Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/swaranus/public_html/common/dbconn.php on line 12
Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi : Kantor Berita Swaranusa

Pekerja Jalanan Ingin Jalanan Aman Bagi Semua : “Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera Orang duduk bersila Musisi jalanan mulai beraksi Seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu” Lagu Yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project ini menggema di Gedung DPRD Provinsi DIY pada kegiatan Temu Budaya Jalanan, sebuah pertunjukkan seni yang digelar oleh Kaukus Pekerja Jalanan (KPJ) di Gedung DPRD Provinsi DIY, Minggu (24/02/2013). Budaya Yogyakarta yang istimewa memang cukup tergambarkan dari lagu tersebut, termasuk kehidupan jalanan yang menjadi bagian dari budaya kota ini. “Jalanan adalah tempat untuk hidup dan menjalankan kehidupan. Jalanan adalah ruang bagi mereka untuk mendapatkan hidup, dan dimana mereka dapat menghidupi jalanan. Kreativitas dan potensi komunitas jalanan begitu besar, jika difasilitasi akan menjadi budaya yang unik”, kata Amer, Koordinator Temu Budaya Jalanan. Keunikan ini tampak dari 4 komunitas pengamen jalanan yang ada di Alun-alun Kidul (Komunitas Alkid), Galeria, Jombor dan Tukangan yang menampilkan musik dengan ciri komunitasnya masing-masing. Meskipun sempat diwarnai hujan deras, mereka tetap bersemangat menyuarakan harapan mereka terhadap pemerintah. Harapan anggota KPJ tersebut muncul karena selama ini pemerintah hanya melakukan razia terhadap pekerja jalanan tanpa adanya tindak lanjut yang jelas. Seperti yang dikatakan Rere, anggota komunitas Galeria, “Semoga saja pemerintah memberi pelatihan musik pada kami, gak cuman digaruki (dirazia, red) terus.” Rere sendiri sudah menyukai musik sejak kecil dan menganggap jalanan adalah satu-satunya tempat bagi dia berkreasi dan menunjukkan bakatnya dalam bermusik. Acara Temu Budaya Jalanan ini juga diisi dengan pembacaan orasi oleh seluruh anggota KPJ yang isinya antara lain agar dihentikannya segala bentuk tindakan represif oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, menolak kriminalisasi oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, dipenuhinya hak-hak komunitas jalanan sebagai warga negara, dan tersedianya ruang untuk mencari penghidupan dan mengembangkan potensi. KPJ juga menuntut tersedianya akses layanan publik yang bebas dari stigma dan diskriminasi serta mendukung Yogyakarta yang beragam dan toleran yang menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan. Selain diharapkan mampu mengajak komunitas jalanan lainnya untuk bergabung dalam menyuarakan kepentingan mereka, kegiatan ini juga dapat menjadi menjadi wadah kreativitas pekerja jalanan, serta menjadi media kampanye untuk mereduksi stigma dan diskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat. Agus, anggota komunitas Tukangan, menyatakan dengan tegas bahwa KPJ menolak tindakan represif aparat terhadap pekerja jalanan. ”Kami bukan sampah masyarakat yang harus dibasmi dengan kekerasan. Kami ingin jalanan aman bagi semua dan terpenuhinya hak-hak kami,” kata Agus. OBR Jogja : Untuk melawan tindak kekerasan terhadap perempuan, saat ini ratusan orang akan menari bersama para pejalan kaki di Malioboro Jogjakarta. Terbentuk : JIMI (Jaringan Methadone Indonesia) telah terbentuk sebagai wadah informasi, sosialisasi dan advokasi bagi pengguna methadone. Evaluasi : Peraturan Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY dinilai hanya mengurusi virus, belum menyentuh hak warga negara. Release : Perkumpulan Aksara meluncurkan buku dan film tentang gender dan bencana. Jogja Update : Hari ini, PKBI DIY mengadakan kegiatan Jogja Update untuk mengaji situasi aktual kesehatan dan sosial. Gerakan : Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menggalang gerakan berikan hak pendidikan bagi anak perempuan korban kekerasan seksual dan bentuk kekerasan yang lain.

02 Jul 2012 08:00 WIB

Pentingnya Pengetahuan tentang HIV dan AIDS pada Bidan

Tingkat pengetahuan tentang HIV pada bidan berkorelasi positif dengan keterampilan sosialisasi kepada pengunjung poli KIA. Hasil penelitian di Kamboja menunjukkan bahwa dari 524 ibu yang berkunjung ke poli KIA hanya 46,5% yang memiliki pengetahuan mendasar tentang HIV dan AIDS (Sasaki, Ali, Sathiarany, Kanal, & Kakimoto, 2010). Di sebuah pedesaan India bernama Dehradun hanya 35,1% ibu hamil yang pernah mendengar tentang HIV dan AIDS. Ibu-ibu hamil tersebut juga memiliki pengetahuan yang rendah tentang HIV dan AIDS. Sebagian besar dari mereka mengetahui HIV dari televisi. Sementara sebuah penelitian di Malawi, radio dan bidan adalah sumber informasi utama bagi ibu hamil mengenai penularan dan penanganan HIV dan AIDS (Negi, Khandpal, Kumar, & Kukreti, 2006). Hasil penelitian Bassey, Elemuwa, dan Anukam (2007) menemukan bahwa sebanyak 34,2% dukun bersalin di negara bagian Cross River mendapatkan informasi mengenai HIV dan AIDS dari pusat kesehatan masyarakat.

