Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/swaranus/public_html/common/dbconn.php on line 12
Isu : HIV & AIDs : Kantor Berita Swaranusa

Pekerja Jalanan Ingin Jalanan Aman Bagi Semua : “Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera Orang duduk bersila Musisi jalanan mulai beraksi Seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu” Lagu Yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project ini menggema di Gedung DPRD Provinsi DIY pada kegiatan Temu Budaya Jalanan, sebuah pertunjukkan seni yang digelar oleh Kaukus Pekerja Jalanan (KPJ) di Gedung DPRD Provinsi DIY, Minggu (24/02/2013). Budaya Yogyakarta yang istimewa memang cukup tergambarkan dari lagu tersebut, termasuk kehidupan jalanan yang menjadi bagian dari budaya kota ini. “Jalanan adalah tempat untuk hidup dan menjalankan kehidupan. Jalanan adalah ruang bagi mereka untuk mendapatkan hidup, dan dimana mereka dapat menghidupi jalanan. Kreativitas dan potensi komunitas jalanan begitu besar, jika difasilitasi akan menjadi budaya yang unik”, kata Amer, Koordinator Temu Budaya Jalanan. Keunikan ini tampak dari 4 komunitas pengamen jalanan yang ada di Alun-alun Kidul (Komunitas Alkid), Galeria, Jombor dan Tukangan yang menampilkan musik dengan ciri komunitasnya masing-masing. Meskipun sempat diwarnai hujan deras, mereka tetap bersemangat menyuarakan harapan mereka terhadap pemerintah. Harapan anggota KPJ tersebut muncul karena selama ini pemerintah hanya melakukan razia terhadap pekerja jalanan tanpa adanya tindak lanjut yang jelas. Seperti yang dikatakan Rere, anggota komunitas Galeria, “Semoga saja pemerintah memberi pelatihan musik pada kami, gak cuman digaruki (dirazia, red) terus.” Rere sendiri sudah menyukai musik sejak kecil dan menganggap jalanan adalah satu-satunya tempat bagi dia berkreasi dan menunjukkan bakatnya dalam bermusik. Acara Temu Budaya Jalanan ini juga diisi dengan pembacaan orasi oleh seluruh anggota KPJ yang isinya antara lain agar dihentikannya segala bentuk tindakan represif oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, menolak kriminalisasi oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, dipenuhinya hak-hak komunitas jalanan sebagai warga negara, dan tersedianya ruang untuk mencari penghidupan dan mengembangkan potensi. KPJ juga menuntut tersedianya akses layanan publik yang bebas dari stigma dan diskriminasi serta mendukung Yogyakarta yang beragam dan toleran yang menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan. Selain diharapkan mampu mengajak komunitas jalanan lainnya untuk bergabung dalam menyuarakan kepentingan mereka, kegiatan ini juga dapat menjadi menjadi wadah kreativitas pekerja jalanan, serta menjadi media kampanye untuk mereduksi stigma dan diskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat. Agus, anggota komunitas Tukangan, menyatakan dengan tegas bahwa KPJ menolak tindakan represif aparat terhadap pekerja jalanan. ”Kami bukan sampah masyarakat yang harus dibasmi dengan kekerasan. Kami ingin jalanan aman bagi semua dan terpenuhinya hak-hak kami,” kata Agus. OBR Jogja : Untuk melawan tindak kekerasan terhadap perempuan, saat ini ratusan orang akan menari bersama para pejalan kaki di Malioboro Jogjakarta. Terbentuk : JIMI (Jaringan Methadone Indonesia) telah terbentuk sebagai wadah informasi, sosialisasi dan advokasi bagi pengguna methadone. Evaluasi : Peraturan Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY dinilai hanya mengurusi virus, belum menyentuh hak warga negara. Release : Perkumpulan Aksara meluncurkan buku dan film tentang gender dan bencana. Jogja Update : Hari ini, PKBI DIY mengadakan kegiatan Jogja Update untuk mengaji situasi aktual kesehatan dan sosial. Gerakan : Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menggalang gerakan berikan hak pendidikan bagi anak perempuan korban kekerasan seksual dan bentuk kekerasan yang lain.

18 Mar 2013 09:39 WIB : Berita Pendek

Warga Tuntut Peningkatan Layanan HIV & AIDS

Forum Warga Peduli Kesehatan Reproduksi dari Kota Yogyakarta, Bantul dan Sleman melakukan audiensi kepada DPRD DIY Komisi D pada hari Senin (11/03/2012). Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, BKKBN dan BPPM. Pada kesempatan tersebut gabungan forum warga dari dua kabupaten dan satu kota itu meminta pemerintah agar perempuan dan anak mendapat perlindungan dari HIV & AIDS. Mereka juga menuntut agar pemberian layanan VCT (Voluntary Conceling and Testing) tidak hanya untuk orang atau kelompok yang diduga beresiko tinggi terinfeksi HIV saja, tetapi untuk semua warga masyarakat.

07 Nov 2012 15:08 WIB : Berita Singkat (News Ticker)

Terbentuk

JIMI (Jaringan Methadone Indonesia) telah terbentuk sebagai wadah informasi, sosialisasi dan advokasi bagi pengguna methadone.
06 Nov 2012 16:41 WIB : Wawancara Eksklusif

Anggaran CST untuk AIDS Meningkat

KPAN dinilai mulai menujukan perubahan, setidaknya terbuka dalam rapat-rapat pelaksana. Tetapi perubahan yang bersifat strategis belum bisa diharapkan. Bagaimana penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia ke depan? Simak wawancara swaranusa.net dengan Aditya Wardhana, Direktur Indonesia AIDS Coalition (IAC).

05 Nov 2012 07:57 WIB : Berita Pendek

KPAN Mulai Lebih Terbuka

Pergantian Sekretaris Nasional KPAN, mulai menunjukkan perubahan, meski belum ada yang mendasar. KPAN dinilai menunjukkan keterbukaan kepada publik dengan membuka rapat Pelaksana KPAN. "Perubahan kecil yang bisa dicatat," kata Aditya Wardhana, Direktur Indonesian AIDS Coalition (IAC), pekan silam.

Menurut Edo, panggilan akrab di jaringan aktivis HIV dan AIDS, belum terlihatnya perubahan yang signifikan karena acuan program masih menggunakan SRAN 2010-2014 yang dibuat pada masa periode Sekretaris KPAN sebelumnya. "Mungkin dalam Mid term review bulan Maret tahun depan akan terlihat ada tidaknya perubahan pendekatan dan strategi dari Sekretaris KPAN yang baru ini," ujarnya.

Hal penting lain yang bisa dilihat dalam penanggulangan HIV dan AIDS, dalam laporan UNGASS on AIDS 2012, meniru Edo ada kenaikan anggaran dalam negeri. Ditambah dengan komitment pendanaan 100% ARV dengan menggunakan anggaran dalam negeri. Kenaikan ini terutama pada komponen CST dan pencegahan. Tetapi anggaran yang bersifat cross cutting issue, tampaknya masih stagnan.

"Padahal, isu cross cutting inilah yang bisa mendorong inclusivitas program AIDS yang terintegrasi dengan isu pembangunan lainnya," ucapnya.
25 Oct 2012 22:04 WIB : Berita Singkat (News Ticker)

Evaluasi

Peraturan Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY dinilai hanya mengurusi virus, belum menyentuh hak warga negara.
25 Oct 2012 21:57 WIB : Berita Pendek

Penanggulangan HIV, Prioritaskan Ibu Rumah Tangga


Peraturan Daerah No.12 Tahun 2010 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY sudah berjalan hampir dua tahun. Meski begitu, Peraturan Gubernur yang mengatur secara teknis pelaksanaan Perda baru dikeluarkan pada bulan Juni 2012. "Pergub tentang pelaksanaan Perda penanggulangan HIV dan AIDS sudah diundangkan," kata Drg. Daryanto Chadorie.B.Sc.M.Kes,, Kepala Bidang P2MK Dinkes Provinsi DIY, saat membuka pertemuan Evaluasi pelaksanaan Peraturan Daerah No. 12 Tahun 2010 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS di Hotel Santika, 23/10 lalu.

Meski Peraturan Daerah cukup memberikan jaminan hukum, tetapi persoalan di lapangan tetap saja terjadi dan justru sering menjadi kendala pelaksanaan Perda itu sendiri. Selain juga persoalan lama yang tak pernah terselesaikan, koordinasi antar instansi. Misalnya, keluhan yang disampaikan Suroto dari bagian Kesehatan Masyarakat Kecamatan Kretek, “permasalahan yang sering kami hadapi dalam promosi VCT mobile kepada mbak-mbak PS adalah setelah pemeriksaan, mereka malam harinya seringkali dirazia. Ini yang menyebabkan mereka tidak mau ikut dalam VCT mobile karena menimbulkan ketidaknyamanan."

23 Oct 2012 20:19 WIB : Berita Foto

Jogja Update

Suasana kegiatan Jogja Update yang diselenggarakan PKBI DIY, hari ini (23/10), sebagai salah satu ruang publik untuk melakukan analisis terhadap berbagai program yang dikembangkan pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara terbuka masyarakat bisa mengajukan pertanyaan terkait dengan berbagai isu yang berkembang (foto oleh rebeca)
20 Oct 2012 19:22 WIB : Editorial

Papua

Program penanggulangan HIV dan AIDS di Papua kembali didiskusikan. Sebenarnya tidak ada yang terlalu mengherankan dengan diskusi ini. Sebab program apapun dan di mana pun, memang harus didiskusikan dengan baik, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan penilaian seluruh proses yang ada. Dan lebih penting lagi partisipasi aktif dari masyarakat dalam setiap tahapan program.

Pada titik inilah, program apa pun di Papua, tidak hanya HIV dan AIDS, selaku berhadapan dengan masalah partisipasi aktif rakat bawah. Program yang dikembangkan sudah dirancang dari dunia antah berantah, yang sama sekali tidak pernah dikenali masyarakat itu sendiri. Ironisnya, alasan yang selalu dimunculkan beraroma stigmatik, rendahnya kapasitas sumber daya, susahnya diajak berbicara, dan berkaitan dengan HIV dan AIDS, adat yang selalu dipersalahkan.

16 Oct 2012 19:26 WIB : Wawancara Eksklusif

Revolusi KB, Rumuskan Strateginya

Dalam rentang lima sampai sepuluh tahun ke depan PKBI menghadapi beragam tantangan yang tidak cukup ringan. Bahkan tantangan ini tidak saja pada aras visi, tetapi juga pada level paradigmatik, strategi program dan pengelolaan sumber daya manusia.

02 Jul 2012 08:00 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Pentingnya Pengetahuan tentang HIV dan AIDS pada Bidan

Tingkat pengetahuan tentang HIV pada bidan berkorelasi positif dengan keterampilan sosialisasi kepada pengunjung poli KIA. Hasil penelitian di Kamboja menunjukkan bahwa dari 524 ibu yang berkunjung ke poli KIA hanya 46,5% yang memiliki pengetahuan mendasar tentang HIV dan AIDS (Sasaki, Ali, Sathiarany, Kanal, & Kakimoto, 2010). Di sebuah pedesaan India bernama Dehradun hanya 35,1% ibu hamil yang pernah mendengar tentang HIV dan AIDS. Ibu-ibu hamil tersebut juga memiliki pengetahuan yang rendah tentang HIV dan AIDS. Sebagian besar dari mereka mengetahui HIV dari televisi. Sementara sebuah penelitian di Malawi, radio dan bidan adalah sumber informasi utama bagi ibu hamil mengenai penularan dan penanganan HIV dan AIDS (Negi, Khandpal, Kumar, & Kukreti, 2006). Hasil penelitian Bassey, Elemuwa, dan Anukam (2007) menemukan bahwa sebanyak 34,2% dukun bersalin di negara bagian Cross River mendapatkan informasi mengenai HIV dan AIDS dari pusat kesehatan masyarakat.

02 Jul 2012 08:00 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Bidan dan HIV: Risiko dan Tantangan yang Dihadapi

Bidan di berbagai belahan dunia memiliki peran kunci dalam mempromosikan hak dan kesehatan reproduksi untuk mencegah penyakit menular seksual, termasuk HIV dan AIDS (Nordkvist & Pyykkö, 2008). Layanan konseling di poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) memiliki banyak fungsi, yaitu kesempatan memberikan informasi tentang cara penularan dan penanganan HIV dan AIDS, pencegahan dari-ibu-ke-anak, serta mengenalkan konseling dan tes HIV sukarela (Msellati, 2009). Bahkan di Afrika lingkup kerja bidan juga mencakup kunjungan rumah dan layanan ramah remaja (Kasenga, 2010). Bidan di Afrika menjadi tulang punggung pencegahan HIV dari-ibu-ke-anak dan memiliki jumlah terbesar dalam komunitas petugas kesehatan yang menjadi konsultan perempuan sebelum, saat, dan setelah kehamilannya. Di Swedia, bidan menjadi konselor terkait kehamilan, kesehatan reproduksi, dan kehidupan rumah tangga. Sementara di Amerika Serikat bidan diakui sebagai profesi senior dalam masalah kehamilan dan persalinan. Di Estonia bidan bekerja sesuai dengan standar International Confederation of Midwives (ICM) pada tahun 1990 dan sejak tahun 1999 ditambah dengan memberikan konseling HIV dan konseling keluarga. Menurut WHO pada tahun 1999 bidan membantu persalinan sebanyak 200 kasus setiap tahunnya (Lazarus, Rasch, & Liljestrand, 2005; Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland, 2007; Ndikom & Onibokum, 2007; WRATZ, 2006).

02 Jul 2012 08:00 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

ABC ke SAVE: Pendekatan yang Lebih Komprehensif

Saat ini pencegahan HIV secara global dikemas menggunakan pendekatan ABC, yaitu Abstinance (tidak berhubungan seks sama sekali)-Be faithful (setia dengan satu pasangan)-use Condom (menggunakan kondom) yang mulai dikenalkan di sekolah-sekolah Amerika sejak awal 1980-an (Avert, 2005). Audet, Burlison, Moon, Sidat, Vergara, dan Vermund (2010) menjelaskan pencegahan menggunakan pendekatan ABC memiliki beberapa rintangan, khususnya terkait dengan penggunaan kondom. Berdasarkan pesan yang disampaikan oleh media, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa kondom tidak diperlukan dalam hubungan yang dibangun atas rasa cinta dan saling percaya. Selain itu, kondom lebih sering digunakan oleh orang yang senang berganti-ganti pasangan seksual. Konsepsi yang salah tentang kondom juga dapat memicu ketakutan irasional seperti pemimpin agama yang menganggap bahwa kondom merupakan barang produksi Amerika yang dijadikan alat genosida pada bangsa timur. Hasil wawancara kepada laki-laki dengan HIV positif menunjukkan bahwa laki-laki Malawi menolak memakai kondom karena menganggapnya sebagai tanda cinta. Laki-laki yang telah terinfeksi HIV tidak mau memakai kondom karena tidak ingin kehilangan kenikmatan seksual dan hidup (Chinkonde, Sundby, & Martinson, 2009). Hal serupa ditemukan oleh Ratnaningsih (2010) yang menemukan laki-laki Gunung Kidul tidak suka menggunakan kondom karena dianggap tidak praktis. Alasan lain adalah stigma yang melekat pada kondom yang dikaitkan dengan sikap amoral serta menjadi simbol bagi laki-laki yang tidak setia. Penggunaan kondom secara otomatis menempatkan seseorang pada kategori yang tidak setia atau tidak mau menahan hawa nafsunya (Kurian, 2006). Oleh karena itu pendekatan ABC tidak dapat dilakukan sepenuhnya pada kelompok kepercayaan atau agama tertentu, khususnya penggunaan kondom sehingga pada praktiknya hanya tinggal A dan B.

02 Jul 2012 08:00 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Epidemi HIV dan AIDS di Negara Berkembang

Epidemi HIV menyebar luas pada populasi marginal yang sulit mengakses layanan dan informasi tentang pencegahan HIV dan AIDS (PAHO, 2003). Menurut Kermode, Holmes, Langkham, Thomas, dan Gifford, (2005) faktor-faktor yang berkontribusi dalam epidemi HIV di negara berkembang adalah laki-laki yang melakukan migrasi internal dalam jumlah besar, penyalahgunaan narkoba suntik, rendahnya sumber informasi kesehatan reproduksi, ketidak-setaraan jender, dan kemiskinan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Kasenga (2010) bahwa faktor-faktor yang berpengaruh dalam penularan HIV pada perempuan adalah budaya, ketimpangan jender, layanan kesehatan yang tidak memadai di area pedesaan, dan kemiskinan. Hambatan pencegahan penularan HIV di Asia tidak hanya berasal dari aspek legalitas tetapi juga rendahnya pendidikan tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas pada remaja (Avert, 2008). Usaha pencegahan lebih difokuskan pada kelompok yang dianggap berisiko tinggi seperti pekerja seks dan pengguna narkoba suntik. Kampanye yang mengasosiasikan HIV sebagai hasil perilaku tidak bermoral dan kejahatan sosial menimbulkan masalah baru yaitu stigma (Hardon, Ooosterhoff, Imelda, Anh, & Hidayana, 2009).

Di Hanoi, faktor penghambat tercapainya akses universal pencegahan HIV dan AIDS adalah stigma dan diskriminasi. Dua hal tersebut terjadi dalam berbagai setting seperti tempat kerja, pusat kesehatan, instansi pendidikan, dan kehidupan bermasyarakat (UNESCO, 2009). Hasil dari stigma adalah kesehatan yang rendah, penurunan kualitas hidup, kesulitan mengakses layanan kesehatan, dan kekerasan dalam lingkungan kerja (Avert, 2009; Holzemer dkk., 2007; Uys dkk., 2009). Holzemer dkk. menjelaskan bahwa stigma menghambat proses konseling dan tes sukarela untuk mengetahui status HIV seseorang. Secara tidak langsung stigma meningkatkan tingkat kematian dan morbisitas penderita. Kondisi demikian juga terjadi di Indonesia sepertu yang dilaporkan Busza (1999) bahwa keluarga yang memiliki anggota terinfeksi HIV akan memisahkan barang-barang pribadi penderita. Selain itu juga ditemui keluarga yang ditolak oleh lingkungan sekitarnya karena ada anggota keluarga yang terinfeksi HIV. Sebuah LSM di Jakarta mendapat penolakan dari warga sekitar ketika membuka pusat dukungan sosial bagi orang terinfeksi HIV. Di Papua, diskriminasi yang dilakukan masyarakat adalah mengusir orang dengan HIV positif dari komunitasnya dan mengucilkan mereka ke dalam hutan untuk hidup seorang diri (Butt, Morin, Numbery, Peyon, & Goo, 2010). Gambaran ini sejalan dengan survei yang dilakukan di tujuh propinsi oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 terhadap 2.038 rumah tangga yang terdampak HIV. Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 72,7% keluarga terdampak HIV bekerja tanpa upah yang layak dan kesulitan memperoleh layanan kesehatan karena ditolak oleh penyedia layanan kesehatan misalnya rumah sakit (Riyadi, 2010). Petugas kesehatan juga terkena efek stigma seperti yang dilaporkan Uys dkk. bahwa bidan yang menangani pasien HIV positif memiliki tingkat depresi, kecemasan, stress, dan takut akan kematian yang lebih tinggi.

Kasenga (2010) mengatakan bahwa perempuan dan anak-anak lebih rentan tertular HIV daripada populasi lainnya. Hal tersebut dapat menjelaskan temuan KPA Nasional yang mencatat kasus kumulatif HIV di kalangan perempuan Indonesia hingga tahun 2010 menunjukkan rekor tertinggi dipegang oleh ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 1.970 kasus (Kompasiana, edisi 9 Februari 2011; Siska, 2011). Di Zimbabwe 90% IRT yang didiagnosa HIV tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi sebelum melakukan tes HIV (Mathole, Lindmark, & Ahiberg, 2006). Kondisi demikian juga terjadi di Indonesia karena menurut Asisten Deputi Pembinaan Kewilayahan KPAN, dari 5.000 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan HIV di Indonesia sekitar 1.300 di antaranya teridentifikasi HIV positif (Sehat News, 2010b). Menurut catatan KPA Propinsi DKI Jakarta hingga Agustus 2010, IRT yang terinfeksi HIV mencapai 12% dari total orang terinfeksi HIV di DKI Jakarta yang berjumlah 1.238 orang (Dimyati, 2011). Di Batam fenomena IRT terinfeksi HIV sudah terjadi sejak tahun 2007 dan pada tahun 2010 ditemukan sebanyak 12 IRT hamil yang tertular HIV dari pasangannya. Kondisi Batam yang berada di daerah perbatasan dan tempat transit membuat mobilitas manusia sangat tinggi sehingga risiko penularan HIV juga semakin besar (Haluan Kepri, 2011). Survei pakar epidemologi Universitas Udayana hingga Oktober 2010 menunjukkan 1,2% dari 56 ribu ibu hamil di Bali terinfeksi HIV atau ada sekitar 673 ibu hamil yang terinfeksi HIV per tahun (Sehat News, 2010a).   

