Tindakan MUI Tasikmalaya, Berlebihan
Berbagai pihak menanggapi beragam rencana pentaubatan gay di Tasikmalaya. Prof Dr KH Muslich Shabir, MA dari MUI Jawa Tengah, menilai langkah yang diambil MUI dan Depag Tasikmalaya tepat. Tetapi terlalu ekstrem jika sampai bertaubat.
"Jadi, semuanya jangan dilandaskan pada hak atau kenikmatan semata. Kalau begitu, zina juga dihalalkan, donk?" katanya.
Muslich, yang juga staffdi Departemen Agama mengatakan, seseorang harus mengikuti ajaran agama dan patuh terhadap pedoman agamanya. Analoginya, seperti masuk dalam organisasi, pasti harus mengikuti aturan organisasi. Ada filosofi, orang hidup ada aturan, siapa yang melanggar aturan, akan merasakan sendiri akibatnya.
Guru Besar IAIN Walisongo Semarang mengatakan, gay harus dikembalikan ke fitrahnya, melalui sentuhan psikiater dan tentunya lewat bimbingan agama secara kontinyu dan terintegrasi.
Pandangan Fungsionaris MUI Jateng itu, tidak diamini Orry Lesmana. Aktivis LSM "Sobat Semarang" itu menganggap, penilaian MUI menggunakan parameter yang salah. MUI mendasarkan pada pandangan homoseksual sebuah kesalahan sistem, penciptaan, dan kesalahan pendidikan. “Jadi, homoseksual (gay) harus bertaubat segera," katanya.
Orry kemudian melihat, pandangan semacam ini berbahaya apabila dibiarkan secara terus-menerus. Masyarakat Indonesia sudah memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tidak boleh ada pemaksaan kehendak, yang akan berujung pada pelanggaran Hak Asasi Manusia. Kaum gay semakin terpinggirkan dan mendapatkan perlakuan buruk dari masyarakat sekitarnya. Padahal mereka juga butuh hidup secara layak. Gay tidak seburuk penilaian masyarakat. Mereka bukan sampah yang tak berguna bagi lingkungan sekitar. Banyak kaum gay yang berprestasi dan bisa mengaktualisasikan bakatnya dengan baik.
Kritik keras pun mengalir dari pandangan-pandangannya. MUI dan Depag Tasikmalaya tidaka memagami soal gay karena masih menganggap penyakit mental. Gay bukan penyakit mental atau gangguan jiwa. Orry menyebutkan, dalam Dokumen Pedoman Penggolongan Gangguan Djiwa (PPGDJ) 2, sudah tidak ada lagi kategorisasi seperti ini. Masalahnya, ketika masuk masyarakat, terdapat perbedaaan pandangan, karena cara berpikir masyarakat masih tunggal. “Laki-laki harusnya dengan perempuan," ujarnya.
"Dalam pandangan medis, bukan penyakit mental, tetapi diistilahkan sebagai bentuk hermafrodisme,” kata dr Bagoes Widjanarko, MPH, MA. Secara fisik gay tetap laki-laki, tetapi cenderung menyukai laki-laki. Dokter yang sehari-hari mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang berpadangan, gay pilihan seseorang, tetapi perlu tetap ditangani secara baik. Misalnya, melalui penanganan preventif dan persuasif. Tidak melalui cara-cara impresif.
Bagoes menilai niat MUI dan Depag untuk menyembuhkan dan menaubatkan gay merupakan tindakan yang terlalu berlebihan. Tidak bisa menyelesaikan masalah. Tindakan yang diperlukan, menurutnya merangkul gay dengan baik, dan meminimalisasi dampak buruk perilaku gay kepada orang lain. Terutama masalah penularan HIV/AIDS," katanya.
Dari pemahaman ini, perlu dikembangkan penyuluhan khusus, memberikan pengertian perilaku yang semestinya dilakukan, hanya ditujukan kepada kelompoknya saja. Tidak melibatkan orang baru atau membujuk orang lain agar masuk di kelompoknya. Hairussalim, MA, dari Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), menyatakan, gay memang bukan gerakan esensialis. Sehingga tidak mungkin mempengaruhi orang menjadi gay.
Setuju pandangan memang tidak berarti sama dalam strateginya. Muslich memang mendukung langkah MUI dan Depag Tasikmalaya. Tetapi menilai terlalu ekstrem, sehingga harus dipilih langkah yang lebih bijak. Tidak sampai bertaubat. Sebab, semua orang pasti memiliki salah kepada Tuhan. Seorang gay akan lebih baik jika diberikan pembinaan dengan cara yang tidak memaksa.
Kaum gay layak diberi pilihan. Kalau tidak mau dibina, termasuk ketika mereka sudah dibina, kembali lagi menjadi gay. Itu terserah mereka dan pilihan masing-masing orang, karena setiap manusia diberi fitrah melakukan kebaikan dan keburukan. “Nah, setiap perbuatan yang dilakukan seseorang, tanggung jawab masing-masing individu kepada Tuhannya," kata Muslich.
Sikap elegan MUI dan Depag dalam merespon keberadaan gay dan kaum minoritas lain menurut Orry Lesmana, dengan tidak men-judge, apalagi secara hukum. Langkahnya harus membuka dialog secara bertahap, antara MUI, kaum gay atau minoritas, dan pemangku kepentingan lainnya. “Dengan dialog, akan ada pemahaman yang baik tentang homoseksual, tidak harus seirama dengan pemikiran gay kok," kata Orry.
[Hadziq Jauhary, Biro Jawa Tengah]
kontributor: [Super User]
-
Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan Harus DikucilkanKekerasan terhadap perempuan terus meningkat. Upaya menguranginya sudah dilakukan. Apakah upaya yang dilakukan memang tidak efektif? Hadziq Jauhary dari Swaranusa, melakukan wawancara khusus dengan Evarisan, SH, MH, aktivis hak asasi perempuan dari Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia [LRC-KJHAM].
-
Organisasi Komunitas Sebagai Basis GerakanGerakan LGBT belakangan ini semakin menguat. Di sisi lain, stigmatisasi juga semakin mengeras. Bagaimana startegi komunitas LGBT dalam menghapuskan stigma dan diskriminasi? Berikut wawancara Hadziq Jauhary dari Swaranusa Biro Jawa Tengah, dengan Orie Lesmana, aktivis hak asasi manusia dari komunitas gay.
Bagaimana gerakan LGBT belakangan ini? -
Berencana Menambah Asrama PerempuanPara mantan pengguna narkoba masih sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Akibatnya mereka kesulitan bermasyarakat. Padahal mereka yang telah keluar dari jeratan narkoba memiliki segudang pengalaman yang dapat dibagi dengan sesama. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa dengan Ronald Ambrosius, Kepala Panti Rehabilitasi Narkoba "Galilea Miracle Center" Kalimantan Tengah tentang rehabilitasi narkoba.
- 12 06 10 - ilahtea:
kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks. - 11 06 10 - ridho:
justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi - 11 06 10 - galink:
pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho?? - 10 06 10 - ilahtea:
kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^ - 06 06 10 - galink:
benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT - 05 06 10 - ilahtea:
hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!! - 01 06 10 - cornel:
negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian? - 19 05 10 - wete:
ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service... - 08 05 10 - polo:
terus berjuang - 07 02 10 - heni:
toleransi itu penting!!!! - 28 12 09 - Hadziq:
Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.