02 Jul 2012 08:00 WIB

Bidan dan HIV: Risiko dan Tantangan yang Dihadapi

Bidan di berbagai belahan dunia memiliki peran kunci dalam mempromosikan hak dan kesehatan reproduksi untuk mencegah penyakit menular seksual, termasuk HIV dan AIDS (Nordkvist & Pyykkö, 2008). Layanan konseling di poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) memiliki banyak fungsi, yaitu kesempatan memberikan informasi tentang cara penularan dan penanganan HIV dan AIDS, pencegahan dari-ibu-ke-anak, serta mengenalkan konseling dan tes HIV sukarela (Msellati, 2009). Bahkan di Afrika lingkup kerja bidan juga mencakup kunjungan rumah dan layanan ramah remaja (Kasenga, 2010). Bidan di Afrika menjadi tulang punggung pencegahan HIV dari-ibu-ke-anak dan memiliki jumlah terbesar dalam komunitas petugas kesehatan yang menjadi konsultan perempuan sebelum, saat, dan setelah kehamilannya. Di Swedia, bidan menjadi konselor terkait kehamilan, kesehatan reproduksi, dan kehidupan rumah tangga. Sementara di Amerika Serikat bidan diakui sebagai profesi senior dalam masalah kehamilan dan persalinan. Di Estonia bidan bekerja sesuai dengan standar International Confederation of Midwives (ICM) pada tahun 1990 dan sejak tahun 1999 ditambah dengan memberikan konseling HIV dan konseling keluarga. Menurut WHO pada tahun 1999 bidan membantu persalinan sebanyak 200 kasus setiap tahunnya (Lazarus, Rasch, & Liljestrand, 2005; Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland, 2007; Ndikom & Onibokum, 2007; WRATZ, 2006).

02 Jul 2012 08:00 WIB

ABC ke SAVE: Pendekatan yang Lebih Komprehensif

Saat ini pencegahan HIV secara global dikemas menggunakan pendekatan ABC, yaitu Abstinance (tidak berhubungan seks sama sekali)-Be faithful (setia dengan satu pasangan)-use Condom (menggunakan kondom) yang mulai dikenalkan di sekolah-sekolah Amerika sejak awal 1980-an (Avert, 2005). Audet, Burlison, Moon, Sidat, Vergara, dan Vermund (2010) menjelaskan pencegahan menggunakan pendekatan ABC memiliki beberapa rintangan, khususnya terkait dengan penggunaan kondom. Berdasarkan pesan yang disampaikan oleh media, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa kondom tidak diperlukan dalam hubungan yang dibangun atas rasa cinta dan saling percaya. Selain itu, kondom lebih sering digunakan oleh orang yang senang berganti-ganti pasangan seksual. Konsepsi yang salah tentang kondom juga dapat memicu ketakutan irasional seperti pemimpin agama yang menganggap bahwa kondom merupakan barang produksi Amerika yang dijadikan alat genosida pada bangsa timur. Hasil wawancara kepada laki-laki dengan HIV positif menunjukkan bahwa laki-laki Malawi menolak memakai kondom karena menganggapnya sebagai tanda cinta. Laki-laki yang telah terinfeksi HIV tidak mau memakai kondom karena tidak ingin kehilangan kenikmatan seksual dan hidup (Chinkonde, Sundby, & Martinson, 2009). Hal serupa ditemukan oleh Ratnaningsih (2010) yang menemukan laki-laki Gunung Kidul tidak suka menggunakan kondom karena dianggap tidak praktis. Alasan lain adalah stigma yang melekat pada kondom yang dikaitkan dengan sikap amoral serta menjadi simbol bagi laki-laki yang tidak setia. Penggunaan kondom secara otomatis menempatkan seseorang pada kategori yang tidak setia atau tidak mau menahan hawa nafsunya (Kurian, 2006). Oleh karena itu pendekatan ABC tidak dapat dilakukan sepenuhnya pada kelompok kepercayaan atau agama tertentu, khususnya penggunaan kondom sehingga pada praktiknya hanya tinggal A dan B.

02 Jul 2012 08:00 WIB

Epidemi HIV dan AIDS di Negara Berkembang

Epidemi HIV menyebar luas pada populasi marginal yang sulit mengakses layanan dan informasi tentang pencegahan HIV dan AIDS (PAHO, 2003). Menurut Kermode, Holmes, Langkham, Thomas, dan Gifford, (2005) faktor-faktor yang berkontribusi dalam epidemi HIV di negara berkembang adalah laki-laki yang melakukan migrasi internal dalam jumlah besar, penyalahgunaan narkoba suntik, rendahnya sumber informasi kesehatan reproduksi, ketidak-setaraan jender, dan kemiskinan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Kasenga (2010) bahwa faktor-faktor yang berpengaruh dalam penularan HIV pada perempuan adalah budaya, ketimpangan jender, layanan kesehatan yang tidak memadai di area pedesaan, dan kemiskinan. Hambatan pencegahan penularan HIV di Asia tidak hanya berasal dari aspek legalitas tetapi juga rendahnya pendidikan tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas pada remaja (Avert, 2008). Usaha pencegahan lebih difokuskan pada kelompok yang dianggap berisiko tinggi seperti pekerja seks dan pengguna narkoba suntik. Kampanye yang mengasosiasikan HIV sebagai hasil perilaku tidak bermoral dan kejahatan sosial menimbulkan masalah baru yaitu stigma (Hardon, Ooosterhoff, Imelda, Anh, & Hidayana, 2009).