Di Merauke sebanyak 50 ibu hamil diketahui terinfeksi HIV dan sebagian besar diketahui status HIVnya setelah melahirkan sehingga ada enam bayi yang positif tertular. Adanya bayi yang tidak tertular karena ibu mereka telah dideteksi sejak dini dan mendapatkan pendampingan yang komprehensif (Bintang Papua, 2011). Nina, seorang perempuan di Bandung tertular HIV dari suaminya dan kemudian hamil hingga bayinya ikut tertular. Saat itu Nina sama sekali tidak mengetahui tentang HIV dan AIDS, maupun cara penularan dan risiko yang mungkin ditimbulkan. Nina baru mengetahui dirinya positif HIV ketika anaknya sering sakit-sakitan, diperiksakan ke rumah sakit dan dites HIV. Ketika mengetahui anaknya positif HIV, Nina baru menjalani tes dan mendapatkan hasil yang sama (Pesat News, 2011). Di Yogyakarta terdeteksi sebanyak 75 ibu rumah tangga terinfeksi HIV. Dalam berbagai kasus ibu-ibu tersebut terdeteksi pada masa kehamilan. Bahkan ada yang baru terdeteksi saat menjelang persalinan (Kompasiana, edisi 9 Februari 2011). Sayangnya Peraturan Daerah Propinsi DI Yogyakarta Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS tidak ada pasal khusus yang mengatur pencegahan HIV dari-ibu-ke-bayi (prevention from mother to children, PMTCT). Padahal jika tidak mendapatkan penanganan maka diperkirakan 15-30% kemungkinan dapat terjadi penularan dari-ibu-ke-anak saat kehamilan dan bersalin, serta 10-20% ketika menyusui (ICM, 2008).
 

Avert. (2008). Epidemi HIV di ASIA. Diunduh dari http://www.avert.org/aids-asia.htm pada tanggal 20 September 2011.

10 Mar 2012 00:24 WIB : Berita Panjang

Hari Perempuan Internasional 2012: Negara (Masih) Gagal Melindungi Perempuan

Negara ini masih gagal melindungi para perempuan. Kegagalan tersebut tercermin dari tingginya angka kematian ibu; meningkatnya kasus HIV dan AIDS pada perempuan; meningkatnya kasus kehamilan yang tidak direncanakan; tingginya angka kekerasan terhadap perempuan; dan juga absennya negara dalam upaya perlindungan bagi perempuan yang memilih identitas gender dan seksual yang berbeda. Oleh karena itu “Negara Gagal Melindungi Perempuan” menjadi tema utama peringatan Hari Perempuan Internasional 2012 ini.

Setiap tanggal 8 Maret di seluruh dunia diperingati sebagai momentum untuk menuntut negara memberikan pemenuhan kepada hak-hak perempuan, yang kemudian dikenal sebagai hari perempuan internasional. Di DI Yogyakarta, massa yang terdiri dari 15 elemen masyarakat bergabung dalam GEPARI (Gerakan Perempuan Indonesia) melakukan AKSI damai – longmarch dari Abu Bakar Ali hingga Gedung Agung di Jalan Malioboro. Para peserta meneriakkan “Perempuan bersatu, lawan patriarki dan kapitalisme”, mengajak seluruh masyarakat yang berada di sepanjang jalan Malioboro  untuk mendukung advokasi pemenuhan hak bagi perempuan. Aksi diakhiri dengan membacakan 11 tuntutan kepada negara untuk bertanggungjawab atas keselamatan dan kesejahteraan perempuan.

Perempuan pekerja seks, tidak pernah terlindungi

Perempuan pekerja seks (PPS), salah satu komunitas yang sering mendapatkan pengabaian dari negara ikut menyuarakan pendapatnya dalam aksi tersebut. Ditemui di sela-sela aksi, Ami (37th) yang saat ini menjadi  Koordinator Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY) menyatakan bahwa negara seringkali mengabaikan hak-hak mereka. Bahkan kekerasan kepada PPS seringkali dilakukan oleh aparat negara yang seharusnya memberikan perlindungan pada warganya. “Kekerasan yang dilakukan dari Satpol PP selain garukan juga sikap dan kata-kata kasar”, tegasnya.

Jenis kekerasan yang didapat oleh PPS cukup beragam. Mulai dari kekerasan psikologis, fisik, hingga ekonomi. Kekerasan psikologis didapat dari beberapa kelompok, mulai dari aparat, preman, dan juga klien yang memanfaatkan jasa mereka. Beberapa waktu lalu sekelompok preman yang mabuk memaksa beberapa PPS untuk melayani mereka. Selain mendapatkan cemoohan, caci maki, salah seorang PPS juga mendapatkan kekerasan fisik berupa penganiayaan, dipukul, ditendang, dan diinjak-injak. Meskipun mendapatkan pertolongan dari aparat keamanan yang kebetulan berada di sekitar tempat kejadian, pelaku penganiayaan tidak tertangkap. “Kekerasan fisik sering dilakukan oleh preman-preman yang mabuk. Salah seorang anggota komunitas menjadi korban kekerasan. Sempat ditolong oleh aparat namun pelaku berhasil kabur”, jelasnya.

Ami menjelaskan bahwa selama ini belum ada perlindungan dari negara terhadap PPS sebagai kelompok yang dimarjinalkan. Pada saat bekerja mereka merasa tidak aman dan selalu khawatir mendapatkan kekerasan, termasuk dari aparat negara. Ami berharap agar negara memberikan perlindungan kepada PPS sehingga merasa aman dan nyaman pada saat bekerja. Dengan kondisi tersebut, pekerja seks akan memiliki posisi tawar yang cukup tinggi untuk “memaksa” pelanggan menggunakan kondom sehingga prevalensi HIV dan AIDS bisa ditekan. Sebagai salah satu upaya penanggulangan HIV dan AIDS pada PPS, P3SY memiliki beberapa strategi. Selain membangun kesepakatan dengan seluruh anggota komunitas, P3SY juga membangun Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Melalui program ini diharapkan bisa menaikkan posisi tawar anggota dalam mendorong pelanggan untuk menggunakan kondom sebagai pencegahan HIV dan AIDS. Dengan usaha sampingan, PPS tidak lagi khawatir jika ditinggalkan klien yang menolak menggunakan kondom. “Selain sebagai PS (pekerja seks–red.), mbak-mbak memiliki usaha KUBE. Sehingga mereka memiliki posisi tawar yang tinggi dalam menawarkan kondom bagi tamu”, tegasnya.  

Pada akhir tahun 2011 lalu, P3SY meresmikan Griya Asa Community Cricis Center, pusat penanganan krisis dan kekerasan berbasis komunitas. Griya Asa merupakan satu alternatif solusi bagi komunitas PPS di DIY dalam menghadapi kekerasan. Griya Asa memberikan layanan konseling  dan pendampingan bagi PPS korban kekerasan. Dalam menangani kasus kekerasan, Griya Asa akan bekerja sama dengan PKBI DIY, Rifka Anisa, dan LBH APIK. “Sebagai upaya perlindungan, saat ini Griya Asa baru beberapa kali mendampingi mbak-mbak (PPS-red.) yang mengalami kekerasan”, jelasnya. Ami berharap agar negara memberikan pengakuan dan perlindungan yang sama dengan warga lain, tanpa ada diskriminasi berdasar status pekerjaan. “Saya berharap agar perempuan memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki, negara memberikan perlindunagn kepada semua lapisan masyarakat, tanpa diskriminasi, menyeluruh”, tegasnya.

Meningkatnya Ibu Rumah Tangga terinfeksi HIV, minimnya upaya perlindungan

Semakin meningkatnya kasus perempuan yang terinfeksi HIV dan AIDS dan juga kekerasan perlu mendapatkan perhatian khusus. Data kumulatif kasus HIV dan AIDS di DIY mulai 1993 hingga Desember 2011 menurut Dinas Kesehatan Propinsi DIY sebanyak 1.508 kasus. Jumlah perempuan yang terinfeksi sebanyak 475 kasus dan 32% dari kasus tersebut ditemukan pada ibu rumah tangga (IRT). Minimnya transformasi pengetahuan tentang HIV dan AIDS pada masyarakat, khususnya IRT, menyebabkan prevalensinya tidak dapat diantisipasi. Hal tersebut disampaikan oleh Nurhayati, koordinator  propinsi Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) wilayah DIY. Pemberian informasi kepada masyarakat masih sangat sedikit dan hanya dilakukan pada acara tertentu seperti peringatan hari AIDS sedunia. “Seharusnya penyebaran informasi tentang HIV dan AIDS dilakukan oleh negara secara terus menerus, jangan hanya pada acara tertentu”, jelasnya.

Meningkatnya jumlah kasus pada IRT tidak lepas dari lambatnya respon negara. IRT mengetahui dirinya terinfeksi ketika sudah sangat terlambat. Mereka baru tersadar untuk melakukan pemeriksaan saat mendapatkan salah satu keluarga (pasangan atau anak) jatuh sakit atau meninggal. Kondisi ini yang menyebabkan penularan-dari-ibu-kepada-anak juga terlambat untuk ditangani. Meskipun sudah ada program PMTCT (prevention-from mother-to child transmission) atau pencegahan penularan HIV-dari-ibu-ke-anak, jumlah anak yang terinfeksi HIV karena tertular dari ibunya cukup tinggi. Di propinsi DIY, saat ini ada 57 kasus HIV dan AIDS pada anak balita. “Mereka seringkali mengetahui dirinya terinfeksi (HIV–red.) setelah mendapati anak atau pasangannya dirawat atau meninggal karena AIDS”, tegasnya.

Beban perempuan yang terinfeksi HIV dan AIDS cukup berat. Selain stigma dan diskriminasi yang masih cukup tinggi, jaminan layanan kesehatan yang ramah masih menjadi kendala utama. Meskipun sudah sering dilakukan pelatihan PMTCT bagi petugas medis namun banyak yang tidak begitu paham untuk menangani klien. Bahkan kerap kali terjadi pemaksaan pada perempuan yang terinfeksi HIV dan AIDS untuk sterilisasi. Dalam kondisi yang tidak memiliki banyak pilihan, sering kali mereka menyetujui tindakan tersebut. “Beberapa teman-teman mendapatkan perlakuan yang tidak ramah dari petugas medis. Bahkan, ada beberapa teman yang dimintai tandatangan inform consent (lembar persetujuan–red.) untuk sterilisasi menjelang operasi caesar dalam program PMTCT”, tegasnya.

Mengambil momentum Hari Perempuan Internasional ini, banyak harapan ditujukan kepada negara agar lebih serius dalam memberikan perlindungan bagi perempuan yang terinfeksi HIV dan AIDS. Dari 34 anggota IPPI DIY, 30 orang adalah ibu rumah tangga dan 80% di antara mereka terinfeksi dari pasangannya dan baru mengetahui setelah anak atau pasangannya dirawat di rumah sakit atau meninggal karena AIDS. Nurhayati berharap agar PMTCT tidak hanya menyasar pasangan yang sudah mengetahui status HIV mereka. Lewat deteksi lebih dini maka penanganan akan lebih baik dan memberikan hasil yang lebih besar. “Seharusnya sosialisasi PMTCT dilakukan secara intens, dorongan untuk periksa HIV dilakukan terus menerus, dan layanan pemeriksaan HIV dan AIDS lebih dimaksimalkan”, lanjutnya. Satu beban lain yang dihadapi oleh perempuan yang terinfeksi adalah belum adanya obat Anti Retro Viral (ARV) khusus untuk anak. Saat ini kebutuhan ARV untuk anak dicukupi dengan ARV tablet yang dipotong dan digerus sendiri. Terkadang dosisnya tidak sesuai dengan kebutuhan sehingga sangat riskan bagi kesehatan anak. Nurhayati berhadap pada tahun 2012 ini di DIY ada ARV untuk anak-anak yang mudah diakses.

[Keterangan Foto: "Peserta yang tergabung dalam Gepari (Gerakan Perempuan Indonesia) menuntut negara memberikan perlindungan dan pemenuhan hak perempuan"]

01 Dec 2011 21:53 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Siapa yang Lebih Berpotensi Menularkan HIV? Perempuan Masih Dijadikan Tersangka Utama

Hari AIDS Sedunia selalu diperingati setiap tahunnya pada 1 Desember, termasuk di Indonesia. Berbagai tema telah diangkat secara bergantian untuk mendorong kepedulian seluruh lapisan masyarakat terhadap isu HIV & AIDS. Demikian juga berbagai program telah dijalankan baik oleh pemerintah, lembaga, maupun individu yang peduli pada isu tersebut. Walau dijalankan oleh berbagai pihak tetapi tujuannya sejalan, yaitu untuk menekan laju epidemi HIV, memperbaiki sistem kesehatan bagi orang-orang yang telah terinfeksi, serta mengurangi stigma dan diskriminasi terkait isu HIV & AIDS.

Setelah lebih dari 20 tahun program penanggulangan HIV & AIDS di Indonesia, pada beberapa tahun terakhir terekam data yang mengejutkan, yaitu meningkatnya kasus AIDS karena penularan hubungan heteroseksual. Pada Juni 2006, persentase kasus AIDS yang disebabkan oleh hubungan heteroseksual adalah 38,5%, meningkat pada Juni 2011 menjadi 76,3%. Bandingkan dengan  kasus AIDS yang disebabkan oleh penggunaan jarum suntik pada kurun waktu yang sama, menurun persentasenya dari 54,42% menjadi 16,3%.

Peningkatan kasus AIDS karena hubungan heteroseksual ini berdampak pada meningkatnya jumlah perempuan dan bayi yang dilaporkan sebagai kasus AIDS baru. Pada Juni 2006, persentase kasus AIDS baru pada perempuan adalah 16,9%, meningkat menjadi 35,1% pada 2011. Sementara persentase penularan ibu ke bayi (perinatal) meningkat dari 2,16% pada 2006 menjadi 4,7% pada 2011 .

Hal yang lebih mengejutkan adalah dari 5.210 kasus kumulatif AIDS pada perempuan di tahun 2010, 41,4% di antaranya merupakan ibu rumah tangga. Sementara dari perempuan pekerja seks, yang selama ini seringkali dicap sebagai penyebar HIV, ‘hanya’ sebanyak 8,7%.

Data-data tersebut menggambarkan bagaimana program penanggulangan HIV & AIDS selama ini. Beberapa kelompok yang dianggap beresiko tinggi, seringkali disebut populasi kunci termasuk perempuan pekerja seks, telah dijadikan sasaran program penanggulangan HIV & AIDS selama bertahun-tahun.  Sementara kelompok masyarakat lain, misalnya ibu rumah tangga, seringkali luput dari jangkauan program karena dianggap tidak beresiko tinggi.

Lantas, apakah sebaiknya program penanggulangan HIV & AIDS kemudian dialihkan begitu saja kepada kelompok ibu rumah tangga? Tentu tidak sesederhana itu. Kondisi sosial kultural harus dijadikan pertimbangan, terutama bagaimana pola relasi yang belum setara antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Alih-alih melindungi kelompok perempuan, bukan tidak mungkin jika pada ujungnya justru akan menempatkan kembali perempuan sebagai satu-satunya pihak yang harus bertanggung jawab pada pencegahan HIV. Ini bisa kita pelajari dari program penanggulangan HIV & AIDS yang selama ini difokuskan pada perempuan pekerja seks.

Konsistensi penggunaan kondom biasanya dijadikan ukuran keberhasilan program penanggulangan HIV & AIDS di populasi kunci. Penggunaan kondom secara konsisten pada perempuan pekerja seks, baik langsung maupun tidak langsung, yang mereka laporkan untuk hubungan seks selama seminggu terakhir dan tercatat dalam IBBS 2002, 2004, dan 2007 tidak pernah melebihi 50%. Demikian juga dengan persentase konsistensi penggunaan kondom pada pelanggan sebesar 21,4%, 24%, dan 37% pada tiga kali IBBS tersebut. Sementara SCP  tahun 2010 menunjukkan perempuan pekerja seks langsung yang menggunakan kondom secara konsisten sebesar 39%. Angka ini masih di bawah target SRAN 2010-2014 sebesar 60%.
 
Upaya-upaya dilakukan untuk meningkatkan penggunaan kondom. Usaha ini lebih banyak melalui pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pekerja seks membujuk kliennya agar mau menggunakan kondom atau sosialisasi kondom perempuan. Perempuan yang sesungguhnya telah menjadi korban dari sistem yang tidak adil, yang menjadikan mereka sebagai pekerja seks, dipaksa untuk mengalah dan dibebani tanggung jawab dalam pencegahan penularan HIV. Lalu dimana tanggung jawab laki-laki?

Kementerian Kesehatan RI memperkirakan 3,1 juta laki-laki dewasa pernah menjadi pelanggan pekerja seks. Sementara itu, diperkirakan lebih kurang 1,6 juta perempuan menikah dengan laki-laki yang terinfeksi HIV dan jumlah perempuan pekerja seks lebih kurang 320.000 jiwa. Dari perkiraan angka ini saja, kita bisa melihat bagaimana laki-laki memiliki potensi lebih besar dalam penularan HIV. Belum lagi jika kita tambahkan bagaimana posisi tawar perempuan, baik sebagai pekerja seks maupun bukan, yang masih rendah, dan bagaimana kondisi biologis tubuh perempuan yang lebih rentan tertular HIV, kasus HIV & AIDS pada perempuan bisa jadi akan terus meningkat yang juga akan berdampak pada peningkatan kasus pada bayi.

Keseriusan program penanggulangan HIV & AIDS di Indonesia harus ditunjukkan dengan meletakan isu HIV & AIDS bukan semata-mata sebagai persoalan perilaku-biologis semata. Nilai-nilai sosial dan budaya justru harus diberi perhatian lebih, yang akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa selama ini penggunaan kondom secara konsisten masih rendah di kalangan perempuan pekerja seks, mengapa kasus HIV & AIDS pada ibu rumah tangga terus meningkat, dan yang lebih penting, apa yang menyebabkan kasus kumulatif AIDS pada Juni 2011 sebesar 72,3 persennya adalah laki-laki?

Data:
Rangkuman Eksekutif Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia 2006-2001. KPA Nasional 2011.
Laporan KPA Nasional 2010.

edL

 
15 Oct 2011 07:37 WIB : Berita Foto

Kritik Masyarakat Sipil terhadap Penanggulangan AIDS

Perkembangan penanggulangan AIDS di Indonesia yang dimotori Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Klaim tersebut justru menuai kritik dari masyarakat yang terdampak oleh program-program penanggulangan AIDS. Masyarakat mengkritik klaim KPAN dengan menggelar aksi saat pembukaan Pertemuan AIDS Nasional IV di Yogyakrta (3/10).

Menkokesra Agung Laksono, yang sekaligus merupakan Ketua KPAN mengatakan,“Lebih dari dua dekade kita terus berjuang melawan HIV. Terlebih dalam lima tahun terakhir, sejak tahun 2006, bersama-sama telah banyak raihan yang kita capai. Banyak kemajuan bermakna dalam penanggulangan AIDS. Saat ini, makin banyak layanan kesehatan dasar yang telah membuka tes dan konseling HIV, makin banyak rumah sakit yang siap melayani pengobatan dan perawatan AIDS, obat anti retroviral telah disediakan pemerintah secara cuma-cuma. Program pengurangan dampak buruk dari penggunaan napza suntik menunjukkan keberhasilan. Selain itu, makin banyak sektor pemerintah yang terlibat. Dan yang paling penting adalah juga makin tingginnya kepedulian serta partisipasi masyarakat dalam mendukung program penanggulangan AIDS ini.” Agung juga mengatakan bahwa saat ini KPA telah dibentuk di 33 propinsi dan 172 Kabupaten-Kota.

