitung, dibutuhkan tambahan peserta KB baru sebesar 907.007. CPR pada 2007 secara nasional baru mencapai 61,4 persen, padahal harapan pemerintah bisa mencapai 75 persen. “Ini menandakan masyarakat masih belum bisa menyadari pentingnya perencanaan keluarga melalui program KB,” ujarnya.
Konseling Bukan Pemberian Informasi
Pamuji, bukan nama sebenarnya (60) merasa bingung dengan statusnya, saat mendapat diagnosa HIV positif dari Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Yogyakarta. Sekalipun ia telah mendapat rujukan dan mengakses layanan CST di RSUP. DR Sardjito. "Informasi yang diberikan belum Jelas," ujarnya di Griya lentera PKBI, kemarin.
Muncul Keluhan Layanan Kesehatan, Gelar Pengobatan Gratis
Pelayanan kesehatan tidak memadai, terbatasnya tenaga kesehatan dan tidak sedikit petugas kesehatan mangkir dari kewajibannya, membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Murung Raya mengambil sikap. Menggandeng perusahaan swasta, Dinkes Kabupaten Murung Raya menggelar pengobatan gratis di Desa Bantian, Kecamatan Babuat.
Penggalakkan Program KB, Jangan Tiru Cara-cara Orde Baru
Penekanan laju pertumbuhan penduduk, mutlak diperlukan. Pertumbuhan penduduk, khususnya di Jateng, tidak sebanding dengan pertumbuhan perekonomian. Satu persen pertumbuhan penduduk, sama dengan warga 2 juta orang. Ini sangat berisiko bagi kelancaran pembangunan. Selain membuat Jateng jadi lebih padat, peledakan penduduk semakin membuat tingkat kriminalitas meningkat.
PKVHI Luncurkan Website Baru
Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia (PKVHI) luncurkan website barunya. Nasrun, pengelola website PKVHI mengatakan pengguna internet di Indonesia rata-rata didominasi kelompok usia muda yang merupakan sasaran tepat untuk menyebarkan informasi HIV dan AIDS. Kasus AIDS sekarang ini tampaknya banyak terjadi di kelompok ini. "Websitie bisa diakses di www.pkvhi.org," katanya akhir pekan silam.
Rezim SBY Gagal Melindungi Perempuan
Krisis ekonomi-politik sejak 1997 belum dijawab sebagai political will yang berpihak pada kondisi krisis kaum perempuan. Beban krisis ekonomi-politik perempuan sebagai penyangga tiang reproduksi sosial menciptakan kondisi perempuan berada dalam titik kritis.
Pasal Dalam Raperda HIV dan AIDS Tak Sebutkan Kondom Sebagai Pencegahan.
Menurut dr. Ahmad, dalam Raperda ini masih belum menyebutkan secara eksplisit soal kondom. Hal itu untuk menghidari perdebatan tentang kondom yang sering terjadi di kalangan luas. Peraturan Gubernur akan mengatur secara teknis, permasalahan kondom yang sempat diperdebatkan. "dr. Yandri sebagai praktisi klinis saat itu menanyakan mengapa pasal tentang kondom tidak eksplisit disebutkan. "Tapi setelah dijelaskan ada Paraturan Gubernur akan menjelaskan secara teknis,” katanya.
Pemerintah NTB Dukung Pendidikan Kespro Masuk Kurikulum
Komitmen Pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadikan Pendidikan Kesehatan Reproduksi menjadi kurikulum pantas diacungi jempol. Bekerja sama dengan LSM dan Dinas terkait, Pendidikan Kesehatan Reproduksi akan menjadi kurikulum sekolah negeri dan sekolah di Kota dan Kabupaten seluruh Provinsi NTB.
Dalam catatan Pemda NTB, beberapa lembaga yang telah menerbitkan buku mengenai pendidikan Kespro, misalnya, Departemen Kesehatan, BKKBN, UNFPA, dan PKBI. PKBI Daerah NTB sendiri telah bekerjasama dengan UNFPA menerapkan Pendidikan Kespro melalui kurikulum Muatan Lokal.
