Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/swaranus/public_html/common/dbconn.php on line 12
Isu : Remaja : Kantor Berita Swaranusa

Pekerja Jalanan Ingin Jalanan Aman Bagi Semua : “Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera Orang duduk bersila Musisi jalanan mulai beraksi Seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu” Lagu Yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project ini menggema di Gedung DPRD Provinsi DIY pada kegiatan Temu Budaya Jalanan, sebuah pertunjukkan seni yang digelar oleh Kaukus Pekerja Jalanan (KPJ) di Gedung DPRD Provinsi DIY, Minggu (24/02/2013). Budaya Yogyakarta yang istimewa memang cukup tergambarkan dari lagu tersebut, termasuk kehidupan jalanan yang menjadi bagian dari budaya kota ini. “Jalanan adalah tempat untuk hidup dan menjalankan kehidupan. Jalanan adalah ruang bagi mereka untuk mendapatkan hidup, dan dimana mereka dapat menghidupi jalanan. Kreativitas dan potensi komunitas jalanan begitu besar, jika difasilitasi akan menjadi budaya yang unik”, kata Amer, Koordinator Temu Budaya Jalanan. Keunikan ini tampak dari 4 komunitas pengamen jalanan yang ada di Alun-alun Kidul (Komunitas Alkid), Galeria, Jombor dan Tukangan yang menampilkan musik dengan ciri komunitasnya masing-masing. Meskipun sempat diwarnai hujan deras, mereka tetap bersemangat menyuarakan harapan mereka terhadap pemerintah. Harapan anggota KPJ tersebut muncul karena selama ini pemerintah hanya melakukan razia terhadap pekerja jalanan tanpa adanya tindak lanjut yang jelas. Seperti yang dikatakan Rere, anggota komunitas Galeria, “Semoga saja pemerintah memberi pelatihan musik pada kami, gak cuman digaruki (dirazia, red) terus.” Rere sendiri sudah menyukai musik sejak kecil dan menganggap jalanan adalah satu-satunya tempat bagi dia berkreasi dan menunjukkan bakatnya dalam bermusik. Acara Temu Budaya Jalanan ini juga diisi dengan pembacaan orasi oleh seluruh anggota KPJ yang isinya antara lain agar dihentikannya segala bentuk tindakan represif oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, menolak kriminalisasi oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, dipenuhinya hak-hak komunitas jalanan sebagai warga negara, dan tersedianya ruang untuk mencari penghidupan dan mengembangkan potensi. KPJ juga menuntut tersedianya akses layanan publik yang bebas dari stigma dan diskriminasi serta mendukung Yogyakarta yang beragam dan toleran yang menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan. Selain diharapkan mampu mengajak komunitas jalanan lainnya untuk bergabung dalam menyuarakan kepentingan mereka, kegiatan ini juga dapat menjadi menjadi wadah kreativitas pekerja jalanan, serta menjadi media kampanye untuk mereduksi stigma dan diskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat. Agus, anggota komunitas Tukangan, menyatakan dengan tegas bahwa KPJ menolak tindakan represif aparat terhadap pekerja jalanan. ”Kami bukan sampah masyarakat yang harus dibasmi dengan kekerasan. Kami ingin jalanan aman bagi semua dan terpenuhinya hak-hak kami,” kata Agus. OBR Jogja : Untuk melawan tindak kekerasan terhadap perempuan, saat ini ratusan orang akan menari bersama para pejalan kaki di Malioboro Jogjakarta. Terbentuk : JIMI (Jaringan Methadone Indonesia) telah terbentuk sebagai wadah informasi, sosialisasi dan advokasi bagi pengguna methadone. Evaluasi : Peraturan Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY dinilai hanya mengurusi virus, belum menyentuh hak warga negara. Release : Perkumpulan Aksara meluncurkan buku dan film tentang gender dan bencana. Jogja Update : Hari ini, PKBI DIY mengadakan kegiatan Jogja Update untuk mengaji situasi aktual kesehatan dan sosial. Gerakan : Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menggalang gerakan berikan hak pendidikan bagi anak perempuan korban kekerasan seksual dan bentuk kekerasan yang lain.

06 Apr 2017 13:52 WIB : Berita Foto

Youth Forum DIY, Desak Negara Berikan Pendidikan Kespro yang Komprehensif bagi Remaja

Remaja yang tergabung dalam Youth Forum DIY mengadakan konferensi pers di Youth Center PKBI DIY untuk mendesak negara melakukan upaya serius dalam menurunkan angka risiko reproduksi dan seksual di kalangan remaja.(06/04/2017)

22 Mar 2017 10:06 WIB : Berita Foto

Kepala BKKBN: Katakan Tidak Pada Pernikahan Usia Dini

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Dr Surya Chandra Surapaty MPH PhD membuka Temu Nasional Remaja Indonesia di Hotel Hyatt Yogyakarta, Selasa (21/3/2017). Acara yang terselenggara berkat kerjasama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan John Hopkins University Centre for Communication (JHUCCP) Indonesia, Rutgers WPF, UNICEF dan UNFPA serta berbagai pemangku kepentingan program remaja di Indonesia dihadiri oleh remaja dari 25 provinsi di indonesia.

Fokus yang diangkat dalam pertemuan ini adalah Upaya Menurunkan Angka Kehamilan dan kelahiran pada remaja yang menjadi bagian dari program pembangunan nasional. Dalam Rangka Pembangunan Jangka  Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019 disebutkan bahwa sasaran kesehatan reproduksi remaja pada tahun 2019 khususnya yang berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran adalah (1) menurunkan angka kelahiran pada remaja (ASFR (15-19) menjadi 38 dari kondisi tahun 2014 yaitu 49, (2) meningkatkan median usia kawin pertama perempuan menjadi 21.0 tahun, (3) meningkatkan pengetahuan remaja terkait kesehatan reproduksi.

17 Jul 2013 14:20 WIB : Berita Foto

Sultan HB X: Bongkar Tradisi Tak Ramah Remaja Perempuan

Sultan Hamengkubuwono X membuka Seminar Memperluas Pilihan dan Kesempatan untuk Remaja Perempuan di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Kamis (11/7). Acara yang dihadiri sejumlah ahli kesehatan dan pembangunan, pembuat kebijakan serta berbagai organisasi remaja dan organisasi lain yang memiliki kepedulian terhadap isu remaja ini merupakan puncak rangkaian peringatan Hari Kependudukan Dunia 2013.

11 Jul 2013 23:35 WIB : Editorial

Remaja Hamil itu Korban

Remaja yang hamil seringkali dipojokkan. Jangankan dianggap sebagai korban, stigma justru semakin kuat manakala yang muncul dalam benak adalah remaja yang hamil di luar nikah, masih sekolah pula. Seolah melupakan berapa banyak remaja yang tidak beruntung mengenyam bangku sekolah. Seakan tak sadar berapa banyak perempuan yang menikah saat mereka berusia sangat muda. Faktanya, Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan 46% perempuan menikah pada usia sebelum 20 tahun.

10 Jul 2013 21:10 WIB : Berita Panjang

Kehamilan Remaja, Kegagalan Pemerintah Melindungi Warganya

Remaja yang mengalami kehamilan di luar nikah adalah korban akibat kurangnya informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan seksual. Hal tersebut dikemukakan Lutviah, Youth Advisory Panel UNFPA Indonesia, pada Media Workshop tentang Kehamilan Remaja yang diadakan oleh BKKBN, PKBI dan UNFPA di Benteng Vrederburg, Yogyakarta, Rabu (10/7). Sebagai corong suara remaja, Lutviah menganggap banyak pihak yang berkontribusi atas kasus-kasus kehamilan pada remaja dan persoalan remaja ini silang sengkarut dengan persoalan sosial lainnya.

01 Feb 2013 11:26 WIB : Berita Panjang

Dispora DIY Dukung Pendidikan Kespro Masuk Mulok SMP

Sejalan dengan perjuangan agar pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual masuk muatan lokal sekolah menengah di Yogyakarta, PKBI DIY bekerja sama dengan Rutgers WPF menyelenggarakan “Pelatihan Modul Kesehatan Reproduksi dan Seksual” bagi guru-Pguru SMP. Pelatihan yang dilaksanakan selama 6 hari (28/01-02/02) di Hotel Cailendra Extention tersebut, dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Drs. Kadarmanta Baskara Aji. Pada kesempatan itu, Kadarmanata menyatakan persetujuannya akan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual masuk dalam materi pembelajaran di sekolah, khususnya bagi peserta didik SMP.

“Penyusunan materi dan pelatihan ini tentu membawa manfaat untuk sekolah dan siswa karena pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual yang ada di sekolah itu harus dimulai sejak SMP. Malah saya berpikir harusnya sejak SD. Saran saya, ini bisa menjadi ekstrakurikuler wajib, mulok pilihan atau terintregrasi dengan pelajaran bimbingan konseling,” lanjut Kadarmanta.

23 Oct 2012 20:19 WIB : Berita Foto

Jogja Update

Suasana kegiatan Jogja Update yang diselenggarakan PKBI DIY, hari ini (23/10), sebagai salah satu ruang publik untuk melakukan analisis terhadap berbagai program yang dikembangkan pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara terbuka masyarakat bisa mengajukan pertanyaan terkait dengan berbagai isu yang berkembang (foto oleh rebeca)
23 Oct 2012 11:44 WIB : Berita Singkat (News Ticker)

Jogja Update

Hari ini, PKBI DIY mengadakan kegiatan Jogja Update untuk mengaji situasi aktual kesehatan dan sosial.
22 Oct 2012 15:07 WIB : Wawancara Eksklusif

Pernyataan M. Nuh, Remaja Kurang Respons

Meski pernyataan Kemendiknas jelas-jelas menyalahkan remaja perempuan yang mengalami tindak kekerasan seksual, tampaknya gerakan remaja pada level nasional dan daerah tidak menunjukkan perlawanan. Apakah gerakan remaja masih berada dalam ruang seremonial belaka, keberadaannya hanya sebagai bentukan program dari organisasi orang dewasa? Untuk menjawab pertanyaan mendasar ini, swaranusa.net melakukan wawancara dengan Gama Triyono, Program Manager PKBI DIY. Berikut kutipannya.

 

19 Oct 2012 09:58 WIB : Berita Pendek

Kecaman Terhadap Menteri Kemendiknas Berlanjut

Pernyataan Menteri Pendidikan Nasional, M. Nuh, terhadap korban kasus kekerasan seksual, siswi SMP Budi Utomo Depok berbuntut panjang. Institut Perempuan mengecam pernyataan itu yang dinilainya sebagai penghakiman secara sepihak terhadap korban kerasan seksual dan perdagangan manusia.

"Kami menuntut Mendikbud untuk mencabut pernyataannya yang tidak patut tersebut, menuntut presiden dan pemerintah Indonesia untuk memberikan sanksi tegas kepada Mendikbud dan mereformasi sistem pendidikan nasional yang diskriminatif terhadap pelajar perempuan korban kekerasan seksual, pernikahan dini dan hamil pada masa sekolah," kata Yanti Muchtar, Ketua Dewan Pengurus Institut Perempuan dalam pernyataan sikapnya.

Yanti menyatakan pernyataan Mendiknas secara jelas merupakan stigmatisasi dan kriminalisasi korban dan sekaligus melegitimasi kebijakan-kebijakan yang diskriminatif terhadap pelajar perempuan korban kekerasan seksual, menikah dini dan hamil pada masa sekolah. "Jika ini dibiarkan maka akses anak perempuan untuk bersekolah semakin kecil dan memperkuat kemiskinan perempuan yang merupakan mayoritas penduduk miskin di Indonesia," katanya.

Mengutip berbagai hukum dan kebijakan yang ditetapkan Pemerintah Indonesia, seperti Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen pada pasal 28 c ayat 1, pasal 31ayat 1,  Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak pasal 2,3, pasal 7 ayat 2, pasal 20, 54 dan 59, UU No 7 Tahun 1984 tentang pengesahan konvensi CEDAW (PenghapusanSegala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan), Deklarasi Dunia Pendidikan Untuk Semua (PUS), dan Deklarasi Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals), Institut Perempuan menuntut Pemerintah Indonesia memulihkan nama baik korban, memroses kasus hukumnya, memberikan hak pendidikannya dan memberikan sanksi sekolah yang telah mengeluarkan SA.

"Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mencabut pernyataannya yang menghakimi korban secara sepihak dan  melegitimasi kebijakan dari sebagian besar sekolah yang mengeluarkan secara sepihak korban kekerasan seksual, mereka yang menikah dini dan hamil pada masa sekolah dengan alasan mencemarkan nama baik sekolah," kata Yanti.

Institut Perempuan juga meminta Presiden untuk memberikan sanksi tegas kepada Mendikbud karena bekonsekuensi tidak tercapainya tujuan Pendidikan Untuk Semua dan MDGs tujuan 2 dan 3 sebagaimana sudah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia.