Dirinya sangat bersyukur dalam lima tahun terakhir Indonesia telah memiliki jaringan-jaringan kelompok kunci dalam penanggulangan AIDS, seperti Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI), Perkumpulan Korban NAPZA Indonesia (PKNI), Gaya Warna Lentera Indonesia (GWL Ina), dan Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia (JOTHI).

Terlalu Cepat Berbangga

Namun prestasi yang disampaikan oleh Ketua KPAN di atas, dibantah oleh sejumlah massa yang tergabung dalam Konsolidasi Masyarakat Sipil Penanggulangan AIDS. Mereka melakukan aksi damai untuk mengekspresikan ketidak-setujuannya.

Aditya Wardhana, koordinator aksi,  saat menyampaikan pernyataan sikap mengatakan, “Lima tahun sejak penataan ulang KPA dengan Perpres 75 tahun 2006 belum menampakkan fundamen kepemimpinan, kebijakan, dan program yang kuat dalam penanggulangan HIV dan AIDS. Selama 5 tahun masyarakat sipil dibingungkan dengan dualisme kepemimpinan antara KPA dan Kementrian Kesehatan. Program Survey Terpadu Biologisa dan Perilaku (STBP) dan Sero-survey yang dikomando oleh Kemenkes, serta Survey Cepat Perilaku (SCP) yang digawangi oleh KPAN adalah bukti konkret tidak jelasnya komando penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Padahal keduanya menjadi landasan awal bagi ketepatan program berbasis bukti empirik.

Aditya menambahkan bahwa carut-marut itu diperparah dengan tidak beranjaknya nalar pragmatisme di tingkat pemerintah pada semua level, yang justru dilenakan oleh dana bantuan internasional. Konfigurasi anggaran penanggulangan belum beranjak dari dominasi bantuan internasional ketimbang APBN/APBD, dengan perbandingan 60:40. Data dari Nasional AIDS Spending Assesment yang dikeluarkan dalam laporan pemerintah untuk UNGASS on AIDS mencatat pembelanjaan sebesar US$ 30,9 juta berasal dari bantuan asing dan US$ 19,8 Juta berasal dari dalam negeri. Fakta ini jelas menunjukkan komitmen politik anggaran negara dalam penanggulangan HIV dan AIDS masih dalam kondisi ‘jongkok’.

Situasi kebijakan semacam ini menjadi satu catatan buruk tentang keberfungsian KPA di semua level. KPA bersikukuh untuk mampu mengkoordinasikan segenap sektor pemerintah terkait dalam peningkatan kinerja, program, dan anggaran demi penanggulangan HIV dan AIDS. KPA terlalu sibuk bermain di bawah wewenang “membangun kerjasama” untuk memuluskan gelontoran bantuan internasional. Hingga pada akhirnya melebarkan kewenangannya sebagai pelaksana program penanggulangan.

Program Penanggulangan HIV & AIDS Tidak Pro Akar Rumput

Situasi sistemik kebijakan yang pragmatis berbanding lurus dengan nalar tidak sensitif gender dalam penanggulangan HIV dan AIDS. Hal ini berbuah pada ketimpangan gender yang dialami oleh para perempuan. Perempuan yang menjadi korban selain dijadikan obyek program, tubuh mereka dikontrol sedemikian rupa hingga mencerabut otonomi dan hak seksual-reproduksi atas nama Program Penanggulangan HIV dan AIDS.

Senada dengan hal itu perwakilan dari Organisasi Pekerja Seks Bunga seroja, Amy,  mengatakan bahwa program penanggulangan HIV dan AIDS dengan kaca-mata resiko menempatkan Perempuan Pekerja Seks (PPS) sebagai ‘tersalah”. Di satu sisi, intervensi program penanggulangan HIV dan AIDS terlalu fokus pada perubahan perilaku mereka, tetapi melupakan peran utama laki-laki pembeli jasa seks dan sistem pemiskinan pekerja seks di dalamnya. Di lain sisi, kriminalisasi dan diskriminasi terhadap pekerja seks semakin menjadi-jadi dengan lolosnya peraturan-peraturan daerah yang memberangus hak pekerja seks untuk terlindungi dari paparan HIV.

Uki darban ,dewan pembina People Like Us (PLU) yang merupakan perwakilan dari komunitas Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT), menyebutkan borok yang lainnya. Kacamata hanya berbasis resiko menjerembabkan komunitas yang dimarjinalkan secara seksual dan gender dalam situasi kerentanan yang menetap. Pengakuan dan penghormatan atas keragaman identitas gender dan seksual masih dilindas oleh paradigma melulu “perilaku”, yang tidak sampai pada penghapusan stigma dan diskriminasi berbasis orientasi seksual dan gender. Padahal sudah merupakan fakta bahwa tindakan stigmatik dan diskirminatif terhadap komunitas LGBT akan menghambat program penanggulangan HIV dan AIDS, baik dalam konteks pencegahan maupun dalam konteks Care, Support & Treatment (CST).

“Komunitas remaja sebagai kelompok umur dengan angka kasus positif HIV terbesar, belum juga diakomodasi secara sistemik dalam kebijakan dan program penanggulangan HIV dan AIDS. Diskriminasi dan stigma terhadap kelompok ini masih sangat mudah ditemukan, khususnya ketika mereka mengakses layanan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk HIV dan AIDS. Situasi ini diperparah dengan belum diberikannya hak remaja untuk bisa mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual yang komprehensif, baik yang terakomodasi lewat sistem kurikulum sekolah maupun program non sekolah,” pernyataan sikap dari perwakilan kelompok remaja YOTHA.

Sementara Chacha, perwakilan dari Gerakan Korban NAPZA wilayah Banten, mengatakan bahwa lemahnya landasan kebijakan dan program HIV dan AIDS negara menyuburkan nalar pragmatisme di kalangan pemerintah. Arus “bantuan internasional” diikuti hanya dengan niatan “mendapatkan jatah anggaran dan program” tanpa dibarengi keseriusan membangun sistem anggaran negara yang kuat. Alhasil, beralihnya pola paparan dari transmisi NAPZA suntik ke hubungan seksual rupanya menjadi suatu momentum ditinggalkannya komunitas korban NAPZA dalam program dan anggaran penanggulangan HIV dan AIDS. Saat ini, seakan-akan seluruh elemen berbondong-bondong masuk ke dalam program Pencegahan Melalui Transmisi Seksual (PMTS), dan secara sistemik meninggalkan program harm reduction bagi para korban NAPZA. Situasi senada juga terjadi bagi layanan HIV dan AIDS bagi narapidana yang saat ini jutsru seakan dilupakan. Pemenjaraan bagi korban NAPZA menjadi sebuah pintu kematian mengingat tingginya angka kematian orang terinfeksi HIV dan Korban NAPZA di dalam penjara.

Sedangkan Derby Romevo, Koordinator Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), dalam pernyataan sikapnya menjelaskan,”Kondisi monoton dan cenderung menurun mendera program pengembangan infrastruktur kesehatan untuk menanggulangi AIDS. Bukti konkretnya laporan penerimaan ARV kadaluarsa medio Juli dan Agustus 2011 di 25 RS rujukan di 10 Provinsi akibat distribusi obat yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Sungguh, seperti tidak tahu bahwa konsumsi ARV kadaluarsa dapat membahayakan keberhasilan pengobatan yang jelas dapat meningkatkan resiko penularan HIV di tengah masyarakat. Pemantauan terbatas dari organisasi IPPI juga masih mendapati praktik sterilisasi paksa pada perempuan terinfeksi HIV yang menjalani program pencegahan penularan HIV ke anak.”

Ketidakseriusan negara dalam program CST bagi orang dengan HIV psoitif terlihat juga dalam skema jaminan kesehatan yang sampai saat ini belum terakomodasi secara berkelanjutan. Isu ARV kadaluarsa digenapi dengan tidak jelasnya program pendampingan dan penguatan para korban terinfeksi dan masih berbayarnya layanan tes laboratorium dalam kerangka terapi ARV, seperti tes CD4 dan Viral Load. Beberapa tes penerimaan pegawai yang mensyaratkan ‘bebas HIV’ seakan melengkapi pemenjaraan orang yang terinfeksi HIV dalam ruang alienasinya.

Konsolidasi Masyarakat Sipil Penanggulangan AIDS, yang merupakan gabungan dari beberapa kelompok berbasis organisasi komunitas, PLU, IPPI, GKNB, PKBI, Yotha, Our Voice, IAC , Dimas KDS, dan beberapa kelompok ataupun perseorangan lainnya, menyampaikan sepuluh poin pernyataan sikap. Salah satunya adalah “Menolak dualisme kepemimpinan Penanggulangan HIV dan AIDS dan mengembalikan KPAN/P/Kab/Kota kepada tanggung jawab koordinasi sektor-sektor terkait HIV dan AIDS.”

12 Aug 2011 06:35 WIB : Berita Pendek

DANCE 4 LIFE: Usaha Inovatif Libatkan Remaja Perangi HIV & AIDS

Perkembangan terakhir dari UNAIDS menyebutkan bahwa 45% anak-anak muda usia 15-24 tahun terinfeksi HIV baru di seluruh dunia. Hal tersebut menjadi keprihatinan dunia dan perlu segera ditindak-lanjuti. Usaha yang cukup inovatif untuk dilakukan dengan sasaran target remaja adalah Dance 4 Life. Berawal dari tiga negara: Belanda, Afrika Selatan, dan Indonesia, Dance 4 Life mulai menggaungkan gerakannya setiap tahun untuk menciptakan satu juta agen perubahan di dunia internasional yang akan menari serentak di tahun 2014.

Dance 4 Life adalah sebuah gerakan internasional yang melibatkan anak-anak muda untuk menggunakan suara mereka dalam rangka menekan laju pertumbuhan HIV dan AIDS. Suara remaja dalam gerakan yang enerjik tersebut juga ditujukan untuk meruntuhkan stigma maupun mitos terhadap HIV & AIDS. Dance 4 Life menyajikan cara yang berbeda untuk memberikan pengetahuan dan perlindungan pada anak-anak muda. Tarian dan musik yang diaplikasikan dalam gerakan ini merupakan bahasa universal dalam dunia remaja.

Di Indonesia sendiri, sejak gerakan Dance 4 Life hadir pada tahun 2004, inilah pertama kalinya PKBI DIY membentuk tim fasilitator Dance 4 Life Indonesia di Yogyakarta. Sebanyak 21 fasilitator yang mewakili cabang-cabang PKBI daerah diutus dalam pelatihan Heart Connection Tour. Acara tersebut diadakan di Hotel BIFA tanggal 16-20 Juni 2011.

“Ini adalah ilmu baru bagi PKBI Youth Friendly, kita berharap Dance 4 Life ini akan bisa menarik kaum muda untuk terlibat aktif dalam memerangi HIV AIDS”, kata Putri, koordinator Lentera Sahaja Youth Center PKBI DIY. Dia juga mengharapkan tim fasilitator Dance 4 Life Yogyakarta untuk selalu aktif mengajarkan drill (gerakan) pada setiap komunitas di sekitar mereka serta menyerukan pengetahuan yang benar mengenai HIV dan AIDS.

12 Jun 2011 16:32 WIB : Berita Pendek

SUKMA Tidak Puas Hanya PERDA HIV dan AIDS

Sudah menjadi agenda rutin tahunan bagi para pegiat AIDS mengadakan acara peringatan Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) setiap bulan Mei. Umumnya peringatan tersebut diwarnai dengan acara seremonial semata. Akan tetapi tahun ini komunitas SUKMA (Suara Komunitas untuk Keberagaman) melakukan hal yang berbeda. MRAN kali ini digunakan komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender/Transeksual), remaja, serta perempuan pekerja seks untuk kembali membangun komunikasi dan kerjasama sekaligus merefleksikan berbagai upaya yang telah dilakukan untuk menekan laju epidemi HIV dan AIDS. Hal tersebut diungkapkan Gama, manager program PKBI DIY pada saat sambutan pembukaan acara MRAN di halaman Youth Center Taman Siswa (26/5).

Menurut Gama, komunitas yang terjalin di dalam SUKMA belum boleh merasa puas hanya dengan  pengawalan hingga berhasilnya dikeluarkan peraturan daerah (PERDA) nomor 12 tahun 2010 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS DIY. Baginya sangat penting agar seluruh komponen masyarakat termasuk komunitas mengawal peraturan gubernur (PERGUB) yang sedang disusun. Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan ruang komunikasi dan ikatan jaringan yang kuat sebagai bentuk perjuangan yang berkelanjutan. “MRAN merupakan ruang yang lebih cair bagi setiap pihak yang peduli dan ingin berbagi atau bahkan hanya sekedar meluangkan gagasan, yang penting ada potensi ke arah perubahan sosial yang lebih baik,” ujar Gama.

Menyambut ajakan PKBI DIY, Sheilla yang mewakili IWAYO (Ikatan Waria Yogyakarta) juga menghimbau seluruh komunitas yang terjalin di SUKMA dan jaringan waria di Yogyakarta untuk memberikan perhatian kepada persoalan AIDS. Sheilla mengajak rekan-rekannya melakukan kampanye bersama-sama untuk menghentikan epidemi HIV yang semakin luas. “Banyak kawan-kawan waria yang telah mendahului kita, melalui MRAN mari bersama-sama kita upayakan bagaimana penyebaran HIV ini bisa dihentikan, dan agar tak ada korban lagi yang berjatuhan,” sambutnya singkat.

Sementara itu Kristina, pendeta Gereja Keluarga Allah, mengatakan, “Dalam kehidupan ini banyak sekali urusan hidup yang masih bisa ditunda atau bahkan dinegosiasikan. Urusan pernikahan ada yang bisa menunda atau bahkan memilih untuk tidak menikah sekali pun. Urusan sekolah, bisnis atau pun urusan lainnya, semua bisa dinegokan, kecuali satu hal yang tak bisa ditunda atau pun dinego, yaitu urusan kematian.” Kristina menekankan bahwa masih banyak orang yang membicarakan AIDS dan mengidentikannya dengan kematian. Tetapi di balik itu, Kristina percaya bahwa semua orang akan mati, hanya saja tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan datang menjemputnya.

Kristina juga menyampaikan tentang pentingnya setiap manusia menggunakan kesempatan dan waktu untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Dirinya menyatakan kagum dengan beberapa tampilan presentasi yang ditayangkan oleh panitia. Bagi seorang pendeta yang bekerja di bidang pelayanan kerohanian, membangun masyarakat Kristen merupakan pekerjaan keseharian Kristina. “Namun walau teman-teman dengan HIV positif telah meninggal dunia, ternyata karya yang telah mereka lakukan merupakan hal yang luar biasa,” kata pendeta ini dengan bola mata yang berkaca- kaca.

Dalam malam renungan ini, Kristina mau membuka diri dan juga gereja yang digembalakannya. Dia juga mengatakan akan memberikan waktu, tenaga, dan pikirannya bagi siapa pun yang hadir malam itu. “Jika ada yang berkebutuhan layanan konseling pasangan, masalah diri atau pun persoalan lainnya, saya hadir sebagai teman. Siapa pun boleh datang dan saya akan membuka diri untuk membantu melalui layanan konseling. Bukan hanya bagi orang Kristen saja, namun bagi yang non-Nasrani pun akan tetap saya layani karena kasih tidak memandang ras, suku, jenis kelamin, usia, bahkan agama. Kasih itu universal,” tuturnya.
 
[edL]
12 Jun 2011 16:27 WIB : Berita Pendek

Takut Tangani Persalinan dengan HIV, Petugas “Kucing–kucingan”

“Walau beberapa kali paramedis itu telah dijelaskan berulang kali dan diikut-sertakan di dalam beberapa pelatihan, namun persoalan menerima HIV dan AIDS sebagai suatu penyakit yang sama dengan lainnya merupakan hal yang tidak mudah diterima. Mungkin karena mereka memang belum paham, atau malah terlalu paham sehingga rasa kekhawatirannya juga berlebihan,” ujar dokter Diah.
28 May 2011 05:12 WIB : Berita Panjang

Gunung Kidul: Ibu Hamil Ikuti VCT HIV

Para pasien Ante Natal Care (ANC), bidan, dan dokter Puskesmas Pathuk I, Gunung Kidul melakukan Voluntary Conseling and Test (VCT) untuk mengetahui status HIV mereka (24/5). Dari 65 orang tersebut sebagian besar adalah ibu hamil (bumil) dengan usia kehamilan yang bervariasi. Menurut Kusminari, manager klinik PKBI DIY, kegiatan ini merupakan bagian dari program PKBI Cabang Gunung Kidul yang mengembangkan jaringan Preventing Mother to Child Transmission (PMTCT). Program tersebut merupakan layanan kesehatan yang bekerjasama dengan PUSKESMAS di wilayah kabupaten. Layanan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan program VCT mobile dari PKBI DIY. Kegiatan melakukan pendekatan dengan layanan kesehatan semacam ini sebenarnya telah sering dilakukan. Kusminari juga mengatakan bahwa tim VCT mobile PKBI DIY telah beberapa kali memberikan pelayanan test HIV di beberapa PUSKESMAS wilayah Gunung Kidul atas permintaan cabang. "Memang sempat mengalami kevakuman untuk beberapa waktu, namun kini mulai digiatkan kembali," ujarnya.

Program ini didukung oleh para anggota tim yang kompeten di bidangnya. Salah satunya adalah  dr. Emyl dari PUSKESMAS Pathuk I yang baru saja mengikuti sebuah pelatihan HIV dan AIDS untuk para klinisi oleh Center Heath Policy and Social Change (CHPSC) Yogyakarta. Menurutnya, HIV dan AIDS masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat, terlebih di wilayah Gunung Kidul. Dokter Emyl sangat prihatin dengan keadaan tersebut jika mempertimbangkan era informasi yang kini sudah sangat maju. "Padahal saat ini PUSKESMAS Pathuk I telah menjumpai empat kasus HIV dalam layanannya. Makanya, saya tidak menyebutkan test HIV di undangan yang disebarkan karena fakta HIV masih medeni buat masyarakat sini. Saya hanya menyebutkan test kesehatan untuk mengetahui penyakit,” ujarnya sambil tersenyum.

Walaupun demikian, dr. Emyl sangat memahami kaidah-kaidah VCT yang harus dilakukan. Dirinya percaya bahwa sosialisasi mengenai HIV dan AIDS pasti akan disampaikan oleh PKBI ataupun PUSKESMAS agar peserta tidak merasa tertipu. Jika ada di antara ibu hamil yang tidak berkenan atau keberatan untuk melakukan tes, maka pihak PUSKESMAS tidak akan memaksa. Namun di luar dugaan, 100% ibu hamil yang hadir bersedia melakukan test, bahkan para petugas kesehatan juga turut melakukannya. Melihat antusiasme yang begitu tinggi, dr.Emyl berharap kegiatan semacam ini tidak hanya dilakukan sekali ini saja.

Drg.Sukahar, Kepala PUSKESMAS Pathuk I, saat memberikan sambutan mengatakan bahwa seharusnya kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan oleh kelompok perempuan saja. "Jika nanti ada tes seperti yang dilakukan PKBI DIY, seharusnya bapak–bapaknya juga ikut serta. Namun mungkin lain kali karena keterbatasan tempat, aula ini sangatlah sempit, dan tidak cukup jika bapak juga ikut serta,” ujarnya bersemangat.

Dirinya menegaskan bahwa ibu-ibu hamil memang selayaknya mendapatkan informasi kesehatan. Mereka harus mengetahui segala macam penyakit yang bisa mengganggu kesehatan dirinya ataupun janin yang dikandung. Kondisi tersebut sangat diperlukan agar gangguan yang ringan hingga penyakit yang berat pada bumil bisa dicegah dan diatasi sedini mungkin. “Walaupun beberapa kasus AIDS telah ditemukan di layanan kesehatan ini dan beberapa tenaga kesehatannya juga telah mengikuti pelatihan, namun sayang, PUSKESMAS Pathuk I belum mempunyai fasilitas VCT hingga kini,” kata Drg. Sukahar.