Di Hanoi, faktor penghambat tercapainya akses universal pencegahan HIV dan AIDS adalah stigma dan diskriminasi. Dua hal tersebut terjadi dalam berbagai setting seperti tempat kerja, pusat kesehatan, instansi pendidikan, dan kehidupan bermasyarakat (UNESCO, 2009). Hasil dari stigma adalah kesehatan yang rendah, penurunan kualitas hidup, kesulitan mengakses layanan kesehatan, dan kekerasan dalam lingkungan kerja (Avert, 2009; Holzemer dkk., 2007; Uys dkk., 2009). Holzemer dkk. menjelaskan bahwa stigma menghambat proses konseling dan tes sukarela untuk mengetahui status HIV seseorang. Secara tidak langsung stigma meningkatkan tingkat kematian dan morbisitas penderita. Kondisi demikian juga terjadi di Indonesia sepertu yang dilaporkan Busza (1999) bahwa keluarga yang memiliki anggota terinfeksi HIV akan memisahkan barang-barang pribadi penderita. Selain itu juga ditemui keluarga yang ditolak oleh lingkungan sekitarnya karena ada anggota keluarga yang terinfeksi HIV. Sebuah LSM di Jakarta mendapat penolakan dari warga sekitar ketika membuka pusat dukungan sosial bagi orang terinfeksi HIV. Di Papua, diskriminasi yang dilakukan masyarakat adalah mengusir orang dengan HIV positif dari komunitasnya dan mengucilkan mereka ke dalam hutan untuk hidup seorang diri (Butt, Morin, Numbery, Peyon, & Goo, 2010). Gambaran ini sejalan dengan survei yang dilakukan di tujuh propinsi oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 terhadap 2.038 rumah tangga yang terdampak HIV. Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 72,7% keluarga terdampak HIV bekerja tanpa upah yang layak dan kesulitan memperoleh layanan kesehatan karena ditolak oleh penyedia layanan kesehatan misalnya rumah sakit (Riyadi, 2010). Petugas kesehatan juga terkena efek stigma seperti yang dilaporkan Uys dkk. bahwa bidan yang menangani pasien HIV positif memiliki tingkat depresi, kecemasan, stress, dan takut akan kematian yang lebih tinggi.

Kasenga (2010) mengatakan bahwa perempuan dan anak-anak lebih rentan tertular HIV daripada populasi lainnya. Hal tersebut dapat menjelaskan temuan KPA Nasional yang mencatat kasus kumulatif HIV di kalangan perempuan Indonesia hingga tahun 2010 menunjukkan rekor tertinggi dipegang oleh ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 1.970 kasus (Kompasiana, edisi 9 Februari 2011; Siska, 2011). Di Zimbabwe 90% IRT yang didiagnosa HIV tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi sebelum melakukan tes HIV (Mathole, Lindmark, & Ahiberg, 2006). Kondisi demikian juga terjadi di Indonesia karena menurut Asisten Deputi Pembinaan Kewilayahan KPAN, dari 5.000 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan HIV di Indonesia sekitar 1.300 di antaranya teridentifikasi HIV positif (Sehat News, 2010b). Menurut catatan KPA Propinsi DKI Jakarta hingga Agustus 2010, IRT yang terinfeksi HIV mencapai 12% dari total orang terinfeksi HIV di DKI Jakarta yang berjumlah 1.238 orang (Dimyati, 2011). Di Batam fenomena IRT terinfeksi HIV sudah terjadi sejak tahun 2007 dan pada tahun 2010 ditemukan sebanyak 12 IRT hamil yang tertular HIV dari pasangannya. Kondisi Batam yang berada di daerah perbatasan dan tempat transit membuat mobilitas manusia sangat tinggi sehingga risiko penularan HIV juga semakin besar (Haluan Kepri, 2011). Survei pakar epidemologi Universitas Udayana hingga Oktober 2010 menunjukkan 1,2% dari 56 ribu ibu hamil di Bali terinfeksi HIV atau ada sekitar 673 ibu hamil yang terinfeksi HIV per tahun (Sehat News, 2010a).   

Di Merauke sebanyak 50 ibu hamil diketahui terinfeksi HIV dan sebagian besar diketahui status HIVnya setelah melahirkan sehingga ada enam bayi yang positif tertular. Adanya bayi yang tidak tertular karena ibu mereka telah dideteksi sejak dini dan mendapatkan pendampingan yang komprehensif (Bintang Papua, 2011). Nina, seorang perempuan di Bandung tertular HIV dari suaminya dan kemudian hamil hingga bayinya ikut tertular. Saat itu Nina sama sekali tidak mengetahui tentang HIV dan AIDS, maupun cara penularan dan risiko yang mungkin ditimbulkan. Nina baru mengetahui dirinya positif HIV ketika anaknya sering sakit-sakitan, diperiksakan ke rumah sakit dan dites HIV. Ketika mengetahui anaknya positif HIV, Nina baru menjalani tes dan mendapatkan hasil yang sama (Pesat News, 2011). Di Yogyakarta terdeteksi sebanyak 75 ibu rumah tangga terinfeksi HIV. Dalam berbagai kasus ibu-ibu tersebut terdeteksi pada masa kehamilan. Bahkan ada yang baru terdeteksi saat menjelang persalinan (Kompasiana, edisi 9 Februari 2011). Sayangnya Peraturan Daerah Propinsi DI Yogyakarta Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS tidak ada pasal khusus yang mengatur pencegahan HIV dari-ibu-ke-bayi (prevention from mother to children, PMTCT). Padahal jika tidak mendapatkan penanganan maka diperkirakan 15-30% kemungkinan dapat terjadi penularan dari-ibu-ke-anak saat kehamilan dan bersalin, serta 10-20% ketika menyusui (ICM, 2008).
 

Avert. (2008). Epidemi HIV di ASIA. Diunduh dari http://www.avert.org/aids-asia.htm pada tanggal 20 September 2011.

22 May 2012 10:56 WIB

Siapa Irshad Manji?

Salah satu alasan penyerangan—untuk membubarkan paksa diskusi dan bedah buku—yang dilakukan oleh massa ke kantor LkiS di Sorowajan adalah ketakutan bahwa Irshad Manji akan menyebarkan paham lesbianisme. Perlu diperhatikan bahwa dari alasan tersebut saja, dapat disimpukan bahwa massa belum mengerti sepenuhnya tentang homoseksualitas.