“Kami akan mencoba memasukkan Pendidikan Kespro melalui Pendidikan Umum. Sebagai percontohan kami akan mencoba di empat kabupaten yang ada di NTB,” kata Drs. H. Muchtar, Staff Pemda NTB yang juga menjabat Kepala Sekretariat KPA Propinsi NTB.
Bila Sakit, Langsung Datang Ke Puskesmas
"Saya kemari mau ikut program KB dari Puskesmas, sekalian beli Pil," kata Mirna (25) saat menunggu giliran untuk dipanggil. Mirna, telah memiliki seorang anak, dan memanfaatkan pelayanan KB di Pustu Sungai Undang. Mirna mengaku, sebagai ibu turut bertanggung jawab atas keluarga dan perlu mendapatkan pelayanan KB.
'Banyak Anak Banyak Rezeki' Tidak Berlaku di Nyemoh
Sebagian besar wilayah pedesaan, memiliki prosentase penduduk usia anak dan balita lebih tinggi dibandingkan penduduk usia produktif dan lanjut usia. Tetapi, tidak demikian di Desa Nyemoh, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Di Desa ini, terjadi penurunan angka kelahiran cukup signifikan dalam 15 tahun terakhir.
Rumpi Remaja Sehat V di Bangli: Ketika Remaja Membicarakan Cinta
“Valentine bisa dimaknai seperti dua sisi mata uang, bisa berakibat baik maupun buruk. Jika tidak dapat memfilter diri, akan menjerumuskan ke arah yang salah," kata I Nengah Gianyar, Wakil Bupati Bangli, pekan silam, di Aula P3 Bangli.
Kekurangan Bidan, Periksa Kandungan Harus Antri
Dua puluh delapan desa dari sekitar 160-an desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), masih belum memiliki tenaga bidan. Di Kotim masih terbatas lulusan D III Kebidanan.
Obat Generik Dikeluhkan, Ruang VIP Segera Ditambah
Ketersediaan obat generik di apotek masih dikeluhkan pasien. Jenis obat generik yang diresepkan, ternyata tak tersedia di pasaran. Ada obat sejenis, tidak masuk daftar obat yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan. Karena masuk dalam obat paten, pasien menebus dengan harga mahal.
Dana Berobat Gratis Warga Miskin Ditambah
Tatik Suyarti, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang mengatakan peserta Jamkesmaskot terdiri dari warga miskin yang ada di Kota Semarang dan tidak masuk dalam data Jamkesmas Pusat. Program Jamkesmas yang didanai Pemerintah Pusat hanya mematok kuota 306.700 jiwa, yang sangat tidak sebanding dengan jumlah penduduk miskin Kota Semarang.
Pil KB Picu Pengentalan Darah
dr. Catharina Suharti, SpPD KHOM, Kepala Sub Bagian Hematologi-Onkologi Medik RSUP Dokter Kariadi Semarang, menyampaikan hasil riset ilmiah ini dalam seminar "Trombofilia: Mengapa Perlu Diwaspadai" di Hotel Gumaya Semarang, pekan ini. Menurutnya, obat kontrasepsi oral mengandung kombinasi estrogen dan progesteron yang dapat menyebabkan darah mengental sewaktu-waktu. "Inilah yang mungkin tak disadari kita selama ini," katanya.
Budi Wahyuni : "Datangi Lembaga yang Melakukan Survey"
Puluhan perempuan Pekerja Seks (PS) mengaku kecewa dan resah dengan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa bulan lalu. Pasalnya, sejumlah PS tidak bisa mengetahui hasil test darahnya setelah mengikuti STBP.