Bukan Hanya Masalah Angka

Sementara di tempat yang berbeda, Maezur Zacky, direktur pelaksana daerah PKBI DIY mengatakan, angka 65 untuk sekali kegiatan VCT mobilenya merupakan bukti keseriusan PKBI untuk mendukung targetan angka yang dicapai pada pertemuan–pertemuan jaringan HIV dan AIDS Yogyakarta. Walau demikian perlu selalu diingat bahwa persoalannya bukan pada angka capaian, tetapi bagaimana jika nantinya didapatkan temuan positif. ”Apalagi Gunung kidul merupakan salah satu kabupaten yang belum mempunyai fasilitas dan sarana pendukung lengkap untuk orang dengan HIV dan AIDS,” kata Zacky mengingatkan.

Capaian Millennium Development Goals (MDGs) pada poin HIV dan AIDS yang menargetkan angka–angka sebagai indikator keberhasilannya, ataupun targetan 400 orang dalam sebulan yang mengikuti VCT, menurut Zacky merupakan hal yang mudah dicapai dan dilakukan jika semua pihak mau serius. Optimisme tersebut ditambah dengan kenyataan bahwa PKBI DIY mempunyai program yang sama untuk seluruh cabangnya. “Tapi yang penting bukanlah hanya pemenuhan targetan angka untuk MDGs semata, melainkan persoalah HIV dan AIDS juga harus diukur dengan Human Development Index (HDI) yang mengukur kualitas pendidikan dan angka melek huruf, ekonomi dan kesejahteraan, kenyamanan, keamananan. Atau bahkan jika mau mengikuti HDI Fililpina, yaitu ada satu hal yang tak kalah pentingnya: kesenangan atau kegembiraan. Itu luar biasa,” papar Zacky.

Peran Pemerintah yang Utama

Rencana strategis Dinas Kesehatan 2011 yang tidak akan menambah lagi set-up VCT pada layanan kesehatan, menimbulkan kekhawatiran bagi dirinya. “Jangan–jangan, tidak perlu membangun fasilitas VCT baru karena (merasa, red.) sudah ada layanan VCT mobile PKBI yang bisa sampai kemana-mana termasuk Gunung Kidul?”, tanyanya. Jika ini terjadi maka menurut Zacky bukanlah kemajuan seperti yang diharapkan dalam gerakan yang dibangun oleh PKBI. Dirinya selalu menegaskan bahwa salah satu indikator keseriusan pemerintah untuk memberikan pemenuhan hak-hak masyarakatnya adalah dengan membangun akses layanan yang mudah diakses oleh masyarakat. Hal itu tentu sangat erat kaitannya dengan anggaran yang dialokasikan pemerintah melalui APBN maupun APBD. “Nah jika semua yang harus dipenuhi kemudian digantungkan pada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), itu kan kebalik-balik?” terangnya sambil tertawa.

Zacky sangat mendukung program VCT mobile yang dijalankan oleh klinik PKBI DIY. Alasannya adalah selain dapat memperkaya pengalaman lembaga, data yang terkumpul merupakan cerminan fakta sosial. Data tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan advokasi untuk mendorong pemerintah melakukan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat. “Kegiatan untuk percepatan pembangunan fasilitas dan sarana kesehatan yang lengkap, murah, terjangkau, aman dan friendly bagi masyarakat oleh pemerintah sebagai penyelenggara negara tidak boleh ditinggalkan!” tegasnya.

[edL]
23 May 2011 22:08 WIB : Berita Panjang

Lupus Branding on The Street, Penyakit Seribu Wajah

Salah satu virus yang karakteristiknya serupa dengan HIV adalah penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau umum dikenal dengan Lupus. Keduanya merupakan penyakit yang penyebabnya sama-sama tidak bisa dihilangkan dari tubuh, namun kini keduanya bisa dikondisikan sehat jika masyarakat tahu mengatasinya sejak dini. “LUPUS Branding on The Street merupakan upaya untuk menyosialisasikan penyakit ini kepada masyarakat Jogja agar lebih paham dan perhatian terhadap satu persoalan ini”, kata Tiara Safitri, Ketua Yayasan LUPUS Indonesia. Tiara juga sekaligus menjadi koordinator aksi damai tersebut yang berlokasi di KM O, perempatan kantor POS Besar Yogyakarta, Jumat sore (20/5). “Masih banyak masyarakat yang tidak tahu apa itu penyakit Lupus. Acara turun ke jalan ini bukanlah protes atau demo, melainkan kita ingin masyarakat menyadari dan paham apa itu Lupus sehingga upaya deteksi dini mampu dilakukannya sendiri,” tambahnya.

Aksi ini didukung dengan penampilan seni berupa pagelaran pantomin yang dilakukan oleh komunitas act scholing. Sejumlah peraga memperlihatkan aksinya dengan membawa poster dan spanduk bertuliskan “Lupus seribu wajah”, “90% penderita Lupus perempuan”, “dukung kami Lupus Indonesia”, dan berbagai tulisan lainnya. Menurut Rory Handoko, koordinator aksi pantomin, Lupus merupakan persoalan serius dan perlu dukungann masyarakat luas. "Semua orang dan siapapun bisa terkena, karenanya kami mendukung teman-teman dan Mbak Tiara," ujarnya singkat.

Dalam penjelasannya Tiara mengatakan penyakit Lupus sama berbahayanya dengan kanker, jantung, maupun HIV. Lupus dikenal sebagai penyakit auto immune yang sifatnya menahun atau kronik .Karakteristik lain dari Lupus yang serupa dengan HIV adalah bentuknya yang mirip dengan penyakit lain sehingga sering pula disebut dengan “penyakit seribu wajah”. Selain itu, Lupus juga menyerang seluruh organ tubuh termasuk bagian vital dengan gejala ringan hingga berat. Persoalan Lupus berbanding terbalik dengan kondisi pada Infeksi HIV dimana antibodi yang seharusnya digunakan tubuh untuk menyerang infeksi malah menyerang sel dan organ tubuh penderita dalam jumlah yang berlebih.

“Penyebab Lupus hingga kini masih menjadi misteri yang belum terjawab kepastiannya, namun yang jelas penyakit ini bukan disebabkan oleh virus ataupun bakteri. Berbeda dengan HIV, Lupus tidak menular pada orang lain. Keterlibatan genetik , hormonal, dan lingkungan diduga menjadi faktor munculnya Lupus. Pengenalan dini masih sangat sulit, bahkan tidak ada gejala khusus pada orang orang yang terkena Lupus. Bahkan 90% orang dengan Lupus adalah perempuan, fenomena tersebut diindikasikan terkait dengan hormon estrogen pada perempuan,” jelas Tiara.

Mengenai kondisi yang dialami orang dengan Lupus, Tiara menjelaskan bahwa orang tersebut akan merasakan sakit seperti penyakit pada umumnya. “Seperti penyakit lainnya, sakit pada sendi yang terjadi pada orang rematik, demam berkepanjangan seperti pada penyakit infeksi, mudah merasa lelah, ruam pada kulit, anemia, seperti penyakit pada umumnya. Yang membedakan hanyalah jika ini terjadi selama lebih dari empat hari dengan lebih dari emapt gejala muncul bersamaan. Dan jika terjadi segera lakukan cek.”

Selain gejala ringan, gejala berat juga memiliki kemungkinan muncul, misalnya gangguan ginjal, dada terasa sakit saat bernafas, bercak merah pada wajah menyerupai kupu-kupu, sensitif terhadap sinar matahari, rambut rontok, penurunan berat badan, sariawan yang sering muncul, sakit kepala, stroke, hingga keguguran. Dampak yang terparah adalah kemungkinan serangan terhadap organ vital seperti jantung, paru-paru, dan hati.

Gambaran di atas sangat menyerupai dengan orang yang berada pada tahap AIDS. Walau demikian pemerintah hingga kini belum memberi perhatian yang optimal. “Dulu kami bersama rombongan, orang-orang dengan Lupus (ODAPUS) pernah diterima ibu menteri, namun mengubah kondisi tak semudah membalikkan tangan”, ungkap Tiara. Selama ini Tiara telah berulang kali mendorong para para penderita Lupus yang secara ekonomi tidak mampu untuk mengakses layanan jaminas sosial, seperti  JAMKESMAS, JAMKESOS, atau jaminal sosial lainnya. Akan tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa para pengakses tersebut selalu menemui banyak hambatan, termasuk dari teman-teman ODAPUS sendiri. “Yang hal-hal seperti inilah, yang saya bilang pemerintah memang memberikan perhatian, namun kenyataannya tidak semudah membalik tangan,” lanjut Tiara sambil tersenyum.

Disinggung dengan pertanyaan seputar biaya yang dibutuhkan untuk perawatan, Tiara menjawab bahwa tergantung dari tipenya, organ tubuh yang diserang, serta kondisi dan tingkat keparahan. “Seperti halnya pada infeksi HIV, jika di deteksi dini maka biaya yang dibutuhkan hampir tidak ada, tinggal pengolahan dan managemen diri saja yang penting. Namun jika kondisi sudah ditemukan pada tingkat keparahan yang berat, tentunya biaya juga sangatlah besar,” katanya.

Oleh karena itu pesan yang ditekankan dalam acara seperti Branding on The Street ini adalah deteksi dini dan cek ke dokter sangatlah penting. Untuk dapat mewujudkannya diperlukan bantuan banyak pihak untuk membantu sosialisasi. “Sengaja buklet yang diberikan pada masyarakat pada acara saat ini berbentuk menyerupai kupu-kupu agar menarik. Jikalaupun dibuang, mungkin orang akan mengambil dan membacanya karena bentuknya. Berbeda dengan leaflet lembaran, yang mungkin saja dikucel-kucel kemudian dibuang,” ujarnya. Tiara menambahkan bahwa walau jumlah penyandang Lupus yang meningkat, ternyata belum banyak dokter umum yang memahami dan menguasai teknik penanganan dan deteksi Lupus. Dia berharap jika deteksi dini bisa dilakukan di tingkat PUSKESMAS maka biaya akan menjadi sangat murah dan dapat saja gratis.

[edL]
02 Mar 2011 21:46 WIB : Berita Panjang

HIV & AIDS: Stigma dari Dalam

Departemen Kesehatan RI (2009) memprediksi jumlah orang dengan HIV dan AIDS akan meningkat dari taksiran 371.800 pada tahun 2010 menjadi 541.700 pada tahun 2014. Prevalensi HIV pada penduduk laki-laki dan perempuan usia produktif (15-49 tahun) juga diproyeksikan meningkat dari 0.22% pada tahun 2008 menjadi 0.37% pada tahun 2014. Saat ini kasus HIV-AIDS telah dilaporkan di seluruh propinsi di Indonesia sehingga perlu upaya yang semakin kuat untuk menanggulangi epidemi penyebaran HIV dan AIDS.

23 May 2011 22:05 WIB : Berita Pendek

Penanganan Terkini IMS dan HIV dan AIDS

Kisara Youth Clinic (KYC) Sabtu (12/2) mengadakan simposium dengan topik “penanganan terkini bagi Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV & AIDS”. Kegiatan ini ditujukan khususnya bagi semua tenaga medis dan mahasiswa yang terkait dengan kesehatan seperti dokter, perawat, dan bidan.

KYC merupakan bagian dari PKBI cabang Bali yang aktif memberikan pelayanan kesehatan dan berbagi informasi maupun melakukan edukasi pada masyarakat umum. Ketua panitia, dr. Yanitama Putri, S.Ked. menyampaikan dalam wawancara terpisah bahwa kegiatan ini didasari oleh semakin meningkatnya kasus-kasus IMS dan HIV & AIDS di masyarakat. “Tentunya diperlukan guideline terpadu dan terus update untuk dapat memberikan pelayanan yang optimal, prima, efektif, dan efisien kepada masyarakat. Karena itulah sasaran dalam seminar kali ini adalah para pemberi pelayanan kesehatan”, ujarnya.

Dr. Wiraguna, Sp.KK menegaskan bahwa para pekerja seks masih menjadi korban dengan jumlah yang paling tinggi dalam penularan IMS. “Sebagai tenaga medis, yang dapat kita lakukan ialah mengobati pasien dengan tuntas, menjaga kepatuhan pasien dalam minum obat sehingga memperkecil terjadinya resistensi terhadap antibiotik tertentu,” paparnya.

Sementara Prof. Mangku Karmaya, ketua pengurus PKBI Cabang Bali, mengatakan “Sampai akhir 2010, berdasarkan jumlah total kasus HIV & AIDS, Bali menduduki peringkat ke-5 di Indonesia, tetapi berdasarkan prosentase penduduknya, Bali berada di peringkat ke-2. Tentunya ini bukan hasil yang patut dibanggakan.”

Peserta tampak sangat aktif dalam bertanya dan berbagi pengalaman. Salah seorang peserta berpendapat bahwa saat ini Bali masih menjadi tujuan wisata para turis asing.  Seringkali mereka datang ke rumah sakit atau klinik sebagai pasien dan mengharapkan penanganan dengan standar yang sama seperti di negara asalnya.

“Lalu bagaimana tentang perbedaan waktu meminum obat yang akan berubah akibat perbedaan jam antar negara?” tanya salah seorang peserta. Prof. Tuty menyampaikan bahwa memang akan ada perubahan jadwal minum obat bagi mereka, terutama bagi pasien yang harus meminum obat secara berkelanjutan berdasarkan waktu kerja obat seperti misalnya ARV (Anti Retro Viral- red.). “Penanganannya akan berbeda antara pasien yang melakukan traveling dari barat ke timur, dan sebaliknya.

Untuk menyikapi masalah ini, nantinya Fakultas Kedokteran Universitas Udayana akan bekerjasama dengan Sekolah Menengah Farmasi Interna RSUP Sanglah untuk menyusun guideline ’Travel Medicine’, jawabnya.  Salah seorang peserta yang hadir mengaku banyak mendapatkan informasi terbaru, “Mantep simposiumnya, kan sering tuh dapat pasien gitu, sekarang jadi bisa menyamakan obat pilihan pertama dalam nanganin pasien IMS, lumayan nambah ilmu”, ujar salah satu dokter di sebuah rumah sakit swasta.
22 Feb 2011 14:58 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Beban Berat Hinggapi Pendamping Orang Terinfeksi HIV

Bagi sebagian orang, ketika pertama kali mengetahui dirinya HIV positif merupakan beban yang tidak ringan. Berbagai kekhawatiran yang muncul juga menimbulkan beban psikis yang memerlukan penanganan yang tidak sederhana. Hal tersebut menjadi bahan diskusi pertemuan pendamping orang yang hidup dengan HIV dan AIDS di Yogyakarta (16/2).

06 Feb 2011 16:44 WIB : Berita Foto

479 Warga Jateng Meninggal Terinfeksi HIV

Sejumlah 479 warga Jawa Tengah sejak tahun 1993 hingga 2010 meninggal akibat terinfeksi HIV. Secara kumulatif, 3.362 warga terinfeksi HIV dan AIDS. Angka itu jauh dari estimasi orang terinfeksi HIV dan orang dengan status AIDS yakni 10.815.

19 Jan 2011 01:14 WIB : Berita Panjang

Bayi Pasangan Serodiskordan Terdiskriminasi

Diskriminasi karena HIV dan AIDS ternyata tidak hanya menimpa orang dewasa, namun terjadi pula pada anak yang baru saja lahir. Persolan Nini dan Tata (bukan nama sebenarnya) di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang sebelumnya mengalami kesulitan dalam mengurus proses melahirkan karena orangtua bayi berstatus HIV positif, ternyata masih berlanjut. Menurut Tata, anaknya yang baru saja lahir pada Minggu (16/1), mendapat perlakuan diskriminatif dari rumah sakit swasta di Jogja tersebut.

19 Jan 2011 00:55 WIB : Berita Panjang

Kampus di Jogja Alami Hambatan Urus Sampah Infeksius

Jarum suntik habis pakai merupakan sampah infeksius, karena penularan berbagai macam penyakit bisa ditimbulkan akibat tusukannya. Hepatitis dan HIV merupakan sebagian virus yang bisa ditularkan lewat tusukan jarum suntik habis pakai ini, apalagi jika pembuangannya tidak dilakukan dengan benar sesuai standar operasional prosedur (SOP). Sayangnya, persoalan jarum suntik ini kurang diperhatikan dengan baik oleh sebuah kampus pendidikan kesehatan di Yogyakarta. Tampak terlihat spuit yang masih tampak ada darahnya, bahkan ada pula spuit dengan jarum yang terbuka tanpa penutupnya teronggok bersama sampah kapas bekas luka, kertas, botol minuman kemasan plastik dan sampah lainnya berada dalam sebuah gerobak yang siap membawanya keluar dari kampus menuju tempat pembuangan umum yang berada di seputar Pojok Benteng Wetan, Yogyakarta.

20 Apr 2011 16:52 WIB : Berita Pendek

Perempuan di Rumah Juga Rawan Tertular HIV

Jumlah perempuan yang tidak bekerja, atau sering disebut Ibu Rumah Tangga, yang terifeksi HIV ternyata lebih banyak jika dibandingkan Perempuan Pekerja Seks (PPS). Dari indikasi ini maka perempuan tersebut bisa dikatakan sangat rawan terhadap penularan virus HIV&AIDS. Hal tersebut diungkapkan Dewi Rahmadania, Koordinator Program Indonesia Competence, kepada sejumlah wartawan di STIKES Eka Harap Palangka Raya (6/1).
 
Menurut Dewi, perempuan sangat penting untuk diberikan informasi kesadaran terhadap bahaya HIV&AIDS. Karena bagaimanapun mereka memegang peranan penting dalam keluarga."Ketika informasi tersebut sudah terbuka untuk perempuan, bukan HIV&AIDS yang harus diwaspadai, tetapi semua hal yang menjadi media penularannya," ujarnya.
 
Permasalahan yang kerap ditemui adalah para perempuan belum menyadari jika pasangannya adalah pengidap AIDS, sehingga ketika ia berhubungan seks dengan pasangannya, permepuan tersebut dapat tertular dan itu merupakan salah satu cara penularan yang mengakibatkan jumlah perempuan positif HIV menjadi tinggi.
 
"Untuk itu perempuan harus dijamin hak untuk mengetahui persis informasi Kespro dan HIV&AIDS," kata Dewi. Jika mereka sudah terbuka wawasannya tentang HIV&AIDS, maka mereka diharapkan bisa bernegosiasi dengan pasangan ketika akan berhubungan seks, bahkan bisa memasangkan alat kontrasepsi kepada pasanngannya." Untuk masalah HIV&AIDS, tidak ada yang bisa disalahkan, namun lebih kepada bagaimana pemerintah mampu memberikan informasi untuk membangun kesadaran tentang bahaya penyebaran virus tersebut dan bagaimana pencegahannya," jelas Dewi.
03 May 2017 04:38 WIB : Wawancara Eksklusif

Orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih

Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

Apa itu GANAS?
GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun 2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

Tujuan utama GANAS itu sendiri?
Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu.

Apa saja kegiatan GANAS selama ini?
Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI, KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat informasi, seperti diskusi dengan remaja yang mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah. Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?
Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS tidak masuk ke sekolah?
Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik, agar informasi yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

Pandangan anda sendiri terhadap orang yang terinfeksi HIV&AIDS?
HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan. Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

Bagaimana harapan anda kedepan?
Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?
Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab.
03 May 2017 04:38 WIB : Wawancara Eksklusif

Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

03 Dec 2010 02:17 WIB : Berita Pendek

Pemkot Palangka Raya Canangkan Gerakan Stop AIDS di Sekolah

Momentum peringatan Hari AIDS Sedunia dimanfaatkan pemerintah kota Palangka Raya untuk mencanangkan gerakan 'Stop AIDS' di sekolah-sekolah. Pencanangan ini dipusatkan di SMAN 2 Palangka Raya oleh Sekretaris Daerah, Sanijan S. Toembak, Rabu (1/12).

Sanijan mengatakan dengan adanya pencanangan gerakan Stop AIDS, maka kalangan pelajar dapat mengetahui informasi mengenai HIV dan AIDS serta mampu menghindari perilaku yang berisiko menularkan HIV.