Lesbian Bukan Sebuah Paham
Lesbian merupakan kata yang digunakan untuk mengidentifikasi perempuan yang memiliki ketertarikan, khususnya secara afeksi, dengan perempuan lainnya. Ketertarikan tersebut sama dengan ketertarikan yang dimiliki oleh heteroseksual, yaitu ketika seorang perempuan memiliki ketertarikan dengan laki-laki, maupun sebaliknya. Hal tersebut disebut dengan orientasi seksual, dimana setiap individu memiliki hak untuk memilih orientasi seksual mana yang paling nyaman baginya dan tidak memaksakan orientasi pilihannya kepada orang lain. Oleh karena itu kurang tepat jika disebut-sebut lesbianisme adalah sebuah paham, apalagi diibaratkan seperti penyakit yang dapat ditularkan kepada orang lain.

Mengenal Irshad Manji
Jika massa sudah memiliki ketakutan terlebih dahulu terhadap Irshad Manji yang memang mengakui bahwa dia seorang lesbian, maka persepsi yang dimiliki massa tentang Irshad akan cenderung negatif. Oleh karena itu artikel ini akan mengupas lebih mendalam tentang Irshad Manji dan dengan kekayaan informasi diharapkan pembaca dapat lebih cerdas dalam bersikap. Riwayat hidup ini diambil dari laman web resmi Irshad Manji, yaitu https://www.irshadmanji.com/about-irshad, serta penuturannya di dalam buku Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini” (terjemahan dari “The Trouble with Islam”) dan “Allah, Liberty, and Love”.

Masa Kanak-kanak dan Pendidikan
Irshad lahir pada tahun 1968 di Uganda. Orangtuanya adalah keturunan India dan Mesir. Pada masa pemerintahan diktator militer Jenderal Idi Amin ratusan keluarga dari Asia diusir, termasuk keluarga Irshad. Saat itu keluarga Irshad mengungsi ke Kanada dan ditempatkan di daerah Vancouver.
Irshad tumbuh dan berkembang di daerah tersebut. Dia datang ke dua sekolah, yaitu sekolah umum tanpa pendidikan keagamaan setiap hari Senin hingga Jumat—juga beberapa jam pada hari Sabtu—dan sekolah agama Islam atau disebut madressa (madrasah). Di sekolah umum Irshad merupakan murid yang unggul, tetapi dia justru dikeluarkan dari madrasah ketika berusia 14 tahun karena terlalu banyak bertanya. Irshad saat itu bisa saja meninggalkan Islam karena banyak pertanyaannya yang belum terjawab. Akan tetapi Irshad yakin bahwa agama yang dianutnya memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan. Peristiwa ini yang kemudian mendorong Irshad untuk mempelajari Islam lebih mendalam.
Sambil terus mencari jawaban pertanyaan dalam pikirannya, Irshad melanjutkan pendidikan di jurusan sejarah, University of British Columbia, dan mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa terbaik di bidang kemanusiaan.
Selama masa pencariannya, dan hingga saat ini, Irshad mendalami Islam karena yakin bahwa yang diterimanya saat madrasah bukanlah sebuah pendidikan melainkan indoktrinasi. Seperti yang dijelaskan Irshad,”Pendidikan memberikan ruang untuk berpikir sedangkan indoktrinasi mencegahnya”. Oleh karena itu Irshad kemudian memiliki keinginan kuat untuk “memperbaharui” Islam dengan tradisi yang telah ada, yaitu ijtihad.
Dalam “Allah, Liberty, and Love” Irshad menjelaskan bahwa ijtihad merupakan sebuah tradisi dalam Islam yang mencakup perbedaan pendapat, penalaran, dan penafsiran kembali. Kata ini berasal dari akar yang sama dengan kata jihad atau “berjuang” tetapi tidak seperti jihad (berjuang) yang penuh kekerasan. Ijtihad terkait dengan perjuangn untuk memahami dunia kita dengan menggunakan pikiran. Hal tersebut kemudian berimplikasi kepada penggunaan kebebasan untuk mengajukan pertanyaan—yang terkadang dapat menimbulkan ketidaknyamanan.
Sebagai seorang muslim, Irshad merasa harus memiliki ekspetaksi yang lebih tinggi terhadap diri sendiri. Kita pernah memperlakukan pikiran kita seperti seni, yaitu menghidupkan begitu banyak pilihan di dalam pengamalan iman. Seribu tahun yang lalu semangat ijtihad sangat terasa dalam diskusi, debat, dan perbedaan pendapat. Peradaban Islam pada saat itu juga mengalami perkembangan, memimpin dunia dengan cerdik cendikia. Para siswa muslim Spanyol (Andalusia) dapat berdialog dengan Al-Quran dari berbagai segi. Seperti yang dituliskan George Makdisi, seorang sejarawan, madrasah di abad ke-19 merupakan sumber dari kebebasan akademik di masa kini. Akan tetapi tradisi tersebut tenggelam pada abad ke-12. Saat itu kelompok muslim fanatik dari Maroko melintasi Selat Gibraltar dan menduduki Spanyol. Akibatnya, imperium Islam yang membentang dari Spanyol di bagian Barat hingga Irak bagian Timur terpecah belah.

Misi Irshad
Dalam bahasa Arab, Irshad berarti “panduan”. Hal inilah yang menjadi misi Irshad, yaitu memandu reformasi umat muslim dan keberanian moral. Misi tersebut diwujudkan ke dalam Moral Courage Project di Moral Courage Project. Di sana Irshad menjadi pendiri dan direktur yang memimpin program kepemimpinan untuk membekali para mahasiswa agar dapat melepaskan sensor diri (self-censorship, dihantui bayang-bayang kehormatan orangtua mereka).