Selain itu, pemerintah harus melarang setiap sekolah untuk membuat dan menerapkan peraturan sekolah yang mengeluarkan pelajar perempuan yang menikah dini, hamil pada masa sekolah dan korban kekerasan seksual dan  mengintegrasikan gender mainstreaming ke dalam sistem pendidikan nasional. "Sehingga anak perempuan dan perempuan dewasa terjamin hak pendidikannya baik dalam sistem pendidikan formal maupun non formal," kata Yanti
17 Oct 2012 08:54 WIB : Editorial

Permintaan Maaf, Tak Cukup

Penyataan M. Nuh, Menteri Pendidikan Nasional, terhadap kejahatan seksual yang dialami seorang siswi SMP Budi Utomo, pekan silam, disesalkan oleh banyak kalangan, terutama para aktivis Hak Asasi Manusia. Pasalnya, pernyataan sang Menteri dinilai melecehkan dan sekaligus menyalahkan korban.

Meski kemudian sang Menteri meminta maaf, tetapi kerangka dasar nalarnya dalam memandang korban kejahatan seksual tak berubah. Misalnya, ia meminta maaf karena komentar itu bukan dimaksudkan untuk siswi SMP Budi Utomo, tetapi untuk peristiwa secara umum. Artinya, dalam benak sang Menteri, korban kejahatan seksual tetap sama posisinya, perempuan nakal dan atau suka sama suka, tetapi mengadu diperkosa.

16 Oct 2012 19:26 WIB : Wawancara Eksklusif

Revolusi KB, Rumuskan Strateginya

Dalam rentang lima sampai sepuluh tahun ke depan PKBI menghadapi beragam tantangan yang tidak cukup ringan. Bahkan tantangan ini tidak saja pada aras visi, tetapi juga pada level paradigmatik, strategi program dan pengelolaan sumber daya manusia.

15 Oct 2012 08:48 WIB : Berita Pendek

SMP Budi Utomo Depok Dinilai Diskriminatif

Tindakan pihak SMP Budi Utomo, Depok mengeluar dan mengusir salah satu siswanya yang menjadi korban tindak perkosaan merupakan tindakan diskriminatif. Karenanya dianggap melanggar hak remaja, dan sekaligus sebagai bentuk kriminalisasi terhadap korban perkosaan.

Penilaian ini disampaikan Kalyanamitra dalam surat keprihatinan yang dikirimkan kepada SMP Budi Utomo sebagai salah satu bentuk kritik atas kebijakan yang tidak manusiawi ini. Surat dengan Nomor 68/Eks/YKM/X/12 dan ditandatangani oleh Rena Herdiyani, Direktur Eksekutif Kalyanamitra ini, , juga ditembuskan kepada Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat, Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

13 Sep 2012 08:36 WIB : Editorial

Agenda Remaja Indonesia

Global Youth Forum 2012 sebentar lagi akan berlangsung di Bali, 4-6 Desember 2012. Ini merupakan momentum penting bagi remaja Indonesia untuk menyuarakan kepentingan-kepentingannya yang selama ini masih diabaikan negara. Forum ini harus bisa dimanfaatkan sebaiknya-baiknya untuk mendesakkan berbagai agenda yang membuka peluang labih luas untuk terpenuhinya hak-hak remaja secara nasional.

09 May 2012 16:59 WIB : Berita Pendek

Raperda Perlindungan Anak dan Perempuan Korban Kekerasan Dikritisi

YOTHA (Youth Association) dan SUKMA (Suara Komunitas untuk Keberagaman) menggelar audiensi ke Panitia Khusus Peraturan Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Propinsi D.I. Yogyakarta (24/4). Audiensi ditujukan untuk mengkritisi isi rancangan Perda yang sedianya akan segera disahkan oleh legislatif.

Audiensi diterima oleh Ketua Pansus Raperda Perlindungan Anak dan Perempuan Korban Kekerasan, Abdul Halim Muslih, yang menyampaikan bahwa saat ini pembahasan Raperda masih berlangsung. Jejaring dan lembaga pendampingan bisa memberikan masukan. "Masukan ini nanti akan dibahas dalam rapat kerja," jelasnya.
 
Diskusi diawali dengan pertanyaan Nina dan Desi, koordinator Youth Forum, yaitu bagaimana Raperda ini dapat mengakomodasi permasalahan-permasalahan yang berada dalam masyarakat, seperti kekerasan pada anak, dimana banyak sekali kasus pelecehan seksualitas, KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), stereotipe, stigma, KTD (Kehamilan Tidak Direncanakan), dan masih banyak hal lainnya yang mungkin dapat terjadi kapan saja. Kekerasan ini juga tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga berdampak secara psikologis kepada korban. “Si korban” akan mengalami depresi bahkan pengucilan yang dilakukan oleh masyarakat melalui pemberian stigma dalam kehidupan sehari-harinya.
 
Koordinator PPPSY menambahkan bahwa data di lapangan tahun 2011 menunjukkan sebesar 10% kasus prostitusi menimpa anak-anak dan remaja dengan usia 17-24 tahun. Diharapkan Raperda ini dapat mengembalikan hak-hak anak yang hilang karena masa remajanya direnggut dalam kasus seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Hak-hak tersebut antara lain kehidupan yang layak dan penghilangan label negatif dalam bermasyarakat.
 
Menurut Ami. Koordinator P3SY, komunitas yang tergabung dalam SUKMA dan YOTHA akan terus mengkritisi Raperda tersebut agar nantinya jika disahkan akan menjadi Perda yang bisa benar-benar melindungi perempuan dan anak.
 
edL
13 Apr 2012 12:34 WIB : Publik

PENUHI HAK PENDIDIKAN TANPA DISKRIMINASI! SISWI HAMIL BERHAK MENGIKUTI UJIAN NASIONAL!

Mendapatkan pendidikan merupakan hak semua warga Negara yang sudah diamanatkan dalam Undang-undang Dasar 1945. Tetapi ternyata sampai saat ini kita masih menemukan adanya diskriminasi dalam pemenuhan hak tersebut. Seperti yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur, DPRD dan Walikota Jawa Timur, yaitu larangan mengikuti Ujian Nasional bagi siswi yang hamil. Dasar pelarangan tersebut adalah bahwa siswi hamil dianggap telah melanggar norma, mencemarkan nama baik sekolah dan juga dianggap sebagai tindakan kriminal. Bahkan beberapa Kepala sekolah dengan tegas menyatakan bahwa siswi hamil dapat dianggap tidak lulus karena salah satu kriteria kelulusan adalah penilaian budi pekerti. Jelas sekali bahwa argumentasi pelarangan tersebut hanya mendasarkan pada logika moralitas yang sempit dan diskriminatif , menganggap seolah-olah siswi yang hamil terlepas dari sistem pendidikan dan pengajaran yang ada di sekolah. Padahal semua perilaku pelajar pasti terkait dengan pola pendidikan dan pengajaran yang diterima. Selain itu pelarangan keikutsertaan dalam UN pada siswi hamil juga seringkali hanya ditujukan pada korban, sedangkan pelaku yang menghamili akan lolos dari larangan tersebut. Sehingga, tidak hanya melanggar hak pendidikan siswa, larangan mengikuti Ujian Nasional juga syarat dengan diskriminasi terhadap perempuan.

Larangan mengikuti Ujian Nasional bagi siswi hamil tidak hanya terjadi di Jawa Timur, namun juga masih banyak ditemukan di daerah lain. Di DI Yogyakarta sendiri, data yang dikumpulkan oleh PKBI DIYtercatat  ada dua pelajar SMA yang dilarang mengikuti Ujian Nasional tahun 2012 ini karena hamil. Dan data yang riil pasti lebih banyak lagi seiring angka pernikahan dini yang disebabkan kehamilan tidak diinginkan yang terus naik di DIY dan selama ini solusi yang ditawarkan bagi pelajar yang mengalami kehamilan tidak diinginkan adalah menikah. Solusi tersebut tentu saja memaksa remaja untuk menjadi dewasa sebelum waktunya dan memutus hak pendidikan remaja tersebut.

Data Susenas dari Badan Pusat Statistik Propinsi DIY tahun 2009 menunjukkan perempuan yang menikah usia di bawah 16 tahun di Daerah Istimewa Yogyakarta sekitar 8,74% dengan prosentase terbesar di Kabupaten Gunungkidul  (15,40%) diikuti oleh Kabupaten Sleman (7,49%). Prosentase tersebut meningkat pada tahun 2010 menjadi 10,81% dengan prosentase terbesar di Kabupaten Gunungkidul (16,24%), diikuti oleh Kabupaten Kulonprogo (10,81%) dan Kabupaten Sleman (9,12%). Data dari Kantor Pengadilan Agama Bantul juga menunjukkan permohonan dispensasi nikah di Bantul tahun 2008 mencapai 70 pasangan, tahun 2009 sebanyak 82 pasangan, tahun 2010 meningkat menjadi 115 pasangan, dan sampai bulan Oktober 2011 sudah melonjak menjadi 135 pasangan. Di Kabupaten Kulon Progo, data dari Kementrian Agama menunjukkan  jumlah pasangan yang menikah karena hamil terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 angkanya  9,9 %, tahun 2007 meningkat menjadi 13,32%, tahun 2008 kembali turun menjadi 10,24 persen dan pada 2009 mengalami peningkatan tajam mencapai 13,45%.

Kasus siswi hamil atau kehamilan tidak diinginkan di kalangan pelajar tidak dapat dilihat secara sempit hanya persoalan moralitas, tetapi harus dilihat secara komprehensif dari segala aspek. Kehamilan tidak diinginkan mayoritas disebabkan oleh diabaikannya hak kesehatan reproduksi remaja oleh Negara. Negara tidak memberikan akses pada remaja untuk mendapatkan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan seksual sehingga remaja akhirnya mendapatkan sendiri informasi tersebut dari sumber yang tidak tepat. Juga sistem pendidikan yang belum menempatkan siswa sebagai subyek juga membuat pelajar tidak memiliki konsep diri dan tidak mampu membuat keputusan-keputusan yang tepat dan bertangungjawab. Dan jangan juga menutup mata bahwa banyak kasus Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) juga disebabkan oleh faktor kekerasan seksual, seperti perkosaan. Disinilah pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual komprehensif diajarkan di sekolah, tidak semata-mata untuk mencegah perilaku seksual berisiko, namun juga untuk menciptakan remaja yang memiliki konsep diri dan mampu mengambil pilihan yang tepat dan bertanggungjawab serta mendorong adanya perspektif kesetaraan sehingga kekerasan seksual dapat dihindarkan.

Dengan melihat hal tersebut, maka Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Propinsi DIY menyatakan:
1.     Mendesak agar siswi hamil tetap diperbolehkan mengikuti Ujian Nasional, karena pendidikan adalah bagian dari Hak Asasi Manusia yang harus dipenuhi tanpa diskriminasi.
2.     Mendesak Kementrian Pendidikan mengeluarkan kebijakan untuk tetap memberikan hak pendidikan bagi siswi hamil tanpa diskriminasi.
3.     Menuntut diberikannya pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual di sekolah sebagai pemenuhan hak remaja dan pencegahan perilaku seksual berisiko.
4.     Menuntut dilibatkannya remaja dalam setiap pengambilan keputusan.

21 Nov 2011 17:03 WIB : Berita Panjang

UU Perlindungan Anak Lemah: Anak Masih Menjadi Korban

Vonis bebas kepada YS (47), terdakwa kasus pelecehan seksual anak, merupakan salah satu bukti lemahnya penegakan UU Perlindungan Anak di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Venusia Ika Puspitasari, salah satu pendamping korban. “Ini merupakan tamparan bagi penegakan hukum perlindungan anak di Indonesia, UU ini malah terlihat mandul ketika dalam pengadilan,” jelas perempuan yang akrab disapa Vena. Vena menambahkan bahwa seharusnya UU Perlindungan Anak digunakan untuk melindungi anak dari kekerasan, namun nyatanya dalam kasus ini UU tersebut tidak berdaya dalam menjerat pelaku dan melindungi korban.

“Bahkan sebelumnya, saat kasus ini dibawa ke Polres Bantul, pihak kepolisian yang diwakili oleh Kanit Reskrim tidak mau menggunakan UU Perlindungan Anak dan hanya menggunakan KUHP saja. Tetapi keputusan tersebut dianulir oleh Kapolres yang meminta penggunaan UU Perlindungan Anak,” terang Vena yang juga Kepala Divisi Konseling PKBI DIY.

Ditinjau dari prosesnya, persidangan yang telah dilakukan tidak berperspektif anak seperti misalnya korban yang masuk dalam persidangan tidak pernah didampingi oleh konselor maupun kuasa hukumnya. Padahal pendampingan korban oleh konselor dan kuasa hukum adalah sebuah keharusan bagi anak yang terlibat dalam persidangan. “Hal ini merupakan penyelewengan dan bisa kita laporkan ke Komisi Yudisial,” kata Vena. Selain itu, perangkat persidangan seperti majelis hakim, panitera, penasehat hukum, dan lainnya masih menggunakan toga dalam proses sidang. “Seharusnya ini tidak boleh dalam persidangan yang melibatkan anak,” ujar Vena.