"Para guru kita harapkan dapat menyampaikan bahaya HIV dan AIDS kepada peserta didik dan terus mensosialisasikan agar mereka dapat terhindar dari HIV dan AIDS," ujar Sanijan.

Menurut Sanijan momen Hari AIDS Sedunia dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran semua pihak akan HIV dan AIDS. Selain itu momentum ini dijadikan wadah untuk menunjukkan tingginya komitmen kepedulian pada orang-orang yang terinfeksi HIV, dan sebagai upaya penurunan jumlah penularannya terutama di kalangan generasi muda.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Palangka Raya, Badah Sari, mengatakan pihaknya turut mensosialisasikan isu HIV dan AIDS di kalangan peserta didik melalui berbagai kesempatan dan mengarahkan mereka untuk lebih banyak mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler, sehingga mereka lebih fokus pada kegiatan yang positif termasuk upaya meningkatkan keimanan siswa melalui pelajaran agama.

"Secara khusus ada guru bimbingan konseling yang memberikan pemahaman bagi siswa-siswi. Selain HIV dan AIDS kami juga memberikan pengetahuan Kespro melalui PIK Remaja sekolah," tutur Badah.

Penuturan Kepala SMAN 2 Palangka Raya turut didukung oleh anak didiknya, seperti diutarakan M. Fadel. Siswa kelas XII IPS ini mengatakan bahwa mereka relatif sudah memahami cara penularan HIV.

"Kami sering mendapat pengetahuan dari PIK Remaja mengenai HIV dan AIDS," tutur Fadel. Ia juga menghimbau kepada semua remaja di Palangkara Raya untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.
02 Dec 2010 12:49 WIB : Berita Foto

Dukung dan Awasi Perda Penanggulangan HIV dan AIDS Yogyakarta

Pada peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2010, ratusan masa dari Hizbut Tahrir berjalan dari depan kantor DPRD DIY menuju perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Dalam aksinya kelompok ini menolak keras program-program yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam upaya penanggulangan epidemi HIV, bahkan mereka juga menolak Perda HIV dan AIDS yang yang telah disahkan DPRD DIY pada 2 November lalu. Menurutnya solusi persoalan HIV dan AIDS bisa selesai dengan tuntas hanya dengan cara menegakkan syari’at Islam.

19 Nov 2010 14:06 WIB : Berita Foto

Sampai September 2010, Ada 71 Penderita Positif

Peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh setiap 1 Desember sudah mulai terasa geliatnya di Kalimantan Tengah. PKBI Daerah Kalimantan Tengah bekerja sama dengan BKKBN Provinsi mengadakan penyuluhan HIV & AIDS kepada remaja sekolah SMP dan SMA di Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya (16/11). Selain itu, turut dilaksanakan sosialisasi PIK Remaja karena di daerah tersebut masih belum terdapat pusat informasi untuk remaja.
 
Menurut Ketua Panitia kegiatan, Jailani, penyuluhan ini dilaksanakan agar informasi-informasi tentang remaja dan AIDS dapat tersampaikan ke berbagai daerah. "Selama ini kita hanya berkutat memberikan informasi di kota-kota saja, dan belum menjamah daerah pelosok seperti Bukit Batu."
 
Jailani juga mengatakan angka pernikahan usia muda di kecamatan Bukit Batu sangat tinggi. PIK Remaja menjadi hal yang penting untuk disosialisasikan. Hal ini dibenarkan oleh Megi, salah seorang peserta yang mengaku memiliki beberapa teman yang menikah setelah lulus SD dan SMP. "Iya, ada teman saya yang kemarin baru menikah dan di sini itu sudah biasa terjadi," ungkapnya.
 
Untuk kasus HIV & AIDS sendiri, data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah hingga September 2010 adalah sebnyak 71 orang positif HIV. Empat orang berstatus PNS dan terbanyak adalah dari kalangan swasta.
 
"Pengetahuan tentang HIV & AIDS kita berikan kepada mereka agar tidak terjadi kesalahpahaman di kalangan remaja, apalagi di daerah pinggiran yang sulit mendapat informasi seperti ini," kata dr. Fitriyanto, staf BKKBN yang menjadi narasumber dalam penyuluhan tersebut. Ia juga menambahkan bahwa data tersebut hanya data yang ada di permukaan.
 
Kegiatan ini pun mendapat apresiasi dari Camat Bukit Batu yang memang sedang menunggu adanya penyuluhan seperti ini di daerahnya. "Beberapa waktu lalu saya minta laporan dengan Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan dan memang hasilnya sangat miris, masa umur 14 tahun sudah menikah. Masalah HIV & AIDS pun tidak bisa dibiarkan begitu saja, sudah sepantasnya anak-anak remaja mendapatkan informasi yang benar akan hal ini," katanya di akhir kegiatan.
09 Oct 2010 21:41 WIB : Berita Panjang

Raperda HIV dan AIDS DIY: PKS Pertanyakan Asas Kerahasiaan

Pertanyaan tentang asas kerahasiaan status orang dengan HIV dan AIDS nampaknya selalu menjadi perbincangan menarik. Dr. Ahmad, Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular dan  Kesehatan (P2MK) Dinas Kesehatan Propinsi DIY, mengaku sering mendapatkan pertanyaan semacam itu saat melakukan pertemuan dengan pihak yang diundang untuk membicarakan persoalan HIV. Lebih lanjut, dr. Ahmad mengatakan bahkan masih ada pula yang berpikiran ekstrim, misalnya menganggap dengan membuka status HIV seseorang maka keberadaan orang yang terinfeksi HIV bisa dipantau, sehingga bisa dilakukan pencekalan jika terindikasi akan menularkan virus pada orang lain. "Meskipun telah dijelaskan dengan menghantarkan banyak aturan dan deklarasi  internasional, asas ini masih selalu dipertanyakan," tegasnya.

27 Sep 2010 10:08 WIB : Berita Panjang

Bajawa Minim Dana, Transfusi Abaikan Test Malaria

Kepmenkes No.423/Menkes/Sk/IV/2007 tentang peningkatan kualitas dan akses pelayanan darah terkait darah donor dan produk darah yang bebas dari kontaminasi Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD), teryata tak sepenuhnya berlaku di semua provinsi di Indonesia. Pasalnya, daerah yang sudah dikenal sebagai wilayah endemi malaria, pemeriksaan Plasmodium malaria pada darah donor tidak dilakukan. Penanggung Jawab Unit Transfusi Darah (UTD) RSU Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, dr. Doni mengatakan, “Untuk semua daerah endemis, status malaria pada darah donor dan produknya diabaikan.”

31 Aug 2010 07:45 WIB : Berita Panjang

Pekerja Konstruksi Rentan Tertular HIV

Pekerja konstruksi merupakan salah satu kelompok yang berpotensi terkena HIV. Hal ini berdasarkan temuan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) "Kalandara" Semarang.
Dalam penelitian tersebut, terungkap pula bahwa pekerja konstruksi berkorelasi erat dengan 3M. "Tiga M itu adalah Man, Money, dan Mobile. Laki-laki yang bermobilitas tinggi dan memiliki akses finansial ditambah  fasilitas penerimaan upah atau gaji secara tunai dan langsung tanpa ada fasilitas penyimpanan," kata Manajer Program LSM Kalandara M Yusuf.

18 Jul 2010 15:03 WIB : Berita Panjang

Press Release: Musyawarah Daerah PKBI DIY 2010

Diskriminasi adalah hantu bagi peradaban manusia. Sejarah telah menyaksikan di mana hantu diskriminasi mewujud, di sana pulalah gerakan mengada. Dan, hanya gerakan sipil lah yang akan mampu menuntaskan perang kemanusiaan melawan diskriminasi. (Catatan Perkumpulan, 2010)

07 Jul 2010 13:25 WIB : Berita Foto

Bali Berlari dengan Waktu Hadapi HIV

Menurut data kompilasi Dinas Kesehatan Bali, pada 2008 saja, rata-rata dua orang terinfeksi HIV per hari.  Itu yang berhasil dijangkau dan ditemukan saja. Sementara tahun 2010 ini, baru tiga bulan, kasus baru sudah bertambah 152 orang.

22 Jun 2010 10:18 WIB : Berita Pendek

PPS Keluhkan Pelanggan Tak Mau Pakai Kondom

Semakin meningkatnya penularan HIV ternyata tidak membuat laki-laki pelanggan Perempuan Pekerja Seks (PPS) merasa takut. Buktinya banyak dari mereka yang enggan menggunakan kondom. Seperti yang dituturkan Anna (20), bukan nama sebenarnya, seorang PPS yang biasa bekerja di Jalan Mahir Mahar, Kecamatan Sebangau, Kota Palangkaraya. Anna mengaku kesulitan meminta kliennya memakai kondom. "Alasannya soal ketidaknyamanan," katanya.

05 Jun 2010 10:45 WIB : Berita Pendek

Tidak Adil, Anggapan HIV Sebagai Kutukan Tuhan

"Masih ada anggapan HIV dan AIDS kutukan Tuhan. Akibatnya orang yang terkena HIV dan AIDS serta merta dipandang buruk, hina dan kotor.Seolah-olah semua yang terkena HIV telah melakukan dosa besar sehingga dikutuk Tuhan," kata KH. Hussein Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Dar al Tauhid, Arjawinangin, Cirebon.

21 May 2010 11:09 WIB : Berita Foto

Lies Marcoes-Natsir, MA: Mitos Seksualitas di Kalangan Santri

"Tiga hal penting berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi, didengarkan suaranya, mendapatkan informasi dan mendapatkan layanan," kata Lies Marcoes-Nastsir, saat memfasilitasi Workshop Penyusunan Modul Pelatihan Kesehatan Reproduksi bagi Santri, yang diselenggarakan Fahmina Institut di Cirebon, pada tanggal 18-19 Mei 2010.

18 May 2010 17:33 WIB : Berita Pendek

Pekerja Medis Masih Melakukan Diksriminasi

Pekerja kesehatan masih memberikan perlakuan berbeda terhadap pasien-pasien yang terinfeksi HIV. Situasi buruk ini mengemuka pada Peringatan Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) di Balaikota Yogyakarta, akhir pekan silam. Kegiatan ini dilaksanakan Komisi Penanggulangan AIDS Kota Yogyakarta bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi DIY, Dinas Kesehatan Propinsi DIY, Victory Plus dan LSM peduli AIDS se-Kota Yogyakarta

Dalam dialognya, dr. Fita Yulia, Ketua B2PL mengatakan dirinya sangat menyayangkan sikap para pekerja kesehatan yang memperlakukan orang terinfeksi HIV secara tidak baik. Sebagai pekerja kesehatan, seharusnya mereka paham betul bagaimana merawat dan memahami kondisi psikis pasien-pasien tersebut. "Mereka kan sudah mendapatkan pengetahuan bagaimana cara penularan HIV sendiri dan cara pencegahannya," ujar dr. Fita.

Berdasarkan data dari Komisi Penanggulan AIDS Kota Yogyakarta, di DIY kasus HIV dan AIDS pertama kali ditemukan tahun 1993 dan sampai tahun 2009 tercatat 361 kasus HIV dan AIDS, yang terdiri dari 255 kasus HIV dan 66 kasus AIDS.

05 May 2010 06:01 WIB : Berita Pendek

Meluaskan Akses bagi Remaja, Diadakan Pemilihan Duta Mahasiswa

Akses informasi kesehatan reproduksi remaja harus menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Riau. Hal ini disampaikan Retno Mayangsari, Direktur Pelaksana Daerah (Dirpelda) PKBI Riau yang juga menjadi Dewan Juri dalam kegiatan ini, saat mengomentari Pemilihan Duta Mahasiswa untuk Pemberian Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja, di Kantor BKKBN Provinsi Riau, pekan silam.

13 Apr 2010 12:37 WIB : Berita Foto

Petugas Kesehatan Masih Melakukan Diskriminasi

Kesadaran kritis perlu dibangun pada komunitas untuk menuntut hak-hak dasar atas kesehatannya yang merupakan hak dasar warga negara tanpa diskriminasi. Pemahaman seperti inilah yang hendak dicapai dalamn Pelatihan Pasien Berdaya yang diselenggarakan PKBI DIY, dengan peserta perempuan pekerja seks dan perempuan remaja jalanan, di Jogja pekan silam.

Terungkap dalam pelatihan, peserta tidak pernah mencari informasi sebelum mereka pergi ke unit layanan kesehatan. Mereka juga mengaku tidak pernah mendapatkan informasi yang memuaskan dari petugas kesehatan dan merasakan perlakukan petugas kesehatan yang berbeda. "Indikasi diskriminasi seperti ini, hanya ditanggapi dengan diam dan pasrah, sekalipun mereka mengaku merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti itu," kata Budi, sebagai Fasilitator pelatihan.

13 Apr 2010 11:20 WIB : Berita Pendek

Sistem Distribusi Perlengkapan Kesehatan Buruk

Kekosongan vaksin di Kalimantan Tengah akhirnya dilaporkan masyarakat ke DPR RI melalui Komisi C DPRD Kalimantan Tengah, dan selanjutnya disampaikan kepada Menteri Kesehatan. Hasilnya, pada awal bulan April ini, vaksin akan dikirim. "Vaksin selama tiga bulan ke depan akan segera dikirim dari pihak Kemenkes Jakarta," kata Ade Supriyadi, Ketua Komisi C DPRD Kalimantan Tengah.

24 Mar 2010 22:08 WIB : Berita Panjang

ILGA Terancam Gagal, Bentuk Diskriminasi Negara Terhadap LGBT

Lagi lagi perjuangan identitas komunitas lesbian, gay, biseksual dan trangender ( LGBT ) dihadapkan pada sebuah persoalan. Konferensi International  Lesbian, Gay  dan Interseksual Asosiation (ILGA ) yang  sekiranya akan diselenggarakan pada kamis besok ( 25/3) hingga hari Minggu di kota Surabaya, belum mendapatkan ijin dari kepolisian setempat. Hal ini mendapat beragam respon yang keras dari para aktivis LGBT.

25 Mar 2010 10:54 WIB : Berita Pendek

Temuan Kasus Tinggi, Indikator Keberhasilan Program

Meningkatnya temuan angka kasus dan menurunnya angka kunjungan pasien ke klinik rumatan metadhon, menurut Drs. Riswanto, Sekretaris Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS Daerah DIY, merupakan sebagian indikator keberhasilan program. Simpulan ini disampaikan dalam seminar Advokasi Media Massa dan Kelompok Strategis Untuk Penanggulangan HIV dan AIDS dan Bahaya Penyalahgunaan Narkotika, di Yogyakarta, pekan silam.

Drg. Daryanto, Dinas kesehatan Propinsi DIY menjelaskan indikasi keberhasilan juga dilihat dari peningkatan jumlah kunjungan layanan Voluntary Counseling and Testing ( VCT ) yang mencapai 10.160 klien. Temuan kasus di tingkat kabupaten juga mulai tercatat, seperti Kulon Progo dengan 14 kasus HIV dan 17 kasus AIDS,  Bantul dengan 64 kasus HIV dan 29 AIDS. Kalau melihat estimasi kelompok beresiko tinggi di Yogyakarta, yang mencapai 61.350 orang, diperkirakan masih ada 3.320 kasus positif yang belum ditemukan.

Media memiliki andil  dari keberhasilan yang telah dicapai. "Stigma dan diskriminasi merupakan fakta sosial yang bisa direduksi media. Hasilnya, kenaikan kasus yang ditemukan,”  kata Slamet Riyadi Sabrawi, Deputy Director LP3Y. Meskipun, menurut Slamet, pemberitaan HIV dan AIDS di media selama ini masih campur aduk.
19 Mar 2010 19:02 WIB : Berita Foto

Kasus HIV Dipolitisasi untuk Kepentingan Politis

Kekuatan dan daya jangkau media massa dianggap tetap efektif sebagai alat memberikan informasi yang lengkap, berimbang dan objektif dalam penanggulangan HIV dan AIDS, dan bahaya narkotika. Masyarakat juga akan semakin mudah dan murah untuk mengaksesnya.

18 Mar 2010 20:34 WIB : Berita Foto

Konseling Bukan Pemberian Informasi

Pamuji, bukan nama sebenarnya (60) merasa bingung dengan statusnya, saat mendapat diagnosa HIV positif dari Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Yogyakarta. Sekalipun ia telah mendapat rujukan dan mengakses layanan CST di RSUP. DR Sardjito. "Informasi yang diberikan belum Jelas," ujarnya di Griya lentera PKBI, kemarin.

13 Mar 2010 09:41 WIB : Berita Panjang

Daerah di Yogyakarta Dinilai Lamban Merespon AIDS

Kabupaten Bantul berdasarkan data tahun 2003 berpenduduk 815.811 (th 2003), sampai September 2009 memiliki angka kasus HIV 93 orang, dan akhir 2009 bertambah menjadi 180 orang. Meski terdapat 27 Puskesmas, 2 Rumah Sakit Swasta dan 1 RSUD, tak satupun yang memiliki layanan VCT, apalagi CST.
dr. Bagus, Kepala Bidang Layanan RSUD Panembahan Senopati Bantul mengatakan rumah sakitnya memang belum memiliki layanan VCT lengkap. Meski sejak dua tahun terakhir, telah menemukan beberapa kasus positif. "Akhir-akhir ini angka temuan baru hampir setiap hari bisa dijumpai," ujarnya.

Selama ini, temuan kasus  HIV dengan infeksi TB seringkali ditemukan bagi pasien rawat inap. Tindak lanjutnya dirujuk ke RSUP. DR Sardjito, Yogyakarta. jika kasus TB cukup tinggi, maka potensiko-infeksi TB HIV bisa melebihi jumlah yang selama ini ditemukan.

Sebenarnya sumber daya manusianya sudah cukup memadai. dr. Bagus menyebutkan dirinya, telah mendapatkan pelatihan VCT, acapkali juga terlibat pelatihan dari PKBI dan Dinas kesehatan. Selain itu, ada dr. Warih, SpPD yang pernah mendapatkan pelatihan tingkat nasional Depkes RI–GF ATM. Hambatannya, tidak tersedia sarana yang lengkap seperti laboratorium dan petugas kesehatan lainnya belum dilatih. Sebagian petugas medis malah masih phobia dengan kasus HIV dan AIDS. "Itu sebabnya banyak pasien rawat inapnya yang terdiagnosa HIV segera dirujuk ke RSUP Dr. Sardjito," katanya.

Khabar mengenai kelambanan respons Kabupaten Bantul, sebenarnya sudah diketahui banyak pihak, termasuk Dinas Kesehatan Propinsi. Bahkan sejak dr. Bagus masih bertugas di Puskesmas, hambatan-hambatan seperti sudah disampaikan ke Bidang Llayanan Dinas Kesehatan Propinsi. "Hingga berpindah tugas di RSUD, belum ada tindak lanjut yang jelas," tutur dr. Bagus.

RSUP Dr. Sardjito memang akhirnya menjadi tumpuan rujukan dari berbagai daerah. Tidak hanya kabupaten dan kota di wilayah Propinsi DIY, tetapi juga dari wilayah Jawa Tengah, seperti Magelang, Temanggung, Klaten, Cilacap dan bahkan dari Propinsi di luar Jawa Tengah. Persoalannya menjadi rumit manakala anggaran RSUP  tidak cukup membiayai beban pasien yang rata-rata tidak mampu, “Jamkesmaspun tidak cukup menjawab,” kata Prof. Dr. Boedi Moelyono, Direktur Utama RSUP DR. Sardjito.

Secara personal, dr. Soemardi, SpPD, anggota tim AIDS RSUP Dr. Sardjito pun berteriak mengenai kerumitan ini. Setiap kasus AIDS selalu ditumpukan di pundaknya. Sebagai dokter spesialis penyakit dalam dan dosen Fakulatas Kedokteran UGM, dr. Soemardi merasa kewalahan dengan sistem rujukan yang dibangun Dinas Kesehatan Propinsi. Persolan kerumitan ini harus segera diselesaikan, sehingga tidak banyak keluhan pasien yang merasa terabaikan. "Lha, semua kog ditumpukan ke saya. Lha dokter-dokter lainya pada ke mana,“ kata dr. Soemardi.

dr. Riyanto, Province Implementing Unit GF-ATM Yogyakarta mengatakan DIY memang belum masuk dalam  12 wilayah Propinsi yang mendapatkan prioritas dukungan dana Global Fund around 8. Pertimbangannya karena  prioritas pendanaan donor yang sedang mengalami krisis di tingkat global. Akibatnya, percepatan daerah lainnya belum bisa dilakukan. Untuk around 9, Riyanto optimis akan mendapatkan dana. "Pembahasannya jatuh di bulan April nanti," katanya.