Karir
Setelah lulus dari universitas, Irshad bekerja sebagai staff di badan legislatif Kanada. Kemudian dia menjadi sekretaris pers untuk Kementerian Urusan Perempuan Ontario dan lalu menjadi penyusun pidato untuk pemimpin di Partai Demokrasi Baru.
Saat berusia 24 tahun, Irshad masuk ke dalam jurnalisme profesional dengan menulis editorial untuk Ottawa Citizen. Hal ini menjadikan Irshad sebagai anggota termuda dari dewan editor untuk Harian Kanada.
Setelah itu Irshad memulai karirnya di televisi. Di pertengahan 1990-an dia muncul di Friendly Fire, sebuah acara debat mingguan yang mengupas pandangan liberal Irshad melawan konservatif. Irshad lalu memproduksi acara In the Public Interest di Vision TV.
Pada tahun 2001, Irshad meluncurkan acara baru dan mulai menulis buku “The Trouble with Islam Today” yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “Beriman Tanpa Rasa Takut”. Tahun 2004 buku tersebut diluncurkan dan Irshad mulai berkeliling dunia untuk melakukan dialog. Setahun kemudian Irshad menjadi pengajar tamu di Universitas Yale untuk memberikan kuliah umum. Lalu di tahun 2007 Irshad pindah dari Toronto ke Manhattan untuk mengajar keberanian moral di New York University’s Robert F. Wagner Graduate School of Public Service. Di sinilah Irshad menemukan inspirasi untuk menulis buku barunya,”Allah, Liberty, and Love”.
 
edL
01 Dec 2011 21:53 WIB

Siapa yang Lebih Berpotensi Menularkan HIV? Perempuan Masih Dijadikan Tersangka Utama

Hari AIDS Sedunia selalu diperingati setiap tahunnya pada 1 Desember, termasuk di Indonesia. Berbagai tema telah diangkat secara bergantian untuk mendorong kepedulian seluruh lapisan masyarakat terhadap isu HIV & AIDS. Demikian juga berbagai program telah dijalankan baik oleh pemerintah, lembaga, maupun individu yang peduli pada isu tersebut. Walau dijalankan oleh berbagai pihak tetapi tujuannya sejalan, yaitu untuk menekan laju epidemi HIV, memperbaiki sistem kesehatan bagi orang-orang yang telah terinfeksi, serta mengurangi stigma dan diskriminasi terkait isu HIV & AIDS.

Setelah lebih dari 20 tahun program penanggulangan HIV & AIDS di Indonesia, pada beberapa tahun terakhir terekam data yang mengejutkan, yaitu meningkatnya kasus AIDS karena penularan hubungan heteroseksual. Pada Juni 2006, persentase kasus AIDS yang disebabkan oleh hubungan heteroseksual adalah 38,5%, meningkat pada Juni 2011 menjadi 76,3%. Bandingkan dengan  kasus AIDS yang disebabkan oleh penggunaan jarum suntik pada kurun waktu yang sama, menurun persentasenya dari 54,42% menjadi 16,3%.

Peningkatan kasus AIDS karena hubungan heteroseksual ini berdampak pada meningkatnya jumlah perempuan dan bayi yang dilaporkan sebagai kasus AIDS baru. Pada Juni 2006, persentase kasus AIDS baru pada perempuan adalah 16,9%, meningkat menjadi 35,1% pada 2011. Sementara persentase penularan ibu ke bayi (perinatal) meningkat dari 2,16% pada 2006 menjadi 4,7% pada 2011 .

Hal yang lebih mengejutkan adalah dari 5.210 kasus kumulatif AIDS pada perempuan di tahun 2010, 41,4% di antaranya merupakan ibu rumah tangga. Sementara dari perempuan pekerja seks, yang selama ini seringkali dicap sebagai penyebar HIV, ‘hanya’ sebanyak 8,7%.

Data-data tersebut menggambarkan bagaimana program penanggulangan HIV & AIDS selama ini. Beberapa kelompok yang dianggap beresiko tinggi, seringkali disebut populasi kunci termasuk perempuan pekerja seks, telah dijadikan sasaran program penanggulangan HIV & AIDS selama bertahun-tahun.  Sementara kelompok masyarakat lain, misalnya ibu rumah tangga, seringkali luput dari jangkauan program karena dianggap tidak beresiko tinggi.

Lantas, apakah sebaiknya program penanggulangan HIV & AIDS kemudian dialihkan begitu saja kepada kelompok ibu rumah tangga? Tentu tidak sesederhana itu. Kondisi sosial kultural harus dijadikan pertimbangan, terutama bagaimana pola relasi yang belum setara antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Alih-alih melindungi kelompok perempuan, bukan tidak mungkin jika pada ujungnya justru akan menempatkan kembali perempuan sebagai satu-satunya pihak yang harus bertanggung jawab pada pencegahan HIV. Ini bisa kita pelajari dari program penanggulangan HIV & AIDS yang selama ini difokuskan pada perempuan pekerja seks.

Konsistensi penggunaan kondom biasanya dijadikan ukuran keberhasilan program penanggulangan HIV & AIDS di populasi kunci. Penggunaan kondom secara konsisten pada perempuan pekerja seks, baik langsung maupun tidak langsung, yang mereka laporkan untuk hubungan seks selama seminggu terakhir dan tercatat dalam IBBS 2002, 2004, dan 2007 tidak pernah melebihi 50%. Demikian juga dengan persentase konsistensi penggunaan kondom pada pelanggan sebesar 21,4%, 24%, dan 37% pada tiga kali IBBS tersebut. Sementara SCP  tahun 2010 menunjukkan perempuan pekerja seks langsung yang menggunakan kondom secara konsisten sebesar 39%. Angka ini masih di bawah target SRAN 2010-2014 sebesar 60%.
 
Upaya-upaya dilakukan untuk meningkatkan penggunaan kondom. Usaha ini lebih banyak melalui pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pekerja seks membujuk kliennya agar mau menggunakan kondom atau sosialisasi kondom perempuan. Perempuan yang sesungguhnya telah menjadi korban dari sistem yang tidak adil, yang menjadikan mereka sebagai pekerja seks, dipaksa untuk mengalah dan dibebani tanggung jawab dalam pencegahan penularan HIV. Lalu dimana tanggung jawab laki-laki?