Remaja Haus Informasi HIV dan AIDS
Sanggar Konsultasi Remaja (SKR) yang dikelola STAR (Youth Center PKBI Riau) mendapatkan respons positif dari sekolah-sekolah di Riau. Buktinya, akhir tahun lalu baru dua sekolah yang mengembangkan, awal tahun 2010 sudah 10 sekolah yang mengembangkan SKR.
Diskriminatif: Kawin Silang Agama dan Kebijakan Publik di Indonesia
Pemerintah dan DPR menghadapi tantangan berat berkaitan dengan kebijakan yang sebagiannya diberlakukan tahun 2009. Pasalnya kebijakan itu menyangkut akomodasi kepentingan kelompok masyarakat versus kemungkinan terjadinya diskriminasi kelompok masyarakat yang lain. Misalnya, UU Kesehatan, RUU Jaminan Produk Halal, Perda dan Raperda yang secara spesifik terkait dengan agama.
Penting, Pengetahuan Seks Sejak Dini
Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini memacu timbulnya pemahaman keliru perihal seks bagi kalangan pelajar. Akibatnya, perilaku seks yang tidak bertanggung jawab dan menyebutnya sebagai hal biasa yang lumrah dilakukan.
Pemerintah harus Proaktif
Pemerintah harus berada di garis depan dalam penanganan kasus IMS dan HIV dan AIDS. Karena peningkatan kasus di NTB sudah pada kondisi yang mengkhawatirkan. "Pemerintah harus aktif," kata Ramli, petugas Outreach Klinik IMS "Mitra Keluarga" PKBI NTB.
dr. Rita: IMS Pintu Penyebaran HIV dan AIDS
Penanganan terhadap IMS (Infeksi Menular Seksual) tidak menjadi prioritas, melainkan hanya sebagai pendamping untuk kegiatan pemeriksaan VCT. Masih banyak elemen masyarakat dan pegiat HIV dan AIDS yang kurang memperhatikan penanganan IM.
Gratis, Alat Kontrasepsi Bagi Masyarakat Kurang Mampu
Masyarakat kurang mampu, akan dibantu melakukan program Keluarga Berencana (KB) melalui pemberian secara cuma-cuma alat kontrasepsi spiral dan kondom. Sehingga mereka bisa meningkatkan kualitas hidupnya dan bisa lebih mendayagunakan potensinya.
Sri Murtiningsih: "Baby Booming" Tetap Menghantui Indonesia
Ancaman ”baby booming” tahap kedua terus menghantui Indonesia , terutama Jawa Tengah, apabila pelaksanaan program KB tidak berjalan sesuai target yang ditentukan. Kelancaran program KB harus terus diimplementasikan karena sangat berpengaruh terhadap kemajuan dan kesejahteraan penduduk Indonesia.
Pemerintah Dituntut Lebih Peduli Masalah Perempuan
Pemerintah Kota Semarang dituntut meningkatkan perhatian terhadap masalah perempuan. Banyak masalah perempuan di Kota Semarang belum tertangani dan bahkan tidak ditangani sama sekali. Program pemberdayaan keluarga kurang efektif dan kurang bisa memperjuangkan hak-hak perempuan.
FORI : SBY-Budiono Gagal
Seratus hari pemerintahan SBY–Budiono mendapat tanggapan negatif. Tidak serius menangani kasus-kasus negara, seperti bank Century. Ketidak seriusan pemerintah berdampak pada kesejahteraan rakyat yang terabaikan, padahal mereka dipilih oleh mayoritas rakyat.
Jamkesmas, Salah Sasaran
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dirasakan benar membantu masyarakat kurang mampu. Mereka akan mendapatkan layanan kesehatan garitis, jika bisa menununjukkan kartu Jamkesmas. Namun, apa jadinya jika pendataan warga dan alokasinya tidak tepat sasaran?