Percepatan daerah menemukan hambatan, karena program asistensi sebagai cara percepatan di kabupaten dan kota justru terganjal UU No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah. Intervensi Propinsi menjadi sulit dilakukan di daerah. Dalam skema otonomi daerah, tugas Propinsi hanya membuat rencana strategis. "Pelaksanaan dan penyusunan program semua dilakukan daerah dengan anggarannya sendiri," kata dr. Ahmad dari Dinas Kesehatan Propinsi DIY.

Khabar menggembirakan disampaikan Rini Estu, Bidang Layanan Dinas Kesehatan Propinsi DIY. Pada tanggal 15-20 Maret 2010 akan dilakukan pelatihan konselor VCT dari Kementrian Kesehatan RI bersama dengan GF-ATM di Yogyakarta. Dinas Kesehatan Propinsi memberikan porsi besar pada Rumah Sakit Umum Daerah dari Kabupaten dan Kota. Sumber dananya dari Global Fund Komponen AIDS around 4. "Pelatihan ini bisa bermanfaat untuk membantu percepatan penyelenggaraan penanggulangan HIV dan AIDS di daerah," ujarnya saat dihubungi melalui selulernya.
10 Mar 2010 13:01 WIB : Berita Panjang

PKVHI Luncurkan Website Baru

Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia (PKVHI) luncurkan website barunya. Nasrun, pengelola website PKVHI mengatakan pengguna internet di Indonesia rata-rata didominasi kelompok usia muda yang merupakan sasaran tepat untuk menyebarkan informasi HIV dan AIDS. Kasus AIDS sekarang ini tampaknya banyak terjadi di kelompok ini. "Websitie bisa diakses di www.pkvhi.org," katanya akhir pekan silam.

10 Mar 2010 11:59 WIB : Berita Panjang

Format Laporan PKVHI, Langkah Mundur

Dalam penanggulangan HIV dan AIDS data base memegang peranan sangat penting. Sayangnya, sampai saat ini belum ada data pilah yang bisa mengidentifikasi kunjungan voluntary counseling test (VCT) karena inisiasi sendiri, mandatory (keharusan/paksaan) atau inisiasi petugas kesehatan. Bahkan, belum mampu memastikan  temuan infeksi baru atau lampau.

06 Mar 2010 22:58 WIB : Wawancara Eksklusif

Berencana Menambah Asrama Perempuan

Para mantan pengguna narkoba masih sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Akibatnya mereka kesulitan bermasyarakat. Padahal mereka yang telah keluar dari jeratan narkoba memiliki segudang pengalaman yang dapat dibagi dengan sesama. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa dengan Ronald Ambrosius, Kepala Panti Rehabilitasi Narkoba "Galilea Miracle Center" Kalimantan Tengah tentang rehabilitasi narkoba.

10 Mar 2010 11:24 WIB : Berita Foto

Masih Ada Konselor HIV Tidak Melakukan Kerja Konseling

Millennium Development Goals (MDGs) memandatkan trend penyakit menular harus menurun pada tahun 2015. "Pada kasus AIDS angkanya akan terus bertambah seiring ditemukannya kasus-kasus baru dari gerusan fenomena gunung es," kata Prof. Dr. Iwan Moeljono, MPH, Direktur Pemberantasan Penyakit Menular (P2ML) Kementrian Kesehatan RI.

06 Mar 2010 22:36 WIB : Berita Pendek

Pasal Dalam Raperda HIV dan AIDS Tak Sebutkan Kondom Sebagai Pencegahan.

Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) HIV dan AIDS memasuki tahapan akhir untuk disahkan. Sebelumnya, telah dilakukan konsultasi dengan komunitas, masyarakat, penyedia layanan, dan LSM). "Pembahasan Raperda hampir final," kata dr. Ahmad, dari Dinas Kesehatan Propinsi DIY.

Menurut dr. Ahmad, dalam Raperda ini masih belum menyebutkan secara eksplisit soal kondom. Hal itu untuk menghidari perdebatan tentang kondom yang sering terjadi di kalangan luas. Peraturan Gubernur akan mengatur secara teknis, permasalahan kondom yang sempat diperdebatkan. "dr. Yandri sebagai praktisi klinis saat itu menanyakan mengapa pasal tentang kondom tidak eksplisit disebutkan. "Tapi setelah dijelaskan ada Paraturan Gubernur akan menjelaskan secara teknis,” katanya.

06 Mar 2010 22:19 WIB : Berita Pendek

PKVHI DIY Belum Masuk Struktur Organisasi Konselor VCT Nasional

Menjelang diselenggarakannya pertemuan Nasional Perhimpunan Konselor VCT HIV dan AIDS Indonesia (PKVHI ) di Yogyakarta, Dinas Kesehatan Propinsi menggelar rapat persiapan bersama dengan organisasi PKVHI Yogyakarta, di Aula A Dinas Kesehatan Propinsi DIY awal pekan ini.

18 Feb 2010 23:29 WIB : Berita Pendek

Klinik VCT Gumitir PKBI Bali, Diresmikan

Penambahan jumlah klinik VCT (Voluntary Counseling,and Testing) di Denpasar, diharapkan dapat mengurangi fenomena gunung es HIV dan AIDS dan dapat lebih dini mendeteksi orang yang terinfeksi HIV dan AIDS. Sehingga masyarakat semakin mudah untuk mengaksesnya.

09 Feb 2010 17:48 WIB : Berita Pendek

Mulai Dibuka, Layanan VCT Swalayan

Voluntary Counseling and Testing (VCT) swalayan mulai dibuka. Hal ini menjadi alternatif ketika mereka yang rentan HIV dan AIDS masih enggan memeriksakan diri karena takut mendapatkan stigma manakala dirinya ternyata positif terinfeksi HIV. Tes VCT yang dilakukan selama ini, sering dianggap rumit dan kurang bisa menjaga kerahasiaan.

05 Feb 2010 17:48 WIB : Berita Panjang

Tidak Mau Belajar dari Pengalaman, Dokter di Yogya Kembali Meresepkan ARV yang Salah

Yoyo (bukan nama sebenarnya), sebagaimana dilaporkan SWARA NUSA beberapa pekan lalu, mengalami kembali pemberian ARV yang tidak sesuai. Untungnya Yoyok memeriksa ARV yang diberikan sehingga penderitaan yang dulu dialaminya tak terulang lagi.

05 Feb 2010 18:09 WIB : Berita Panjang

Budi Wahyuni : "Datangi Lembaga yang Melakukan Survey"

Puluhan perempuan Pekerja Seks (PS) mengaku kecewa dan resah dengan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa bulan lalu. Pasalnya, sejumlah PS tidak bisa mengetahui hasil test darahnya setelah mengikuti STBP.

05 Feb 2010 17:32 WIB : Berita Pendek

Remaja Haus Informasi HIV dan AIDS

Sanggar Konsultasi Remaja (SKR) yang dikelola STAR (Youth Center PKBI Riau) mendapatkan respons positif dari sekolah-sekolah di Riau. Buktinya, akhir tahun lalu baru dua sekolah yang mengembangkan, awal tahun 2010 sudah 10 sekolah yang mengembangkan SKR.

30 Jan 2010 10:45 WIB : Berita Pendek

Pemerintah harus Proaktif

Pemerintah harus berada di garis depan dalam penanganan kasus IMS dan HIV dan AIDS. Karena peningkatan kasus di NTB sudah pada kondisi yang mengkhawatirkan. "Pemerintah harus aktif," kata Ramli, petugas Outreach Klinik IMS "Mitra Keluarga" PKBI NTB.

30 Jan 2010 10:34 WIB : Berita Panjang

dr. Rita: IMS Pintu Penyebaran HIV dan AIDS

Penanganan terhadap IMS (Infeksi Menular Seksual) tidak menjadi prioritas, melainkan hanya sebagai pendamping untuk kegiatan pemeriksaan VCT. Masih banyak elemen masyarakat dan pegiat HIV dan AIDS yang kurang memperhatikan penanganan IM.

25 Jan 2010 11:45 WIB : Berita Panjang

Tak Ada Layanan Test HIV di Gunung Kidul, Warga Mengalami Kesulitan

Anak laki-laki (7th) di Gunung Kidul diduga terinfeksi HIV. Dugaan muncul setelah dokter melihat riwayat kesehatan ibunya yang dirawat di RS. Sardjito karena AIDS. Saat anak itu menjalani pemeriksaan, didapatkan gejala mayor papular pruritic eruption (PPE), ganguan kulit kering yang meluas.

21 Jan 2010 10:28 WIB : Berita Pendek

Pemerintah Utamakan Penyetaraan Gender

Peserta KB laki-laki semakin minim. Perlu kebijakan dan langkah nyata Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk memasyarakatkan program KB laki-laki. "Ini bisa menghapus diskriminasi gender dan mewujudkan kesetaraan gender di masyarakat kita," kata Soelimah.

09 Jan 2010 11:16 WIB : Berita Pendek

Dokter Rumah Sakit Perlu Belajar Lagi

Sampai saat ini kasus HIV dan AIDS di Kalimantan Tengah masih sedikit yang diketahui. Penyebanya, masyarakat belum sukarela memeriksakan dirinya. Hal itu disampaikan Mirhan, Direktur Pelaksana Daerah (Dirpelda) PKBI Kalimantan Tengah.

07 Jan 2010 13:24 WIB : Berita Panjang

Memperkuat Jaringan Untuk Akses Layanan Kesehatan

Bekerjasama dengan UNFPA, PKBI Nusa Tenggara Barat mengembangkan mekanisme rujukan pemberian layanan Infeksi Menular Seksual (IMS), VCT, bagi mitra strategis PKBI NTB dalam program Pencegahan HIV dan AIDS di NTB.

06 Jan 2010 10:06 WIB : Berita Panjang

Kasus Salah Obat, Kembali Terjadi di Yogyakarta

“Saya akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan mengundang pihak Rumah Sakit dan jajarannya membahas hal ini," kata Drs. Riswanto, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi DIY.  Hal itu disampaikannya berkaitan dengan kasus salah obat di Yogyakarta.

05 Jan 2010 06:48 WIB : Berita Pendek

Masih Banyak Rumah Sakit yang Diskriminatif

Masih banyak masyarakat mengalami pelayanan tidak otimal dari rumah sakit. Pasien miskin dan terinfeksi HIV dan AIDS, bahkan mengalami diskriminasi dalam pelayanan rumah sakit. Demikian yang mengemuka dalam diskusi publik ”Layanan Kesehatan, Hak Konsumen Mendapatkan Pelayanan Rumah Sakit, dan Kiat RS Menangani Keluhan Konsumen”, di Kedai 26, Banyumanik, Semarang, pekan silam.

Dalam acara yang diadakan Koalisi Jurnalis Perempuan Semarang,  Abdul Mufid dari Lembaga Perlindungan dan Pembinaan Konsumen (LP2K) mengatakan diskriminasi pihak rumah sakit semakin parah karena mayoritas konsumen tak begitu paham hak-hak dalam pelayanan kesehatan. "Mereka berhak mendapatkan informasi yang jelas perihal segala penyakit, penanganan, hingga jenis obat yang mestinya diterima," .

Selama ini pasien sering kebingungan dan sulit mengetahui detail status kesehatannya. Tetapi menurut Mufid, persoalan ini lebih ringan ketimbang diskriminasi, bahkan sengaja tidak dilayani bagi kaum miskin dan mereka yang terinfeksi HIV dan AIDS.

Mufid juga mengatakan sudah saatnya segala diskriminasi dihilangkan. Sangat naif jika masih ada rumah sakit yang tak mau menerima pasien miskin dan terinfeksi HIV dan AIDS.

Menyinggung soal terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang farmakoterapi (khasiat obat), bukanlah sesuatu yang berlebihan. Ketika masyarakat ke rumah sakit, pikirannya hanya bagaimana penyakit yang diderita sembuh atau kesehatannya terjaga.

Hak konsumen untuk mendapatkan pelayanan optimal dari rumah sakit. ”Pasien tak perlu takut mengeluhkan pelayanan yang kurang mengenakkan dari dokter dan perawat. "Inilah yang sangat kami harapkan karena jadi ajang evaluasi diri bagi kami,” kata Nana, Humas Rumah Sakit Telogorejo. Semarang.

Caranya, pasien memberikan saran dan keluhan melalui kotak saran yang telah disediakan di setiap bagian rumah sakit. Setiap rumah sakit biasanya menyediakan kotak saran dan keluhan, nomor layanan pasien 24 jam. "Lebih baik pasien menyalurkannya di situ, ketimbang ke media massa. Penyelesaian langsung antara pasien dengan pihak rumah sakit, akan lebih efektif dan meminimalkan adanya permasalahan yang berlarut-larut,” kata Nana.

Berkaitan dengan tindakan diskriminasi terhadap mereka yang terinfeksi HIV dan AIDS, dr. Zulfa Hasanah, tak membantahnya. Ia mengatakan diskriminasi itu fakta di masyarakat. Kondisi ini akan menyulitkan mereka yang terinfeksi HIV dan AIDS. Mereka sakit fisik yang berlebih, tidak dilayani rumah sakit dengan baik. "Bahkan kehadiran mereka di rumah sakit sering ditolak, dengan alasan kurang tepat,” katanya.

Mengakhiri situasi ini, dr. Zulfa menegaskan pemerintah harus turun tangan. Diskriminasi jangan menjadi persoalan yang terus-menerus terjadi, tanpa ada penyelesaian yang jelas.
26 Dec 2009 10:26 WIB : Berita Panjang

STBP Gunakan Uang dan Kebohongan Publik

Meski sudah berjalan dua minggu, baru 23 orang yang bersedia ikut. Targetnya, melibatkan 250 orang sebagai contoh dalam Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) Yogyakarta Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DIY, sebagai pelaksana proyek Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional.

Persoalan ini dikatakan dua surveyor  untuk komunitas gay, yang enggan disebut namanya. “Mmasih jauh dari target. Sampai-sampai petugas kliniknya juga nggak enak hati,” kata mereka.

Upaya pendekatan dilakukan. Media internet juga sudah dimanfaatkan, seperti jaringan sosial. Lantas, saat mereka mengubah strategi dengan menawarkan Rp. 40.000,- sebagai daya tarik agar komunitas bersedia ikut STBP. Masih ada bonus, Rp. 10.000,-, per orang jika membawa teman lainnya. “Kayak MLM dong,”  kata Angga, Community Organizer (CO) komunitas Waria, PKBI DIY.

Berbeda dengan survey untuk komunitas Perempuan Pekerja Seks (PPS). Gunawan, CO komunitas PPS PKBI DIY mengatakan, ada pemberian informasi yang salah. Kepada PPS dikatakan STPB ini merupakan lanjutan dari Surveilans yang dilakukan bulan November lalu. "Ini terusan pengambilan darah yang kemaren, kok," kata Gunawan menirukan penjelasan PPS yang mendapatkan informasi itu.

Di komunitas remaja jalanan, Omah Keong, berinisiasi mengundang tim klinik VCT PKBI melakukan Vouluntary Conselling and Testing (VCT), Jumat (24/12). “Ini kebutuhan kita kok, gak ada yang memaksa , dan kemarin  saya yang menghubungi Sulis untuk mendatangkan tim PKBI,” kata Agus, dari Omah Keong.

Menurut Sulis, CO PKBI DIY, kalau kegiatan ini bisa dilakukan secara berkala,  tidak perlu lagi remaja jalanan di kejar-kejar atau bahkan ditangkap dan ditest darahnya. “Kalian punya hak jawab, kalau perlu menolak,” katanya.

Sulis juga melihathal yang sama terjadi di komunitas waria. Kini tidak ada lagi pengambilan darah tahunan, karena mereka melakukan VCT. "Kalau negara membutuhkan angka, silakan merujuk ke klinik VCT yang ada," katanya.
12 Dec 2009 17:53 WIB : Berita Pendek

Mukhotib MD: Membantu dari Ketidakcukupan

Sumber pendanaan kesehatan yang disediakan negara melalui JAMKESMAS, JAMKESDA dan JAMKESOS belum sepenuhnya mampu menjawab kesulitan yang dialami mereka yang terinfeksi HIV dan berstatus AIDS.

10 Dec 2009 07:32 WIB : Berita Pendek

Menghapus Diskriminasi Tanggung Jawab Semua Orang

Diskriminasi terhadap mereka yang terinfeksi HIV dan bersatus AIDS harus dihilangkan. Hindarkan mereka dari beban pikiran dan psikisnya karena tekanan-tekanan negatif dari lingkungan sekitar. Kepedulian terhadap mereka harus ditingkatkan.

08 Dec 2009 14:27 WIB : Berita Pendek

Hasil Surveilance Tidak Keluar-Keluar, Komunitas Mempertanyakan

Komunitas mitra strategis PKBI DIY mempertanyakan hasil Surveilans Sentinel 2009 yang dilaksanakan pada November lalu. Pasalnya, hingga kini hasilnya memang belum keluar, padahal sudah lebih dari dua minggu sejak dilakukan surveilans. Di mana persoalannya sehingga terjadi keterlambatan?

Maezur Zacky, Manager Program PKBI DIY sudah mempertanyakan soal keterlambatan ini ke Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. Jawaban yang diperoleh, keterlambatan ini bukan pada proses pemeriksaan laboratoriumnya, tetapi pada bagian penulisan hasil keluarnya. "Hingga kini Dinkes tidak tahu mengapa penulisan hasil bisa begitu lama," katanya.

Zacky masih terus mendesak Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta untuk segera menyelesaikan masalah hasil yang belum selesai itu. Koordinator Bunga Seroja mengatakan sudah banyak temen pekerja seks yang menayakan hasil itu. “Aku kepiye mbak, sehat nggak? Apakah hasilnya sudah bisa dilihat aku kena apa nggak ?”  Katanya menirukan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan teman-temannya.

Novan
08 Dec 2009 12:11 WIB : Berita Panjang

Perda HIV dan AIDS Tingkat Kabupaten Lebih Menentukan

Peraturan Daerah tentang Penanggulangan HIV dan AIDS di tingkat Provinsi, tidak berarti menyelesaikan masalah. Pelaksanaannya tidak maksimal, karena sebagian besar Kabupaten/Kota belum memiliki Perda yang sama. Otonomi Daerah tidak bisa kebijakan Propinsi otomatis berjalan di Kabupaten/Kota.

Wibowo, Manajer Program Penanggulangan HIV dan AIDS dari Family Health International Jawa Tengah, mengatakan persoalan ini harus menjadi perhatian 35 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Pasalnya, Kabupaten/Kota merupakan ujung tombak dalam penanggulangan HIV dan AIDS. "Jadi harus punya regulasi yang mengatur kegiatan penanggulangan itu,” katanya.

Pelaksanaan Perda Jawa Tengah tentang Penanggulangan HIV dan AIDS tidak bisa maksimal jika Kabupaten/Kota tidak menerbitkan peraturan serupa, dikatakan Masrukhan Samsurie, anggota DPRD Jawa Tengah, yang membidangi masalah kesehatan. Menurutnya, kebijakan otonomi daerah menjadikan pemerintah Provinsi tidak bisa telalu memaksa Kabupaten/Kota untuk menerapkan berbagai kebijakan. Termasuk dalam soal penanggulangan HIV dan AIDS ini. ”DPRD Jawa Tengah akan terus mendorong kabupaten/kota memikirkan dan merealisasikan pembuatan peraturan tersebut,” katanya.

Menyinggung soal anggaran yang tersedia, Wibowo mengatakan karena ketergantungan dengan dana dari lembaga donor, menjadikan program penanggulangan HIV dan AIDS, khususnya di Jawa Tengah hingga kini belum bisa berjalan secara optimal dan mengakses seluruh penduduk yang ada Jawa Tengah. ”Sekitar 70 persen dana penanggulangan HIV dan AIDS masih mengandalkan bantuan dari asing,” katanya.