Kementerian Kesehatan RI memperkirakan 3,1 juta laki-laki dewasa pernah menjadi pelanggan pekerja seks. Sementara itu, diperkirakan lebih kurang 1,6 juta perempuan menikah dengan laki-laki yang terinfeksi HIV dan jumlah perempuan pekerja seks lebih kurang 320.000 jiwa. Dari perkiraan angka ini saja, kita bisa melihat bagaimana laki-laki memiliki potensi lebih besar dalam penularan HIV. Belum lagi jika kita tambahkan bagaimana posisi tawar perempuan, baik sebagai pekerja seks maupun bukan, yang masih rendah, dan bagaimana kondisi biologis tubuh perempuan yang lebih rentan tertular HIV, kasus HIV & AIDS pada perempuan bisa jadi akan terus meningkat yang juga akan berdampak pada peningkatan kasus pada bayi.

Keseriusan program penanggulangan HIV & AIDS di Indonesia harus ditunjukkan dengan meletakan isu HIV & AIDS bukan semata-mata sebagai persoalan perilaku-biologis semata. Nilai-nilai sosial dan budaya justru harus diberi perhatian lebih, yang akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa selama ini penggunaan kondom secara konsisten masih rendah di kalangan perempuan pekerja seks, mengapa kasus HIV & AIDS pada ibu rumah tangga terus meningkat, dan yang lebih penting, apa yang menyebabkan kasus kumulatif AIDS pada Juni 2011 sebesar 72,3 persennya adalah laki-laki?

Data:
Rangkuman Eksekutif Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia 2006-2001. KPA Nasional 2011.
Laporan KPA Nasional 2010.

edL

 
08 Nov 2011 07:04 WIB

Youth Declaration on the 6th APCRSHR

Whereas, young people (10-24) comprise a significant demographic sector of Asia adn Pacific which accounts for half of the world’s young population and some 850 milion in the region, making us an important asset and source of opportunity for national and regional development;

Whereas, the young people engage in early sex of which most are unprotected and the adolescent birth rate is 53.7 for South Asia and 40.4 in South East Asia. Young girls and young women are at more at risk of experiencing pregnancy-related complications, and of engaging in unsafe abortion, thus further increasing maternal mortality;

Whereas, young people are engaged in high risk behaviour that lead to issues on sexual and reproductive health such as early pregnancies, STIs including HIV and AIDS, unsafe abortion, gender-based violance. This high risk behaviour can be attributed to lack of comprehensive sexuality education and access to reliable and unbiased source of information and youth friendly services.

Whereas developing adequate accesible and quality Youth-Friendly Health Care Services is essential in lowering maternal mortality of young women especially aged 20 years and below and promoting every young person’s Sexual and Reproductive Health and Rights as stated in the ICPD;

Whereas, there is an increasing number of STI, HIV, and AIDS cases among young people and young women are infected earlier than young men. Young girls and women are put at greater risks because of the biological factors, poor information and services, women-centric gender-based violance, and lack of economic and social opportunities. The prevalence of high risk behaviours has also driven the epidemic;

Whereas, there are no specific budget allocation for ASRH initiatives in government programs, if there is, its most often lumped with other general health project which almost makes adolescent reproductive health invisible or insignificant;

Whereas, the youth should actively participate in specifying bugdet items for Adolescent Sexual and Reproductive Health to ensure efficient and effective utilization of limited funds and resources to achieve progressive development of maternal, child and adolescent health;

Whereas, there are limited venues for youth to contribute solutions and to create meaningful youth-adult partnership in all aspects of planning, implementation, monitoring and evaluating programs and policies that directly affect our lives;

Now therefore, we call on the goverment to accountability in promoting, protecting and uphold the sexual and reproductive health and rights of young people. And we call on the civil society, development partners, and our fellow young people to work collectively in addressing SRH issues of the young people.

We urge the government to provide reliable data and address the gaps on young people’s situation particularly on Sexual Reproductive Health leading to policy directions and budget allocation.

We urge the government to provide venue for genuine participation of the young people in the policy making, program implementation, monitoring and evaluation.

We strongly urge the government to implement comprehensive sexuality education in the curriculum.

We urge the government to provide youth friendly services that are cost effective, gender sensitive and rights based.

We urge the government to ensure that service providers are adequately trained in providing youth-friendly services.

We the delegates of Youth Day in 6th Asia Pacific Conference of Reproductive and Sexual Health and Rights commit to:

We commit to complement the efforts of the government, civil society and development partners in promoting comprehensive sexuality education and youth-friendly services through our peer education programs targeted to our fellow young especially the key populations.

We commit to strengthen programs provided by our organizations especially in the provision of ASRH information and services through our teen centres, youth hubs, one-stop shops and other existing institutional facilities.

We commit to continuously lobby and advocate for policies addresing the sexual and reproductive health needs of youth by building their capacities in policy advocacy; and respect, protect, and uphold the sexual and reproductive health rights of young people.

We commit to actively engage ourselves in the development, implementation, monitoring and evaluation of youth programs in all level (local, national, regional, and global); to promote the spirit of volunteerism and vigilance; and to consitently advocate for meaningful youth-adult partnership.

Signed in the 19th day of October 2011 at Yogyakarta, Indonesia.
31 May 2011 06:00 WIB

Kebangkitan Nasional: Sudah Bangkitkah Kita?

Sudah seabad lebih bangsa Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Nasional. Semangat untuk melepaskan diri dari penjajahan, pembodohan, dan membebaskan diri dari keterbelakangan karena pendidikan yang terhambat mendorong anak-anak bangsa untuk berkumpul. Sebagai hasilnya, berbagai pemuda dengan beragam identitas melebur menjadi satu, inilah yang disebut sebagai kebangkitan kesadaran atas kesatuan kebangsaan. Tidak ada satu identitas yang lebih tinggi daripada lainnya, semua setara.
 