Seperti yang terjadi di desa Lahei, Kabupaten Barito Utara. Muncul keluhan masyarakat tentang Jamkesmas, terutama mereka yang kurang mampu. Adanya ketidaktepatan dalam pendistribusian kartu Jamkesmas. Warga miskin yang seharusnya menikmati pelayanan kesehatan gratis melalui Puskesmas, malah kesulitan mendapatkan pelayanan. Warga yang mampu turut menikmati pelayanan dengan menggunakan kartu jamkesmas.
Desa Lahei terbagi menjadi dua wilayah, Lahei 1 dan Lahei 2. Keduanya terpisah oleh sungai, masing-masing memiliki Puskesmas dengan fasilitas dan tenaga kesehatan yang cukup memadai. Namun warga desa Lahei 1 lebih memilih berobat di Puskesmas Lahei 2.
Bucu, warga kurang mampu dari Lahei 1 mengaku kecewa dengan Kamkesmas ini. "Saya bingung kenapa yang lebih mampu dapat, sedangkan keluarga yang miskin tidak. Padahal kami lebih berhak atas Jamkesmas," katanya.
Amat, staff Puskesmas desa Lahei 2 mengatakan, "yang mendata warga, ketua RT masing-masing. Namun sepertinya kurang akurat dan tepat sasaran. Jadi hasil datanya terkesan asal-asalan. Lahei 2 dulu pernah ada yang seperti itu, tetapi ada juga warga miskin yang memang dapat kartu Jamkesmas. Kebanyakan yang tidak dapat dari desa Lahei 1 dan mereka memilih berobat ke sini."
Seorang staff Puskesmas yang enggan disebutkan namanya menambahkan, sepertinya memang ada kecurangan dari pihak petugas yang mendistribusikan kartu Jamkesmas. Mereka memberikan kepada sanak saudaranya sendiri. "Masa mereka yang bisa belanja di pasar tetapi malah berobat gratis," katanya.
Irmansyah, SKM, Kepala Puskesmas desa Lahei 2, mengatakan pihak Puskesmas tidak melakukan tindakan apa-apa. Alasannya, bukan wewenang Puskesmas. Mereka hanya menyarankan kepada warga yang belum mendapatkan kartu Jamkesmas untuk melapor ketua RT masing-masing agar segera diurus. "Kalau memang ada warga yang ingin berobat, kami pun melihatnya dulu apakah dia miskin atau tidak. Tetap melayani mereka yang kurang mampu secara gratis walau belum memiliki kartu jamkesmas," katanya.
Tidak Mengurus KTP Karena Mahal, Tidak Bisa Mengakses Askeskin
Bungaran, bukan nama sebenarnya, (27 tahun), warga Kampung Salam, Bahari, Medan Belawan, lemah lunglai setelah menemui dokter yang memeriksa kehamilan istrinya Sunarti, juga bukan nama sebenarnya (25 tahun). Hanya karena tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dia tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan atas kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) yang dialami istrinya.
Tak Ada Layanan Test HIV di Gunung Kidul, Warga Mengalami Kesulitan
Anak laki-laki (7th) di Gunung Kidul diduga terinfeksi HIV. Dugaan muncul setelah dokter melihat riwayat kesehatan ibunya yang dirawat di RS. Sardjito karena AIDS. Saat anak itu menjalani pemeriksaan, didapatkan gejala mayor papular pruritic eruption (PPE), ganguan kulit kering yang meluas.
Pemerintah Utamakan Penyetaraan Gender
Peserta KB laki-laki semakin minim. Perlu kebijakan dan langkah nyata Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk memasyarakatkan program KB laki-laki. "Ini bisa menghapus diskriminasi gender dan mewujudkan kesetaraan gender di masyarakat kita," kata Soelimah.
Anggaran Perempuan dan KB Turun Drastis
Alokasi anggaran Badan Perlindungan, Pemberdayaan Perempuan, Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kota Semarang turun drastis dari Rp 87,58 miliar pada APBD 2009, menjadi Rp 76,68 miliar di RAPBD 2010. Itu artinya, anggaran turun 12,45 persen.