Padahal, berdasarkan data terakhir dari Dinas Kesehatan, jumlah penderita HIV dan AIDS di Jawa Tengah mencapai 2.290 orang. Jika diperingkat, jumlah penderita tertinggi ada di daerah Kota Semarang, Banyumas, Solo, Kabupaten Semarang, Jepara, Pati, dan Salatiga.

Salah seorang yang tinggal di Resosialiasi Sunan Kuning, Semarang, (yang enggan disebutkan namanya), permasalahan peraturan dan dana tidak bisa menjadi alasan pemerintah atau pihak lain berkaitan dengan terhambatnya penanggulangan HIV dan AIDS. Kalau pemerintah benar-benar berniat dan bekerja keras, tanpa embel-embel uang, mereka bisa saja melakukan penyuluhan atau aksi nyata. "Terutama tentang pengharusan penggunaan kondom atau memfasilitasi kami dalam memeriksakan kesehatan,” katanya.

Menurutnya, banyak temannya yang sebetulnya juga takut terkena HIV dan AIDS. Tetapi mereka membutuhkan keyakinan dan fasilitasi dari pemerintah. Tapi sayang, kadang pemerintah hanya beralasan, program itu tak ada dananya. "Padahal sebetulnya, mereka sendiri sudah mendapatkan gaji dari negara, yang juga uang kami-kami juga,” katanya.

Hadziq Jauhary, Swara Nusa Biro Jawa Tengah
05 Dec 2009 03:40 WIB : Berita Foto

Memperluas Akses Informasi HIV dan AIDS Melalui Seni Budaya

Seni budaya diharapkan bisa memperluas akses informasi dan perjuangan tentang isu Kesehatan Reproduksi dan Seksual [HIV dan AIDS], gender serta HAM. Demikian harapan Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam kata sambutan yang dibacakan Djoko Dwiyanto, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, saat membuka secara resmi Festival Seni Tradisi 2009 PKBI DIY, malam ini (4/12)

05 Dec 2009 02:58 WIB : Berita Foto

Menyediakan Informasi di Tengah Para Penggemar Otomotif

Solidaritas Peduli AIDS Yogyakarta (SPAY), bekerjasama dengan Jogja Automotive Club (JAC) menggelar aksi peduli AIDS 4-5 Desember 2009 di Monumen Jogja Kembali (MONJALI). Dalam kegiatan ini, SPAY membuka stand informasi HIV dan AIDS untuk para penggemar otomotif.
02 Dec 2009 00:30 WIB : Berita Panjang

Tanpa Perspektif Gender dan HAM, Penanggulangan HIV dan AIDS Sia-sia

Puluhan orang dari beberapa organisasi berbasis komunitas (CBO) dan Civil Society Organization (CSO), yang tergabung dalam Solidaritas Peduli AIDS Yogyakarta (SPAY), melakukan aksi damai dengan turun ke jalan memperingati hari AIDS se Dunia, hari ini, di Yogyakarta.

02 Dec 2009 00:26 WIB : Publik

Pernyataan Sikap SPAY di Hari AIDS se Dunia

SPAY (Solidaritas Peduli AIDS Yogyakarta), menuntut pemerintah memberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual melalui kurikulum muatan lokal. Beberapa tuntutan lain juga disampaikan dalam release mereka untuk memperingtati Hari AIDS se Dunia, hari ini (1/12).
01 Dec 2009 15:03 WIB : Publik

UNGASS Forum Indonesia Menuntut Pemerintah Mencabut Kebijakan yang Diskriminatif

UNGASS Forum Indonesia, menuntut pemerintah untuk mencabut semua kebijakan publik yang mengandung stigma dan diskriminatif. Selain itu juga meminta melakukan transpatansi penggunaan anggaran yang diperuntukkan penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia, termasuk dana yang bersumber dari Global Fund.
01 Dec 2009 14:13 WIB : Berita Foto

SPAY: Menuntut Segera Akui Pekerja Seks Sebagai Profesi

Tingginya kasus infeksi HIV di Yogyakarta,  sampai September 2009 terdata sebanyak 839 kasus, merupakan dampak dari Stigma HIV dan AUDS sebagai persoalan amoral”. Lalu melahirkan perlakuan diskriminatif.

16 Nov 2009 22:38 WIB : Berita Pendek

Menghindari Pelanggaran HAM, Surveilans Kota Yogyakarta Bekerjasama dengan PKBI DIY

Keluhan pengambilan darah untuk surveilans dengan penuh tekanan tak terdengar lagi. Bahkan kelompok sample, di Perempuan Pekerja Seks sangat antusias mengikutinya. Dalam surveilans yang membutuhkan 250 specimen, pada hari pertama kegiatan sudah mendapatkan 114 specimen (15/11).

"Ini khan untuk kesehatan kita juga," ujar salah seorang pekerja seks mengikuti program ini.

Pandangan miring surveilans syarat pelanggaran HAM tampaknya sudah berakhir di Kota Yogyakarta. Situasi ini karena keterbukaan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan KPA Kota Yogyakarta, untuk mengubah strategi pendekatan terhadap komunitas yang menjadi sample. Modusnya, kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, yang sudah mendampingi kelompok sample cukup lama. Selain itu, secara terintegrasi dilakukan bersama-sama tim Puskesmas Gedong tengen, Puskesmas Umbulharjo, Lapas Kota Yogyakarta dan dari tim VCT mobile Dinas Kesehatan Kota. "Sebenarnya ini soal kerahasiaan yang terjamin. Di lain sisi, tindak lanjut pasca surveilans bisa dilakukan," kata Novan, Konselor VCT PKBI DIY.

14 Nov 2009 23:33 WIB : Berita Pendek

HIV dan AIDS; Dana dari Funding Menurun, Menteri Kesehatan Harus Inovatif

Pengangkatan Dr. Endang Rahayu Sedyaningsing, DR.PH, sebagai Menteri Kesehatan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II, memunculkan opini dan harapan dari masyarakat Indonesia. Terutama di kalangan para aktivis HIV dan AIDS.

12 Nov 2009 10:49 WIB : Berita Pendek

Tim Survey UNGASS Forum Mengaku Dipersulit di Yogyakarta

Terbentur persoalan izin, surveyor dari UNGASS (United Nation General Assembly Special Session) Forum Indonesia menilai Dinas Kesehatan Provinsi DIY tidak kooperatif dalam proses pengumpulan data untuk kepentingan country report penanggulangan AIDS di Indonesia.

Kepala Bidang P2ML Dinas Kesehatan Propinsi DIY, dr. Ahmad, mengatakan pihaknya tidak mempersulit proses riset atau survey yang dilakukan UNGASS Forum. Tetapi semata-mata mengikuti aturan yang ada, setiap permintaan data terkait dengan survey maupun riset harus mendapatkan surat izin yang dikeluarkan Bappeda Propinsi DIY.

Menyinggung soal pentingnya reformasi birokrasi, menurut dr. Ahmad, sudah dilakukannya. Misalnya, proses pengurusan perijinan untuk praktek, dulu perlu waktu 1 bulan, sekarang hanya membutuhkan waktu 4 hari. Untuk izin kepentingan riset, sekarang hanya butuh waktu 1 hari, sebelumnya sampai 1 minggu. "Tetapi bukan meniadakannya aturan," katanya.

dr. Ahmad juga mengatakan, menurut tatanan yang ada setiap PNS harus mempertanggungjawabkan setiap data yang keluar agar tidak disalahgunakan. Apalagi menyangkut rahasia negara, harus mempertanggungjawabkan kepada pimpinannya. "Izin Bappeda penting sekali disertakan sebagai bagian dari perijinan melakukan survey ataupun riset," katanya.

Penilaian tidak kooperatif dari Dinas Kesehatan Provinsi DIY disampaikan Aldo, anggota tim surveiyor UNGASS Forum untuk wilayah Yogyakarta. Persoalan ini dialami Aldo, saat dirinya melakukan pengumpulan data dari Dinas Kesehatan Provinsi DIY melalui proses interview.

Menurut Aldo, masyarakat memiliki hak bertanya kepada pemerintah, sehingga tidak boleh ada yang ditutupi. Apalagi jika menyangkut soal pajak yang selama ini dibayarkan masyarakat. Penggunaannya harus dikontrol, dan tidak boleh ditutupi jika rakyat menanyakan. "Begitu pula terkait data. Tetapi ini terkesan dipersulit," katanya.
 
Tony, Koordinator Lapangan pelaksanaan survey di wilayah Yogyakarta, mengkonfirmasikan persoalan ini ke KPA Kota Yogyakarta. Lumowah, Program Officer KPA Kota Yogyakarta), mengatakan prosedur untuk riset memang seperti itu. Lumowah juga menekankan pentingnya menyertakan kerangka acuan, metodologi penelitiannya, dan tujuan pelaksanaan riset itu.

Seperti diketahui, UNGASS Forum, merupakan gabungan beberapa organisasi yang peduli terhadap penanggulangan AIDS di Indonesia. Saat ini UNGASS Forum sedang melakukan survey untuk melengkapi pembuatan country report yang akan disampaikan dalam pertemuan tahunan mereka.

novan
04 Nov 2009 15:10 WIB : Berita Pendek

Hari AIDS Sedunia, Momentum Media dalam Penggulangan AIDS

”Peringatan Hari AIDS Sedunia tidak muncul karena sejarah dan bukan peringatan kapan HIV ditemukan atau peristiwa memorial lain. Tapi murni alasan agenda setting media,” kata Slamet Riyadi Sabrawi, Deputy Direcotr LP3Y, di Pertemuan Forum Jurnalistik (03/11).

Menurut Slamet, media memiliki peran besar dalam menentukan keberhasilan tujuan kampanye yang ingin dicapai dalam setiap peringatan Hari AIDS Sedunia. ”Termasuk peran media akar rumput, seperti radio komunitas yang lebih dekat dengan masyarakat,” katanya.

Setiap tahun tujuan kampanye HIV dan AIDS dikembangkan yang direpresentasikan dalam tema dan disepakati secara internasional. Setiap negara bisa menerjemahkan tema global ini sesuai dengan kondisi di negaranya. Tema Hari AIDS Sedunia tahun 2009, 'Akses Universal dan Hak Azasi Manusia'.

Tema ini menunjukkan pada kehendak untuk memperjuangkan bagi setiap masyarakat khususnya mereka yang memerlukan, agar mampu memperoleh akses terhadap informasi, pencegahan, dukungan, dan pengobatan. Pemenuhan ini merupakan bagian penting dari hak dasar kesehatan setiap warga negara sebagaimana dijamin dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Karenanya setiap orang termasuk mereka yang terinfeksi HIV layak hidup sehat dan memperoleh fasilitas kesehatan. "Meningkatnya akses pelayanan dan pengobatan yang baik diharapkan dapat menurunkan resiko penularan dan mengurangi laju epidemi HIV di Indonesia,” katanya.

Sampai saat ini, menurut Slamet, kasus HIV telah mengakibatkan kematian 25 juta orang dan lebih dari 33 juta orang hidup dengan HIV. Setiap harinya ada temuan sebenyak 7.400 kasus baru HIV dan 96% di antaranya di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data resmi Departemen Kesehatan RI, hingga akhir Juni 2009, secara kumulatif tercatat 17.669 kasus AIDS dan separuhnya kelompok usia 20-29 tahun.

Dalam catatan Swara Nusa, Hari AIDS Sedunia diinisasi oleh James Bunn, seorang reporter TV di Amerika Serikat dan Dr. Jonathan Mann, Direktur Program Global AIDS di WHO pada tahun 1988. Pemilihan tanggal 1 Desember hanya semata-mata pertimbangan kesempatan mendapatkan blow up media, karena saat itu merupakan masa pasca pemilu dan sebelum perayaan Natal. "Pada Peringatan HAS 2009, diharapkan semua media bisa kembali berperan dengan berkonsentrasi melakukan pemberitaan mengenai HIV & AIDS,” kata Slamet.

galink
29 Oct 2009 22:53 WIB : Berita Pendek

Sembilan Tuntutan Remaja Yogyakarta

Forum Komunitas Untuk Keberagaman (FKUB), aliansi SUKMA (Suara Komunitas Untuk Keberagaman) dan Youth Forum DIY melakukan aksi Hari Sumpah Pemuda, kemarin (28/10). Mengusung tema, '81 Tahun Terpasungnya Hak-Hak Remaja', mereka menutup mulut dengan kain hitam.

29 Oct 2009 22:50 WIB : Berita Panjang

Terputus Informasi, Kasus HIV dan AIDS Remaja Meningkat

Terputusnya informasi yang benar kepada remaja menjadi penyebab meningkatnya kasus HIV dan AIDS remaja. Untuk Indonesia mencapai 60% dari 17.699 kasus. Denty Piawai Nastitie, Youth Advisory Panel UNFPA menyampaikan kepada Swara Nusa, kemarin (28/10).

22 Oct 2009 13:15 WIB : Berita Pendek

JAMKESMAS, Kebijakan yang Sangat Berani

Sikap berani, spontan dan lugas Siti Fadhilah Supari sebagai Menteri Kesehatan RI, ditengarai sebagai alasan penggantiannya di Kabinet pemerintahan SBY kedua kalinya. Karena penentangannya terhadap Amerika, bisa jadi SBY mendapat teguran dari Barack Obama.

01 Oct 2009 16:40 WIB : Berita Panjang

Aktivis HIV di Padang, Mesti Bertindak Sigap

Perlu dilakukan tindakan segera untuk mengurangi resiko penularan HIV dalam situasi gempa. Para aktivis dan AIDS, meski bertindak cepat dan tanggap, berkaitan dengan peristiwa gempa berkekuatan 7,6 skala Richter di Sumatra Barat, petang kemarin (30/09).

06 Sep 2009 22:21 WIB : Berita Pendek

Media HIV dan AIDS, Masih Didominasi Ketakutan

Media pencegahan HIV dan AIDS masih didominasi rasa ketakutan. Akibatnya, menumbuhkan sikap penolakan (denial) bagi mereka yang berada dalam perilaku berisiko dan mereka yang rentan. Dibutuhkan strategi baru bermedia untuk menudukung penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.

03 Sep 2009 22:25 WIB : Berita Panjang

Setelah ICAAP IX, Bali Menyiapkan Diri untuk Akses Universal

ICAAP ke-9 di Nusa Dua, Bali telah berlalu. Tidak kurang dari 3000 peserta hadir di konferensi internasional ini untuk kawasan Asia dan Pasifik. Berbagai perkembangan dan kemajuan upaya penanggulangan HIV dan AIDS dipaparkan. Tentu saja juga berbagai tantangan dalam penanggulangannya. Lalu, bagaimana dengan Bali, bagaimana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali meresponnya? Berikut komentar Yahya Anshori, salah satu Program Officer di kepengurusan KPA Bali seperti dikutip Luh De Suriyani.

02 Sep 2009 13:53 WIB : Berita Panjang

Melirik Kembali Ranah Kebudayaan

Setelah puluhan tahun dikembangkan dan melayani masyarakat yang tidak diuntungkan, Griya Lentera, klinik layanan kesehatan reproduksi dan seksual PKBI DIY, memerlukan pembaharuan dalam pengelolaannya. Pada level profesionalitas tenaga-tenaganya dan ranah kenyamanan layanannya.

01 Sep 2009 01:58 WIB : Editorial

Saatnya Menimbang Ulang Kewenangan KPA

Kabar tidak sedap, dan cenderung memalukan terdengar santer kembali. Tidak saja soal persoalan klasik tentang ketersediaan ARV, tetapi masih terjadinya penolakan rumah sakit terhadap teman-teman yang terinfeksi HIV ataupun mereka yang berstatus AIDS.

31 Aug 2009 10:15 WIB : Berita Panjang

HIV dan AIDS: Kalangan Agama Makin Giat, NGO Belum Satu Suara

Keterlibatan organisasi-organisasi berbasis agama, mendapatkan perhatian serius selama pelaksanaan ICAAP IX di Bali, Indonesia. Bahkan selain dibahas dalam sesi-sesi, juga disediakan secara khusus forum pra-kongres yang menghadirkan berbagai tokoh agama.

24 Aug 2009 13:49 WIB : Berita Foto

Sri Pakualam IX, Bertemu Aktivis di ICAAP ke 9, Bali

Para aktivis HIV dan AIDS Yogyakarta melakukan pertemuan dengan Ketua Umum KPAD Provinsi DIY di tengah-tengah acara ICAAP 9 di Bali, awal bulan ini. Sri Pakulam IX (tengah berpakaian abu-abu), melakukan photo bersama dengan para aktivis setelah acara dialog santai.

24 Aug 2009 13:35 WIB : Editorial

Terinfeksi HIV, Bagaimana Ketika Tidak Berpuasa

Bulan puasa sering dijadikan momentum bagi terminasi perjalanan hidup manusia. Setidaknya, karena setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, kaum muslimin akan mencapai pada putaran titik nol kehidupan, suci seperti saat dilahirkan dari rahim perempuan. Ia yang polos, ia yang apa adanya. Hanya teriakan tangis, memecahkan keheningan dan kegalauan hati orang-orang yang menantinya.

13 Aug 2009 12:11 WIB : Berita Pendek

Indonesia Menunjukkan Peningkatan Alokasi Dana untuk Respons AIDS

Penyediaan anggaran untuk respons secara Nasional, Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada level provinsi penyediaan anggaran dari sumber dana doemstik juga tampak terus meningkat dari tahun ke tahun.

13 Aug 2009 10:59 WIB : Berita Pendek

Pekerja Seks Menuntut Pekerjaannya Diakui

Sekitar 80 pekerja seks dari 14 negara yang tergabung dalam Forum Pekerja Seks ICAAP 2009, menandatangani rekomendasi dan menuntut diakuinya pekerjaan mereka oleh pemerintah dan semua kelompok sosial, termasuk institusi agama bagi pekerja seks laki-laki, transgender dan perempuan.

Mereka juga meminta dekrimilasasi terhadap pekerjaannya. Kriminalisasi yang selama ini diberlakukan, mengarahkan pada tindakan penganiayaan oleh polisi, tentara dan badan pemerintah yang lain. Lebih parah lagi, kriminalisasi mengakibatkan terhalangnya akses terhadap dukungan HIV, kesehatan seksual dan hak asasi manusia. “Kebijakan dana USAID harus secara memasukkan kebutuhan khusus bagi pekerja laki-laki dan transgender,” seru mereka.

13 Aug 2009 09:53 WIB : Berita Foto

Balon Pita Merah Raksasa

Sebuah pita merah, simbol gerakan penanggulangan HIV dan AIDS terbuat dari ratusan balon siap diterbangkan. Aksi ini cukup mengundang perhatian para peserta ICAAP 9 di Bali, dan dari kalangan media massa.

12 Aug 2009 23:39 WIB : Berita Panjang

Makanan dan Gizi Tingkatkan Efeketivitas Perawatan HIV

Meningkatkan status gizi seseorang yang tengah menjalani terapi antiretrovirat (ART), diketahui sebagai elemen sangat vital dalam perawatan HIV yang komprehensif. Karenanya kebijakan penyediaan makanan dan gizi harus masuk dalam agenda respons AIDS secara global.

12 Aug 2009 23:21 WIB : Berita Panjang

Diperkirakan 50 juta perempuan Rentan Tertular dari Pasangan Intimnya

Strategi internvensi dalam agenda pencegahan HIV tampaknya sudah harus lebih diperluas area kerjanya. Diperkirakan 50 juta perempuan yang menjadi pasangan seksual yang cukup lama dari laki-laki yang berada dalam perilaku berisiko, memiliki kerentanan sangat tinggi tertular HIV.

"Penularan HIV dari Pasangan Intim ini merupakan problem besar, karena banyak negara yang menolak secara luas," kata JVR Prasada Rao, Direktur Regional Support Team for Asia dan Pasifik UNAIDS.

12 Aug 2009 22:49 WIB : Berita Panjang

Kesenian, Alat Penyadaran yang Kreatif dan Efektif

Penyadaran publik mengenai penanggulangan HIV dan AIDS terus menerus harus dilakukan sebagai strategi penting dalam wilayah pencegahan. Banyak kreasi dikembangkan sebagai media penyadaran publik. Kesenian merupakan salah satu media yang dipilih untuk kepentingan ini.