Semangat ini juga yang mendorong lahirnya berbagai pergerakan serupa, yaitu perjuangan menghapus diskriminasi dan mendorongnya kesetaran akan berbagai kelompok maupun identitas. Perjuangan yang cukup menyita perhatian dan telah lama berlangsung adalah kesetaraan jender, antara perempuan dan laki-laki. Warisan konstruksi sosial patriarki membuat perempuan berada pada posisi sebagai warga negara kelas dua. Perempuan dicitrakan dan diidentikan sebagai makhluk lemah, tidak berdaya dan merepotkan. Di sisi lain, laki-laki dimunculkan sebagai sosok pahlawan yang harus selalu berada di sisi terdepan, harus terlihat kuat dengan otot menonjol, dan berbagai tuntutan harus lainnya. Gambaran tersebut terjadi ketika isu emansipasi belum menyeruak.

Namun, setelah proses panjang dan melelahkan bagi pegiat kesetaraan untuk mengadvokasi hak-hak perempuan, apakah sudah hilang semua streotip dan diskriminasi terhadap perempuan? Jawabnya BELUM!

Konstruksi sosial terhadap gambaran perempuan sebagai makhluk lemah dan laki-laki diidentikan dengan otot masih beredar hingga detik ini. Pada era digital dan teknologi yang sudah sangat maju, pemikiran barbar yang mengkelas-duakan perempuan masih saja digunakan sebagai bahan iklan di media. Anda bisa menyimaknya dalam sebuah iklan minuman penambah tenaga yang seolah-olah hanya ditujukan bagi laki-laki. Dalam iklan tersebut masyarakat dibodohi dengan materi bahwa laki-laki yang baik dan benar hidupnya, harus meminum produk tersebut.
 
Konsep lain yang dapat kita jumpai tentang iklan berbasis jender adalah produk-produk perawatan tubuh. Umumnya produk perawatan tubuh ditujukan bagi para perempuan. Para produsen tidak lelahnya menanamkan konsep kecantikan bagi perempuan dengan berpusat pada kecantikan tubuh. Misalnya saja iklan sebuah produk perawatan tubuh untuk menghilangkan rambut di kaki. Di akhir iklan mereka menekankan bahwa cantik bagi perempuan adalah tanpa rambut di kaki. Sekilas memang tampak biasa saja dan sudah seharusnya perempuan memiliki kaki yang halus dan mulus. Namun di balik itu tersimpan potensi yang dapat mengganggu kesehatan mental. Ya, memang dapat sejauh itu implikasinya karena ketika ada perempuan yang tidak memiliki kaki “mulus” dan lingkungan sosialnya mempermasalahkan hal itu, maka sang perempuan akan merasa tidak cantik. Cukup melompat memang penjelasan tersebut, tetapi itulah realitanya.

Jender dan Orientasi Seksual : juga Identitas
 
Perempuan dan laki-laki hanyalah sebagian kecil pengelompokkan identitas seseorang. Berdasarkan jenis kelamin, makhluk hidup umumnya dibedakan menjadi jantan dan betina, atau untuk memperhalusnya menggunakan laki-laki dan perempuan bagi manusia. Salah satu fungsi utama pembedaan itu terkait dengan fungsi reproduksi, khususnya bagi sebagian orang yang memiliki pandangan bahwa perkelaminan hanyalah demi keberlangsungan spesies manusia semata.

Tumbuhan, hewan, dan manusia dapat dibedakan berdasarkan jenis kelaminnya dan memang salah satu tujuan perkelaminan adalah regenerasi. Tetapi apakah perkelaminan yang dilakukan oleh hewan dan manusia adalah hal yang sama? Sepasang hewan jantan dan betina jika ditaruh dalam satu kandang yang sama dapat dipastikan akan melakukan hubungan seks. Tetapi seorang laki-laki dan perempuan yang tidak saling mengenal ditempatkan dalam sebuah kamar bersama apakah otomatis akan berhubungan seks? Mungkin ya, mungkin tidak. Tetapi yang pasti, hubungan seks yang dilakukan oleh manusia akan mengandung unsur perasaan. Tidak hanya urusan penis dan vagina, tetapi juga ketertarikan yang melibatkan kasih-sayang.

Antara satu manusia dan yang lain pasti memiliki minat terhadap hal yang berbeda. Bahkan anak kembar identik sekalipun tidak akan mempunyai ketertarikan yang sama pada semua hal. Demikian pula ketertarikan seksual yang dialami oleh manusia. Fakta bahwa ada manusia yang tidak tertarik dengan lawan jenis secara seksual merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Atau juga ada manusia yang tertarik pada sesama maupun lawan jenisnya, bahkan ada juga yang tidak tertarik sama sekali. Inilah yang dinamakan orientasi seksual. Pada sudut lain, ada juga yang tertarik dengan lawan jenis tetapi ingin berpenampilan dan berperilaku seperti lawan jenisnya. Itu salah satu contoh dari jender. Benang merahnya, baik orientasi seksual dan jender juga merupakan sebuah identitas yang perlu diakui. Namun selama ini negara dan masyarakat belum menghargai atau mengakui keberagaman identitas manusia berdasarkan dua hal itu.

Selama ini kelompok minoritas yang memiliki orientasi seksual maupun jender beragam masih mengalami diskriminasi. Pembedaan yang menimpa mereka terwujud dalam bentuk kekerasan, baik secara verbal maupun fisik. Saat mengadukan nasibnya, seolah-olah negara menutup mata dan menyerahkannya pada hukum rimba. Padahal dalam Pancasila dan UUD 1945, negara menjamin setiap kehidupan warganya dengan mempertimbangkan hak asasi manusia secara universal.