Vena dan perwakilan dari Mitra Wacana maupun LBH Yogyakarta mengindikasikan adanya penyelewangan selama persidangan yang telah berjalan lebih dari 20 kali. “Saat persidangan menghadirkan korban sebagai saksi, penasehat hukum terdakwa membentak korban saat menanyainya, dan hakim membiarkan saja. Ini kan sudah tidak benar,” terang Vena. Vena menambahkan bahwa hakim Najawi, SH yang juga merupakan Kepala Pengadilan Negeri Bantul, justru menggunakan keterangan saksi yang tidak mengetahui kejadian selama proses sidang kemarin. “Seharusnya kan dasar hukum adalah saksi yang mengetahui kejadian, dalam proses ini malah sebaliknya.”

Bebasnya terdakwa dalam kasus pelecehan seksual ini merupakan contoh buruk dalam penegakan hak-hak anak di Indonesia. “Bisa jadi kan, dengan bebasnya terdakwa dalam kasus ini, kasus pencabulan terhadap anak akan terjadi lagi, serta anak akan bungkam ketika ada pelecehan seksual yang menimpanya karena ketakutan dan hasil yang diharapkan tidak setimpal dengan pelecehan yang sudah menimpanya,” sesal Vena.

Beberapa siswa SMU yang mengikuti proses persidangan sejak awal juga mengaku kesal dengan putusan bebas yang diterima terdakwa. “Kaget Mas pertama kali dengar kasus ini, kok ya tega-teganya,” kata Darsih yang berasal dari SMK 2 Yogyakarta. Rekannya, Zico, juga menyesalkan bahwa kasus ini justru terjadi di sekolah yang berlandaskan agama. “Hukum seakan-akan tidak adil Mas. Hak anak tidak pernah diperhatikan dalam persidangan,” kata Zico yang juga anggota Youth Forum DIY.

Youth Forum sebagai komunitas yang beranggotakan siswa-siswi SMU di DIY telah mengawal kasus pelecehan seksual ini sejak awal. Youth Forum menyatakan keprihatinannya dan tidak terima dengan hasil putusan yang diberikan hakim. “Kami mendukung penuh langkah yang diambil LBH Yogyakarta, PKBI DIY, dan Mitra Wacana yang akan menempuh langkah kasasi dan melaporkan hakim ke Komisi Yudisial,” terang Darsih dan Zico sebagai perwakilan Youth Forum DIY.
 
edL
21 Nov 2011 17:02 WIB : Berita Panjang

Terdakwa Kasus Pencabulan Anak Divonis Bebas

Terdakwa kasus pencabulan, YS (47) yang seorang guru olahraga di sebuah MAN, terhadap NW (17) divonis bebas oleh Pengadilan Negeri Bantul (7/11). Sidang pembacaan putusan hakim terbuka untuk umum dan berlangsung selama lebih dari empat jam. Sidang dipimpin oleh Nawiji, SH dengan hakim anggota Ni Wayan Wirawati, SH dan Golom Silitongan, SH. Pada sidang-sidang sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum, Arsi dan Rini menuntut terdakwa dengan hukuman lima tahun penjara dan denda sebesar 60 juta rupiah. Terdakwa dinyatakan telah melanggar pasal 281 KUHP tentang pencabulan dan/atau pasal 82 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sidang dimulai sekitar pukul 14.00 dan dihadiri oleh kurang-lebih 50 orang, yaitu pihak keluarga dan pendukung terdakwa, perwakilan dari LBH Yogyakarta, PKBI DIY, dan Mitra Wacana. Sidang berlangsung lama karena hakim harus membacakan berkas kronologis peristiwa yang terlihat tebal. Hal ini membuat beberapa pengunjung sidang terlihat kelelahan selama mengikuti proses persidangan.

Terdakwa hadir ditemani oleh tiga orang penasehat hukumnya. Setelah pembacaan putusan oleh hakim, terdengar ucapan syukur dari terdakwa maupun para pendukungnya. Majelis hakim memutuskan terdakwa tidak terbukti bersalah. “Selain itu, terdakwa juga akan dipulihkan haknya dan memutuskan segera membebaskan terdakwa dari segala tuntutan,” kata Nawiji, SH dalam putusannya.
 
Salah satu penasehat hukum terdakwa, Karmidi, mengatakan semua pihak harus bisa menerima putusan hakim. “Ini sudah merupakan putusan yang adil dan ini adalah faktanya,” katanya. Sedangkan Hamzal Wahyudin dan Jauhar Ismail dari LBH Yogyakarta menyatakan tidak puas dengan putusan hakim. “Kami akan menempuh kasasi dalam kasus ini,” kata Hamzal Wahyudin. “Selain itu, kami juga akan melaporkan majelis hakim ke Komisi Yudisial karena ada indikasi dissenting opinion hakim terhadap hakim anggota satu,” ujar Hamzal Wahyudin setelah selesai persidangan.
 
Kasus pencabulan yang dilakukan oleh YS kepada NW telah dilakukan sejak Oktober 2010 hingga Januari 2011. Sementara proses persidangan telah berjalan lebih dari 20 kali, dimulai dari April 2011. Ironisnya, pencabulan yang dilakukan oleh YS terjadi dalam lingkungan sekolah, seperti misalnya di UKS dan ruang olahraga. Sedangkan bentuk pelecehan seksual yang diterima oleh NW dari YS adalah pemegangan payudara dan paha, serta jari YS yang dimasukkan ke dalam vagina NW.
 
edL
08 Nov 2011 07:04 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Youth Declaration on the 6th APCRSHR

Whereas, young people (10-24) comprise a significant demographic sector of Asia adn Pacific which accounts for half of the world’s young population and some 850 milion in the region, making us an important asset and source of opportunity for national and regional development;

Whereas, the young people engage in early sex of which most are unprotected and the adolescent birth rate is 53.7 for South Asia and 40.4 in South East Asia. Young girls and young women are at more at risk of experiencing pregnancy-related complications, and of engaging in unsafe abortion, thus further increasing maternal mortality;

Whereas, young people are engaged in high risk behaviour that lead to issues on sexual and reproductive health such as early pregnancies, STIs including HIV and AIDS, unsafe abortion, gender-based violance. This high risk behaviour can be attributed to lack of comprehensive sexuality education and access to reliable and unbiased source of information and youth friendly services.

Whereas developing adequate accesible and quality Youth-Friendly Health Care Services is essential in lowering maternal mortality of young women especially aged 20 years and below and promoting every young person’s Sexual and Reproductive Health and Rights as stated in the ICPD;

Whereas, there is an increasing number of STI, HIV, and AIDS cases among young people and young women are infected earlier than young men. Young girls and women are put at greater risks because of the biological factors, poor information and services, women-centric gender-based violance, and lack of economic and social opportunities. The prevalence of high risk behaviours has also driven the epidemic;

Whereas, there are no specific budget allocation for ASRH initiatives in government programs, if there is, its most often lumped with other general health project which almost makes adolescent reproductive health invisible or insignificant;

Whereas, the youth should actively participate in specifying bugdet items for Adolescent Sexual and Reproductive Health to ensure efficient and effective utilization of limited funds and resources to achieve progressive development of maternal, child and adolescent health;

Whereas, there are limited venues for youth to contribute solutions and to create meaningful youth-adult partnership in all aspects of planning, implementation, monitoring and evaluating programs and policies that directly affect our lives;

Now therefore, we call on the goverment to accountability in promoting, protecting and uphold the sexual and reproductive health and rights of young people. And we call on the civil society, development partners, and our fellow young people to work collectively in addressing SRH issues of the young people.

We urge the government to provide reliable data and address the gaps on young people’s situation particularly on Sexual Reproductive Health leading to policy directions and budget allocation.

We urge the government to provide venue for genuine participation of the young people in the policy making, program implementation, monitoring and evaluation.

We strongly urge the government to implement comprehensive sexuality education in the curriculum.

We urge the government to provide youth friendly services that are cost effective, gender sensitive and rights based.

We urge the government to ensure that service providers are adequately trained in providing youth-friendly services.

We the delegates of Youth Day in 6th Asia Pacific Conference of Reproductive and Sexual Health and Rights commit to:

We commit to complement the efforts of the government, civil society and development partners in promoting comprehensive sexuality education and youth-friendly services through our peer education programs targeted to our fellow young especially the key populations.

We commit to strengthen programs provided by our organizations especially in the provision of ASRH information and services through our teen centres, youth hubs, one-stop shops and other existing institutional facilities.

We commit to continuously lobby and advocate for policies addresing the sexual and reproductive health needs of youth by building their capacities in policy advocacy; and respect, protect, and uphold the sexual and reproductive health rights of young people.

We commit to actively engage ourselves in the development, implementation, monitoring and evaluation of youth programs in all level (local, national, regional, and global); to promote the spirit of volunteerism and vigilance; and to consitently advocate for meaningful youth-adult partnership.

Signed in the 19th day of October 2011 at Yogyakarta, Indonesia.
20 Oct 2011 12:28 WIB : Berita Pendek

Orang Muda Bersatu Perjuangkan Kesehatan Reproduksi

Tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah Asia Pacific Conference on Reproductive and Sexual Health and Rights (APCRSHR) ke-6. Konferensi tingkat Asia Pasitif tentang hak reproduksi dan kesehatan seksual ini diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 20-22 Oktober 2011 bertempat di Grha Sabha Permana UGM. Sehari sebelumnya diadakan Youth Forum yang mengambil tema “From Comprehensive Sexual Education (CSE) to Youth Friendly Services” dengan agenda mendiskusikan isu-isu di antara orang muda. Youth Forum merupakan langkah awal bagi orang muda untuk berpartisipasi aktif menyuarakan hak-haknya untuk diperjuangkan dan mendeklarasikannya kepada pemerintah.

Pada konferensi pers yang diadakan setelah upacara pembukaan Youth Forum, Prof. Dr. Muhardjir Darwin, MPA menyatakan bahwa remaja merupakan fokus utama dalam isu sexual and reproductive health and rights (SRHR). Selain itu data statistik menunjukkan bahwa jumlah remaja di Asia Pasifik merupakan jumlah terbesar dibandingkan dengan remaja di regional lainnya. Dr. Marijke Wijnsroks, duta besar HIV AIDS Belanda, menambahkan bahwa isu SRHR adalah isu yang sangat penting karena remaja memegang peranan penting untuk menciptakan kekuatan yang seimbang dalam komunitas-komunitas konservatif. “CSE is more than just curriculum because it will increase the ability of youth and in participating in society and supreme the human rights” (CSE lebih dari sekadar kurikulum karena akan meningkatkan kemampuan anak muda untuk berpartisipasi dalam masyarakat dan menjunjung tinggi HAM), kata Syefa Ahmed, perwakilan remaja dari Bangladesh.

Konferensi Youth Forum ini kemudian dilanjutkan dengan pembagian peserta remaja ke dalam empat kelompok kecil yang membahas topik Comprehensive Sex Education, Youth Friendly Services, Youth Diversity, dan Youth-Led Initiatives. Pemikiran-pemikiran kritis para remaja ini kemudian disajikan di dalam forum besar dan kemudian dirangkum dalam kesepakatan bersama untuk pengakuan hak-hak orang muda dalam sebuah deklarasi. Deklarasi ini akan disampaikan dalam upacara pembukaan APCRSHR ke-6 yang rencananya akan dibuka secara resmi oleh HR. Agung Laksono, Menteri Koordinator Kesejahteraan Sosial.

 edL
03 Oct 2011 20:15 WIB : Berita Pendek

Saat Pelajar SMA Berdialog dengan Anggota DPRD DIY

Para pelajar SMA yang tergabung dalam Youth Forum DI Yogyakarta mengadakan dialog berbentuk audiensi dengan anggota DPRD DIY (21/9). Selain dengan para anggota DPRD, Youth Forum juga bertemu dengan beberapa anggota dinas terkait, seperti Dinas Kesehatan DIY, Dinas Sosial DIY, Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan (Dikpora), serta BPPM DIY. Oleh karena beberapa anggota dewan lain sedang tidak ada di tempat, maka Youth Forum ini hanya ditemui oleh empat anggota dewan yang berasal dari Komisi A dan Komisi D.
 