12 Aug 2009 11:21 WIB : Berita Panjang

Pencapaian Universal Access 2010, Indonesia Masih Sulit

Komunitas Global pada tahun 2006, sudah memastikan tahun 2010 Universal Access akan dicapai pada tahun 2010. Harapan ini tampaknya sulit untuk bisa terwujud. "Indonesia saja, sampai saat ini baru baru mampu mnyediakan PMTCT di sembilan provinsi," kata Samsuridjal Djauzi.

Kondisi semacam ini, tentu saja menggambarkan kepada kita semua, Indonesia sangat sulit dibayangkan bisa memenuhi kesepakatan global itu. "Kita sudah memiliki komitmen global itu, tetapi bagaimana kondisi di lapangan," katanya.

12 Aug 2009 11:11 WIB : Berita Foto

Penanggulangan HIV, Ketidakadilan Jender Tetap Menjadi Persoalan Utama

Upaya penanggulangan HIV dan AIDS masih dihadapkan pada persoalan ketidakadilan sosial yang masih terus terjadi. Stigmatisasi berdasarkan etnis, jender dan orientasi seksual merupakan persoalan serius yang menentukan keberhasilan penanggulangan HIV.

10 Aug 2009 21:30 WIB : Berita Panjang

Stigma dan Diskriminasi Harus Dihapuskan

Stigma dan diskriminasi masih sering terjadi dan menjadi persoalan mendasar dalam agenda penanggulangan HIV dan AIDS. Terutama yang dialami komunitas yang terpapar HIV. Diskriminasi juga terjadi karena orientasi seksual.

10 Aug 2009 20:55 WIB : Berita Panjang

Saatnya Melibatkan Buruh Migran dalam Agenda Penanggulangan HIV dan AIDS

Era globalisasi ekonomi memaksa banyak orang terutama dari negara berkembang harus mencari pekerjaan ke luar dari negaranya. Dirperkirakan pada tahun 2006, buruh migran asing sudah mencapai angka 191 juta dan sekitar 48% merupakan buruh migran perempuan.

10 Aug 2009 19:41 WIB : Berita Foto

Solidaritas untuk Indonesia

Lebih dari 3000 orang berasal dari 65 negara, berkumpul di Bali, Indonesia untuk mengikuti Konferensi Internasional tentang AIDS Asia dan Pasifik ke-9. Presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono, mengatakan kehadiran mereka merupakan bentuk solidaritas terhadap berbagai persoalan di Indonesia. HIV dan AIDS merupakan salah satu persoalan besar di Indonesia, selain masalah gempa dan tsunami, flu burung dan flu babi, serta terorisme.
10 Aug 2009 00:05 WIB : Berita Panjang

Memanfaatkan Teknolgi Informasi untuk Impelementasi Program Preventif

Penanggulangan HIV dan AIDS dihadapkan strategi preventif dan treatmen yang selama ini masih selalu menghadapi berbagai kendala. Hampir semua negara-negara berkembang memiliki program preventif dan treatment. “Dengan sumber daya terbatas,” kata Prof. Dr. Zubaeri Joerban.

09 Aug 2009 23:47 WIB : Berita Panjang

Presiden Mengingatkan Pentingnya Kepemimpinan dan Kerjasama

Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan penanggulangan HIV dan AIDS. Kehendak untuk terus menerus melakukan kerjasama berbagai pihak, menjadi prasyarat lain yang akan mendukung keberhasilan itu.

17 Jul 2009 15:22 WIB : Berita Pendek

Perlu Perubahan Mekanisme Konseling HIV, Jender, HAM dan Difabel

Transmisi HIV di kalangan perempuan, berelasi kuat dengan kekerasan terhadap perempuan. Sayangnya, proses konseling terhadap perempuan yang mengalami kekerasan tidak dikembangkan pada soal transmisi HIV. Terlebih soal HAM dan difabel, semakin tidak terpehatikan.

12 Jun 2009 11:11 WIB : Berita Foto

Menggandeng Pemangku Kepentingan

Kantor Berita Swara Nusa Biro Palembang, melakukan sosialisasi Kantor Berita Swara Nusa kepada Stakeholder, pekan lalu. Hadir dalam pertemuan ini para pemangku kepentingan strategis dalam penanggulangan HIV dan AIDS.
12 Jun 2009 11:01 WIB : Berita Pendek

HIV dan AIDS, Pegawai Dinkes Bilang Tembak Saja

Rita,  nama disamarkan, sejak awal menikah tidak mengetahui informasi HIV dan AIDS. Ketika suaminya sakit, dan melakukan cek darahnya, ternyata terdeteksi positif HIV. Rita pun dianjurkan melakukan tes, dan hasilnnbya positif.

01 Jun 2009 19:45 WIB : Berita Pendek

Tanpa Data yang Kuat, Advokasi Lemah

Pengelolaan pengetahuan dan pengalaman penguatan komunitas menjadi perhatian pegiat HIV-AIDS, Gender dan HAM. Selama ini hanya fokus pada penanggulangan HIV-AIDS, melupakan pendokumentasian sebagai media pembelajaran bagi publik dan pemangku kebijakan.

01 Jun 2009 19:32 WIB : Berita Pendek

Dipertanyakan, Perbedaan Data KPAD dan Kota Yogyakarta

Persoalan ketidaksamaan data antara KPAN, KPAD dan KPA tingkat Kabupaten/Kota masih terus terjadi. Fakta ini mengundang pertanyaan, berkaitan dengan pengelolaan data yang dilakukan. Terlebih data di Pusat selalu lebih rendah dibandingkan dengan data di daerah.

25 May 2009 07:17 WIB : Analisa Tren

Trend dan Perkembangan Prevalensi HIV & AIDS di Indonesia 2008

UNAIDS/WHO Working Group on Global HIV & AIDS and STI Surveillance mengeluarkan data tiap tahun untuk memantau perkembangan epidemi HIV & AIDS serta Infeksi Menular Seksual (IMS) di tiap negara. Dalam laporan pemantauan ini, UNAIDS/WHO menggunakan 2 indikator, yakni UNGASS Indicators dan Health Sector's Response Indicators Toward Universal Access to HIV & AIDS Prevention, Care and Treatment. Dokumen laporan ini dikemas dalam bentuk Fact Sheet sehingga mudah dipahami. Data yang digunakan dalam laporan ini sebagian besar didapatkan dari data lembaga-lembaga PBB lainnya, sehingga perlu dicross-check dengan data yang berasal dari Departemen Kesehatan RI maupun KPAN untuk memastikan akurasinya. Berikut Fact Sheet UNAIDS/WHO tentang perkembangan dan trend HIV & AIDS di Indonesia tahun 2008.

Sumber : UNAIDS/WHO, 2008
24 May 2009 09:25 WIB : Berita Pendek

Masih Tinggi, Stigma dan Diskriminasi Terhadap Orang Terinfeksi HIV

Pemahaman masyarakat mengenai HIV dan AIDS, bisa mencegah terjadinya stigma dan diskriminasi terhadap orang terinfeksi HIV. Masyarakat akan sadar tidak melakukan perilaku berisiko. Sementara itu, remaja yang terinfeksi, tidak selalu karena seks bebas dan jarum suntik.

Dr. Bagoes Widjanarko, MPH, MA, mengatakan hal itu, berkaitan dengan disahkannya Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2009 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS di Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya, pemberian informasi menjadi mandat dalam kebijakan yang baru disyahkan pemerintah bulan lalu.

Perda juga mengatur pembatasan penggunaan NAPZA suntik. Pembatasan ini bisa jadi memang penting. Penyebab tertinggi penularan virus HIV dari penggunaan jarum suntik secara bersama-sama pada NAPZA suntik. Persoalannya, bagaimana mekanisme pembatasan itu akan dilakukan. "Harus ada panduan yang detail sehingga pasal ini tidak disalahtafsirkan oleh berbagai pihak," kata Mukhotib MD, Direktur Pelaksana Daerah (Diperlda) PKBI DIY.

Penanggulangan HIV dan AIDS di Jawa Tengah masih harus dilakukan lebih serius lagi. Tersedianya Perda bukan berarti menyelesaikan seluruh persoalan. Menurut dr. Bagoes, upaya pemerintah dan masyarakat belum terlihat optimal. Masih banyak stigma dan diskriminasi terhadap mereka yang terinfeksi HIV dan berstatus AIDS. "Banyak tekanan mental dan psikologis dialami dari lingkungan sekitarnya," katanya.

Tantangan lainnya, menurut dr. Bagoes, sebagian besar rumah sakit, milik pemerintah dan swasta, masih mengucilkan mereka yang terinfeksi HIV dan berstatus AIDS. Kekurangtahuan pihak medis tentang HIV dan AIDS secara detail, termasuk cara penularannya menjadi sebab utamanya. Para dokter, didorong lebih awareness kepada orang yang terinfeksi. Mereka butuh penanganan yang baik, bukan ditolak rumah sakit," katanya.

Tingginya remaja yang terinfeksi virus HIV, mencapai 36 persen dari kasus nasional, tidak berarti selalu terjadinya perilaku seks berisiko dan penggunaan jarum suntik. "Bisa dimungkinkan anak di bawah usia 18 tahun, tertular virus HIV dari ibunya yang terinfeksi," ujar Bagoes.

Meski begitu, edukasi dalam keluarga tetap harus dilakukan. Bukan saatnya lagi orang tua tabu membicarakan masalah seks kepada anak. Anak dalam masa remaja, berhak tahu secara benar dan detail tentang seksualitas. Keterbukaan orang tua tentang seksualitas, dan memberikan pengertian yang tepat, menjadikan anak tidak lagi penasaran. Mereka tidak ada keinginan mencari informasi seks dari teman dan internet. "Itu sangat berbahaya. Iinformasi seks dari hal itu lebih banyak salahnya," katanya.

[Oleh Hadziq Jauhary, Biro Jawa Tengah].
23 May 2009 09:19 WIB : Berita Pendek

Pembentukan PKVHI, Sedikit Konselor yang Hadir

Meski disadari pentingnya koordinasi antar konselor VCT, hanya sebagian saja konselor VCT yang hadir dari 25 konselor yang diundang dalam acara pembentukan wadah kosnselor di Yogyakarta, kemarin (22/5) di Aula Dinas Pendidikan Provinsi DIY.

20 May 2009 16:21 WIB : Perundangan dan Hukum

Perda HIV & AIDS Provinsi Jawa Tengah

Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 5/2009 yang mengatur bagaimana program penanggulangan HIV & AIDS dilaksanakan. Perda ini ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, menjamin keterjangkauan akses informasi dan layanan yang memadai dalam konteks HIV & AIDS, dan melindungi masyarakat dari penularan virus HIV. Perda ini menekankan pentingnya usaha penanggulangan yang meliputi kegiatan pencegahan, penanganan dan rehabilitasi.
19 May 2009 14:12 WIB : Wawancara Eksklusif

Laporan ARV Rumah Sakit, Macet di Meja Direktur

Jumlah kasus HIV dan AIDS terus meningkat secara signifikan. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. HIV dan AIDS bukan hanya persoalan infeksi, namun merambah ke berbagai bidang kehidupan. Berikut wawancara Desy Susani dari Swara Nusa, Yogyakarta dengan dr. Yanri Wijayanti Subronto, Ph.D., Sp.PD., dokter dan dosen UGM Yogyakarta.

17 May 2009 00:00 WIB : Berita Pendek

Penanggulangan HIV dan AIDS Memerlukan Peraturan yang Kuat

Berlarut-larutnya pengesahan Raperda HIV dan AIDS di Yogyakarta, mendapatkan perhatian khusus Arief Noor Hartanto, S.Ip, Ketua DPRD Kota Yogyakarta. Hal itu disampaikan pada saat berbicara dalam acara Malam Renungan AIDS Nusantara 2009 di Balai Kota Yogyakarta (16/5).

08 May 2009 14:44 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Data Terakhir HIV dan AIDS, Januari-Maret 2009

Selama periode Januari-Maret 2009, angka HIV bertambah 114 kasus, dan status AIDS bertambah 854 kasus, sehingga kasus HIV dan AIDS, selama oeriode ini berjumlah 968.

29 Apr 2009 23:44 WIB : Publik

Siaran Pers Yayasan Spirtia

Mengenai keterwakilan Yayasan Spiritia dalam berbagai posisi strategis,kami tegaskan bahwa keterlibatan Spiritia dalam lembaga-lembaga seperti KPAN maupun CCM Indonesia bersifat undangan. Yayasan Spiritia tidak pernah mengajukan stafnya ataupun berambisi untuk menjadi anggota atau perwakilan di lembaga-lembaga tersebut. Demikian tulis Yayasan Spiritia.
29 Apr 2009 22:04 WIB : Hasil Riset dan Investigasi

Riset Aksi Bersama Komunitas Waria, PPS, Gay dan Remaja Jalan

Riset ini dilakukan untuk merencanakan program bersama komunitas di Yogyakarta dalam agenda perjuangan identitas dan membangun tindakan kolektif untuk mengurangi prevalensi HIV dan AIDS, stigma dan diskriminasi.
29 Apr 2009 21:53 WIB : Hasil Riset dan Investigasi

Pengetahuan dan Pemahaman Kesehatan Reproduksi Remaja Kulonprogo

Dokumen ini merupakan riset yang dilakukan oleh Youth Forum Kabupaten Kulonprogo untuk melihat pengetahuan dan pemahaman remaja di wilayah ini.
27 Apr 2009 15:28 WIB : Manual

Strategi Pengorganisasian Komunitas

Dalam gerakan perubahan sosial, komunitas merupakan subyek dalam proses advokasinya. Karenanya, community-based organization (CBO) menempati urutan utama dalam melakukan berbagai agenda advokasi itu sendiri. Berikut merupakan gagasan reflektif dalam langkah-langkah pengembangan CBO yang mungkin untuk dilakukan.
27 Apr 2009 15:06 WIB : Analisa Tren

Anak-anak Terinfeksi HIV, Kegagalan Agenda PMTCT

Persoalan anak-anak yang terinfeksi HIV makin meningkat di Indonesia. Perlakuan yang mereka alami juga beragam, mulai dari penelantaran, pengeluaran dari sekkolah dan pengusiran dari kampung tempat mereka tinggal. Indonesia sendiri, belum mengembangkan secara khusus layanan bagi anak-anak yang terinfeksi HIV.

27 Apr 2009 11:53 WIB : Manual

Mengembangkan Jurnalisme Warga

Perkembangan Jurnalisme Warga sebagai salah satu bagian dari gerakan pendidikan kritis rakyat, cukup mendapatkan perhatian dari beberapa kalangan. Bagaimana sesungguhnya makna penting jurnalisme warga--terutama dalam isu HIV dan AIDS, Jender dan HAM? Bagaimana strategi pengelolaannya? Berikut gambaran sederhana mengenai pengembangan jurnalisme warga di masyarakat desa.
27 Apr 2009 07:33 WIB : Tanya Jawab Umum

HIV dan AIDS Dasar: Test HIV

Apakah tes HIV?

27 Apr 2009 07:27 WIB : Tanya Jawab Umum

HIV dan AIDS Dasar: Perawatan

Adakah obat untuk HIV?

27 Apr 2009 07:12 WIB : Tanya Jawab Umum

HIV dan AIDS Dasar: Pencegahan

Bagaimana infeksi HIV dapat dicegah?

27 Apr 2009 06:50 WIB : Tanya Jawab Umum

HIV dan AIDS Dasar: Penularan

Dimanakah HIV ditemukan?

27 Apr 2009 06:34 WIB : Tanya Jawab Umum

HIV dan AIDS Dasar: Pengertian

Kapan HIV dan AIDS Ditemukan?

26 Apr 2009 01:01 WIB : Berita Foto

Kantor Berita Alternatif untuk Isu Kesehatan Seksual, Reproduksi, Jender, dan HAM

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali bersama 11 PKBI Provinsi lain mendirikan kantor berita alternatif untuk isu kesehatan seksual dan reproduksi, jender, dan hak asasi manusia (HAM) dengan nama SwaraNusa. Kantor berita berbasis online ini disambut sejumlah komunitas. Seperti, komunitas remaja, NGO, dan instansi pemerintah di Bali dengan menyatakan komitmen pengembangan content dan isu. Hal ini terangkum dalam diskusi diseminasi di kantor PKBI Bali, dua pekan silam.

24 Mar 2009 21:55 WIB : Berita Foto

Pope Benedict XVI, Menuai Protes

Dalam rangkaian kunjungannya ke Afrika, Pope Benedict XVI menyatakan penggunaan kondom sebagai alat pencegahan HIV dan AIDS di Afrika merupakan kesalahan dan sebagaimana direlease oleh BBC News (17/3) dan malah memperburuk situasi.

01 Feb 2009 00:00 WIB : Perundangan dan Hukum

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2006

Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2006, mengatur Komisi Penanggulangan AIDS Nasional yang menjadi pelaku utama dalam meningkatkan upaya pencegahan, pengendalian,dan penanggulangan AIDS perlu dilakukan langkah-langkah strategis untuk menjaga kelangsungan penanggulangan AIDS dan menghindari dampak yang lebih besar di bidang kesehatan, sosial, politik, dan ekonomi. Perpres ini merupakan penyempurnaan tugas dan fungsi serta keanggotaan Komisi Penanggulangan AIDS yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1994 tentang Komisi Penanggulangan AIDS dengan Peraturan Presiden.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih
    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

    Apa itu GANAS?
    GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun 2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

    Tujuan utama GANAS itu sendiri?
    Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu.

    Apa saja kegiatan GANAS selama ini?
    Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI, KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat informasi, seperti diskusi dengan remaja yang mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah. Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

    Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?
    Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

    Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS tidak masuk ke sekolah?
    Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik, agar informasi yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

    Pandangan anda sendiri terhadap orang yang terinfeksi HIV&AIDS?
    HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan. Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

    Bagaimana harapan anda kedepan?
    Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

    Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?
    Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=69'>dr. J. Nugrahaningtyas WU, M.Kes</a> MEROKOK DAN RESIKO KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

    Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password
Mendaftar
Langganan via Email

Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/index.php on line 553
Jajak Pendapat
Apa pendapat Anda terhadap peningkatan anak-anak yang terinfeksi HIV?
Kegagalan program PMTCT
KPAN tidak memiliki strategi
Tidak adanya informasi
Editorial
Remaja Hamil itu Korban

Remaja yang hamil seringkali dipojokkan. Jangankan dianggap sebagai korban, stigma justru semakin kuat manakala yang muncul dalam benak adalah remaja yang hamil di luar nikah, masih sekolah pula. Seolah melupakan berapa banyak remaja yang tidak beruntung mengenyam bangku sekolah. Seakan tak sadar berapa banyak perempuan yang menikah saat mereka berusia sangat muda. Faktanya, Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan 46% perempuan menikah pada usia sebelum 20 tahun.

Pesan Singkat
  • 01 03 13 - I'm Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 01 03 13 - I\'m Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 18 10 11 - Andrian:
    Mas Hadiq alamat emailnya apa?
  • 14 10 11 - hadiq:
    To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih..
  • 30 06 11 - rika:
    http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;)
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 23 06 11 - ilahtea:
    SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public?
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 01 06 11 - galink:
    wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses!
  • 12 05 11 - Andrian:
    @salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam
  • 05 05 11 - salahsatuwartawan:
    sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini..
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian."
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\"
  • 09 01 11 - botaq:
    kirim data base kamisekarang
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 12 06 10 - ilahtea:
    kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks.
  • 11 06 10 - ridho:
    justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi
  • 11 06 10 - galink:
    pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho??
  • 10 06 10 - ilahtea:
    kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^
  • 06 06 10 - galink:
    benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT
  • 05 06 10 - ilahtea:
    hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!!
  • 01 06 10 - cornel:
    negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian?
  • 19 05 10 - wete:
    ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service...
  • 08 05 10 - polo:
    terus berjuang
  • 07 02 10 - heni:
    toleransi itu penting!!!!
  • 28 12 09 - Hadziq:
    Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.
BannerAds
Safe Sex50thn PKBIstatistik kasus HIV & AIDS September 2010
Kontak ke SwaraNusa
Pencarian