Hanya Pengingat, Tidak Lebih
Proses panjang, 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan telah dilalui bersama. Berbagai kreasi dimunculkan untuk memperingati berbagai hari penting, mulai dari 25 Nopember, 1 Desember dan 10 Desember. Untuk tahun 2009 amat terasa, dua hari penting lain yang tahun sebelumnya tak begitu terasa denyutynya, Hari Difabel dan Hari Anti Korupsi.
Apa yang bisa kita baca dari seluruh proses panjang itu? Kesadaran paling awal tentu saja, secara jelas memosisikan prosesi panjang itu dalam koridor yang sebenarnya. Artinya, apa yang dilakukan secara berantai dengan kebersamaan seluruh elemen yang untuk lima tahun lalu sungguh masih terputus-putus itu, hanyalah satu bentuk 'pengingatan'. Lain tidak.
Mengingatkan kepada masyarakat, banyak problem yang terus terjadi dan saling terkait antara satu dengan lainnya. Aktivis HIV dan AIDS, Jender dan HAM, tidak bisa tidak, harus terlibat langsung dengan gerakan anti korupsi. Bidang kesehatan merupakan salah satu lahan subur untuk terjadi praktek korupsi. Korupsi dalam bidang kesehatan, tentu saja, akan membawa dampak negatif dalam penyediaan layanan yang berkualitas bagi masyarakat seumumnya.
Pengingat, berarti menyadari diri, apa yang dilakukan selama 16 hari dengan berbagai tuntutan itu, tidak akan berarti apa-apa, manakala tidak dilanjutkan dengan berbagai aksi nyata dalam waktu ke depannya. Ia hanya akan menjadi seremonial, dan tidak memiliki makna bagi perwujudannya. Sebab, apa yang diteriakan terlupakan begitu saja. Pemerintah yang dituntut untuk memenuhi juga tak pernah disentuh kembali setelahnya.
Langkah selanjutnya, dengan begitu, terus mengawal dan melakukan kontrol atas berbagai komitmen pengambil kebajikan yang sudah dipidatokan dalam proses panjang itu. Tugas ini tidak mungkin dilakukan secara sendiri-sendiri, tetapi harus menjadi kerjasama yang saling terkait dengan berbagai elemen gerakan.
Dalam konteks seperti inilah, sinergitas sudah mulai terasa denyutnya, bahkan bisa jadi getarnya, akan terus bisa dilanjutkan secara internal untuk membuat agenda-agenda berkelanjutanh secara bersama-sama. Capaian-capaian pembelaaan terhadap masyarakat yang dipinggirkan, diabaikan, dan diasingkan, harus menjadi agenda bersama, dan dilakukan secara bersama.***
kontributor: [Super User]
-
Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan Harus DikucilkanKekerasan terhadap perempuan terus meningkat. Upaya menguranginya sudah dilakukan. Apakah upaya yang dilakukan memang tidak efektif? Hadziq Jauhary dari Swaranusa, melakukan wawancara khusus dengan Evarisan, SH, MH, aktivis hak asasi perempuan dari Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia [LRC-KJHAM].
-
Organisasi Komunitas Sebagai Basis GerakanGerakan LGBT belakangan ini semakin menguat. Di sisi lain, stigmatisasi juga semakin mengeras. Bagaimana startegi komunitas LGBT dalam menghapuskan stigma dan diskriminasi? Berikut wawancara Hadziq Jauhary dari Swaranusa Biro Jawa Tengah, dengan Orie Lesmana, aktivis hak asasi manusia dari komunitas gay.
Bagaimana gerakan LGBT belakangan ini? -
Berencana Menambah Asrama PerempuanPara mantan pengguna narkoba masih sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Akibatnya mereka kesulitan bermasyarakat. Padahal mereka yang telah keluar dari jeratan narkoba memiliki segudang pengalaman yang dapat dibagi dengan sesama. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa dengan Ronald Ambrosius, Kepala Panti Rehabilitasi Narkoba "Galilea Miracle Center" Kalimantan Tengah tentang rehabilitasi narkoba.
- 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini. - 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini. - 12 06 10 - ilahtea:
kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks. - 11 06 10 - ridho:
justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi - 11 06 10 - galink:
pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho?? - 10 06 10 - ilahtea:
kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^ - 06 06 10 - galink:
benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT - 05 06 10 - ilahtea:
hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!! - 01 06 10 - cornel:
negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian? - 19 05 10 - wete:
ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service... - 08 05 10 - polo:
terus berjuang - 07 02 10 - heni:
toleransi itu penting!!!! - 28 12 09 - Hadziq:
Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.