Acara dimulai dengan sambutan perwakilan dari anggota dewan, Tutik Wasria Widya, yang sangat menghargai kedatangan remaja sekolah di kantor DPRD DIY. “Terus terang, saya dan beberapa anggota dewan yang lain sangat apresiatif sekali dengan kedatangan kalian”, jelas anggota dewan dari Fraksi PAN ini. Setelah sambutan dari anggota dewan, selanjutnya perwakilan dari Youth Forum memperkenalkan diri, maksud, dan tujuan kedatangan mereka. Sebagai tujuan utama, setelah mengenalkan diri mereka mengucapkan empat petisi remaja yang telah disusun. “Kita membawa empat isu besar yang sekarang sedang kita perjuangkan, yaitu pelajaran tentang kesehatan reproduksi (kespro) masuk dalam materi pembelajaran yang berbasis muatan lokal di masing-masing sekolah, hak untuk tetap mendapatkan pendidikan bagi remaja sekolah yang mengalami KTD (kehamilan tidak diinginkan), layanan ramah remaja, dan pelibatan remaja sekolah dalam pengambilan keputusan yang menyangkut remaja”, jelas perwakilan dari Youth Forum.
 
Namun sayang di kesempatan audiensi siang itu perwakilan dari Dinas Kesehatan dan Dikpora absen. “Memang, audiensi ini seperti hambar ya, karena Dinkes dan Dikpora belum hadir”, ungkap Nanang Sri Rumadi, dari Komisi D. Lanjut Nanang, sebenarnya permasalahan kespro ini sudah sering dijadikan bahan diskusi di komisinya. Sedangkan perwakilan dari Dinas Sosial dan BPPM menyambut positif wadah remaja seperti Youth Forum ini. ”Seperti yang lain, saya pribadi juga apresiatif terhadap forum seperti ini, terutama empat petisi remaja yang kalian kemukakan tadi”, kata Eko Darmanto, perwakilan Dinas Sosial. Lebih lanjut kata Eko, “Semua yang kalian kemukakan tadi erat kaitannya dengan kekerasan. Tidak jauh berbeda dengan yang lain, perwakilan BPPM, juga apresiatif terutama karena ini menyangkut dengan perempuan dan kesehatan reproduksi, sesuai dengan program kerja BPPM.”
 
Di sela-sela diskusi, Youth Forum menunjukkan sikap mereka terhadap kasus pelecehan seksual di Bantul yang dilakukan oleh seorang guru olahraga SMA terhadap siswinya. “Kami berharap, kasus ini bisa membuahkan keputusan yang adil terhadap korbannya”, tegas Trianina A. Kudiasanti, perwakilan dari Youth Forum. Seperti diketahui, kasus ini sedang memasuki ranah hukum, dan sekarang sudah menggelar sidang yang ke-8.
 
Audiensi ini ditutup dengan pernyataan dari anggota DPRD yang semuanya sepakat memberikan apresiasi yang tinggi terhadap keberanian yang ditunjukkan oleh Youth Forum. “Kami berharap, diskusi semacam ini tidak hanya berlangsung sekali saja, karena di kesempatan ini, beberapa SKPD (Dinkes dan Dikpora red) tidak hadir”, pesan Arif Rahman Nur Hakim. Sedangkan Nanang juga berpesan,“Jangan segan-segan datang ke sini, karena ini rumah rakyat, tentu saja juga rumah kalian.”
 
Oleh : Dominus Tommy
 
edL
03 Oct 2011 00:27 WIB : Berita Panjang

Youth Camp: Mendorong Remaja Memperjuangkan Hak Mereka

Selama ini hak-hak remaja, khususnya remaja sekolah, masih diabaikan dan dilanggar. Melihat hal itu, PKBI DI Yogyakarta membuktikan komitmennya untuk tetap memperjuangkan hak-hak remaja dengan mengadakan pelatihan untuk remaja sekolah. Pelatihan yang dikemas dalam bentuk Youth Camp tersebut diikuti lebih dari 50 remaja sekolah yang berada di DI Yogyakarta. “Ya, pelatihan ini sebagai wujud tanggung jawab kita terhadap hak-hak remaja sekolah yang selama ini tidak diperhatikan oleh sekolahnya”, jelas Dian Ismarini, Kepala Divisi Pengorganisasian Remaja Sekolah tingkat SMA PKBI DIY. Selama tiga hari penuh para remaja sekolah ini “mengasingkan” diri dari dunia sekolah dan teman-temannya. Mereka berkumpul bersama teman-teman baru di Omah Jawi, Kaliurang pada tanggal 20-22 September 2011.

Dengan mengambil tema “Partisipasi Remaja dalam Pengambilan Kebijakan”, pelatihan bagi remaja sekolah ini bertujuan untuk menguatkan kemampuan dan peran Peer Educator atau Pendidik Sebaya. Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku remaja, dan kemampuan dalam perjuangan hak-hak remaja. Pendidik Sebaya sendiri adalah perwakilan remaja di tiap-tiap sekolah yang didampingi PKBI DIY. Mereka adalah agen penghubung antara pihak sekolah dengan PKBI DIY.

Pelatihan ini dibuka oleh Awang Trisnamurti, yang mewakili Pengurus Harian Daerah PKBI DIY. Dalam sambutannya, Awang menegaskan pentingnya memperjuangkan hak-hak remaja. “Jadi, yang memperjuangkan hak-hak kalian itu ya diri kalian sendiri, di sini kami hanya mendorong kalian saja”, ungkap Awang. Awang juga mencoba menyemangati peserta pelatihan karena ini merupakan sarana regenerasi Pendidik Sebaya. Mayoritas peserta pelatihan pun merupakan pelajar kelas X, dan mereka baru pertama kali mengikuti pelatihan seperti ini. “Memang ini lebih bersifat sebagai regenerasi Peer Educator, jadi di sini kami lebih menekankan pada pembekalan isu-isu remaja”, jelas Dian. Lanjut Dian, “Mereka kan pelajar kelas X SMA, jadi kami mengajak mereka berdiskusi hingga dapat merumuskan beberapa isu.

Materi pelatihan selama tiga hari ini lebih banyak diisi dengan berdiskusi, mengajak para remaja untuk mengenal lebih mendalam tentang isu-isu yang selama ini luput dari perhatian sekolah. Dengan dibantu oleh enam fasilitator dari PKBI DIY, peserta diajak mengenal materi seperti kesehatan reproduksi, seksualitas, jender, serta HIV dan AIDS. Salah satu sesi utama dari pelatihan ini adalah peserta diberi kesempatan beraudiensi dengan anggota DPRD DIY. Dari pantauan, peserta pelatihan pun terlihat sangat bersemangat mengikuti pelatihan ini. “Asik Mas bisa ikut, jadi kita bisa tahu ilmu yang selama ini tidak diajarkan di sekolah”, kesan Alvien Lerianza Bartindo, peserta dari SMA 1 Bantul. Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan oleh Dinda Novakhotimah, “Seru, banyak pengalaman baru yang bisa didapatkan di sini, juga temen-teman baru”, ungkap pelajar SMK 2 Yogyakarta ini.

Semangat yang cukup tinggi, potensi yang besar, dan keaktifan para peserta cukup membuat Trianina A. Kudiasanti, ketua Youth Forum DIY, bangga. Youth Forum merupakan gabungan dari Pendidik Sebaya di DIY. Remaja yang akrab disapa Nina ini mengatakan bahwa senang bisa berkenalan dan bergabung dengan teman-teman Youth Forum seluruh DIY. Saat ditanya mengenai harapan, Nina mengatakan bahwa semoga semua peserta bisa memahami isu-isu yang didiskusikan selama pelatihan dan semua hal yang berkaitan dengan Pendidik Sebaya. “Teman-teman semua juga bisa mencapai petisi remaja yang sudah disepakati bersama serta semua pengalaman selama tiga hari ini bisa bermanfaat”, harap pelajar dari SMA 5 Yogyakarta ini.

Harapan yang tidak jauh berbeda juga diungkapkan oleh Dian. “Seneng ya, semoga dengan pelatihan ini teman-teman bisa paham hak remaja yang selama ini tidak diperhatikan oleh pihak sekolah”, harap Dian. ”Tidak hanya paham, namun teman-teman semua juga bisa menerapkan dan melakukan rencana tindak lanjut yang sudah disepakati bersama di akhir pelatihan tadi,” lanjutnya.

 Oleh : Dominus Tomy

edL

 

           
14 Sep 2011 16:06 WIB : Editorial

Pemerintah dan Suara Kaum Muda

Hari Remaja Internasional yang jatuh pada setiap tanggal 12 Agustus telah diperingati sejak 1999. PBB menyebutkan bahwa hari peringatan ini ditujukan bagi semua orang muda, khususnya yang berusia antara 10-24 tahun.

Ide awal Hari Remaja Internasional datang dari Vienna dan Austria yang World Youth Form dan diwujudkan menjadi International Youth Day pada tahun 1991. Tujuh tahun kemudian Pemerintah Portugal mengadopsi kegiatan tersebut. Hasilnya, 17 Desember 1999 Pemerintah Portugal menetapkan pelibatan remaja dalam pembuatan kebijakan dan program. 

Pertanyaan untuk kita jawab bersama, di Indonesia kapan pemerintah mau mendengarkan suara remaja?

(disarikan dari http://www.altiusdirectory.com/Society/international-youth-day.html)
12 Aug 2011 06:35 WIB : Berita Pendek

DANCE 4 LIFE: Usaha Inovatif Libatkan Remaja Perangi HIV & AIDS

Perkembangan terakhir dari UNAIDS menyebutkan bahwa 45% anak-anak muda usia 15-24 tahun terinfeksi HIV baru di seluruh dunia. Hal tersebut menjadi keprihatinan dunia dan perlu segera ditindak-lanjuti. Usaha yang cukup inovatif untuk dilakukan dengan sasaran target remaja adalah Dance 4 Life. Berawal dari tiga negara: Belanda, Afrika Selatan, dan Indonesia, Dance 4 Life mulai menggaungkan gerakannya setiap tahun untuk menciptakan satu juta agen perubahan di dunia internasional yang akan menari serentak di tahun 2014.

Dance 4 Life adalah sebuah gerakan internasional yang melibatkan anak-anak muda untuk menggunakan suara mereka dalam rangka menekan laju pertumbuhan HIV dan AIDS. Suara remaja dalam gerakan yang enerjik tersebut juga ditujukan untuk meruntuhkan stigma maupun mitos terhadap HIV & AIDS. Dance 4 Life menyajikan cara yang berbeda untuk memberikan pengetahuan dan perlindungan pada anak-anak muda. Tarian dan musik yang diaplikasikan dalam gerakan ini merupakan bahasa universal dalam dunia remaja.

Di Indonesia sendiri, sejak gerakan Dance 4 Life hadir pada tahun 2004, inilah pertama kalinya PKBI DIY membentuk tim fasilitator Dance 4 Life Indonesia di Yogyakarta. Sebanyak 21 fasilitator yang mewakili cabang-cabang PKBI daerah diutus dalam pelatihan Heart Connection Tour. Acara tersebut diadakan di Hotel BIFA tanggal 16-20 Juni 2011.

“Ini adalah ilmu baru bagi PKBI Youth Friendly, kita berharap Dance 4 Life ini akan bisa menarik kaum muda untuk terlibat aktif dalam memerangi HIV AIDS”, kata Putri, koordinator Lentera Sahaja Youth Center PKBI DIY. Dia juga mengharapkan tim fasilitator Dance 4 Life Yogyakarta untuk selalu aktif mengajarkan drill (gerakan) pada setiap komunitas di sekitar mereka serta menyerukan pengetahuan yang benar mengenai HIV dan AIDS.

19 May 2011 19:44 WIB : Berita Pendek

PR Sleman Sebagai Kabupaten Layak Anak 2012

Upaya Kabupaten Sleman menuju Kabupaten Layak Anak 2012 harus melalui banyak pekerjaan rumah. Hal tersebut dipaparkan dalam diskusi publik “Optimalisasi Perlindungan Anak-Anak Jalanan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kabupaten Sleman dari Perlakuan Diskriminasi dan Eksploitasi” Jumat lalu (13/5).

17 May 2011 07:39 WIB : Berita Foto

Merawat Jaringan Bukan Soal Mudah

Melakukan hubungan seks di usia sangat dini, 10 tahun. Sebagiannya belum pernah mengetahui kondom dan cara menggunakannya. Sementara prevalensi IMS dan HIV dan AIDS cukup tinggi di Tanah Papua.
Hal itu terungkap dalam serangkaian diskusi terarah dengan remaja sekolah, mahasiswa, remaja adat dan remaja agama di kabupaten Keerom, kabupaten Biak, kabupaten Jayapura dan kota Jayapura. "Kenyataan ini sangat mengherankan, sementara program penanggulangan HIV dan AIDS besar-besaran digelontorkan ke Tanah Papua," kata Mukhotib MD di sela-sela proses diskusi di kabupaten Biak.

