Pekerja Media Tidak Memahami isu LGBT Secara Benar
Hal ini dikatakan Ashadi Siregar, Direktur LP3Y Yogyakarta dalam diskusi publik “LGBT dalam Media Massa”, Selasa, (29/6), bertempat di Ruang Seminar Gedung Perpustakaan Universitas Atma jaya Yogyakara. Selain Ashadi Siregar, hadir pula dalam diskusi tersebut D. Danarka Sasangka, MA (Dosen Ilmu Komunikasi UAJY) dan Elok (aktivis LGBT).
Lebih lanjut, Ashadi Siregar mengatakan bahwa paradigma pekerja media saat ini lebih terbentuk karena pengaruh nilai-nilai budaya dan agama yang berkembang di masyarakat yang masih menganggap komunitas LGBT adalah komunitas yang “tidak layak” hidup ditengah-tengah masyarakat. "Maka sangat diperlukan pendidikan dan pelatihan bagi pekerja media untuk memahami isu LGBT," lanjut Kang Hadi, sapaan akrab Ashadi Siregar.
Danarka, sebagai wakil dari akademisi, memandang bahwa isu LGBT dalam media massa tidak akan terlepas dari sebuah industri dimana media itu hidup. "Kita tahu semua, bahwa keberadaan sebuah media tidak akan terlepas dari adanya tiga faktor yang mempengaruhi, yaitu, Negara, kepentingan pemilik media dan masyarakat," jelas Danarka. Lebih lanjut, Danarka mengatakan bahwa isu LGBT dalam media massa memang cenderung negatif. Hal ini disebabkan karena komunitas LGBT sebagai subjek berita belum melakukan sesuatu yang bisa mendapatkan apresiasi masyarakat. "Dan saya memandang bahwa komunitas LGBT masih “nyaman” dengan komunitasnya dan tidak berinisiatif untuk coming out ke masyarakat," terang Danarka.
Sedangkan Elok, yang selama ini aktif dalam komunitas LGBT mengatakan bahwa tidak adanya media yang berpihak pada komunitas LGBT semakin memperparah stigma negatif mengenai LGBT oleh masyarakat. "Kami sebagai komunitas merasa kecewa karena media massa saat ini memandang kami dari sisi negatifnya saja, bukan dari sisi positfnya, padahal banyak sisi positif dari kami yang layak digali," cetus Elok. Elok merasa geram dengan pemberitaan kasus Ryan beberapa tahun lalu, media massa lebih menitikberatkan pada kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang homoseksual. "Karena Ryan seorang homoseksual dan dia seorang pembunuh, maka pelabelan pada kami adalah komunitas homoseksual lekat dengan kekerasan," cerita Elok.
Ashadi memberikan masukan bagaimana cara untuk mengurangi stigma negatif terhadap komunitas LGBT. "Pertama, dengan cara membentuk lembaga pemantau media jika ada media massa yang melakukan stigma negatif terhadap komunitas ini," jelas Ashadi. Lembaga ini adalah lembaga bentukan dari komunitas LGBT sendiri. Kedua, Ashadi juga mengatakan bahwa tidak ada salahnya jika komunitas LGBT membentuk semacam media alternatif yang dapat digunakan oleh komunitas LGBT mengurangi stigma di masyarakat.
kontributor: [Dominus Tomy]
-
Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan Harus DikucilkanKekerasan terhadap perempuan terus meningkat. Upaya menguranginya sudah dilakukan. Apakah upaya yang dilakukan memang tidak efektif? Hadziq Jauhary dari Swaranusa, melakukan wawancara khusus dengan Evarisan, SH, MH, aktivis hak asasi perempuan dari Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia [LRC-KJHAM].
-
Organisasi Komunitas Sebagai Basis GerakanGerakan LGBT belakangan ini semakin menguat. Di sisi lain, stigmatisasi juga semakin mengeras. Bagaimana startegi komunitas LGBT dalam menghapuskan stigma dan diskriminasi? Berikut wawancara Hadziq Jauhary dari Swaranusa Biro Jawa Tengah, dengan Orie Lesmana, aktivis hak asasi manusia dari komunitas gay.
Bagaimana gerakan LGBT belakangan ini? -
Berencana Menambah Asrama PerempuanPara mantan pengguna narkoba masih sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Akibatnya mereka kesulitan bermasyarakat. Padahal mereka yang telah keluar dari jeratan narkoba memiliki segudang pengalaman yang dapat dibagi dengan sesama. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa dengan Ronald Ambrosius, Kepala Panti Rehabilitasi Narkoba "Galilea Miracle Center" Kalimantan Tengah tentang rehabilitasi narkoba.
- 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini. - 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini. - 12 06 10 - ilahtea:
kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks. - 11 06 10 - ridho:
justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi - 11 06 10 - galink:
pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho?? - 10 06 10 - ilahtea:
kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^ - 06 06 10 - galink:
benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT - 05 06 10 - ilahtea:
hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!! - 01 06 10 - cornel:
negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian? - 19 05 10 - wete:
ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service... - 08 05 10 - polo:
terus berjuang - 07 02 10 - heni:
toleransi itu penting!!!! - 28 12 09 - Hadziq:
Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.









