Bali Berlari dengan Waktu Hadapi HIV
Menurut data kompilasi Dinas Kesehatan Bali, pada 2008 saja, rata-rata dua orang terinfeksi HIV per hari. Itu yang berhasil dijangkau dan ditemukan saja. Sementara tahun 2010 ini, baru tiga bulan, kasus baru sudah bertambah 152 orang.
Pada 1987, kasus pertama HIV & AIDS di Indonesia ditemukan di Bali. Pada tahun ini jumlah kasus baru empat orang. Sepuluh tahun kemudian pada 1997 menjadi 44 orang. Sepuluh tahun berikutnya melonjak menjadi 1836 (naik lebih dari 400%). Lalu dalam dua tahun terakhir ini, kembali berlipat ganda menjadi 3390 kasus pada 2010 hingga Maret.
Tak berhenti di sana, Departemen Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) memastikan ODHA di Bali sangat mungkin akan mencapai sedikitnya 7000 orang tahun ini. Sementara Papua diramalkan “hanya” bertambah menjadi 3090 orang. “Data perkiraan baru Depkes dan KPAN itu sangat masuk akal,” ujar Prof Dr DN Wirawan, Direktur Yayasan Kerthi Praja, lembaga peneliti dan penanggulangan HIV & AIDS di Bali.
Kondisi ini sudah diramalkan sejumlah peneliti dan pegiat penanggulangan HIV & AIDS di Bali, sejak awal 2000. Ketika itu prevalensi kasus HIV positif pada pekerja seks di Bali meningkat 100%, dari di bawah 1% pada 1999 menjadi hampir 2% pada 2000. Lalu, lima tahun kemudian, prevalensi menjadi 12%, dan melonjak lagi menjadi 23% pada 2009. Artinya, ditemukan sekitar 23% pekerja seks dengan HIV positif dalam survei acak. Sederhananya, satu dari empat pekerja seks dan pelanggannya bisa jadi sudah terinfeksi.
Sayangnya, perilaku pelanggan seks tak berbanding lurus dengan cepatnya penyebaran HIV di jalur penularan heteroseksual ini. Program penggunaan kondom 100% di lokalisasi berjalan tertatih-tatih. Laki-laki pelanggans eks masih sulit mengubah perilakunya. “Penggunaan kondom rata-rata hanya 40% dari jam kerja seorang pekerja seks. Sisanya karena pelanggan menolak memakai,” ujar Yahya Anshori, Pengelola Program KPA Bali. Tak heran, sejumlah LSM dan KPA Bali menemukan kasus infeksi menular seksual (IMS) masih cukup tinggi, terlebih HIV.
Pada 2009, KPA Bali menyimpulkan ada perubahan perilaku pekerja seks dan pelanggan yang menyulitkan penjangkauan di lapangan. Kini, pekerja seks tak langsung diperkirakan meningkat. “Dari estimasi 8000 jumlah pekerja seks, jumlah pekerja seks tak langsung kini sama banyaknya dengan pekerja seks di lokalisasi,” kata Yahya. Pekerja seks tak langsung ini yang sulit diintervensi dalam penggunaan kondom atau pemeriksaan IMS. Sama sulitnya dengan penjangkauan ke pelanggan seks.
Masalahnya lagi, hampir 50% dari ribuan orang yang terinfeksi HIV itu adalah anak muda berusia 20-29 tahun. “Kalau masa inkubasi sekitar 5-10 tahun, berarti mereka telah terinfeksi di usia remaja, 15-20 tahun,” ujar Prof dr. Tuti Parwati, penemu kasus pertama di Bali dan nasional ini pada suatu kesempatan.
Dari data statistik juga terlihat, hampir 70% penularan HIV terjadi lewat hubungan seks di pasangan heteroseksual, atau pasangan lawan jenis. Bisa jadi antar suami ke istri, atau antar pacar. Dari penularan antar pasangan, bisa jadi menular ke bayi jika mereka tak mendapat intervensi pencegahan HIV. Sedikitnya 100 orang bayi dan anak-anak di Bali kini hidup dengan HIV.
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, dan cairan vagina. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Menurut Made Efo Suarmiarta, Direktur Yayasan Citra Usadha yang melakukan penanggulangan HIV lebih dari 15 tahun di pedesaan, penjangkauan ke pelanggan seks kini harus lebih masif. Berdasarkan hasil jangkauannya di beberapa kabupaten di Bali, pelanggan seks dari usia remaja bahkan pernah beberapa kali menjadi kelompok tertinggi berhasil diidentifikasi di sejumlah lokasi transaksi seks langsung (direct) atau tidak langsung (indirect) di Bali. “Terlebih mereka datang berkelompok. Sing mungkin nak Bali teka pedidi ke kompleks. Pasti jak timpal atau bergerombol,” sebut Efo yang lembaganya telah menjangkau hampir 100 ribu orang pelanggan seks ini.
Ironisnya, dari hasil identifikasi petugas lapangan, para remaja itu tak mengenal HIV, IMS, bahkan kondom sebagai pengaman. Pengetahuan untuk menghindar dari HIV, menurut Efo sangat rendah tapi nyali untuk melakukan hubungan seks berisiko tak pernah surut.
Luh De Suriyani, Biro Bali
kontributor: [Super User]
-
Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan Harus DikucilkanKekerasan terhadap perempuan terus meningkat. Upaya menguranginya sudah dilakukan. Apakah upaya yang dilakukan memang tidak efektif? Hadziq Jauhary dari Swaranusa, melakukan wawancara khusus dengan Evarisan, SH, MH, aktivis hak asasi perempuan dari Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia [LRC-KJHAM].
-
Organisasi Komunitas Sebagai Basis GerakanGerakan LGBT belakangan ini semakin menguat. Di sisi lain, stigmatisasi juga semakin mengeras. Bagaimana startegi komunitas LGBT dalam menghapuskan stigma dan diskriminasi? Berikut wawancara Hadziq Jauhary dari Swaranusa Biro Jawa Tengah, dengan Orie Lesmana, aktivis hak asasi manusia dari komunitas gay.
Bagaimana gerakan LGBT belakangan ini? -
Berencana Menambah Asrama PerempuanPara mantan pengguna narkoba masih sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Akibatnya mereka kesulitan bermasyarakat. Padahal mereka yang telah keluar dari jeratan narkoba memiliki segudang pengalaman yang dapat dibagi dengan sesama. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa dengan Ronald Ambrosius, Kepala Panti Rehabilitasi Narkoba "Galilea Miracle Center" Kalimantan Tengah tentang rehabilitasi narkoba.
- 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini. - 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini. - 12 06 10 - ilahtea:
kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks. - 11 06 10 - ridho:
justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi - 11 06 10 - galink:
pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho?? - 10 06 10 - ilahtea:
kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^ - 06 06 10 - galink:
benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT - 05 06 10 - ilahtea:
hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!! - 01 06 10 - cornel:
negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian? - 19 05 10 - wete:
ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service... - 08 05 10 - polo:
terus berjuang - 07 02 10 - heni:
toleransi itu penting!!!! - 28 12 09 - Hadziq:
Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.