12 May 2011 22:31 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Hak Remaja Mendapat Lingkungan Sehat Belum Terpenuhi

M.E. Johnson, seorang peneliti dari Perusahaan Rokok Philip Morris, pernah mengatakan bahwa remaja adalah calon pelanggan tetap industri rokok karena mayoritas perokok mulai merokok saat remaja. Tragisnya, pernyataan tersebut memang sebuah kenyataan jika melihat perbandingan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2001 dan 2004.  Ditemukan bahwa prevelensi perokok remaja usia 13 tahun sampai 15 tahun mencapai 26.8% dari total populasi Indonesia. Tren anak-anak (usia 5-9 tahun) yang merokok juga mengalami pergeseran, yaitu pada tahun 2001 sebesar 0.4% naik menjadi 1.8% pada tahun 2004. Sejalan dengan itu, 43.9% dari 2.074 responden pelajar Indonesia usia 15-20 tahun mengaku pernah merokok menurut Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2004.

03 May 2011 12:34 WIB : Berita Pendek

Reduksi Bullying, Berikan Pendidikan Seksualitas di Sekolah

Pemberian materi kesehatan  reproduksi dan Seksualitas yang lengkap, benar dan diberikan dengan cara yang tepat sebagai hak atas informasi kepada remaja sekolah mampu mengurangi kasus kekerasan berbasis gender pada remaja sekolah. Hal ini terungkap dalam diskusi Youth Assosiation (Yotha) di aula lantai 2 PKBI DIY pada Sabtu (29/4). Acara yang bertajuk “Nonton Bareng dan Diskusi tentang Orientasi Seksual” ini dihadiri oleh 31 remaja  DIY.

Remaja yang tahu tentang orientasi seksual, diharapkan lebih mampu menghargai temannya yang berbeda. Demikian Agus Triyanto, ketua YOTHA, menyatakan. “Harapanya, remaja memahmi orientasi seksual , bisa menghargai perbedaan, ke depan stigma dan diskriminasi dah gak ada,” ujarnya. 

Dia menambahkan bahwa YOTHA, sebagai salah satu organisasi remaja ragam identitas,  akan selalu berusaha mentransformasikan pengetahuan seputar seksualitas, gender dan kesehatan reproduksi kepada remaja yang lain. Diskusi seperti ini akan dilaksanakan minimal 2 bulan sekali.

Ketidaktahuan remaja tentang seksualitas, menyebabkan kekerasan berbasis gender dan seksual sering terjadi pada remaja. Bahkan, kekerasan sering juga terjadi di sekolah. Bibi, salah seorang anggota YOTHA yang hari itu berperan sebagai narasumber menyatakan bahwa kekerasan terhadap remaja yang memilih orientasi seksual yang berbeda rentan mendapatkan perlakuan diskriminasi di sekolah. Tidak hanya dari murid lain, juga dari guru. “Kekerasan terhadap LGBT paling rentan terjadi di sekolah. Saya sering mendapatkan kekerasan verbal dan ejekan,” akunya.

Bibi menengarai tidak adanya informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan tentang seksualitas sebagai sumber kekerasan berbasis orientasi seksual. Hal itu diperkuat dengan heteronormativitas yang ada di masyarakat. Oleh karenanya, Bibi menegaskan bahwa pemenuhan hak remaja atas informasi tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi merupakan satu upaya yang efektif untuk mereduksi diskriminasi pada remaja kelompok tertentu. “Siswa juga harus tahu sejak dini tentang Orientasi seksual sehingga mereka tidak melakukan kekerasan,” tegas Bibi.

Harapan yang sama dilontarkan Heru Nugroho, siswa SMK Negeri 3 Yogyakarta, yang juga menjadi peserta diskusi tersebut. Dia mengharapkan diskusi seputar seksualitas bisa dilaksanakan secara rutin, terutama disekolah-sekolah. “Forum-forum diskusi harus diteruskan di sekolah-sekolah sehingga murid yang lain bisa tahu informasi yang benar,” ujarnya.

Mengetahui perihal seksualitas adalah hak remaja. Seseorang yang tertarik secara seksual dan secara emosional kepada orang lain dimulai sejak masa pubertas yang menandai dimulainya masa remaja. Demikian ditegaskan oleh Rudi, salah seorang anggota Yotha. Dia menegaskan, “remaja harus bisa bebas memilih orientasi seksualnya.” Untuk kesana, tambah Rudi, pewacanaan tentang orientasi seksual sebagai sebuah pilihan, harus dianggap bukan sebagai sesuatu yang menyimpang dan  harus terus dilakukan kepada remaja.[Gama Triono]
24 Jan 2011 15:20 WIB : Berita Panjang

Merokok dan Resiko Kesehatan Reproduksi pada Remaja

Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

03 May 2017 04:38 WIB : Wawancara Eksklusif

MEROKOK DAN RESIKO KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

10 Sep 2012 11:45 WIB : Hasil Riset dan Investigasi

HASIL RISET TENTANG PENGETAHUAN DAN PERILAKU KESPRO DAN SEKSUAL REMAJA PADA 3 WILAYAH DI KALIMANTAN TENGAH

Dokumen ini merupakan hasil riset yang dilakukan oleh Youth Center PKBI Kalimantan Tengah untuk melihat tingkat pengetahuan dan perilaku Kespro dan Seksual remaja pada 3 wilayah di Kalimantan Tengah, yaitu Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Katingan dan Kota Palangka Raya.
03 May 2017 04:38 WIB : Wawancara Eksklusif

Orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih

Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

Apa itu GANAS?
GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun 2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

Tujuan utama GANAS itu sendiri?
Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu.

Apa saja kegiatan GANAS selama ini?
Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI, KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat informasi, seperti diskusi dengan remaja yang mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah. Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?
Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS tidak masuk ke sekolah?
Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik, agar informasi yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

Pandangan anda sendiri terhadap orang yang terinfeksi HIV&AIDS?
HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan. Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

Bagaimana harapan anda kedepan?
Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?
Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab.
03 May 2017 04:38 WIB : Wawancara Eksklusif

Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

03 Dec 2010 02:17 WIB : Berita Pendek

Pemkot Palangka Raya Canangkan Gerakan Stop AIDS di Sekolah

Momentum peringatan Hari AIDS Sedunia dimanfaatkan pemerintah kota Palangka Raya untuk mencanangkan gerakan 'Stop AIDS' di sekolah-sekolah. Pencanangan ini dipusatkan di SMAN 2 Palangka Raya oleh Sekretaris Daerah, Sanijan S. Toembak, Rabu (1/12).

Sanijan mengatakan dengan adanya pencanangan gerakan Stop AIDS, maka kalangan pelajar dapat mengetahui informasi mengenai HIV dan AIDS serta mampu menghindari perilaku yang berisiko menularkan HIV.

"Para guru kita harapkan dapat menyampaikan bahaya HIV dan AIDS kepada peserta didik dan terus mensosialisasikan agar mereka dapat terhindar dari HIV dan AIDS," ujar Sanijan.

Menurut Sanijan momen Hari AIDS Sedunia dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran semua pihak akan HIV dan AIDS. Selain itu momentum ini dijadikan wadah untuk menunjukkan tingginya komitmen kepedulian pada orang-orang yang terinfeksi HIV, dan sebagai upaya penurunan jumlah penularannya terutama di kalangan generasi muda.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Palangka Raya, Badah Sari, mengatakan pihaknya turut mensosialisasikan isu HIV dan AIDS di kalangan peserta didik melalui berbagai kesempatan dan mengarahkan mereka untuk lebih banyak mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler, sehingga mereka lebih fokus pada kegiatan yang positif termasuk upaya meningkatkan keimanan siswa melalui pelajaran agama.

"Secara khusus ada guru bimbingan konseling yang memberikan pemahaman bagi siswa-siswi. Selain HIV dan AIDS kami juga memberikan pengetahuan Kespro melalui PIK Remaja sekolah," tutur Badah.

Penuturan Kepala SMAN 2 Palangka Raya turut didukung oleh anak didiknya, seperti diutarakan M. Fadel. Siswa kelas XII IPS ini mengatakan bahwa mereka relatif sudah memahami cara penularan HIV.

"Kami sering mendapat pengetahuan dari PIK Remaja mengenai HIV dan AIDS," tutur Fadel. Ia juga menghimbau kepada semua remaja di Palangkara Raya untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.
26 Nov 2010 13:19 WIB : Berita Pendek

Remaja Banyak Mengakses Informasi Kesehatan Reproduksi dari Internet

Rangkaian kegiatan untuk memperingati hari AIDS sedunia terus dilakukan oleh PKBI Daerah Kalimantan Tengah, setelah beberapa hari lalu mengadakan penyuluhan tentang HIV dan AIDS kepada remaja SMP dan SMA, kali ini PKBI Daerah Kalteng bersama BKKBN Provinsi Kalteng melaksanakan Workshop untuk guru Bimbingan Konseling SMP dan SMA se-kota Palangka Raya (23/11). Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman mengenai anak didik terutama perilaku seksual mereka dan sekaligus sosialisasi PIK Remaja kepada sekolah-sekolah yang belum mempunyai PIK Remaja.
 
Hal ini diungkapkan oleh Ketua Panitia, Jailani, menurutnya para guru juga harus diberi pengetahuan mengenai perilaku anak didik. "Banyak hal bisa terjadi di lingkungan sekolah, dan sebagai guru jangan hanya menyampaikan materi saja namun dituntut untuk bisa mendidik anak," ujarnya saat membuka acara.
 
Kegiatan yang mengambil tempat di Aula KNPI Palangka Raya ini mengundang 3 orang sebagai narasumber, yaitu Dirpelda PKBI Kalteng Mirhan, serta Drs. Berdie dan dr. Damar dari BKKBN. Materi yang disajikan yaitu hasil penelitian tentang perilaku seksual remaja di 3 kabupaten dan kota, bahaya HIV dan AIDS dan Pelaksanaan Pusat konseling remaja.
 
Dari hasil survey diketahui pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi masih rendah dan perilaku seksual mulai beresiko. Menurut Mirhan, kebanyakan remaja mengakses informasi kesehatan reproduksi (kespro) dan seksual dari sumber-sumber yang kurang bisa dipertanggungjawabkan, seperti internet (52%) dan majalah (42%).
 
"Perilaku seks remaja mulai memprihatinkan, sekaligus menjadi perhatian kita bersama untuk menanggulanginya. Indikasi ini dapat dilihat dimana 40,6% mengaku pernah saling meraba tubuh sensitif dan alat kelamin bersama pasangannya. Dua puluh empat persen pernah melakukan petting, 15,4% melakukan oral seks, dan 25,2% sudah perah melakukan hubungan seks diluar nikah," ungkap Mirhan. Dia menambahkan bahwa informasi yang tidak bertanggung jawab seperti internet dan majalah dapat ditutupi dengan memasukkan pendidikan kespro ke dalam materi yang disampaikan guru.
19 Nov 2010 14:06 WIB : Berita Foto

Sampai September 2010, Ada 71 Penderita Positif

Peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh setiap 1 Desember sudah mulai terasa geliatnya di Kalimantan Tengah. PKBI Daerah Kalimantan Tengah bekerja sama dengan BKKBN Provinsi mengadakan penyuluhan HIV & AIDS kepada remaja sekolah SMP dan SMA di Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya (16/11). Selain itu, turut dilaksanakan sosialisasi PIK Remaja karena di daerah tersebut masih belum terdapat pusat informasi untuk remaja.
 
Menurut Ketua Panitia kegiatan, Jailani, penyuluhan ini dilaksanakan agar informasi-informasi tentang remaja dan AIDS dapat tersampaikan ke berbagai daerah. "Selama ini kita hanya berkutat memberikan informasi di kota-kota saja, dan belum menjamah daerah pelosok seperti Bukit Batu."
 
Jailani juga mengatakan angka pernikahan usia muda di kecamatan Bukit Batu sangat tinggi. PIK Remaja menjadi hal yang penting untuk disosialisasikan. Hal ini dibenarkan oleh Megi, salah seorang peserta yang mengaku memiliki beberapa teman yang menikah setelah lulus SD dan SMP. "Iya, ada teman saya yang kemarin baru menikah dan di sini itu sudah biasa terjadi," ungkapnya.
 
Untuk kasus HIV & AIDS sendiri, data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah hingga September 2010 adalah sebnyak 71 orang positif HIV. Empat orang berstatus PNS dan terbanyak adalah dari kalangan swasta.
 
"Pengetahuan tentang HIV & AIDS kita berikan kepada mereka agar tidak terjadi kesalahpahaman di kalangan remaja, apalagi di daerah pinggiran yang sulit mendapat informasi seperti ini," kata dr. Fitriyanto, staf BKKBN yang menjadi narasumber dalam penyuluhan tersebut. Ia juga menambahkan bahwa data tersebut hanya data yang ada di permukaan.
 