Musdah Mulia: Laporan Pemerintah ke WHO, Tidak Menyebut Ada Aborsi
Terdapat fakta sekitar 77.1% kasus perempuan yang memilih tidak melanjutkan Kehamilan yang Tidak Diningkan (KTD) karena kegagalan alat kontrasepsi pada pasangan yang menikah. Sekitar 50% kasus, terjadi pada perempuan usia 30 tahun ke atas.
Memperkuat Jaringan Untuk Akses Layanan Kesehatan
Bekerjasama dengan UNFPA, PKBI Nusa Tenggara Barat mengembangkan mekanisme rujukan pemberian layanan Infeksi Menular Seksual (IMS), VCT, bagi mitra strategis PKBI NTB dalam program Pencegahan HIV dan AIDS di NTB.
Farid: Dana Program KB Harus Ditambah
Program KB mengalami kegagalan sejak otonomi daerah diberlakukan. BKKBN di tingkat Kabupaten/Kota dihilangkan. Program KB yang sebelumnya diatur pusat dan mengikat hingga ke tingkat pelosok desa, dihapus. Saat Orde Baru berkuasa masyarakat akrab dengan program KB dan bahkan diharuskan mengikuti program KB.
Mendesak, Membangkitkan Program KB
Penemuan inovasi baru dalam mengemas paket promosi program KB juga perlu dilakukan sehingga menjadi lebih menarik. Dra. Sri Murtiningsih, MS melihat lebih dari 90 persen masyarakat Indonesia mengetahui program KB. "Satuan Kerja Perangkat Daerah pengelola
program KB di lapangan cukup memfasilitasi penyediaan alat kontrasepsi," katanya.
Penyiapan tenaga medis, hampir di semua tempat pelayanan kesehatan sudah terpenuhi. Saat ini, membutuhkan pendekatan yang lebih inovatif kepada masyarakat, sehingga mereka berbondong-bondong kembali mengikuti program KB.
Persoalan program KB ini mulai mendapatkan perhatian kembali. Setidaknya, karena berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menunjukkan, program KB mengalami stagnasi. Angka Total Fertility Rate (TFR) Nasional tahun 2007 tetap di kisaran 2,6 dibandingkan tahun 2003 yang ada di angka 2,1. Meskipun, jika melihat keikutsertaan masyarakat dalam KB diukur dari pemakaian alat kontrasepsi selama kurun waktu lima tahun itu, bisa dibilang meningkat.
Hadziq Jauhary, Biro Jawa Tengah
Mendesak, Revitalisasi Sistem KB
Sistem pengendalian kelahiran melalui Keluarga Berencana (KB) harus segera direvitalisasi. Faktanya ada ledakan penduduk Indonesia setelah Orde Baru. Ini membutuhkan usaha serius. Bahu-membahu diperlukan untuk menyukseskan program revitalisasi sistem KB, menjadi lebih optimal.
Memperluas Akses Informasi HIV dan AIDS Melalui Seni Budaya
Seni budaya diharapkan bisa memperluas akses informasi dan perjuangan tentang isu Kesehatan Reproduksi dan Seksual [HIV dan AIDS], gender serta HAM. Demikian harapan Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam kata sambutan yang dibacakan Djoko Dwiyanto, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, saat membuka secara resmi Festival Seni Tradisi 2009 PKBI DIY, malam ini (4/12)
Tanpa Perspektif Gender dan HAM, Penanggulangan HIV dan AIDS Sia-sia
Puluhan orang dari beberapa organisasi berbasis komunitas (CBO) dan Civil Society Organization (CSO), yang tergabung dalam Solidaritas Peduli AIDS Yogyakarta (SPAY), melakukan aksi damai dengan turun ke jalan memperingati hari AIDS se Dunia, hari ini, di Yogyakarta.