Editorial ini akan saya tutup dengan membangkitkan kembali kenangan akan insiden yang terjadi tahun lalu. Pada tahun 2010 di D.I. Yogyakarta, dikenal sebagai daerah yang menghargai keberagaman, terjadi perampasan hak berekspresi komunitas LGBTIQ. Dalam rangka memperingati International Day Against Homophobia (IDAHO), teman-teman komunitas melakukan diskusi publik, movie screening, dan rencananya akan ditutup dengan karnaval di alun-alun seperti tahun-tahun sebelumnya. Di tengah-tengah proses, datang ketidak-setujuan dari sekelompok orang yang mengatasnamakan agama tertentu. Tidak hanya memasang spanduk bertuliskan penolakan, tetapi mereka juga melakukan intervensi dengan melakukan intimidasi. Sekelompok pemuda berpakaian yang identik dengan agama tertentu mengelilingi alun-alun. Mereka menebar teror dengan menggas motornya dan berteriak-teriak.

Kejadian itu hanyalah sebuah contoh kecil yang menjadi sejarah kelam bangsa ini. Isu yang terkandung di dalamnya memang belum menjadi perhatian banyak pihak, tetapi itu adalah cerminan dari pelanggaran hak asasi dan perendahan martabat manusia. Menjadi sejarah, bukan berarti untuk dilupakan. Sebab Milan Kundera mengatakan bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa (dalam The Book of Laughter and Forgetting). Presiden Soekarno juga terkenal akan ucapannya,”JASMERAH: jangan sekali-kali melupakan sejarah!”
 
[edL]
12 May 2011 22:31 WIB

Hak Remaja Mendapat Lingkungan Sehat Belum Terpenuhi

M.E. Johnson, seorang peneliti dari Perusahaan Rokok Philip Morris, pernah mengatakan bahwa remaja adalah calon pelanggan tetap industri rokok karena mayoritas perokok mulai merokok saat remaja. Tragisnya, pernyataan tersebut memang sebuah kenyataan jika melihat perbandingan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2001 dan 2004.  Ditemukan bahwa prevelensi perokok remaja usia 13 tahun sampai 15 tahun mencapai 26.8% dari total populasi Indonesia. Tren anak-anak (usia 5-9 tahun) yang merokok juga mengalami pergeseran, yaitu pada tahun 2001 sebesar 0.4% naik menjadi 1.8% pada tahun 2004. Sejalan dengan itu, 43.9% dari 2.074 responden pelajar Indonesia usia 15-20 tahun mengaku pernah merokok menurut Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2004.

22 Feb 2011 14:58 WIB

Beban Berat Hinggapi Pendamping Orang Terinfeksi HIV

Bagi sebagian orang, ketika pertama kali mengetahui dirinya HIV positif merupakan beban yang tidak ringan. Berbagai kekhawatiran yang muncul juga menimbulkan beban psikis yang memerlukan penanganan yang tidak sederhana. Hal tersebut menjadi bahan diskusi pertemuan pendamping orang yang hidup dengan HIV dan AIDS di Yogyakarta (16/2).

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih
    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

    Apa itu GANAS?
    GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun 2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

    Tujuan utama GANAS itu sendiri?
    Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu.

    Apa saja kegiatan GANAS selama ini?
    Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI, KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat informasi, seperti diskusi dengan remaja yang mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah. Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

    Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?
    Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

    Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS tidak masuk ke sekolah?
    Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik, agar informasi yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

    Pandangan anda sendiri terhadap orang yang terinfeksi HIV&AIDS?
    HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan. Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

    Bagaimana harapan anda kedepan?
    Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

    Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?
    Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=69'>dr. J. Nugrahaningtyas WU, M.Kes</a> MEROKOK DAN RESIKO KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

    Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password
Mendaftar
Langganan via Email

Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/index.php on line 553
Jajak Pendapat
Apa pendapat Anda terhadap peningkatan anak-anak yang terinfeksi HIV?
Kegagalan program PMTCT
KPAN tidak memiliki strategi
Tidak adanya informasi
Editorial
Remaja Hamil itu Korban

Remaja yang hamil seringkali dipojokkan. Jangankan dianggap sebagai korban, stigma justru semakin kuat manakala yang muncul dalam benak adalah remaja yang hamil di luar nikah, masih sekolah pula. Seolah melupakan berapa banyak remaja yang tidak beruntung mengenyam bangku sekolah. Seakan tak sadar berapa banyak perempuan yang menikah saat mereka berusia sangat muda. Faktanya, Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan 46% perempuan menikah pada usia sebelum 20 tahun.

Pesan Singkat
  • 01 03 13 - I'm Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 01 03 13 - I\'m Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 18 10 11 - Andrian:
    Mas Hadiq alamat emailnya apa?
  • 14 10 11 - hadiq:
    To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih..
  • 30 06 11 - rika:
    http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;)
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 23 06 11 - ilahtea:
    SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public?
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 01 06 11 - galink:
    wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses!
  • 12 05 11 - Andrian:
    @salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam
  • 05 05 11 - salahsatuwartawan:
    sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini..
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian."
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\"
  • 09 01 11 - botaq:
    kirim data base kamisekarang
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 12 06 10 - ilahtea:
    kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks.
  • 11 06 10 - ridho:
    justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi
  • 11 06 10 - galink:
    pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho??
  • 10 06 10 - ilahtea:
    kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^
  • 06 06 10 - galink:
    benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT
  • 05 06 10 - ilahtea:
    hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!!
  • 01 06 10 - cornel:
    negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian?
  • 19 05 10 - wete:
    ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service...
  • 08 05 10 - polo:
    terus berjuang
  • 07 02 10 - heni:
    toleransi itu penting!!!!
  • 28 12 09 - Hadziq:
    Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.
BannerAds
Safe Sex50thn PKBIstatistik kasus HIV & AIDS September 2010
Kontak ke SwaraNusa
Pencarian