Kegiatan ini pun mendapat apresiasi dari Camat Bukit Batu yang memang sedang menunggu adanya penyuluhan seperti ini di daerahnya. "Beberapa waktu lalu saya minta laporan dengan Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan dan memang hasilnya sangat miris, masa umur 14 tahun sudah menikah. Masalah HIV & AIDS pun tidak bisa dibiarkan begitu saja, sudah sepantasnya anak-anak remaja mendapatkan informasi yang benar akan hal ini," katanya di akhir kegiatan.
13 Nov 2010 14:00 WIB : Berita Pendek

Pengungsi Remaja Juga Perlu Diperhatikan

Letusan Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 membuat ribuan warga yang tinggal di daerah sekitar Merapi harus mengungsi. Salah satu titik utama pengungsian berada di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Hingga 11 November 2010, tercatat lebih dari 9.000 pengungsi di stadion tersebut.

08 Oct 2010 15:44 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Pernyataan Sikap PKBI DIY atas Wacana Tes Keperawanan

PERNYATAAN SIKAP

08 Oct 2010 12:11 WIB : Berita Pendek

Wacana Tes Keperawanan Harus Dikaji

Beberapa hari belakangan ini di beberapa jejaring sosial bahkan stasiun televisi, marak dibicarakan soal tes keperawanan bagi siswi sekolah. Menurut Ketua Umum Pengurus Muhammadiyah Kota Palangka Raya Sahdin Hasan, hak semua anak adalah mengenyam pendidikan bahkan diatur dalam UUD. Ia berpendapat hendaknya wacana tersebut  tersebut dipikirkan kembali karena dampak yang bisa muncul nanti.

06 Oct 2010 12:55 WIB : Wawancara Eksklusif

YOTHA Menolak Gagasan Tes Keperawanan

Pertengahan September 2010, Bambang Bayu Suseno, anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi, mengeluarkan wacana tentang tes kegadisan atau tes keperjakaan bagi calon siswa SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Menurutnya, hal tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan hubungan seks pada remaja sekolah dengan metode wawancara atau konseling dengan identitas yang dirahasiakan dan tidak ada tes pemeriksaan alat kelamin secara langsung. Lalu pertanyaannya, bagaimana remaja memandang wacana tersebut? Berikut wawancara Andrian Liem dari Biro Swaranusa D.I. Yogyakarta dengan Natalia Desy Trijayanti atau yang akrab disapa Alya, duta remaja (Youth Representative) dari Youth Association (YOTHA) Yogyakarta.

05 Oct 2010 10:52 WIB : Berita Pendek

Launching YOTHA di Hari Remaja Internasional

Dua belas Agustus 2010 merupakan peringatan Hari Remaja International yang ditetapkan oleh PBB. Bertepatan dengan hari tersebut, Youth Association (YOTHA) memperkenalkan dirinya kepada publik dengan melakukan launching, pemotongan tumpeng, dan panggung ekspresi. Kegiatan yang diadakan di Old Friends Cafe ini juga diisi dengan buka puasa bareng dan penampilan seni dari para remaja.

31 Aug 2010 07:30 WIB : Berita Foto

Youth Day, PKBI Kalteng Gelar Debat Remaja

Memperingati hari remaja internasional (International Youth Day), PKBI Kalimantan Tengah menyelenggarakan debat remaja antar sekolah. Isu virginitas dan pornografi diangkat sebagai topik utama dalam debat remaja yang dilaksanakan Sabtu (7/8). Staff PKBI Kalteng, Jailani, mengatakan, "Virginitas dan pornografi diangkat untuk melihat daya nalar para remaja dalam menanggapi isu tersebut, dan bagimana menjaga sikap mereka."
Sebelumnya, isu virginitas dan pornografi menjadi topik yang ramai diperbincangkan para remaja dalam pelatihan Pusat Informasi dan Konseling-Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) PKBI Kalteng beberapa bulan lalu. "Ketika para remaja berhadapan dengan yang namanya virginitas, angan-angan mereka lalu menunjuk kepada seks bebas dan perilaku pacaran. Begitu juga dengan pornografi, yang saat ini selalu menghantui remaja karena sifat ingin tahu mereka," tambah Jailani.

02 Aug 2010 13:35 WIB : Berita Pendek

Menjadi Remaja Bertanggung Jawab, Jambore Kesehatan Reproduksi Remaja 2010

Banyaknya institusi pendidikan di tingkat dasar sampai perguruan tinggi di Kabupaten Sleman membuat sejumlah pihak merasa khawatir akan dampak yang mungkin muncul dari pergaulan seperti hubungan seks yang tidak aman. "Menyadari keadaaan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mengadakan Jambore Kesehatan Reproduksi Remaja,” ungkap Iir, salah seorang fasilitator Jambore Kesehatan Reproduksi Remaja, 28-29 Juli 2010.

20 Jul 2010 10:43 WIB : Berita Pendek

Anak Jateng Dilatih Kepemimpinan

Sebanyak 58 remaja mewakili anak-anak se-Jawa Tengah ikut serta dalam kongres di Balai Latihan Kejuruan Industri (BLKI) Semarang, baru-baru ini.

Anak-anak yang berumur maksimal 18 tahun tersebut tergabung dalam Forum Anak Jawa Tengah (FAN), mengikuti pelatihan kepemimpinan, berdemokrasi dan hal-hal yang berkaitan dengan hidup sehat, mental, kepribadian dan peduli lingkungan. Adapun fasilitastor kegiatan terdiri dari LPA Jateng, Perisai, Lppa dan Yayasan Setara.

FAN Jateng merupakan forum yang dikelola oleh anak-anak untuk menyalurkan aspirasi anak, tempat berpartisipasi dan berkomunikasi anak.

Dalam kongres tersebut juga dilakukan pemilihan pengurus baru sekaligus persiapan menyambut peringatan Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2010 yang dipusatkan di Kebumen, bersamaan dengan Hari Keluarga (Harganas) dan Hari Gotong Royong. Hal itu dikatakan Dra Maria dari Badan Koordinator Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Keluarga Berencana (BKP3AKB )

Kabid Kesejahteraan Perlindungan Anak dari BKP3AKB, Heri Indrayanto SH  berpesan agar anak-anak pandai membawa diri dan tak henti berjuang untuk kebaikan.

"Pembangunan di Jateng terletak di pundak kalian," ujarnya usai menyerahkan sertifikat pada para pengurus terpilih.
20 Jul 2010 10:45 WIB : Berita Pendek

MOS Positif bagi Siswa Baru MTs Miftahussaadah

SEMARANG- Madrasah Tsanawiyah (MTs) Miftahussaadah Wonolopo Mijen membekali para siswa baru dengan materi bahaya penyalahgunaan napza dan hubungan seks yang tidak sehat, serta pengenalan perkembangan fisik dan psikis di aula sekolah, Jumat (16/7). Fasilitator dari Yayasan Harapan Permata Hati Kita (Yakita), Moh Saman tampak interaktif menyampaikan dengan sesekali diselingi permainan dan pemutaran film animasi tentang penyalahgunaan napza.

02 Jun 2010 13:51 WIB : Berita Foto

Meningkat, Kasus KTD Remaja di Semarang

“Alur dan konsep cerita kaya akan ide dan proses pembelajaran bagi remaja. Acara ini mestinya sering diselenggarakan untuk meminimalisasi dampak buruk dari pergaulaan bebas yang kini makin marak,” kata Ian (21) mahasiswa IAIN Walisongo Semarang.

21 May 2010 11:09 WIB : Berita Foto

Lies Marcoes-Natsir, MA: Mitos Seksualitas di Kalangan Santri

"Tiga hal penting berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi, didengarkan suaranya, mendapatkan informasi dan mendapatkan layanan," kata Lies Marcoes-Nastsir, saat memfasilitasi Workshop Penyusunan Modul Pelatihan Kesehatan Reproduksi bagi Santri, yang diselenggarakan Fahmina Institut di Cirebon, pada tanggal 18-19 Mei 2010.

17 May 2010 12:29 WIB : Berita Pendek

Setiap Jam 2 Pecandu Meninggal Dunia

Stigma dan diskriminasi terhadap korban penyalahgunaan narkoba di tanah air masih terus terjadi. Mereka dipandang sebagai pelaku kriminal, padahal mereka korban yang harus mendapatkan pertolongan. Sudah saatnya stigma dan diskriminasi itu dihilangkan.

05 May 2010 06:01 WIB : Berita Pendek

Meluaskan Akses bagi Remaja, Diadakan Pemilihan Duta Mahasiswa

Akses informasi kesehatan reproduksi remaja harus menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Riau. Hal ini disampaikan Retno Mayangsari, Direktur Pelaksana Daerah (Dirpelda) PKBI Riau yang juga menjadi Dewan Juri dalam kegiatan ini, saat mengomentari Pemilihan Duta Mahasiswa untuk Pemberian Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja, di Kantor BKKBN Provinsi Riau, pekan silam.

13 Apr 2010 12:13 WIB : Berita Pendek

Anak Jalanan Bukan Pihak yang Harus Disingkirkan

“Buku sangat penting untuk menambah pengetahuan setiap anak, tak terkecuali anak jalanan. Sudah saatnya kita bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap anak jalanan, terutama lewat penyediaan buku bagi mereka,” kata Sita, Public Relation Eksternal HMJ Ilmu Komunikasi FISIP Undip, Kamis (8/4).

29 Mar 2010 00:18 WIB : Berita Panjang

Kesehatan Reproduksi Remaja : Pemerintah Jangan Hanya Berwacana

Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat belakangan ini, memberikan banyak kontribusi dan pengaruh terhadap perkembangan pola pikir remaja, entah positif maupun negatif. Salah satunya, berpengaruh terhadap kehidupan seks mereka. Yang paling kentara saat ini adalah banyaknya remaja yang diketahui sudah melakukan hubungan seks pranikah. Bahkan, setiap tahunnya hal ini menunjukkan adanya tren peningkatan.

25 Mar 2010 11:40 WIB : Berita Panjang

Kampanye Cuci Tangan Yang Benar Warnai Hari Air Sedunia

Air sangatlah penting bagi kehidupan masyarakat luas. Sanitasi air yang buruk mengakibatkan 5.000 balita di dunia meninggal, sedangkan tercatat 500 balita di Indonesia. Terkait dengan kesehatan reproduksi, air juga merupakah hal yang vital. Gangguan kesehatan reproduksi yang bisa berdampak pada kematian ibu dan anak dapat pula terjadi karena infeksi dan kontaminasi bakteri yang muncul dari sanitasi lingkungan yang buruk.

BORDA Indonesia bersama LPTP Yogyakarta dan Female Radio FM, memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh setiap 22 Maret melalui acara bertajuk Grebeg Air (21/03). Kampanye ini diselenggarakan untuk mendesak pemerintah agar memperhatikan persoalan sanitasi bagi 2,5 juta orang yang belum mendapatkan akses sanitasi yang layak.  Dian Purnomo, selaku Koordinator Acara, mengatakan sehubungan dengan Konferensi Tingkat Tinggi Air dan Sanitasi I bulan April mendatang di Washington DC, setiap orang harus ikut berpartisipasi untuk meminta pemerintah memprioritaskan persoalan air yang merupakan hajat hidup orang banyak. “Tidak ada seorangpun yang bisa hidup tanpa air kan," ujarnya.

Gerakan cuci tangan yang benar merupakan salah satu acara yang dikampanyekan dalam Grebeg Air di dusun Jethak II, Sidokarto, Sleman. Pola hidup sehat seperti kebiasaan mencuci tangan dengan benar penting dikampanyekan pada masyarakat sejak usia dini. Ia juga membenarkan cuci tangan merupakan salah satu pola hidup sehat yang disarankan pada orang yang terinfeksi HIV dan AIDS. Kebiasaan ini pastinya perlu didukung pada penyediaan air bersih yang tersedia dari lingkungan yang baik dan bersih pula. "Penataan Mandi Cuci Kakus (MCK) seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk terciptanya sanitasi lingkungan yang sehat", tutur Dian yang juga aktivis HIV dan AIDS ini.

MCK Plus yang dibangun BORDA Indonesia, menjadi salah satu proyek percontohan bagi pengelolaan lingkungan yang baik. Bio Pori yang diperkenalkan pada masyarakat juga merupakan percontohan bagi pembangunan pemukiman dan jalan dengan respan air yang baik. "Hal ini bisa dicontoh masyarakat lainnya di luar dusun Jethak II," ujar Koordinator LPTP dalam sambutannya.

Lima ratus enam puluh lima orang antrian MCK Plus merupakan cara mengkampanyekan pentingnya sanitasi lingkungan yang sehat. Selain penataan air dan MCK, kebersihan lingkungan juga menjadi isu utama yang diangkat dalam acara ini. Ketertiban membuang sampah serta penyediaan tempat sampah hingga proses pengolahan sampah juga dipamerkan di acara ini.