Pernyataan Sikap SPAY di Hari AIDS se Dunia
SPAY: Menuntut Segera Akui Pekerja Seks Sebagai Profesi
Tingginya kasus infeksi HIV di Yogyakarta, sampai September 2009 terdata sebanyak 839 kasus, merupakan dampak dari Stigma HIV dan AUDS sebagai persoalan amoral”. Lalu melahirkan perlakuan diskriminatif.
Sembilan Tuntutan Remaja Yogyakarta
Forum Komunitas Untuk Keberagaman (FKUB), aliansi SUKMA (Suara Komunitas Untuk Keberagaman) dan Youth Forum DIY melakukan aksi Hari Sumpah Pemuda, kemarin (28/10). Mengusung tema, '81 Tahun Terpasungnya Hak-Hak Remaja', mereka menutup mulut dengan kain hitam.
PKBI Membagikan Kit Khusus untuk Kesehatan Reproduksi Perempuan
Puluhan perempuan akan melahirkan dalam minggu ini sudah terdata. PKBI mendatangkan bidan dari Jambi dan Bengkulu untuk memberikan layanan persalinan. Selain, menyediakan ratusan KIT seperti KIT kehamilan dan persalinan.
Identifikasi Kebutuhan Kesehatan Reproduksi Mulai Dilakukan
Kebutuhan dasar kesehatan reproduksi perempuan seringkali terabaikan dalam situasi darurat. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengirimkan tim identifikasi berbagai kebutuhan kesehatan reproduksi perempuan di Sumatra Barat.
Penanganan KTD Harus Aman bagi Perempuan
Perempuan yang mengalami Kehamilan Tidak Diinginlkan (KTD) harus mendapatkan pertolongan layanan aman. Perempuan harus dihindarkan dari kematian. Mereka seringkali melakukan tindakan-tindakan fisik yang akhirnya membuat korban harus dirawat secara medis.
SKTM Dilarang Terbit, Warga Miskin Bantul Terancam
Warga miskin di Bantul terancam tidak bisa mengkases jaminan kesehatan karena larangan penerbitan SKTM oleh lurah se Kabupaten Bantul. REWANG dan IDEA Yogyakarta, menuntut pemerintah Bantul untuk memberikan solusi atas persoalan ini.
Diperkirakan 50 juta perempuan Rentan Tertular dari Pasangan Intimnya
"Penularan HIV dari Pasangan Intim ini merupakan problem besar, karena banyak negara yang menolak secara luas," kata JVR Prasada Rao, Direktur Regional Support Team for Asia dan Pasifik UNAIDS.
Perlu Perubahan Mekanisme Konseling HIV, Jender, HAM dan Difabel
Transmisi HIV di kalangan perempuan, berelasi kuat dengan kekerasan terhadap perempuan. Sayangnya, proses konseling terhadap perempuan yang mengalami kekerasan tidak dikembangkan pada soal transmisi HIV. Terlebih soal HAM dan difabel, semakin tidak terpehatikan.
Menggandeng Pemangku Kepentingan
Rendah, Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Mahasiswa
Pengetahuan mahasiswa mengenai kesehatan reproduksi menjadi terbatas. Pengetahuan, sikap dan perilaku seksual sehat mahasiswa minim. termasuk di kalangan mahasiswa kedokteran dan kesehatan. Hasil penenelitian yang dilakukan Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN) sejak tahun 2005 menunjukkan fenomena ini.
"Harus ada upaya mengakrabkan pendidikan kesehatan reproduksi di kalangan mahasiswa, dan membentuk pusat informasi konseling kesehatan reproduksi mahasiswa," kata dr. Siti Pariani, Ph.D, dalam seminar bertajuk "Temu Nasional Kesehatan Seksual Mahasiswa" di Unika Soegijapranata Semarang, Selasa dan Rabu (26-27/5).
Seminar yang diikuti oleh 38 Perguruan Tinggi seluruh Indonesia ini, diselenggarakan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi dan didukung Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, UNFPA, dan Ford Fondation.
Kini sudah saatnya informasi seksualitas yang benar dilakukan secara terpadu dan harus menjadi gerakan masyarakat. Hal ini untuk mencegah terjadinya persepsi yang salah di kalangan mahasiswa. "Ngapain pacaran kalau hanya pegangan tangan dan ciuman," kata Dr. Linda Trimurni Maas, MPH, Pembantu Rektor III Universitas Sumatera Utara.
Dalam keluarga, menurutnya, orang tua harus memberikan informasi seksual kepada anaknya secara detail dan benar. Terutama anak di masa remaja. Mereka akan bisa menghindari perilaku seksual tidak bertanggung jawab.
Pariani menambahkan, kalau mahasiswa mendapatkan pendidikan kespro yang benar, mereka akan mengerti secara detail bagaimana bentuk hubungan seks yang aman. Selama ini pengetahuan mahasiswa masih sangat rendah mengenai seksualitas. Seperti yang dikutip Prof. Charles Surjadi, PhD, berdasarkan hasil penelitian JEN di tiga kota (Semarang, Jakarta, dan Makassar) tahun 2008, hampir seperlima mahasiswa, tidak mengetahui hubungan seksual satu kali, dapat menyebabkan kehamilan. "Sangat memprihatinkan dan harus ada penanganan serius untuk memutus mata rantai tersebut," kata Charles, Ketua Program Kesehatan Reproduksi JEN.
Dr Sugiri Syarif, MPA, Kepala BKKBN Pusat, dalam sambutannya, menekankan agar masalah seksualitas tidak ditabukan. Soalnya, akan lebih berbahaya jika mahasiswa tidak mendapatkan pendidikan perihal seksualitas.
Meskipun menyadari makna pentinganya pendidikan kesehatan reproduksi, Sugiri Syarif mengakui, birokrasi pemerintahan masih rumit. Sulit merumuskan kebijakan terpadu dan terintegrasi mengenai pemberian informasi seksualitas kepada mahasiswa. "Saya mengapresiasi tinggi elemen mahasiswa dan kelompok masyarakat, terutama lembaga swadaya masyarakat, seperti PKBI, yang hingga kini concern pada pemberian informasi seksualitas," jatanya.
Perda HIV & AIDS Provinsi Jawa Tengah
Riset Aksi Bersama Komunitas Waria, PPS, Gay dan Remaja Jalan
Riset Dampak Pendidikan Kesehatan Reproduksi di Yogyakarta
Pengetahuan dan Pemahaman Kesehatan Reproduksi Remaja Kulonprogo
Strategi Pengorganisasian Komunitas
Trend Kekerasan terhadap Perempuan
Kekerasan terhadap perempuan hampir menjadi problem semua kebudayaan. Tidak ada satu kebudayaan pun yang di dalamnya perempuan tidak mengalami kekerasan. Akar persoalannya, terjadinya subordinasi perempuan dalam budaya patriakhi. Bagaimana di Indonesia, berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan yang sudah menjadi endemik itu? Berikut wawancara Lingga Tri Utami dari SWARA NUSA dengan Elli Nur Hayati, Direktur Eksekutif Rifka Annisa, Yogyakarta.
Mengembangkan Jurnalisme Warga
Kantor Berita Alternatif untuk Isu Kesehatan Seksual, Reproduksi, Jender, dan HAM
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali bersama 11 PKBI Provinsi lain mendirikan kantor berita alternatif untuk isu kesehatan seksual dan reproduksi, jender, dan hak asasi manusia (HAM) dengan nama SwaraNusa. Kantor berita berbasis online ini disambut sejumlah komunitas. Seperti, komunitas remaja, NGO, dan instansi pemerintah di Bali dengan menyatakan komitmen pengembangan content dan isu. Hal ini terangkum dalam diskusi diseminasi di kantor PKBI Bali, dua pekan silam.