Ir.Pornomo, Wakil Bupati Kabupaten Sleman, menyambut baik acara Grebeg Air ini dan berpesan pada seluruh masyarakat, untuk mulai menghemat air bersih. Jangan sampai terjadi penghambur-hamburan air untuk kepentingan yang tidak penting. Ia mengingatkan masih banyak daerah yang kekurangan air bersih. "Penting bagi masyarakat untuk menolong sesama yang membutuhkan air bersih ini, selain itu menjaga lingkungan yang sehat dan bersih dengan merawat saluran air dan tidak membuang sampah sembarangan," ujar Purnomo.
18 Mar 2010 20:34 WIB : Berita Foto

Konseling Bukan Pemberian Informasi

Pamuji, bukan nama sebenarnya (60) merasa bingung dengan statusnya, saat mendapat diagnosa HIV positif dari Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Yogyakarta. Sekalipun ia telah mendapat rujukan dan mengakses layanan CST di RSUP. DR Sardjito. "Informasi yang diberikan belum Jelas," ujarnya di Griya lentera PKBI, kemarin.

18 Mar 2010 19:41 WIB : Berita Panjang

Stigma Terhadap Anak Jalanan Harus Diubah

Stigma kepada anak jalanan, membuat sakit hati. Hendak protes, posisinya di lingkup sosial tidak memungkinkannya. Rian (14), anak yang sejak usia 6 tahun sudah hidup di jalan, mengatakan itu, seusai tampil bersama kelompok musik anak jalanan “Serambi” dalam Gelar Budaya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Provinsi Jawa Tengah di Gedung Islamic Center Manyaran, Semarang, akhir pekan silam.

06 Mar 2010 22:58 WIB : Wawancara Eksklusif

Berencana Menambah Asrama Perempuan

Para mantan pengguna narkoba masih sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Akibatnya mereka kesulitan bermasyarakat. Padahal mereka yang telah keluar dari jeratan narkoba memiliki segudang pengalaman yang dapat dibagi dengan sesama. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa dengan Ronald Ambrosius, Kepala Panti Rehabilitasi Narkoba "Galilea Miracle Center" Kalimantan Tengah tentang rehabilitasi narkoba.

01 Mar 2010 11:00 WIB : Berita Panjang

Pemerintah NTB Dukung Pendidikan Kespro Masuk Kurikulum

Komitmen Pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadikan Pendidikan Kesehatan Reproduksi menjadi kurikulum pantas diacungi jempol. Bekerja sama dengan LSM dan Dinas terkait, Pendidikan Kesehatan Reproduksi akan menjadi kurikulum sekolah negeri dan sekolah di Kota dan Kabupaten seluruh Provinsi NTB.

Dalam catatan Pemda NTB, beberapa lembaga yang telah menerbitkan buku mengenai pendidikan Kespro, misalnya, Departemen Kesehatan, BKKBN, UNFPA, dan PKBI. PKBI Daerah NTB sendiri telah bekerjasama dengan UNFPA menerapkan Pendidikan Kespro melalui kurikulum Muatan Lokal.

“Kami akan mencoba memasukkan Pendidikan Kespro melalui Pendidikan Umum. Sebagai percontohan kami akan mencoba di empat kabupaten yang ada di NTB,”  kata Drs. H. Muchtar, Staff Pemda NTB yang juga menjabat Kepala Sekretariat KPA Propinsi NTB.

22 Feb 2010 21:07 WIB : Berita Foto

Rumpi Remaja Sehat V di Bangli: Ketika Remaja Membicarakan Cinta

“Valentine bisa dimaknai seperti dua sisi mata uang, bisa berakibat baik maupun buruk. Jika tidak dapat memfilter diri, akan menjerumuskan ke arah yang salah," kata I Nengah Gianyar, Wakil Bupati Bangli, pekan silam, di Aula P3 Bangli.

15 Feb 2010 11:09 WIB : Berita Foto

Kasus Babe: Kegagalan Negara Melindungi Anak-anak

Kekerasan terhadap anak jalanan semakin meningkat beberapa tahun belakangan ini. Kasus mutilasi yang dilakukan Babe, di Jakarta awal tahun ini, menunjukkan anak-anak  rentan menjadi korban kekerasan. Anak jalanan lebih rentan lagi, karena tidak ada sistem perlindungan bagi mereka.

Pernyataan tersebut disampaikan Agus Triyanto, yang dipanggil Trimbil dari Minority, Organisasi Komunitas Jalanan Yogyakarta, dalam aksi di Tugu Yogyakarta, kemarin.

Aksi yang didukung SUKMA, Pondok Pesantren Waria Al Fatah, Organisasi Jamal Sehat dan PKBI DIY, Minority melakukan aksi teatrikal, membagi bunga kertas, leaflet, flyer dan poster yang ditempel di partisi.  

Agus menyatakan, aksi ini dipicu maraknya kasus kekerasan terhadap anak jalanan di Indonesia. Kasus Babe di Jakarta, membuat prihatin masyarakat, terutama Minority. Melalui momentum Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang, pada 14 Februari, Minority ingin mengajak segenap masyarakat khususnya pemerintah untuk melindungi hak-hak anak jalanan. ”Kasus Babe dan kekerasan terhadap anak jalanan di Yogyakarta, membuat Minority prihatin. Kekerasn terhadap anak jalanan harus segara dihentikan,” katanya.  

Saat disinggung mengenai program pemerintah tentang perlindungan terhadap anak jalanan, Agus menyatakan, solusi yang ditawarkan pemerintah sangat tidak tepat. Razia pada anak jalanan agar anak jalanan kembali ke rumah merupakan program yang mengabaikan hak-hak anak jalanan. ”Memberikan perlindungan kepada anak jalanan tidak bisa dilakukan dengan razia dan memaksa mereka untuk pulang ke rumah,” katanya.

Minority menegaskan, mereka menolak Raperda Gepeng yang diwacanakan pemerintah. Karena Raperda itu dinilai tidak mampu menyelesaikan permasalahan anak jalanan. ”Raperda Gepeng harus ditolak. Raperda bukan solusi,” katanya.

09 Feb 2010 18:42 WIB : Berita Pendek

Drs. Rizal Malik, MA: PKBI Harus Layani Warga yang Diabaikan

Ketika negara tak mampu memberikan layanan publik, tidak ada pilihan lain, kecuali menyerahkan pada pasar. Tetapi, pasar seringkali memiliki prinsip-prinsipnya sendiri. Warga benar-benar terbaikan dalam mendapatkan layanan publik, salah satunya, hak kesehatan reproduksi dan seksualnya.

05 Feb 2010 17:32 WIB : Berita Pendek

Remaja Haus Informasi HIV dan AIDS

Sanggar Konsultasi Remaja (SKR) yang dikelola STAR (Youth Center PKBI Riau) mendapatkan respons positif dari sekolah-sekolah di Riau. Buktinya, akhir tahun lalu baru dua sekolah yang mengembangkan, awal tahun 2010 sudah 10 sekolah yang mengembangkan SKR.

05 Feb 2010 17:23 WIB : Berita Panjang

Pendidikan Kesehatan Reproduksi, Isu Remaja yang Mendunia

Remaja saat ini menghadapi berbagai masalah kesehatan reproduksi dan seksual. Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD), aborsi tidak aman, penularan IMS dan HIV, kurangnya akses terhadap kontrasepsi menjadi fakta masalah yang dihadapi remaja.

30 Jan 2010 11:15 WIB : Berita Pendek

Penting, Pengetahuan Seks Sejak Dini

Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini memacu timbulnya pemahaman keliru perihal seks bagi kalangan pelajar. Akibatnya, perilaku seks yang tidak bertanggung jawab dan menyebutnya sebagai hal biasa yang lumrah dilakukan.

08 Jan 2010 21:06 WIB : Berita Pendek

Siaran Televisi Harus Ramah Anak dan Perempuan

Acara televisi seharusnya mendidik, tidak semata mengedepankan hiburan. Program acara semacam ”Bukan Empat Mata” atau ”Termehek-mehek” tidak pantas muncul di televisi. Selain mengeksploitasi tubuh perempuan, menampilkan kekerasan yang bisa ditiru anak-anak. Program acara itu sepatutnya dintinjau ulang.

Demikian yang berkembang dalam acara sosialisasi ”Penyiaran Ramah Anak dan Perempuan”. Kegiatan diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah dan Dharma Wanita Persatuan Jawa Tengah di Gedung Dharma Wanita Persatuan Jawa Tengah, Jalan Menteri Supeno Semarang, Rabu (6/1).

07 Jan 2010 13:24 WIB : Berita Panjang

Memperkuat Jaringan Untuk Akses Layanan Kesehatan

Bekerjasama dengan UNFPA, PKBI Nusa Tenggara Barat mengembangkan mekanisme rujukan pemberian layanan Infeksi Menular Seksual (IMS), VCT, bagi mitra strategis PKBI NTB dalam program Pencegahan HIV dan AIDS di NTB.

06 Jan 2010 10:06 WIB : Berita Panjang

Kasus Salah Obat, Kembali Terjadi di Yogyakarta

“Saya akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan mengundang pihak Rumah Sakit dan jajarannya membahas hal ini," kata Drs. Riswanto, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi DIY.  Hal itu disampaikannya berkaitan dengan kasus salah obat di Yogyakarta.

02 Dec 2009 00:30 WIB : Berita Panjang

Tanpa Perspektif Gender dan HAM, Penanggulangan HIV dan AIDS Sia-sia

Puluhan orang dari beberapa organisasi berbasis komunitas (CBO) dan Civil Society Organization (CSO), yang tergabung dalam Solidaritas Peduli AIDS Yogyakarta (SPAY), melakukan aksi damai dengan turun ke jalan memperingati hari AIDS se Dunia, hari ini, di Yogyakarta.

02 Dec 2009 00:26 WIB : Publik

Pernyataan Sikap SPAY di Hari AIDS se Dunia

SPAY (Solidaritas Peduli AIDS Yogyakarta), menuntut pemerintah memberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual melalui kurikulum muatan lokal. Beberapa tuntutan lain juga disampaikan dalam release mereka untuk memperingtati Hari AIDS se Dunia, hari ini (1/12).
01 Dec 2009 14:13 WIB : Berita Foto

SPAY: Menuntut Segera Akui Pekerja Seks Sebagai Profesi

Tingginya kasus infeksi HIV di Yogyakarta,  sampai September 2009 terdata sebanyak 839 kasus, merupakan dampak dari Stigma HIV dan AUDS sebagai persoalan amoral”. Lalu melahirkan perlakuan diskriminatif.

29 Oct 2009 22:53 WIB : Berita Pendek

Sembilan Tuntutan Remaja Yogyakarta

Forum Komunitas Untuk Keberagaman (FKUB), aliansi SUKMA (Suara Komunitas Untuk Keberagaman) dan Youth Forum DIY melakukan aksi Hari Sumpah Pemuda, kemarin (28/10). Mengusung tema, '81 Tahun Terpasungnya Hak-Hak Remaja', mereka menutup mulut dengan kain hitam.

29 Oct 2009 22:50 WIB : Berita Panjang

Terputus Informasi, Kasus HIV dan AIDS Remaja Meningkat

Terputusnya informasi yang benar kepada remaja menjadi penyebab meningkatnya kasus HIV dan AIDS remaja. Untuk Indonesia mencapai 60% dari 17.699 kasus. Denty Piawai Nastitie, Youth Advisory Panel UNFPA menyampaikan kepada Swara Nusa, kemarin (28/10).

09 Oct 2009 11:54 WIB : Publik

Pernyataan Sikap Pembakaran Pakaian Remaja Jalanan

Kaukus untuk Anak Jalanan, Gepeng dan Pengemis Yogyakarta, menyampaikan protes terhadap peristiwa pembakaran pakaian milik anak jalanan di Jombor Sleman Yogyakarta. Tindakan yang dilakukan Satpol PP Kabupaten Sleman, sudah diadukan ke LBH Yogyakarta.
02 Oct 2009 22:50 WIB : Editorial

Mengingatkan Kembali yang Sering Diabaikan

Data terakhir yang dirilis Badan Kemanusiaan PBB, korban meninggal dunia akibat tragedi gempa di Sumatra Barat mencapai angka sedikitnya 1.100 orang. Angka masih dimungkinkan bertambah, karena banyaknya korban yang belum bisa dievakuasi, termasuk beberapa orang yang masih hidup, tetapi terjebak dalam reruntuhan. Kita tentu saja menyesalkan respon yang tidak cepat dari pemerintah dalam menangani korban tragedi ini.

10 Aug 2009 14:46 WIB : Editorial

Kita Pantas Merasa Bergembira

Semangat kebersamaan dan solidaritas yang tinggi, begitu terasa menjadi bagian dari denyut pelaksanaan ICAAP IX di Bali, Indonesia. Sebuah semangat dan kondisi yang harus terus menerus dipertahankan untuk menjadi kekuatan potensial dalam menghadapi dan mengembangkan upaya-upaya penanggulangan HIV dan AIDS di level Asia dan Pasifik.

07 Aug 2009 19:38 WIB : Berita Panjang

Kesehatan Reproduksi Menjadi Mulok, Perlu Kesiapan Berbagai Pihak

Meski informasi kesehatan reproduksi diakui sebagai kebutuhan remaja, rencana materi kesehatan reproduksi dalam kurikulum mulok (muatan lokal) masih menuai pro dan kontra. Sebagian pihak mempertanyakan, pantasnya dijadikan mulok atau sebatas diskusi kasus antar siswa.

12 Jun 2009 11:11 WIB : Berita Foto

Menggandeng Pemangku Kepentingan

Kantor Berita Swara Nusa Biro Palembang, melakukan sosialisasi Kantor Berita Swara Nusa kepada Stakeholder, pekan lalu. Hadir dalam pertemuan ini para pemangku kepentingan strategis dalam penanggulangan HIV dan AIDS.
02 Jun 2009 20:25 WIB : Berita Pendek

Jaringan Kespro Mahasiswa, Terkendala Kebijakan dan Teknis

Workshop "Mengembangkan Jaringan Mahasiswa Kesehatan Reproduksi" merekomendasikan pembentukan Jaringan Kesehatan Reproduksi Mahasiswa di Perguruan Tinggi. Menurut Slamet Riyadi Sabrawi, kendala kebijakan dan teknis bisa menghambat pengembangannya.

27 May 2009 18:33 WIB : Berita Foto

Rendah, Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Mahasiswa

Tindak kekerasan dalam masa pacaran dan akibatnya, seperti Infeksi Menular Seksual dan Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD), belum mendapatkan perhatian dari kalangan pimpinan Perguruan Tinggi dan lembaga Kemahasiswaan. Mahasiswa menganggap hubungan seks satu kali tidak menyebabkan kehamilan.

Pengetahuan mahasiswa mengenai kesehatan reproduksi menjadi terbatas. Pengetahuan, sikap dan perilaku seksual sehat mahasiswa minim. termasuk di kalangan mahasiswa kedokteran dan kesehatan. Hasil penenelitian yang dilakukan Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN) sejak tahun 2005 menunjukkan fenomena ini.

"Harus ada upaya mengakrabkan pendidikan kesehatan reproduksi di kalangan mahasiswa, dan membentuk pusat informasi konseling kesehatan reproduksi mahasiswa," kata dr. Siti Pariani, Ph.D, dalam seminar bertajuk "Temu Nasional Kesehatan Seksual Mahasiswa" di Unika Soegijapranata Semarang, Selasa dan Rabu (26-27/5).

Seminar yang diikuti oleh 38 Perguruan Tinggi seluruh Indonesia ini, diselenggarakan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi dan didukung Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, UNFPA, dan Ford Fondation.

Kini sudah saatnya informasi seksualitas yang benar dilakukan secara terpadu dan harus menjadi gerakan masyarakat. Hal ini untuk mencegah terjadinya persepsi yang salah di kalangan mahasiswa. "Ngapain pacaran kalau hanya pegangan tangan dan ciuman,"  kata Dr. Linda Trimurni Maas, MPH, Pembantu Rektor III Universitas Sumatera Utara.

Dalam keluarga, menurutnya, orang tua harus memberikan informasi seksual kepada anaknya secara detail dan benar. Terutama anak di masa remaja. Mereka akan bisa menghindari perilaku seksual tidak bertanggung jawab.

Pariani menambahkan, kalau mahasiswa mendapatkan pendidikan kespro yang benar, mereka akan mengerti secara detail bagaimana bentuk hubungan seks yang aman. Selama ini pengetahuan mahasiswa masih sangat rendah mengenai seksualitas. Seperti yang dikutip Prof. Charles Surjadi, PhD, berdasarkan hasil penelitian JEN di tiga kota (Semarang, Jakarta, dan Makassar) tahun 2008, hampir seperlima mahasiswa, tidak mengetahui hubungan seksual satu kali, dapat menyebabkan kehamilan. "Sangat memprihatinkan dan harus ada penanganan serius untuk memutus mata rantai tersebut," kata Charles, Ketua Program Kesehatan Reproduksi JEN.
 
Dr Sugiri Syarif, MPA, Kepala BKKBN Pusat, dalam sambutannya, menekankan agar masalah seksualitas tidak ditabukan. Soalnya, akan lebih berbahaya jika mahasiswa tidak mendapatkan pendidikan perihal seksualitas.

Meskipun menyadari makna pentinganya pendidikan kesehatan reproduksi, Sugiri Syarif mengakui, birokrasi pemerintahan masih rumit. Sulit merumuskan kebijakan terpadu dan terintegrasi mengenai pemberian informasi seksualitas kepada mahasiswa. "Saya mengapresiasi tinggi elemen mahasiswa dan kelompok masyarakat, terutama lembaga swadaya masyarakat, seperti PKBI, yang hingga kini concern pada pemberian informasi seksualitas," jatanya.

(Hadziq Jauhary, Biro Jawa Tengah)
26 May 2009 23:10 WIB : Wawancara Eksklusif

Tinggal di Jalan, Karena Kegagalan Pemerintah Menyejahterakan Bangsa

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) masih melakukan sejumlah tindak kekerasan saat merazia anak remaja jalanan. Beberapa waktu lalu, pemukulan terhadap remaja jalanan di wilayah Jombor, Yogyakarta terjadi kembali. Tindakan represif tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Bahkan kontradiktif, karena melindungi dan menyejahterakan warga negara merupakan kewajiban pemerintah. Berikut wawancara Desi Susany dari Swara Nusa dengan Agus Sugesti, Ketua Suara Komunitas untuk Keberagaman (SUKMA).

14 May 2009 15:17 WIB : Berita Pendek

Satpol PP Kabupaten Sleman, Diadukan ke LBH Yogyakarta

Belum tuntas gugatan SUKMA terhadap Satpol PP di DPRD pekan lalu. Komunitas remaja jalanan Abakura Jombor Yogyakarta, mengalami kekerasan yang sama. Satpol PP pun diadukan ke LBH Yogyakarta dan melakukan konferensi pers di tempat sama (13/5).

30 Apr 2009 00:35 WIB : PKBI

Penolakan Larangan Siswi KTD Mengikuti UAN

Pelarangan siswi yang mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan merupakan pelanggaran terhadap hak asasi remaja, dalam bidang pendidikan. Mereka harus diikutkan dalam UAN, meski harus melalui mekanisme UAN susulan.
29 Apr 2009 22:00 WIB : Hasil Riset dan Investigasi

Riset Dampak Pendidikan Kesehatan Reproduksi di Yogyakarta

Gerakan untuk memasukkan Pendidikan Kesehatan Reproduksi ke dalam kurikulum muatan lokal sudah dilakukan cukup lama. Meski belum mendapatkan respons positif dari pemerintah daerah. Sebuah uji penerapan kurikulum ini dilakukan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasilnya, disajikan dalam riset dampak yang dilakukan pada tahun 2008 lalu.
29 Apr 2009 21:53 WIB : Hasil Riset dan Investigasi

Pengetahuan dan Pemahaman Kesehatan Reproduksi Remaja Kulonprogo

Dokumen ini merupakan riset yang dilakukan oleh Youth Forum Kabupaten Kulonprogo untuk melihat pengetahuan dan pemahaman remaja di wilayah ini.
27 Apr 2009 16:22 WIB : Editorial

Siswi Mengalami KTD Dilarang Ikut UN

Perlakuan tak adil dialami para remaja perempuan yang mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Pelarangan ini bisa dimaknai sebagai tindakan yang melanggar hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Sebuah pelarangan yang akan menentukan masa depan remaja dalam kelanjutan pendidikannya.

27 Apr 2009 15:28 WIB : Manual

Strategi Pengorganisasian Komunitas

Dalam gerakan perubahan sosial, komunitas merupakan subyek dalam proses advokasinya. Karenanya, community-based organization (CBO) menempati urutan utama dalam melakukan berbagai agenda advokasi itu sendiri. Berikut merupakan gagasan reflektif dalam langkah-langkah pengembangan CBO yang mungkin untuk dilakukan.
27 Apr 2009 11:53 WIB : Manual

Mengembangkan Jurnalisme Warga

Perkembangan Jurnalisme Warga sebagai salah satu bagian dari gerakan pendidikan kritis rakyat, cukup mendapatkan perhatian dari beberapa kalangan. Bagaimana sesungguhnya makna penting jurnalisme warga--terutama dalam isu HIV dan AIDS, Jender dan HAM? Bagaimana strategi pengelolaannya? Berikut gambaran sederhana mengenai pengembangan jurnalisme warga di masyarakat desa.
26 Apr 2009 01:01 WIB : Berita Foto

Kantor Berita Alternatif untuk Isu Kesehatan Seksual, Reproduksi, Jender, dan HAM

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali bersama 11 PKBI Provinsi lain mendirikan kantor berita alternatif untuk isu kesehatan seksual dan reproduksi, jender, dan hak asasi manusia (HAM) dengan nama SwaraNusa. Kantor berita berbasis online ini disambut sejumlah komunitas. Seperti, komunitas remaja, NGO, dan instansi pemerintah di Bali dengan menyatakan komitmen pengembangan content dan isu. Hal ini terangkum dalam diskusi diseminasi di kantor PKBI Bali, dua pekan silam.

26 Apr 2009 00:00 WIB : Cerita Sukses

Pusat Informasi dan Pelayanan Remaja (PILAR) PKBI Jawa Tengah

Perilaku seksual remaja di Jawa Tengah sudah berada dalam tingkat “Siaga I”, yang sering disingkat KNPI (kissing, necking, petting, intercourse). Status ini merupakan temuan dari penelitian yang dilakukan PILAR PKBI Jawa Tengah. Tidak hanya itu, dalam catatan konseling yang dilakukan, sebagian besar remaja menungkapkan, making love sudah menjadi ritual dalam berpacaran. Alasannya, sebagai ungkapan sayang kepada pacarnya. Dari sinilah, PILAR merapatkan barisan untuk lebih aktif, interaktif, dan atraktif dalam memberikan pelayanan dan informasi mengenai kesehatan reproduksi bagi remaja.

03 Apr 2009 21:06 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan Reproduksi Remaja, merupakan bagian penting, tetapi seringkali terabaikan dari perhatian pengembangan programnya. Bagaimana melihat kesehatan reproduksi remaja dari wacana kritis? Tulisan berikut, mempresentasikan situasi kesehatan remaja dari cara pandang ini.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih
    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

    Apa itu GANAS?
    GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun 2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

    Tujuan utama GANAS itu sendiri?
    Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu.

    Apa saja kegiatan GANAS selama ini?
    Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI, KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat informasi, seperti diskusi dengan remaja yang mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah. Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

    Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?
    Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

    Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS tidak masuk ke sekolah?
    Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik, agar informasi yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

    Pandangan anda sendiri terhadap orang yang terinfeksi HIV&AIDS?
    HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan. Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

    Bagaimana harapan anda kedepan?
    Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

    Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?
    Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=69'>dr. J. Nugrahaningtyas WU, M.Kes</a> MEROKOK DAN RESIKO KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

    Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password
Mendaftar
Langganan via Email

Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/index.php on line 553
Jajak Pendapat
Apa pendapat Anda terhadap peningkatan anak-anak yang terinfeksi HIV?
Kegagalan program PMTCT
KPAN tidak memiliki strategi
Tidak adanya informasi
Editorial
Remaja Hamil itu Korban

Remaja yang hamil seringkali dipojokkan. Jangankan dianggap sebagai korban, stigma justru semakin kuat manakala yang muncul dalam benak adalah remaja yang hamil di luar nikah, masih sekolah pula. Seolah melupakan berapa banyak remaja yang tidak beruntung mengenyam bangku sekolah. Seakan tak sadar berapa banyak perempuan yang menikah saat mereka berusia sangat muda. Faktanya, Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan 46% perempuan menikah pada usia sebelum 20 tahun.

Pesan Singkat
  • 01 03 13 - I'm Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 01 03 13 - I\'m Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 18 10 11 - Andrian:
    Mas Hadiq alamat emailnya apa?
  • 14 10 11 - hadiq:
    To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih..
  • 30 06 11 - rika:
    http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;)
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 23 06 11 - ilahtea:
    SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public?
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 01 06 11 - galink:
    wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses!
  • 12 05 11 - Andrian:
    @salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam
  • 05 05 11 - salahsatuwartawan:
    sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini..
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian."
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\"
  • 09 01 11 - botaq:
    kirim data base kamisekarang
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 12 06 10 - ilahtea:
    kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks.
  • 11 06 10 - ridho:
    justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi
  • 11 06 10 - galink:
    pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho??
  • 10 06 10 - ilahtea:
    kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^
  • 06 06 10 - galink:
    benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT
  • 05 06 10 - ilahtea:
    hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!!
  • 01 06 10 - cornel:
    negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian?
  • 19 05 10 - wete:
    ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service...
  • 08 05 10 - polo:
    terus berjuang
  • 07 02 10 - heni:
    toleransi itu penting!!!!
  • 28 12 09 - Hadziq:
    Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.
BannerAds
Safe Sex50thn PKBIstatistik kasus HIV & AIDS September 2010
Kontak ke SwaraNusa
Pencarian