Vasektomi dengan Mesra di PKBI Jawa Tengah
Persoalan kependudukan hingga kini masih menyelimuti negeri ini. Apalagi program Keluarga Berencana yang dimulai sejak Orde Lama, dan dikembangkan lebih serius pada era Orde Baru, saat ini sedikit menurun perhatiannya. Di beberapa daerah kembali menghadapi permasalahan tingginya angka pertambahan penduduk.
Pemerintah Belum Berpihak Pada Perempuan
Kondisis ekonomi dan sosial perempuan yang kuat menjadi salah satu prasyarat bagi perempuan untuk berani mengambil keputusan. Minimal melakukan negosiasi terhadap diri mereka sendiri. Hanya saja, perempuan yang paling menghadapi persoalan ketidaksetaraan justru mereka yang ada di kalangan kelas mengengah ke atas. Meskipun, globalisasi ekonomi, yang mengubah ekonomi agraris menjadi ekonomi industrial, kemudian menghancurkan pula situasi setara di kalangan kelas menengah ke bawah, terutamanya di kalangan petani. Berikut wawancara Desi Susanti dari SWARA NUSA dengan Dra. Budi Wahyuni, MM, MA, Ketua Pengurusa Harian Daerah (PHD) PKBI DIY.
-
Anggaran CST untuk AIDS MeningkatKPAN dinilai mulai menujukan perubahan, setidaknya terbuka dalam rapat-rapat pelaksana. Tetapi perubahan yang bersifat strategis belum bisa diharapkan. Bagaimana penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia ke depan? Simak wawancara swaranusa.net dengan Aditya Wardhana, Direktur Indonesia AIDS Coalition (IAC).
-
Pernyataan M. Nuh, Remaja Kurang ResponsMeski pernyataan Kemendiknas jelas-jelas menyalahkan remaja perempuan yang mengalami tindak kekerasan seksual, tampaknya gerakan remaja pada level nasional dan daerah tidak menunjukkan perlawanan. Apakah gerakan remaja masih berada dalam ruang seremonial belaka, keberadaannya hanya sebagai bentukan program dari organisasi orang dewasa? Untuk menjawab pertanyaan mendasar ini, swaranusa.net melakukan wawancara dengan Gama Triyono, Program Manager PKBI DIY. Berikut kutipannya.
Revolusi KB, Rumuskan StrateginyaDalam rentang lima sampai sepuluh tahun ke depan PKBI menghadapi beragam tantangan yang tidak cukup ringan. Bahkan tantangan ini tidak saja pada aras visi, tetapi juga pada level paradigmatik, strategi program dan pengelolaan sumber daya manusia.
- 01 03 13 - I'm Anonymous:
kangen nulis disini deh :( - 01 03 13 - I\'m Anonymous:
kangen nulis disini deh :( - 18 10 11 - Andrian:
Mas Hadiq alamat emailnya apa? - 14 10 11 - hadiq:
To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih.. - 30 06 11 - rika:
http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;) - 23 06 11 - Liston:
lagi on fire nih redaksi - 23 06 11 - ilahtea:
SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public? - 23 06 11 - Liston:
lagi on fire nih redaksi - 01 06 11 - galink:
wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses! - 12 05 11 - Andrian:
@salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam - 05 05 11 - salahsatuwartawan:
sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini.. - 18 01 11 - deni:
Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian." - 18 01 11 - deni:
Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\" - 09 01 11 - botaq:
kirim data base kamisekarang - 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini. - 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini. - 12 06 10 - ilahtea:
kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks. - 11 06 10 - ridho:
justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi - 11 06 10 - galink:
pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho?? - 10 06 10 - ilahtea:
kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^ - 06 06 10 - galink:
benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT - 05 06 10 - ilahtea:
hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!! - 01 06 10 - cornel:
negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian? - 19 05 10 - wete:
ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service... - 08 05 10 - polo:
terus berjuang - 07 02 10 - heni:
toleransi itu penting!!!! - 28 12 09 - Hadziq:
Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.










